
Tama dan Bayu terlihat berlari kecil di sekitar pantai. Mereka memilih jogging daripada berada di rumah yang akan mempertegas derita kesendirian mereka. Hari ini mereka off, orang-orang Bara yang akan bekerja mengurus administrasinya.
Reffan sudah mengabari Bayu jika mereka berempat akan ke kota dan Bayu sudah menyiapkan penginapan tiga buah kamar. Sebuah kamar untuk Safira dan Reffan dan sisanya untuk Tama dan dirinya sendiri. Bayu dan Tama tidak ingin sekamar bersama, apalagi jika diduga memiliki tegangan sama satu sumbu.
Safira hanya diam selama di dalam mobil sementara Reffan jelas tak ingin kehilangan kesempatan untuk menempel di tubuh istrinya maka dia mengarahkan Safira untuk bersandar dalam pelukannya.
Bayu dan Tama tentu saja tak berani menoleh ke belakang karena sudah tentu Reffan akan memelototi mereka bahkan jika Reffan tak memelototinya, hati mereka pasti langsung mengkerut iri karena tak ada yang bisa dipeluk. Maka selama di jalan mereka berdua hanya bersuara dengan pandangan ke depan.
"Ibu Safira apakah akan membeli banyak barang?" Tama bertanya dengan menekankan kata ibu. Bayu tersenyum meliriknya.
"Iya pak Tama, mumpung berada di luar." Safira menjawab.
"Berbelanjanya saat kita akan pulang saja ya Bu. Apalagi jika ada bahan makanannya." Tama berbicara tanpa melihat ke Safira.
"Ehmm..." Reffan sudah berdehem dengan ekspresi dingin membuat suasana di mobil berubah menjadi musim salju.
Tama berulang kali mengusap tengkuknya yang seakan meremang. Diapun langsung terdiam tak lagi berani berbicara dengan Safira.
.
Wajah Safira langsung terlihat berbinar saat mereka tiba di stan kerajinan dan oleh-oleh. Banyak sekali kerajinan khas dari daerah tersebut, corak kain tenunnyapun juga memanjakan mata wanita.
"Mas ini bagus banget. Safira menyentuh dompet tenun yang terlihat cantik dan elegan. Tasnya juga bagus, cocok buat mama Raisa." Berjalan lagi menyusuri etalase, "Ini cocok buat mama Sofi." Kembali berjalan anggun dengan mata berbinar. "Hasna suka model begini." Berbalik badan dengan wajah imut menggoda. "Boleh beli mas?"
Reffan hanya mengangguk dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
Dengan cepat Safira mengambil tiga barang yang diincarnya tadi.
"Sudah?" Tanya Reffan.
Safira mengangguk senang.
Kini Reffan yang berjalan pelan mengitari etalase. Tangannya ringan mengambil barang-barang yang terlihat cantik dan elegan. Safira membuntuti di belakang Reffan, tak ada suara dari bibirnya hanya netranya yang bergerak mengikuti tangan Reffan.
"Tolong dibungkus sendiri-sendiri ya." Reffan berkata pada seorang wanita yang berada di balik meja kasir. Tangannya membagi barang ke tiga bagian.
"Baik pak." Jawab kasir ramah.
"Bungkusan pertama untuk mama Raisa, yang kedua untuk mama Sofi dan Hasna, dan yang ketiga.." Reffan menggantung kalimatnya menatap netra Safira yang juga lekat menatapnya. Safira pasti penasaran Reffan membeli untuk siapa tas dan dompet tenun dengan warna kalem namun sangat cantik dan unik.
__ADS_1
"Untuk nyonya Reffan." Reffan tersenyum dengan tangan yang terjulur mengusap pipi Safira yang tiba-tiba merona.
"Untukku mas? Tapi aku..."
"Ssst... katakan saja I love you. Begitu!" Bisik Reffan di dekat telinga Safira.
"Makasi mas..." Safira tersenyum pada Reffan yang memelototinya. "I love you.." Ucap Safira pelan sambil meremas lengan Reffan.
"I love you too." Balas Reffan sambil mengecup puncak kepala Safira tak peduli ada mbak kasir yang salah tingkah sendiri melihat adegan di depannya.
Setelah membayar dan menerima barang yang dibelinya Safira dan Reffan hendak keluar toko. Seorang karyawan laki-laki toko tersebutpun menyapa ramah Reffan dan Safira yang akan melangkah keluar.
