
"Tak perlu bawa banyak baju Safira, aku akan siapkan baju untukmu di sana." Reffan duduk di sisi ranjang, melihat Safira yang mondar-mandir antara lemari dan koper menyiapkan pakaiannya.
Ya sekarang mereka berdua ada di rumah Safira tepatnya di kamar Safira. Safira sedang packing untuk ke Jakarta.
Reffan mulai mendekati koper Safira meraih pakaian yang ada di dalamnya.
"Ini gak perlu dibawa sayang nanti aku belikan baju tidur buat kamu." Reffan meraih setelan pakaian tidur panjang kemudian mengeluarkannya dari koper.
"Mas ih. Kan sudah ada, kenapa harus repot cari beli lagi. Ini juga masih banyak ruang di koper." Safira meraih pakaiannya dari tangan Reffan, menariknya tapi di tahan Reffan.
"Itukan kamu sudah bawa pakaian tidur sepasang. Ini gak perlu dibawa. Bikin repot aja, baju yang lain juga belum masuk." Reffan menunjuk pakaian yang masih berada di samping koper.
Safira memasukkan semua pakaian yang sudah disiapkan ke koper. "Tuh kan mas masih ada ruang, sini biar aku masukkan."
Reffan malah menciumi pakaian Safira di tangannya tak menghiraukan suara istrinya.
Safira mendekat, "Mas, sini dong bajunya." Tangannya terulur meminta bajunya.
"Aku kan sudah bilang, cukup bawa baju tidur sepasang aja. Apa perlu baju ini aku robek biar gak kamu bawa." Reffan berbicara serius menatap wajah istrinya yang langsung cemberut. "Masih cemberut aku makan bibir kamu."
Safira langsung menarik bibirnya, melirik tajam suaminya yang berdiri dan menaruh kembali pakaian yang ada di tangannya ke lemari.
Safira kemudian menata barang lain keperluan pelatihan yang dibawanya dalam tas tersendiri. Setelah semua siap, merekapun meninggalkan rumah Safira menuju bandara. Bayu sudah menunggu di mobil bersama seorang sopir hotel. Mereka akan ke Jakarta bertiga bersama dengan Bayu.
.
Suasana terik ibukota menyambut kedatangan mereka. Mereka bertiga langsung menuju mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka di Bandara.
"Mama pasti senang kamu ke Jakarta sayang." Reffan membuka percakapan saat mereka sudah berada di dalam mobil. Bayu duduk di depan, di samping sopir yang menjemput mereka.
"Iya mas, aku juga senang sekali ketemu mama." Safira tersenyum menatap Reffan yang juga sedang menatapnya.
"Kamu gak papa kan di rumah mama dulu, aku ada urusan sebentar di luar. Kalau tidak terlalu malam sudah selesai, aku akan mengajakmu jalan-jalan nanti." Ucap Reffan sambil membelai lembut pipi mulus istrinya.
"Gak papa mas. Mas selesaikan saja urusannya tidak perlu buru-buru. Hari ini aku sama mama saja, besok saja kalau mas gak capek kita jalan-jalan." Safira tersenyum lagi memastikan dirinya akan baik-baik saja.
"Sama mama hanya sampai aku pulang. Setelah pulang malam ini kamu sama aku dong." Reffan berbisik di telinga istrinya.
"Mas ih." Safira membuang wajahnya ke luar jendela. Kuatir jika dilanjutkan dua orang di depan akan mendengar percakapan mereka. Tapi tangan Reffan malah meraih pinggangnya membuang jarak di antara mereka berdua.
__ADS_1
"Mas.." Safira menggeliat tak nyaman bermesraan dengan suaminya sementara ada dua orang di depan yang sudah seperti patung tak berbicara sepatah katapun.
"Diam Safira. Aku hanya ingin kamu bersandar di bahuku. Memangnya kamu mau lebih?" Reffan berbisik lagi di telinga istrinya.
Safira langsung terdiam wajahnya memanas, dia yakin wajahnya pasti sudah memerah sekarang.
.
"Sayang... apa kabar." Mama Raisa menyambut mereka, memeluk Safira dan menciumi wajahnya. "Kamu tambah cantik sayang."
Safira tersenyum malu dengan pujian mama mertuanya. Reffan juga tersenyum memperhatikan wajah istrinya. Mamanya benar, Safira terlihat sangat cantik akhir-akhir ini.
"Ma, Reffan mau langsung pergi ya. Ada urusan sebentar. Nanti malam juga sudah pulang. Reffan titip yang satu ini ya ma." Setelah mencium tangan mama Raisa, dia beralih mencubit hidung Safira yang cemberut karena kata-katanya.
