Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Bukan Karena Dia kan Kamu Mengusirku


__ADS_3

"Mas.." Safira mendekati suaminya yang sedang duduk di sofa. Pandangannya merangkum sekelilingnya. Ini kamar istimewa seperti yang di Surabaya. Satu pertanyaan muncul di benaknya "Apakah ini juga hotel milik mas Reffan?" Tapi pertanyaan itu masih disimpannya di benaknya.


"Bagaimana apa kamu senang hari ini?" Reffan bangkit mendekat ke arah istrinya yang sedang berjalan ke arahnya. Tangannya terulur langsung disambut sang istri.


"Iya mas, asik sekali. Safira bertemu teman-teman Safira dari seluruh Indonesia." Wajah Safira sangat ceria menceritakannya.


"Teman laki-laki atau perempuan?" Selidik Reffan.


"Semuanya." Safira melirik suaminya. "Kan pesertanya ada laki-laki dan perempuan mas."


Reffan membuang nafas beratnya.


"Mas aku mandi dulu ya. Daritadi sudah pengen mandi." Safira melepas jilbabnya.


Wajah Reffan langsung sumringah mendengarnya. "Cepat mandilah!" Tangannya meraih paper bag besar di meja. "Ini baju tidurmu, baru dan sudah dicuci." Reffan tersenyum sangat manis tapi senyum yang membuat curiga.


Safira menerima paper bag dari suaminya kemudian tanpa bertanya langsung masuk ke kamar mandi.


Tiga puluh menit Safira berada di dalam kamar mandi tapi belum keluar juga. Sudah tidak ada suara gemericik air. Reffan yang merasa Safira terlalu lama di kamar mandi segera berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Reffan langsung menggeser pintu yang menyekat area kamar mandi.


Safira terkejut dan langsung memasukkan lagi benda-benda di tangannya. Saat ini dia masih memakai handuk kimono.


"Kenapa belum memakai baju?" Reffan mendekat berdiri di belakang istrinya menyesap aroma segar membuat bibirnya tak tahan untuk mencium leher istrinya yang sekarang cemberut.


"Bajunya kenapa begini semua?" Safira masih cemberut.


"Begini bagaimana?" Reffan pura-pura serius menengok ke dalam paper bag.


"Mas sengaja kan? karena itu aku gak boleh bawa baju tidur, satu-satunya baju tidurku sudah aku pakai di rumah mama." Safira melirik suaminya kesal.


Reffan tersenyum mengambil paper bag kemudian menarik tangan Safira keluar dari kamar mandi.


Setelah sampai di depan ranjang, Reffan mengeluarkan seluruh isi paper bag. Menatanya berjajar di ranjang. Ada sepuluh gaun berbagai model dan warna dan semuanya mini plus hampir transparan. Wajah Safira langsung memanas melihatnya.


"Pilih yang mau kamu pakai." Titah Reffan.


Tadi Safira sudah meraba gaun-gaun itu, terasa sangat halus di tangannya. Tapi ketika mengambilnya dia ragu untuk memakainya.


"Aku saja yang pilih!" Reffan mendekati jejeran baju-baju itu yang hanya dilihat istrinya, wajah istrinya sudah merona sampai telinganya.


Reffan mengambil sebuah gaun berwarna pink tua. Gaun itu tidak transparan hanya hampir saja, kainnya jatuh dan pasti akan mengekspos lekuk tubuh jika dipakai.


"Pakailah!" Reffan mendekatkan ke depan Safira.


Safira melirik suaminya, wajahnya masih merah, tubuhnya masih mematung. "Bagaimana bisa suaminya membelikannya sepuluh baju nan seksi ini. Apakah suaminya membeli dan memilih sendiri?" Benaknya mulai bertanya.


"Mas, beli ini semua sendiri?" Safira melirik tajam ke arah suaminya.

__ADS_1


"Ya beli sendirilah, masak orang lain yang beli." Refan tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya.


"Asik dong lihat foto modelnya pake baju beginian." Safira masih melirik suaminya tajam.


Refan tersenyum, wajahnya mendekat pada wajah istrinya, "Bukankah aku cukup menelpon tokonya agar mengirimkan sepuluh yang terbaru dan terbaik, aku belum lihat model bajunya. Jadi kamu saja yang jadi modelnya." Tangannya dengan cepat menarik tali handuk kimono.


Safira malu sendiri dengan pertanyaannya, dia menangkupkan telapak tangannya ke wajahnya. Malunya berlipat-lipat saat Reffan membantunya memakai gaun pilihannya, memutar-mutar tubuhnya, meraih pinggangnya, menuntunnya berdansa. Selanjutnya jangan bertanya lagi biarkan Safira dan Reffan menikmati kehangatan bersama.


