
"Mas mau aku cerita perihal pelatihan atau yang lain?" Pandangan Safira mulai menyelidik.
"Apapun yang terjadi padamu hari ini?" Jawab Reffan tegas.
"Pelatihanku baik-baik saja mas. Aku bisa mengikutinya dengan baik. Hasil pre test dan post testku juga bagus." Safira berbicara dengan riang.
"Ada hal lain hari ini?" Reffan menatap netra istrinya
"Apa mas tadi melihatku dengan Damar?" Selidik Safira
"Kamu dan Damar? Kalian berdua bersama?" Reffan berpura-pura terkejut
Safira menarik nafas dalam. Dia sangat yakin suaminya tadi melihatnya.
"Tadi pak Damar menghampiriku saat makan siang. Dia bertanya apa aku bahagia." Safira berbicara hati-hati.
"Sialan Damar, dia masih menunggu Safira." Reffan mengumpat dalam hati.
"Kamu jawab apa?" Reffan bertanya karena Safira menghentikan ceritanya.
"Ya aku jawab bahagialah mas. Kenapa mas masih bertanya sih?" Safira cemberut kemudian berbaring memunggungi suaminya.
Reffan tersenyum.
"Kamu bahagia menikah denganku?" Reffan ingin mendengar lagi jawaban Safira yang membuat hatinya berbunga-bunga.
Safira diam saja. Matanya pura-pura terpejam.
Reffan tahu istrinya hanya berpura-pura tidur, istrinya pasti malu mengatakannya. Tangan Reffan merengkuh tubuh istrinya dari dalam selimut tanpa halangan, membuat tubuh Safira langsung bergerak merespon.
"Ulangi lagi sayang. Apa kamu bahagia bersamaku?" Reffan mengusap lembut tubuh istrinya membuat Safira meringkuk menutupi tubuhnya.
"Auw... maaasss!" Safira berteriak saat tangan suaminya bergerilnya dan berbuat sesuka hati.
"Katakan!"
"Iya mas, iya."
"Iya apa?"
"Ah.. auuww..... mas!"
__ADS_1
"Katakan sayang!"
"Iya mas... aku bahagia bersama mas Reffan." Safira berbalik badan dan mengecup singkat bibir suaminya berharap suaminya puas dan berhenti menggodanya.
Tapi ternyata salah. Reffan justru dalam mode on siap bertempur lagi.
"Mas, mas mau ngapain?" Safira mulai resah saat suaminya berada di atasnya.
"Aku tak mau kamu kekurangan nafkah batin sayang." Bibir Reffan sudah menyatu dengan bibir Safira. Ronde kedua baru saja dimulai.
.
"Setiap kelompok empat orang agar lebih mudah pembagiannya per dua baris. Jadi baris ganjil bisa langsung membalik kursinya ke belakang." Pemateri membagi kelompok presentasi.
Safira dan Ira resah menghitung baris yang sudah diyakininya. Mereka berharap salah menghitung. Dua kali menghitung hasilnya tetap mereka duduk di barisan ganjil. Mereka berdua saling berpandangan dengan pikirannya masing-masing, hampir bersamaan memutar kursinya ke belakang.
"Yes kita sekelompok." Bagas bersorak. Damar tersenyum tipis melihat wajah Safira dan Ira bergantian.
"Setelah istirahat siang setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Sepuluh menit untuk presentasi, sepuluh menit tanya jawab. Silakan dimulai." Pemateri memberikan arahan.
"Pakai laptopku saja ya." Safira menyiapkan laptopnya kemudian membuka power point.
Diskusi kelompok cukup lancar. Safira hanya melihat layar di depannya menghindari tatapan Damar. Ira berusaha menahan desir di dadanya agar tetap bisa fokus. Bagas yang paling terlihat biasa karena tak merasakan apa yang dirasakan para sahabatnya.
Damar berdiri, "Coba aku lihat?" Tangannya kanannya langsung menyentuh keyboard. Tangan kirinya bertumpu pada sandaran kursi Safira. Tubuh Safira sedikit menjauh karena tak nyaman. Bahkan dia bisa mencium aroma parfum Damar, Safira berusaha menahan nafas.
Sementara Ira melirik ke Damar yang pandangannya terbagi ke layar dan wajah Safira.
"Pak Bagas mau lihat juga?" Safira menggeser dan memutar laptopnya agar Bagas bisa melihat juga. Lebih tepatnya agar Damar segera kembali ke tempat duduknya. "Sekalian agar pak Bagas juga bisa membaca ulang hasil diskusi." Safira tersenyum.
