
Sebuah bantal melayang ke arah Reffan. Reffan dengan sigap malah menangkap dan memeluknya. Mama Raisa melotot geram dengan kata-kata anaknya yang tak tahu tempat. Wajah Safira sudah memerah bahkan lebih merah daripada udang yang kepanasan karena dimasak. Tapi sang tersangka yang membuat Safira malu dan menunduk dalam malah tersenyum melihat wajah memerah kesukaannya.
"Ke kamar saja yuk yang biar bebas dari bantal yang melayang." Reffan berbisik di telinga istrinya.
Bisikan itu masih bisa terdengar papa Rendra dan mama Raisa. Papa Rendra bergeleng-geleng dan mama Raisa melempar lagi bantal ke punggung Reffan.
Bersama Safira sikap dingin Reffan menguap, sifat yang dikenal banyak orang. Safira membuat dirinya banyak bicara dan terus ketagihan menggoda istrinya. Candu yang memabukkan, cinta yang menggairahkan itu yang dirasakan Reffan sejak pertama kali menyentuh istrinya.
Tak mendapat tanggapan dari istrinya yang masih menunduk malu, Reffanpun berdiri dan langsung mengangkat tubuh istrinya.
"Mas... turunin." Stok malu Safira seakan mau habis karena ulah suaminya yang tanpa malu malah menggendong istrinya di hadapan orangtuanya. "Mas..."
"Apa sih sayang? Mama dan papa pernah muda juga dan mungkin sekarang malah bernostalgia mengingat awal pernikahan mereka saat-saat dimabuk cinta."
Perkataan Reffan membuat mama Raisa salah tingkah ingin melempar bantal lagi tapi tak ada lagi bantal di dekatnya. Papa Rendra tersenyum merangkul bahu mama Raisa.
"Anakmu pa.." Mama Raisa menatap papa Rendra yang memeluk pundaknya.
"Biarkan saja ma. Bukankah ini membuat kita bahagia. Jangan pedulikan mereka yang dimabuk cinta. Mama di samping papa saja selamanya." papa Rendra tak mau kalah dengan anaknya.
"Aishh... apa juga papa ini, kenapa ikut-ikutan Reffan." mama Raisa mencubit pelan pinggang papa Rendra.
Reffan tertawa, Safira menyembunyikan senyumnya menatap wajah suaminya.
"Kami ke kamar dulu ya pa, ma." Papa Rendra mengangguk. Reffan melangkahkan kakinya ke kamar.
Dengan hati-hati Reffan menurunkan tubuh Safira. Sejak nengetahui kehamilan Safira, Reffan memperlakukan Safira dengan lembut. Dia sangat menyayangi keduanya Safira dan anak yang masih berada di tubuh Safira.
Tatapan mereka bertemu, senyum mengembang dari keduanya.
"Capek?" Reffan bertanya sambil tangannya membuka jilbab Safira perlahan.
Safira mengerjap-ngerjap, otaknya memikirkan jawaban yang tepat karena sudah terlanjur curiga dengan pertanyaan suaminya.
__ADS_1
Reffan tersenyum membuka baju luar Safira karena Safira sudah memakai baju tidur di dalamnya.
"Kamu pikir aku mau apa? Aku hanya mau memijitmu." Reffan tersenyum nakal seolah tahu apa yang dipikirkan istrinya.
"Mas apaan sih!" Wajah yang sudah normal kembali memerah lagi.
"Tidurlah!" Reffan menyuruh Safira menyamankan posisi tidurnya sementara tangannya mulai bergerak memijat di kaki Safira.
"Mas juga pasti capek. Kita tidur aja sama-sama." Safira menarik lengan Reffan agar ikut merebahkan tubuhnya.
"Tidur aku bilang, sebelum aku berubah pikiran." Reffan sudah mengeluarkan suara tak ingin dibantahnya.
Safira langsung memejamkan matanya. Merasakan nikmat pijatan suaminya. Matanya yang memang sudah mengantuk semakin terasa berat membuatnya cepat terlelap.
Sebenarnya Reffan juga ingin menghabiskan malam bersama istrinya tapi saat melihat wajah lelah istrinya tak tega untuk mengganggu waktu istirahat Safira apalagi sekarang ada anak yang disayanginya dalam rahim Safira. Lagipula mereka sudah melakukannya tadi sore, jadi malam ini Reffan hanya ingin sedikit bergerilya di tubuh istrinya. Safira sudah tidur dengan nyenyak, tangan Reffan sudah semakin ke atas dari posisinya semula. Terakhir tangan itu membingkai wajah istrinya mengecupi wajahnya kemudian ikut terlelap di samping istrinya.
