
Safira menubruk laki-laki di depannya agar tak keluar dari lift. Tangan kanan Safira memencet tombol agar lift tertutup dan segera turun lagi.
"Apa yang kau lakukan Safira?" Reffan hendak memencet tombol tapi dihalangi Safira.
"Aku kemari bukan untuk menemuimu." Reffan melepaskan pelukan Safira dari tubuhnya.
"Mas..." Wajah Safira langsung mendung
"Aku ke sini hendak memberi pelajaran pria brengsek yang menginginkan istriku." Reffan berbicara dengan tatapan tajam ke netra istrinya.
Tepat. Dugaan yang tak meleset. Saat Safira melihat Reffan di dalam lift dia sudah memikirkan itu, Reffan pasti sudah tahu. Mata indah Safira memanas, bulu mata lentiknya mengerjap-ngerjap berusaha menahan cairan yang mendesak keluar dari sudut netranya. Dia ingat ini masih di lift kantor, apa jadinya jika ada yang melihat mereka. Tapi tak ada cara lain.
Tubuhnya luruh bersimpuh di samping suaminya yang berdiri tegak. Digapainya telapak tangan suaminya dengan kedua tangannya.
"Aku mohon mas. Jangan lakukan! Aku sangat malu jika semua orang tahu pria itu menginginkanku." Sebutir cairan bening menetes tanpa mau dihalau lagi.
Reffan tercengang, istrinya bersimpuh dan menangis. Reffan sama sekali tak memikirkan ini sebelumnya. Perasaan istrinya.
"Apa yang kamu lakukan Safira? Bangun!"
Safira menggeleng.
"Aku sudah merasa hina saat pria itu menginginkanku, jika semua orang tahu, aku tak sanggup lagi melihat wajah mereka mas." Safira terus menggenggam tangan suaminya.
"Bangun Safira! Apa aku harus diam saja, melihat kelakuannya padamu! Bangun!" Reffan menarik lengan Safira kasar agar Safira berdiri.
"Dia menginginkanmu, itu sama saja dia sudah menginjak-injak harga diriku." Reffan belum melepas cengkraman di lengan Safira.
"Mas..." Safira menciut melihat kobaran amarah di mata suaminya.
"Amarahku sudah di ujung tanganku Safira, aku harus melampiaskan pada pria brengsek itu."
"Lampiaskan padaku mas. Lampiaskan padaku saja. Aku mohon, jangan membuat semua orang tahu." Safira menggenggam jemari suaminya yang terkepal kemudian menciumnya.
__ADS_1
Lift terbuka, menampilkan Bayu dengan wajah cemasnya. Tadi dia dilarang Reffan ikut naik ke atas, itu membuatnya cemas dan merasa tak berguna hanya bisa mondar-mandir di depan lift.
Safira cepat memunggungi Bayu dan menghapus air mata yang masih menempel di pipinya. Reffan menariknya keluar.
"Berikan kunci mobilmu!" Reffan membuka telapak tangannya.
Safira buru-buru mengambilnya dari dalam tas dan menyerahkan pada suaminya.
"Maaf bu, saya keceplosan." Bayu berbicara sambil menundukkan badannya.
Safira hanya mengangguk.
"Masih berani kamu berbicara dengan istriku." Reffan nampak emosi lagi kemudian melempar kunci mobil Safira mengenai pundak Bayu.
"Maaf pak!" Bayu gelagapan mendengar suara bosnya yang marah, tangannya sibuk menangkap kunci agar tak jatuh.
Reffan menarik lagi tangan Safira, memaksanya mengikuti langkahnya yang lebar. Reffan membuka pintu mobil untuk Safira mendorongnya masuk dan membanting pintunya yang membuat Safira terkejut.
"Mas..." ragu Safira memanggil suaminya.
Reffan terdiam tak menjawab.
"Mas..." Safira memanggilnya lagi.
"Apa? kau masih ingat pada suamimu? Kenapa tidak bicara pada Bayu saja seperti kamu minta tolong padanya."
"Mas, bolehkah berhenti sebentar jika ada masjid. Aku belum solat Ashar." Safira berbicara pelan sambil melihat wajah suaminya.
"Sial, ternyata hanya mau cari masjid. Kupikir dia akan merayuku dan meminta maaf." Reffan mengumpat di dalam hati. Walaupun begitu dia tetap memelankan mobilnya saat melihat masjid dari jauh, menepi dan memarkirkan mobil di halaman masjid.
"Mas aku solat dulu ya." Safira berbicara masih dengan suara yang pelan karena kuatir melihat wajah Reffan yang masih siap untuk menelan orang. Namun telinga Reffan menangkap suara Safira begitu merdu dan mendayu membuat hatinya yang panas serasa disirami hujan gerimis.
