
Hans yang di depan laptop segera menggerakkan jari-jarinya dengan lincah. Tak butuh waktu lama sebuah video sudah ditayangkan di layar.
Fairuz terkejut sampai tubuhnya reflek berdiri.
"Duduklah Pak Fairuz. Ini baru saja dimulai." Pak Cahyadi memberikan perintah yang membuat Fairuz merasa berat menjatuhkan pantatnya ke kursi lagi.
Fairuz melihat video yang merupakan rekaman CCTV dengan dada berdebar, wajahnya perlahan memucat, dia merasa pasokan oksigen di ruangannya berpijak semakin menipis.
"Safira sebenarnya aku tidak suka menekan apalagi mengancam wanita secantik dirimu. Tapi aku sudah tidak sabar untuk mencicipimu. Safira Nadhifa Almaira, kamu tahu kan aku memiliki kekuasaan untuk menilai kinerjamu dan memprioritas siapa yang akan di mutasi."
Mendengar suaranya sendiri membuat tubuh Fairuz seakan melayang. "Bagaimana aku sampai tak tahu ada CCTV tersembunyi di ruanganku." Fairuz mencela kebodohan dirinya sendiri.
Hans yang sejak tadi jemarinya saling meremas hanya memandang layar laptop di depannya. Dia sudah melihatnya tapi melihatnya lagi tak sedikitpun mengurangi panas yang menjalar di dalam dadanya.
"Apa masih perlu dilanjutkan Pak Fairuz? Sejujurnya saya tidak ingin melihatnya lagi." Pak Cahyadi menatap Fairuz di depannya yang kemudian menggelengkan kepalanya.
"Jadi bagaimana menurut anda pak Fairuz setelah menyaksikan rekaman tadi?"
Fairuz hanya diam menunduk. Rasa malu, marah, bingung harus menjawab apa seakan menekan kepalanya.
"Saya tidak peduli kelakuan anda sebejat apa di luar. Tapi masalahnya ini terjadi di perusahaan dan mengganggu kinerja dan kenyamanan karyawan perusahaan. Anda sudah mengancam dan mengintimidasi seorang karyawati. Itu artinya anda menyalah gunakan kekuasaan anda untuk kepentingan diri anda sendiri. Jika masalah ini sampai keluar, perusahaan akan cacat di mata masyarakat. Dan satu hal lagi anda sudah menyebabkan perusahaan kehilangan seorang karyawati yang berkompeten."
Fairuz mengangkat kepalanya seolah meminta penjelasan.
"Kau bahkan tak tahu Safira Nadhifa Almaira mengundurkan diri? Apa saja yang kamu kerjakan hah sampai tak tahu salah satu karyawatimu mengundurkan diri?" Pak Cahyadi tersenyum asimetris.
Fairuz menunduk lagi. Dia tak punya kata-kata untuk membela dirinya karena semua bukti sudah lebih dahulu berbicara.
"Apa isi otakmu Fairuz? Kamu ini aib bagi perusahaan." Pak David komisaris kesal sekali melihat wajah Fairuz.
Fairuz memejamkan mata. Apa ini artinya dia akan kehilangan segala-galanya. Kekuasaan yang dibanggakannya, kekayaan istri yang mendukungnya baru saja berlari menjauh. Apa sekarang dia sudah benar-benar jatuh.
__ADS_1
"Maafkan saya pak." Hanya kata-kata itu yang akhirnya meluncur dari bibir Fairuz.
Pak Cahyadi menarik nafas dalam kemudian membuangnya kasar menatap wajah Fairuz yang menunduk di hadapannya.
"Menurutmu apa yang pantas kamu dapatkan?" Pak Cahyadi bertanya dengan wajah jengah.
"Tolong berikan saya kesempatan, saya akan memperbaikinya." Fairuz mulai berani menatap wajah atasannya.
"Kesempatan? Memperbaiki? Apa yang bisa kamu lakukan hah?" Sekarang Pak David yang berbicara jengah. "Apa kamu pikir Safira gadis miskin yang mengais uang di perusahaan kita? Kamu akan tamat jika suaminya sudah bertindak. Kamu benar-benar menyusahkan Fairuz. Bahkan sekarang kami harus melobi suaminya agar tidak bertindak lebih lanjut dan tercium media." Pak David melempar Fairuz dengan bulpoin di genggamannya.
"Safira!" Lirih sekali gumaman Fairuz dan hanya bisa di dengar dirinya sendiri. Fairuz tentu terkejut mengingat siapa suami Safira.