"Aku bukan barang mas." Protes Safira.
Reffan tersenyum, "Jangan nakal ya!" Reffan mengusap-usap kepala Safira yang membuat Safira semakin manyun.
"Mas, aku bukan anak kecil." Safira protes lagi.
Reffan menangkup wajah istrinya, mencium pipi kanan dan kiri, lalu bibirnya yang membuat Safira terkejut karena ada mama Raisa yang senyum-senyum melihat tingkah putranya.
"Salah sendiri menggemaskan." Reffan melepaskan tangannya dari wajah istrinya. Kemudian mencium pipi kanan dan kiri mamanya. Dengan langkah ringan menjauh dari kedua wanita yang dicintainya. "Assalamu'alaikum..."
"Ayo sayang, ikut mama. Mama tadi sedang melihat album foto saat Reffan masih kecil. Kamu pasti mau lihat kan?" Mama Raisa menarik tangan Safira mengikutinya.
"Iya ma, mau sekali." Safira tersenyum senang sekali dengan ajakan mama Raisa.
Mereka menghabiskan waktu berdua, melihat album foto. Mama Raisa menceritakan masa kecil Reffan dan Raffi. Seolah kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Mata mama Raisapun berkaca-kaca saat bercerita tapi bibirnya tersenyum bahagia. Safira memeluknya.
"Waktu begitu cepat berganti sayang, jangan menyia-nyiakannya yang akan membuat kita menyesal nanti karena tak sedetikpun kita akan mendapatkannya kembali." Mama Raisa membalas pelukan menantunya.
"Iya ma.. " Safira tersenyum karena apa yang dikatakan mama Raisa memang benar.
.
"Mau jalan-jalan gak?" Tanya Reffan yang baru saja pulang.
"Gak usah deh mas, mas pasti capek kan."
__ADS_1
"Gak juga, kalau ada kamu gak kerasa capek." Reffan meneliti wajah istrinya. "Mama benar kamu tambah cantik."
"Mas ih." Safira tersipu. "Mas mandi dulu ya!"
Reffan tersenyum berjalan ke kamar mandi tapi netranya masih mengawasi wajah istrinya yang masih tersipu. "Tunggu ya jangan kemana-mana."
Istrinya mengangguk.
Limabelas menit kemudian Reffan sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah dan aroma yang segar. Safira sudah duduk di ranjang masuk ke dalam selimut yang nyaman.
"Sudah siap ya?" Reffan tersenyum penuh makna.
"Kan mas bilang gak boleh kemana-mana jadi ya aku nunggu di sini mas." Safira menyembunyikan debaran di hatinya. Sampai saat ini berdekatan dengan suaminya selalu membuat lemah dan jantungnya berirama dengan cepat.
Reffan masuk juga ke dalam selimut mendekat ke tubuh istrinya.
"Mas, acaraku kan hari Selasa sampai Jum'at. Sudah disediakan juga kamar untuk menginap di hotel tempat acara. Aku bolehkan menginap di sana jadi tidak perlu buru-buru setiap pagi." Safira bicara hati-hati.
"Boleh. Aku juga sudah siapkan kamar untukmu." Reffan menjawab ringan.
"Lhoh mas. Kan sudah ada kamar yang disiapkan panitia. Mas tahu di hotel mana acaraku?" Safira terkejut dengan jawaban Reffan. Dia ingat belum mengatakan apapun tentang hotel tempat acara kantornya.
"Tahu lah." Reffan tersenyum penuh makna.
"Kok bisa?" Safira masih heran.
"Sudah jangan kebanyakan tanya, nanti kamu juga tahu. Yang perlu kamu ingat adalah..." Reffan menjeda kalimatnya.
"Paling lambat pukul delapan malam kamu sudah harus berada di kamar yang aku sediakan. Tidak boleh terlambat sedetikpun. Kecuali kamu memang sengaja ingin menerima hukuman dariku."
"Mas..."
"Tidak boleh bertanya dan tidak menerima interupsi." Reffan sudah semakin lebar senyumnya. "Ingin ikut pelatihankan?"
Safira mengangguk
"Boleh dengan persyaratan di atas." Reffan membuka selimut yang menutupi kaki mereka mulai melancarkan serangan pada sasarannya.
"Auw.. mas..." Safira terkejut Reffan sudah menggigit telinganya.
__ADS_1
"Jangan kebanyakan mikir, lebih baik olahraga."
"Olahraga apaan?" Safira cemberut tapi dengan cepat bibirnya dilahap Reffan.