Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Ancaman Fairuz


__ADS_3

S : Terimakasih


Tak ada pilihan lain, tak ada negosiasi. Dua hari walau ragu Safira sudah berniat akan segera menyelesaikannya.


.


Langkah tegak, santai dan waspada. Kewaspadaan Safira bertambah karena ada yang mengintainya di kantor. Baru saja duduk di meja kerjanya. Fairuz datang dengan selembar kertas.


"Safira, kamu terkenal cekatan di sini, kerjamu bagus dan cepat jadi saya butuh bantuanmu untuk menyelesaikan semua ini sebelum istirahat siang." Fairuz berbicara tegas, seisi ruangan menoleh ke arah Safira.


Safira memandang lekat kertas yang disodorkan padanya. Dia menelan ludah sambil meraih kertas yang disodorkan kepadanya. List pekerjaan ada lima nomor, mengerjakan dua saja dengan waktu hanya sampai istirahat siang akan membuatnya duduk tanpa sempat menoleh kemanapun.


"Saya ingin lihat kerja kamu. Apa benar kamu memang berkompeten di sini." Lanjut Fairuz yang puas melihat wajah Safira yang tertekan.


"InsyaAllah pak." Safira berbicara juga akhirnya.


"Jangan libatkan teman-temanmu jika tak mau mereka menanggung juga akibatnya." Fairuz berbisik mendekat ke wajah Safira.


"Antarkan ke ruangan saya sebelum jam istirahat dan sudah dalam bentuk *print ou*t!"


Fairuz tersenyum asimetris meninggalkan Safira yang berpikir keras harus memulai dari mana dulu.


Ponsel Safira bergetar. Sebuah pesan masuk.


Bagas : Cepat fotokan apa yang diperintahkan Viruz tadi!


Safira : Viruz?


B : Bukankah lebih pantas menyebut pak Fairuz begitu? (Lima emoticon tertawa). Cepat fotokan!


S : Tidak perlu pak


B : Waktu terus berjalan Safira. Pekerjaanku tidak banyak. Sudah kukatakan aku selalu siap dimutasi kemanapun.


Safira masih berpikir. Dia tak ingin menyusahkan orang lain apalagi jika Bagas akan benar-benar dimutasi gara-gara menolongnya.


B : Cepat Safira!

__ADS_1


B : Safira! (emoticon melotot)


B : Apa kamu tidak ingin melihat wajah jeleknya saat tahu kamu menyelesaikan semua tepat waktu?


Safira tersenyum. Difotonya list pekerjaannya dan dikirimkan ke Bagas.


B : Aku kerjakan nomor 4 dan 5. Jika sudah selesai aku akan membantumu lagi.


S : Terimakasih banyak pak Bagas


B : Aku sedang membantu adekku jadi jangan berterimakasih.


Safira dan Bagas bekerja keras menyelesaikan bagiannya. Mereka tak beranjak kemanapun sejak duduk tadi.


Ponsel Safira bergetar pukul 11 lewat 5 menit.


B : Aku sudah selesai, ini sedang diprint. Kamu sampai mana?


S : Ini sedang mengerjakan yang terakhir pak.


B : Kirimkan dua file yang sudah selesai akan aku print-kan


Pukul 11.45 Bagas berdiri, menyusun semua kertas di hadapannya. Kemudian menumpuknya lalu berjalan ke arah meja Ira. Diliriknya Safira yang masih mengeprint. Bagas mengetik sesuatu di ponselnya.


Aku taruh di meja sebelah dispenser. Cepat ambil minum!


Setelah melihat ponselnya, Safira meraih gelas dari lacinya sambil membawa tumpukan kertas kemudian meletakkan kertas yang dibawanya di atas tumpukan kertas Bagas. Setelah mengambil air, dibawanya kembali kertas yang sudah menjadi satu ke mejanya.


Pukul dua belas kurang lima menit. Diketuknya pintu ruangan Fairuz.


"Bismillahirahmanirrahiim..." Ucapnya saat akan memasuki ruangan atasannya.


Langkah tegak dengan ekspresi datar, tak ada senyum ramah yang biasa Safira suguhkan ke orang lain. Diletakkannya segebok print out di atas meja Fairuz. Fairuz memeriksanya bergantian melihat wajah cantik Safira dan kertas di hadapannya.


"Hebat sekali, kau punya berapa tangan bisa menyelesaikannya?" Fairuz bersandar di kursi kebesarannya.


"Allah maha baik." Ucap Safira singkat yang membuat senyum sinis di wajah Fairuz.

__ADS_1


"Seharusnya kamu iyakan saja tawaranku. Tanganmu tak perlu lelah seperti saat ini. Kau untung, akupun senang."


"Interupsi! Saya merasa sama sekali tidak diuntungkan dengan tawaran anda." Safira lurus menatap tumpukan kertas yang susah payah dikerjakannya dengan bantuan Bagas.