"Hubungi Safira Hans!" Pak Cahyadi melirik Hans yang dibalas anggukan kepala oleh Hans.
.
Di rumah sakit Safira berbincang hangat dengan Bagas dan Ira. Sebenarnya kedatangan Bagas dan Ira pada jam saat ini adalah permintaan Hans. Hans tidak bisa menghungi Safira karena ponsel Safira dinon aktifkan oleh Reffan, sehingga Hans menghubungi Bagas dan Bagas menceritakan jika Safira ada di rumah sakit akibat perbuatan Fairuz.
"Dari abang Hans, dia mencarimu tadi." Bagas mengulurkan tangannya.
Safira menolaknya, "Jangan ah, nanti bang Hans tanya macam-macam kenapa aku di rumah sakit."
"Bang Hans sudah tahu. Maaf Fir, aku yang cerita karena sepertinya ada hal penting dia mencarimu." Bagas mengulurkan kembali tangannya yang memegang ponsel.
Ragu Safira menerimanya. Telunjuknya digerakkan untuk menerima panggilan video call.
"Hai Dek. Gimana keadaanmu?" Hans memasang wajah ceria saat menghubungi Safira.
"Aku baik bang." Safira masih ragu-ragu menjawab pertanyaan Hans.
Hans menarik nafas dalam saat melihat wajah Safira, ada bekas luka mengering di sudut bibirnya dan dia sudah tahu penyebabnya.
__ADS_1
Fairuz yang mendengarkan percakapan Hans dan Safira kembali terkejut karena Hans memanggil dek pada Safira dan Safira memanggil Hans akrab dengan sebutan abang.
Sementara Reffan netranya tak lepas dari laptop di depannya, tapi telinganya memanas mendengar percakapan dengan kata dek dan bang.
"Dek, aku sudah tahu apa yang terjadi dengan atasanmu. Maaf ya baru menghubungi sekarang." Hans berbicara lembut pada Safira seperti seorang kakak pada adeknya.
Safira menggeleng, matanya terasa panas mengingat kejadian itu lagi.
"Sekarang katakan apa maumu. Dia akan mendapatkan balasan sesuai kehendakmu." Hans langsung berbicara pada intinya karena ada tiga pasang mata yang menatapnya di ruangan rapat menunggu perbincangannya dengan Safira.
Safira terkejut dengan perkataan Hans. Dia menatap Hans tak percaya.
"Direktur dan Komisaris sudah mengetahuinya dek. Tapi kamu tenang saja, ini tidak akan tercium keluar. Bukankah setiap kesalahan harus dipertanggung jawabkan?" Hans mencoba mengerti yang ditakutkan Safira.
Safira masih terdiam, sejujurnya dia bingung.
"Katakan saja dek, Fairuz sudah berani berbuat seharusnya dia sudah memikirkan semua konsekuensinya. Direksi sudah merapatkannya, nama baik perusahaan dan kenyamanan karyawan di anggap lebih penting dari seorang Fairuz." Hans tak sungkan sedikitpun menyebut nama Fairuz yang lebih tua darinya.
Mendengarnya Fairuz menciut, walaupun dia tidak mengenal Hans dan hubungannya dengan Safira tapi mendengar kata rapat direksi membuatnya seketika seperti seekor serangga tak berdaya yang siap ditendang keluar.
"Bang, aku hanya wanita biasa yang punya amarah dan rasa benci. Bahkan kejadian kemarin masih berputar-putar di kepalaku." Safira mengerjap-ngerjap untuk mencegah cairan bening keluar dari sudut matanya.
"Aku bisa mengerti jika kamu tak memaafkannya dek." Hans mencoba memahami ucapan Safira.
Safira menggeleng. "Tapi aku juga tak bisa membuat seorang anak kehilangan rasa hormat pada bapaknya."
"Maksudmu dek?" Hans tidak terlalu paham dengan kata-kata Safira. Semua orang di ruangan rapat dan ruangan rawat juga memasang telinga bersiap mendengarkan penjelasan Safira.
"Aku tak mau menjadi penyebab hilangnya kehormatan seorang bapak di mata anak-anaknya. Jika anak-anaknya tahu, ayahnya kehilangan pekerjaan karena perbuatan buruknya itu akan membuat anak-anaknya tak lagi menghormati bapaknya."
Sekarang semua mata di ruangan rapat memandang ke arah Fairuz yang menitikkan air mata.
__ADS_1
Fairuz mengusap wajahnya, "Bagaimana mungkin dia peduli pada pandangan anak-anakku, padahal aku tak pernah mengingat wajah anak-anakku saat aku mengkhianati ibunya."