"Pintar kamu Safira." Bagas meraih laptop.
Damar tersenyum sinis. Mau tak mau dia harus kembali duduk di sebelah Bagas. Padahal dia sangat menikmati berdekatan dengan Safira, dadanya berdesir cepat, perasaannya pada Safira masih ada.
"Sudah bagus. Gimana Mar?" Bagas bertanya pada Damar.
"Sudah cukup! Fix!" Damar berkata mantap.
Mereka berempat istirahat, solat dan makan siang. Safira mengamati Ira yang sedari tadi lebih banyak diam.
Mereka berdua baru saja selesai solat Dhuhur.
__ADS_1
"Ra..." Safira menyentuh lengan Ira.
Ira menoleh.
"Kamu baik-baik saja?" Safira bertanya.
"Jika saja aku tak jatuh cinta, rasanya pasti tak sesakit ini. Rasa sakitnya kembali lagi saat aku melihat wajahnya. Kata-kata yang pernah dikatakannya padaku berputar lagi di kepalaku." Mata Ira berkaca-kaca.
"Ssssttt... jangan katakan Ra, jangan menarik lagi memori yang menyakitkan." Safira berkata pelan.
"Aku yang bodoh, kenapa aku jatuh cinta pada orang yang jelas-jelas tak pernah melihat keberadaanku." Kepala Ira bersandar di lengan Safira.
"Cukup Ira, berhenti berkata seperti itu. Kamu istimewa, dan jodohmu yang bisa melihatnya. Percayalah padaku, bersabarlah Allah sedang mempersiapkan kedatangannya padamu." Ira memeluk pundak Ira sahabatnya.
Ira tersenyum, Safira selalu bisa menenangkannya. Damai rasanya berada di sisi Safira, belum pernah Ira mendengar Safira berkata buruk, mengejek ataupun mengumpat. Bahkan Safira terus di belakangnya saat dia marah padanya, karena Damar yang mengatakan perasaannya pada Safira di Bromo saat itu. Ira masih mengingatnya dengan baik, sahabatnya tak pernah meninggalkannya.
Flashback on.
"Pergi Safira, jangan berada di dekatku. Kamu hanya kamu yang dilihat Damar. Kamu suka kan Damar menyukaimu." Ira berteriak saat Safira membuntutinya.
"Aku tidak ada perasaan apapun padanya Ra, aku juga tak membalas perasaannya. Aku tadi hanya menjelaskan jika aku tak bisa menerima perasaannya. Percayalah padaku." Safira meraih tangan sahabatnya yang terasa dingin, entah kemana sarung tangannya.
Tadi Ira melepas sarung tangannya lalu mengantonginya untuk menghangatkan tangannya dengan cup mie instan yang digenggamnya tapi sarung tangan itu jatuh entah dimana.
"Sarung tanganmu mana?" Ira mencari sarung tangan Ira menepuk-nepuk saku celana Ira.
"Jangan pedulikan aku. Pergilah. Jangan dekat-dekat lagi denganku." Ira menepis tangan Safira.
Ira terus berjalan menaiki tangga bromo sendirian tertinggal jauh dari rombongan, Safira terus berada di belakangnya. Padahal mudah bagi Safira melangkah cepat menaiki tangga dan segera mencapai puncak. Dilihatnya Ira yang beberapa kali berhenti karena lelah dan kedinginan terlihat dari tubuhnya yang membungkuk dan beberapa kali menggesekkan telapak tangannya.
Safira sudah tidak bisa menahan diri, dia mempercepat langkahnya sehingga berada di samping Ira.
"Marahlah padaku sesuka hatimu, tapi pakailah ini." Safira mengalungkan syalnya kemudian melepas sarung tangannya dan segera memakaikan pada sahabatnya.
"Fir. Bagaimana denganmu" Tubuh Ira gemetar.
"Aku bisa menahannya." Safira menggenggam tangan sahabatnya yang hipotermi berjalan semakin ke puncak yang sudah semakin dekat.
Damar yang sudah di puncak Bromo sejak tadi memperhatikan Safira dan Ira. Dia tersenyum sinis melihat pengorbanan Safira untuk Ira.
"Ini pasti karenamu Ira, Safira tak mau memberikan kesempatan padaku karena menjaga perasaanmu."
__ADS_1
Tak jauh dari tempat Damar berdiri. Raffi tersenyum melihat bidadari cantik nan baik hati. Diapun mencuri foto Safira berkali-kali lagi. Padahal saat sunrise tadi dia sudah beberapa kali memotretnya tanpa sepengetahuan Safira. Bidadari di puncak Bromo.
Flashback off