.
Gelap malam mulai sirna berganti sinar hangat yang mulai nampak memberi cahaya. Akhir pekan yang cerah, tak berbeda jauh dengan hari biasa. Bahkan sejak pagi buta, jalanan sudah sibuk dengan lalu-lalang penggunanya. Bedanya wajah-wajah di atasnya lebih santai menikmati pagi tidak seperti hari biasa yang dikejar waktu bekerja.
Bagi mereka libur tak selalu akhir pekan, bahkan mungkin tak ada hari libur. Namun mereka tetap tersenyum, berharap yang Maha Pemurah menilai setiap tetes keringat bernilai ibadah.
Keluarga papa Rendra sudah keluar kamar bahkan sejak sinar mentari masih malu-malu menampakkan diri. Saat ini mereka berada di taman di kawasan rumahnya berolah raga ringan di sana.
Reffan, sedari tadi dia melarang Safira ini dan itu.
"Jangan lari Safira, usia kandunganmu masih rawan!"
"Kamu mau apa, mengajak anakku loncat-loncat!"
"Ini apalagi, kenapa menekuk kaki begitu, perutmu tertekan Safira!"
Akhirnya Safira hanya jalan santai berkeliling taman dengan hembusan nafas yang terdengar memendam kekesalan tapi ditepisnya dengan kebahagiaan karena itu semua adalah wujud perhatian Reffan.
__ADS_1
Mama Raisa dan papa Rendra hanya menikmati pemandangan lucu yang tak terjadi setiap hari di rumahnya. Mereka sudah membayangkan ada cucu yang bermain di taman rumah mereka. Mereka tersenyum dengan pikirannya sendiri.
"Reffan Safira kemari! Kita sarapan dulu." Mama Raisa mengajak anak dan menatunya sarapan bersama di taman setelah makanan lengkap di tata di meja.
Safira akan mengambilkan sandwich untuk Reffan tapi tangannya ditarik lagi.
"Kamu duduk yang manis, aku saja yang ambil." Reffan berkata tanpa melihat wajah Safira, tangannya dengan cekatan mengambil berbagai makanan.
Safira yang curiga terus melirik suaminya bergantian dengan piring di depannya yang semakin penuh.
"Mas..." Safira sudah tak sanggup diam saja.
"Nanti aku suapin biar habis. Porsi makanmu harus bertambah sayang. Anak kita akan semakin besar di perutmu." Reffan tersenyum dengan tangan yang masih mengambil makanan.
"Mas ini porsi makananku dan mas Reffan bukan porsiku dan anakku." Safira bingung memandang piringnya yang penuh makanan.
Reffan melirik ke mama Raisa, meminta pembelaan dari mamanya. Mama Raisa sudah menahan tawa sejak tadi.
"Itu terlalu banyak Fan, gak akan muat di perut Safira apalagi awal kehamilan perutnya sering tak nyaman." Mama Raisa tersenyum melihat tingkah anaknya.
"Apa perutmu tak nyaman sayang?" Reffan bertanya pada istrinya.
"Hanya kadang terasa mual di waktu tertentu mas. Tapi tak terlalu mengganggu." Safira mengatakan yang sebenarnya bahkan nafsu makannya cenderung meningkat hanya sesekali merasa mual dan pusing.
"Kita makan sepiring berdua ya. Makanmu banyak saat kusuapi." Reffan menyingkirkan piringnya kemudian menyuapi istrinya tak peduli kedua orang tuanya yang sedari tadi menahan tawa.
.
Waktu berjalan cepat, pagi berubah siang dan kini sore sudah menjelang menjemput malam. Safira dan Reffan sudah berada di Surabaya, berdua di kamar setelah membersihkan diri.
"Mas... " Safira menghampiri Reffan yang duduk terlebih dahulu di sofa.
Safira menarik nafas dalam saat wajah Reffan menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Aku harus mengatakannya pada mas Reffan, aku juga akan memakai uang yang diberikannya bulan ini padaku." Safira memantapkan hatinya untuk mengatakan pada suaminya.