"Hmm.." Cool Reffan menjawab. Diapun juga turun mengikuti langkah Safira masuk ke dalam masjid untuk solat Ashar juga.
__ADS_1
Safira segera mendekat ke arah suaminya yang menunggu di serambi masjid. Dia kuatir suaminya menunggu terlalu lama.
Saat sudah melihat istrinya Reffan segera berdiri dan melangkah ke arah mobil, meninggalkan Safira berjalan di belakangnya.
Emosinya memang sudah banyak yang menguap saat solat tadi tapi kekecewaannya pada Safira masih terasa meremas hatinya.
Tak ada percakapan selama perjalanan pulang. Waktu terasa mendebarkan bagi Safira. Setelah sampai di lobbi hotelpun Reffan masih tetap diam dan berjalan meninggalkan Safira di belakangnya. Karyawan yang heran hanya bisa menatap penuh tanda tanya tanpa berani bertanya ataupun mengobrol dengan temannya tentang apa yang dilihatnya.
Di lift berdua, Safira menoleh ke wajah suaminya yang terlihat dingin, diapun menunduk lagi.
"Maafkan aku mas!" pelan Safira berbicara tapi Reffan mendengarnya dengan jelas.
Reffan tak menjawab, membuat Safira hilang keberanian untuk sekedar melihat lagi wajah suaminya. Safira terus menunduk bahkan saat mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam kamar, dia belum berani menegakkan kepalanya.
Safira masih berdiri tak jauh dari tempat suaminya menutup pintu.
Braaakk! Safira terkejut tapi tak berani menoleh ke arah Reffan yang membanting pintu kemudian memasang pengaman pintu dengan cepat.
Reffan menarik lengan istrinya membuat tubuh Safira tersudut di dinding. Reffan menarik dagu Safira, membuat wajah yang sedari tadi menunduk itu terpaksa menatapnya.
Reffan menarik jilbab istrinya tapi ternyata istrinya masih memakai jilbab berukuran lebih kecil sebagai dalaman jilbab. Ditariknya jilbab mini itu dengan kasar, terlihatlah wajah cantik utuh yang menampilkan pesona tak ada duanya, telinganya terukir indah dengan aksesoris anting kecil yang berkilau, rambut hitamnya terburai sebagian menutupi wajah dan telinganya.
Nafas Reffan sudah memburu saat melepas jilbab istrinya. Nafsu dan amarahnya seolah menjadi satu.
Diraih pinggang istrinya, menariknya mengikuti kemana tubuhnya. Kemeja Safira ditariknya kasar, membuat kancingnya berjatuhan ke lantai. Safira terkejut, matanya mengikuti kancing yang menggelinding menjauh tapi dia tak berani sedikitpun protes ataupun bergerak. Kemeja sudah jatuh di lantai ditendang Reffan semakin menjauh, tapi Safira ternyata masih memakai kaos pendek putih cukup tebal di dalam kemejanya. Dahi Reffan mengernyit. Di raihnya releting rok istrinya, membuat rok itu meluruh sendiri ke lantai. Safira masih memakai celana panjang hitam dari kaos. Ya, dia ingat Safira selalu menggunakannya jika keluar.
Reffan mundur dengan mata yang tak lepas menatap istrinya dari ujung kepala hingga kakinya. Istrinya selalu menggunakan rangkapan saat bekerja itu membuat bentuk tubuhnya sangat tersamarkan apalagi kemeja dan rok yang sama sekali tak membentuk tubuhnya.
Fairuz memang kelewatan kurang ajar, bisa-bisanya dia menginginkan wanita yang selalu berusaha menjaga dirinya. Dibukanya kancing bajunya sendiri sambil mendekat ke arah Safira yang terlihat salah tingkah. Reffan menarik kaos putih Safira ke atas membuatnya terlepas kemudian melemparnya entah kemana.
Pemandangan indah di depannya sudah membuatnya terbakar. Celana panjang istrinya juga dilemparnya sangat jauh. Reffan mundur menyelesaikan melepas kancing bajunya, netranya terus mengawasi Safira yang kikuk berdiri hanya dengan sepasang pertahanan terakhir.
Reffan mendekat membayangkan Fairuz yang menginginkan istrinya, membuatnya sangat marah. Keindahan ini hanya miliknya. Dilempar kemeja yang sudah lepas dari tubuhnya, diraihnya tengkuk Safira, dilahapnya bibir manis kesukaannya. Tangannya yang lain merengkuh tubuh wanitanya. Nafasnya semakin memburu, tubuh istrinya dipanggul di pundak dan dijatuhkan dengan kasar di ranjang. Tangannya dengan kasar menarik kain pelindung yang menghalangi penyatuan. Belum sempat Safira sadar dari keterkejutannya, Safira menjerit. Reffan sudah menyatukan tubuh mereka dengan kasar. Gairah dan amarahnya bersatu.
__ADS_1