"Terimakasih pak, terimakasih kak." Sapanya saat Reffan dan Safira akan melintas di depannya.
Safira tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya. Berbeda dengan Reffan yang berhenti melangkah dengan lirikan tajam menembus netra. Tapi buru-buru Safira menarik paksa lengan Reffan sebelum terjadi apa yang tidak mau Safira pikirkan. Sementara pria yang menyapa sudah berdiri mematung ketakutan mendapatkan lirikan yang menusuk netranya tapi belum juga sadar kesalahannya.
"Apa-apaan dia." Reffan masih menggerutu sambil berjalan.
"Sudah mas." Safira mengusap lembut lengan suaminya dengan berusaha menahan tawa.
"Dimana-mana gandengannya pak itu bu. Kenapa dia memanggilmu kak?" Reffan masih menggerutu tak terima.
"Apa usia kita terlihat jauh berbeda?" Sekarang memandangi wajah istrinya sambil memegang dagu Safira.
"Mas... mungkin tadi keceplosan masnya!" Safira bingung juga menghadapi orang di depannya.
"Mas.. kenapa kamu panggil dia mas hem?" Suara Reffan sudah meninggi.
Safira langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Kepalanya menggeleng cemas. "Aduh jadi panjang kan." Sesalnya dalam hati.
Reffan membuang nafas kasar. "Ayo kita balik saja, di mata mereka wajahmu terlihat imut. Jangan senyum-senyum, tundukkan wajahmu!" Reffan meletakkan tangan Safira di lengannya kemudian berjalan cepat dengan wajah yang masih kesal.
.
Di mobil menuju hotel, Reffan masih terlihat kesal.
"Bayu apa aku sudah terlihat tua?" Bertanya pada Bayu yang duduk di depannya menemani Tama yang menyetir.
"Maksudnya pak?" Bayu sekarang yang bingung karena takut salah menjawab.
__ADS_1
"Apa aku terlihat tua? Kenapa orang itu menyebutku pak tapi menyebut Safira kak?" Reffan masih tidak terima.
"Mas sudah dong, tadi pasti salah sebut saja." Safira tak enak hati pada dua orang di depannya. "Mas selalu tampan." Bisik Safira di telinga Reffan agar suaminya tak membahas masalah ini lagi.
Dan benar saja senyuman langsung menghiasi bibir Reffan. "Katakan lagi!"
Safira mencubit lengan Reffan kemudian menyembunyikan wajahnya dari tatapan Reffan.
Bayu dan Tama akhirnya bisa bernafas lega karena terbebas dari pertanyaan Reffan. Bukankah jawaban mereka akan selalu salah.
.
"Kita menginap di situ mas?"
Reffan mengangguk.
Safira kembali berlarian menginjak pasir yang baru saja diserbu sisa-sisa ombak.
Reffan terus mengawasi istrinya dari jarak lima meter. Safira terlihat semakin cantik dan imut saat hamil ditambah lagi baju santai yang dikenakannya membuatnya masih seperti mahasiswa.
Dari jarak yang cukup jauh Tama dan Bayu juga sedang melihat ke arah laut sesekali melirik ke arah Safira dan Reffan yang membuat iri, kemudian hampir bersamaan membuang nafas beratnya.
"Bagus mana pantai di sini atau di tempat yang akan dibangun resort sayang?" Reffan menghampiri Safira yang berdiri memandang batas laut dan langit.
"Yang kemarin lebih indah mas, lukisan alamnya sangat cantik." Ujar Safira menolehkan kepalanya ke arah Reffan membuat netra mereka saling mengagumi pasangannya.
Dari jauh terlihat seseorang membawakan buah kelapa muda yang sudah siap dinikmati.
"Kita minum dulu!" Ajak Reffan yang kemudian menggandeng tangan Safira tanpa perlu menunggu jawaban dari istrinya.
Safira duduk lebih dulu. Laki-laki yang membawa dua buah kelapa muda meletakkan lebih dulu dihadapan Safira.
"Terimakasih pak." Ucap Safira seperti biasanya yang selalu mudah mengucapkan ucapan terimakasih.
"Silakan dinikmati kak." Pemuda itu tersenyum mendapatkan ucapan terimakasih dari Safira.
"Oiya tadi saya lupa, udang bakarnya jangan pedas ya!" Ucap Reffan setelah teringat sesuatu.
"Baik pak." Jawab pramusaji yang tidak merasa kata-katanya membuat netra seseorang melebar.
__ADS_1