.


"Ayo mas cepat!" Safira melangkah mendekati Reffan membantunya mengancingkan kemeja.


"Kenapa buru-buru sih sayang. Tadi masih cukup lho waktunya untuk kamu jadi model satu baju lagi." Reffan tersenyum menggoda.


Safira meliriknya tajam kemudian mencubit lengan suaminya. Reffan tertawa bahagia.


"Enakan sepi mas kita sarapannya. Nanti pasti ramai jika teman-teman Safira sudah turun sarapan."


"Memangnya kenapa?"


"Gak enaklah mas."


"Gak enak kenapa? Kan aku suamimu bukan kekasih gelapmu."


"Mas ih. Ngomong apaan sih."


"Ge er ih." Safira tersenyum melihat kenarsisan suaminya. "Udah ah, ayuk." Safira menarik lengan suaminya keluar dari kamar.


Restauran masih sepi. Mereka berdua menjadi yang pertama masuk. Karyawan yang ada di sana menunduk saat melihat Reffan.


"Selamat pagi pak Reffan, bu Reffan." Sapa mereka sambil menundukkan kepala.


Reffan hanya mengangguk.


"Selamat pagi." Safira yang menjawab sambil tersenyum ramah.


"Jangan senyum-senyum pada laki-laki lain."


"Itu hanya sekedar membalas salam mereka mas." Safira membela diri.


"Jawab saja tidak perlu pakai tersenyum."


"Mas, apakah hotel ini milik mas?"


Sekarang Reffan tersenyum, "Gadis pintar." Tangannya mengusap kepala istrinya.


Safira bengong menatapnya tak percaya. Reffan menariknya dan menekan bahu istrinya agar terduduk di kursi yang sudah ditariknya.

__ADS_1


"Gak mau sarapan nyonya Reffan?" Tangannya lembut mengelus pipi sang istri yang masih diam saja.


Safira mengerjap, menatap laki-laki di depannya. Dia sendiri tak tahu apa saja yang dimiliki laki-laki di depannya. "Bisakah aku mendampingimu mas." Hatinya sedikit risau.


Reffan berdiri mengambil salad buah meletakkan di depan istrinya.


"Mau disuapin sayang?"


"Gak mas, malu ada orang." Safira langsung meraih sendok di depannya.


Reffan berdiri mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Mau diambilkan sesuatu?" Reffan bertanya lagi


"Aku ambil sendiri saja mas." Safira menghabiskan salad buahnya kemudian berdiri mengambil beberapa makanan dalam porsi kecil. Jika suaminya yang mengambilkan pasti akan banyak sekali yang diambil suaminya untuknya.


Reffan membiarkan istrinya mengambil sesuai keinginannya karena mereka di tempat umum jika tidak dia pasti akan menyuapinya hingga makanan yang dipilihkannya habis.


Beberapa orang mulai datang memasuki restauran. Safira mempercepat makannya sebelum semakin banyak yang datang.


"Mas sudah selesai belum? Kita keluar aja yuk!" Ajak Safira.


"Kenapa buru-buru sih sayang?" Reffan meletakkan gelas yang isinya baru saja masuk ke lambungnya.


"Mas gak kerja? Aku nemenin Ira ya mas. Kasihan kan."


"Sedih sekali diusir istri." Reffan berpura-pura sedih.


"Mas ih."


Reffan tersenyum, diapun berdiri. Safira ikut berdiri hendak mengantar suaminya keluar restauran.


Dua orang laki-laki terlihat baru saja masuk ke restauran. Reffan menatap lekat dua laki-laki yang bergantian memandang dirinya dan Safira. Dia ingat Bagas, Bagas tersenyum ramah. Dan di sebelahnya, Reffan yakin pernah melihat laki-laki itu. Pikirannya langsung terbang ke Yogyakarta. "Laki-laki itu ada di sini. Ah, aku lupa namanya."


"Fir, dengan suamimu?" Bagas menyapa lebih dulu dan tersenyum pada Reffan.


"Iya pak."


"Aku dan Damar duluan ya. Mau sarapan." Bagas tersenyum. Damar hanya diam saja.


"Sial, suaminya terlihat sangat berkelas." Umpat Damar di dalam hati.


"Ah, iya namanya Damar." Reffan berkata dalam hati.


Setelah Bagas dan Damar berlalu. Reffan berbisik di telinga Safira.


"Kenapa gak bilang ada Damar, bukan karena dia kan kamu mengusirku?"

__ADS_1


__ADS_2