"Safira sebenarnya aku tidak suka menekan apalagi mengancam wanita secantik dirimu. Tapi aku sudah tidak sabar untuk mencicipimu." Fairuz berbicara tanpa sungkan sedikitpun.


Safira yang mendengarnya sudah berteriak di dalam hatinya, dadanya panas, darahnya seakan mendidih, tangannya mengepal kuat. Jika saja rasa malu tak menghalanginya pasti sebuah pukulan sudah mendarat di mata dan mulut kurang ajar di depannya. Tapi bukankah keributan di ruang bos akan memancing teman-temannya untuk tahu penyebabnya dan itu sangat memalukan. Safira tidak ingin membayangkan jika sekantor tahu dirinya ditawar oleh bosnya.


"Safira Nadhifa Almaira, kamu tahu kan aku memiliki kekuasaan untuk menilai kinerjamu dan memprioritas siapa yang akan di mutasi." Fairuz berbicara dengan nada mengintimidasi.


Safira tidak bergerak sedikitpun hanya tangannya yang terkepal semakin erat.


"LDR-an mu akan semakin jauh jika kamu aku rekomendasikan mutasi ke seberang pulau. Kalimatan, Sulawesi atau bagaimana jika Maluku? Bukankah kau belum pernah ke sana? Aku tak yakin suamimu bisa membeli tiket setiap minggu untuk menemuimu. Kamu saja masih harus bekerja, apa suamimu keberatan menanggung biaya hidupmu? Kebanyakan suami begitukan, membiarkan istrinya bekerja agar istrinya tidak banyak menuntutnya?" Fairuz tersenyum, senyum yang membuat wajah itu begitu menyebalkan.


Teman-teman Safira memang tak tahu jika dia menikah dengan pemilik hotel, hanya Ira sahabat baiknya dan Bagas yang mencari tahu tentang saingannya dulu yang tahu. Dan keduanya menjaga rahasia itu.


"Apa anda sedang membicarakan diri anda pak?" Safira gemas untuk menimpali.


Fairuz tertawa, "Untung kamu cantik Safira, jadi aku memaafkanmu. Tapi tidak setelah ini. Datang makan malam hari ini! Kamu akan segera tahu tempatnya. Jika kamu masih menolakku, aku akan sangat menikmati penderitaanmu."


"Lakukan apa yang ingin anda lakukan. Saya juga akan melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Saya tidak takut pada manusia, pemilik bumi ini adalah Allah, penggenggam nyawa anda juga Allah. Saya hanya cukup berada di jalan yang lurus." Safira berbicara tegas.


Fairuz terasa di hantam oleh kata-kata Safira. Tapi hatinya yang buta menolak ucapan Safira. Dia tersenyum mengerikan.


"Urusan pekerjaan sudah selesai. Saya permisi." Safira melangkah pergi meninggalkan ruangan Fairuz yang sedang berpikir. "Aku tak yakin masih ada wanita yang tak cinta harta. Aku yakin kamu akan melemah Safira. Aku pastikan itu."


Safira keluar dari ruangan Fairuz, merogoh ponsel di saku roknya, mematikan rekaman suara. Safira berpikir tidak ada salahnya dia merekam untuk berjaga-jaga ke depannya, entah dia memerlukannya atau tidak.


.


Sebuah box berukuran sedang berada di atas mejanya tak ada nama pengirimnya. Temannya sudah banyak yang istirahat hanya segelintir yang masih berada di meja, mungkin menunggu makanan yang dipesan online karena malas turun membeli makanan. Ponsel miliknya bergetar ada nama Bayu asisten di sana.


Ini yang anda butuhkan. Jangan bertindak yang membayakan diri anda sendiri!


Sebuah file berbentuk .pdf terlampir juga di sana. Setelah mengetik ucapan terima kasih pada Bayu, Safira membuka file tersebut.


Fairuz Saputra. Usia 41 tahun, memiliki dua orang anak perempuan 13 tahun dan laki-laki 9 tahun. Seorang istri yang sangat menguntungkan. Fairuz mengelola perusahaan yang diberikan orangtua istrinya. Sebuah perkebunan seluas 2 hektar dan sebuah peternakan unggas di Jawa Tengah. Istrinya sangat mencintai Fairuz. Namun istrinya tak mengetahui jika Fairuz sering bermain dengan wanita. Fairuz selalu menunjukkan sikap romantis pada istrinya.

__ADS_1


Di bawah informasi itu tertulis nama istri dan anak-anaknya juga nomor ponselnya. Alamat rumahnya di Surabaya dan akun media sosial istri dan anak-anaknya.


"Anda menggunakan kekayaan istri anda untuk bersenang-senang rupanya, pantas anda bisa menawarkan apartemen pada saya."


__ADS_2