
Damar mempresentasikan hasil pekerjaan mereka. Laki-laki yang disukai oleh Ira ini memang memiliki wajah rupawan, garis wajah dan bicaranya tegas tak banyak tersenyum berbeda dengan Bagas yang lebih ramah alias banyak bicara. Tapi pribadinya seakan berubah saat mengenal Safira, Safira yang cenderung dingin pada pria membuatnya lebih banyak bicara agar bisa mendekati Safira. Cintanya tak terbalas membuat harga dirinya tercabik, cinta dan benci bercampur menjadi satu. Sehalus apapun Safira menolaknya itu tetap penolakan dan itu merendahkan harga dirinya.
Presentasi berjalan lancar, tidak banyak pertanyaan karena Damar mempresentasikan dengan jelas dan mudah dimengerti. Mereka berempatpun kembali ke tempat duduk.
Duduk, mendengarkan dan menyimak dengan baik ternyata melelahkan juga. Pukul lima pelatihan sudah selesai.
Safira dan Ira sudah akan ke kamar yang ditempati Ira sendirian.
"Fir Ra... mau ikut gak nanti malam kita mau ke rooftop hotel, di sana ada cafe, camilannya juga katanya enak-enak apalagi pemandangannya. Ikut yuk mumpung lagi di Jakarta." Ajak Bagas.
Safira dan Ira saling memandang.
"Sebelum jam delapan aku harus kembali Ra." Safira berbisik di dekat telinga Ira. Tapi ternyata Damar yang di sebelah Safira bisa mendengarnya.
"Protektif sekali suamimu. Apa tidak dilarang keluar aja sekalian." Damar berbicara datar membuat Ira menoleh dan Bagas mengernyitkan dahi.
Safira tersenyum. "Alhamdulillah pak suami saya perhatian jadi mengatur saya agar saya nyaman dan aman. Karena sekarang kan saya tanggung jawabnya. Justru saya akan sedih jika saya dibiarkan tanpa dipedulikan."
Bagas memandang tajam ke arah Damar. Tapi dia kesulitan untuk menilai wajah datar dan tatapan mata Damar yang tidak sepenuhnya fokus pada Safira.
"Gimana Ra mau ikut gak?" Safira bertanya pada sahabatnya.
Ira terlihat bimbang.
"Aku ikut kamu Fir." Ira berbicara pelan.
"Kita ikut sebentar aja ya pak." Safira memberi keputusan. Sebenarnya Safira tak enak jika Ira di kamar saja tapi di sisi lain membuat Ira dan Damar bertemu pasti juga tak nyaman bagi sahabatnya. Safira akan mencari meja lain untuk menikmati malam bersama sahabatnya jika dia melihat Ira tak nyaman nanti.
"Ra, aku ke kamarku dulu ya sekalian mandi ganti baju nanti aku ke kamarmu setelah solat magrib." Safira berpikir akan lebih cepat jika mandi sendiri-sendiri di kamar masing-masing.
"Iya Fir. Aku tunggu di kamar ya." Ira melangkah keluar dari lift lebih dulu karena kamar Safira berada di kamar teratas.
Safira bernafas lega saat tak melihat Reffan di kamar. Dia juga ingin menemani Ira sahabatnya. Safira segera pergi ke kamar mandi dan bersiap setelah masuk waktu solat magrib, dia segera menunaikan kewajibannya, berdzikir dan berdo'a minimal itu yang dilakukannya jika belum sempat menyentuh mushafnya seusai solat.
.
"Ra, gak papa kita ikut ke atas?" Safira bertanya meneliti ekspresi sahabatnya.
"Gak papa kok. Masak hanya karena Damar aku berdiam diri di kamar aja. Aku juga pengen ke rooftop mumpung di sini."
"Kalau nanti gak nyaman bilang aja, kita bisa cari meja lain kita ngedate berdua." Safira tersenyum sambil berkedip-kedip.
"Iyalah. Sudah lama kita gak ngedate berdua sejak kamu menikah."
__ADS_1
Mereka berdua tertawa bahagia.
.
Bagas dan Damar sudah duduk di posisi yang bisa melihat pemandangan Jakarta yang megah dengan warna lampu beraneka rupa. Safira dan Ira menghampiri mereka setelah memesan makanan dan minuman terlebih dahulu.
"Eh, abang Hans telpon nih Fir." Ira mengangkat telpon.
Ira terlihat bercakap-cakap dengan orang di seberang. Setelah telpon ditutup baru Ira berbicara.
"Bang Hans mau ke sini nyamperin kita Fir." Ira berbicara dengan riang.
"Oh ya?" Safira ikut senang.
"Iya.. tadi saat di kamar ada pesan dari bang Hans memastikan kita ada di sini trus dia bilang mau ketemu kita. Sorry aku lupa ngasih tahu tadi." Ira menjelaskan.
Kedua wanita tersenyum bahagia. Hans menganggap mereka berdua adek-adek yang harus dilindungi. Di awal-awal masuk kerja, Hans sangat baik dan membantu mereka. Hanya sekitar satu tahun kemudian Hans dimutasi ke Jakarta.
Sementara Bagas dan Damar hanya saling lirik bertanya dalam diam. Bagas mengangkat bahunya karena tak kenal dengan Hans.
"Abang Hans siapa Ra?" Bagas tak ingin lama penasaran sehingga langsung bertanya.
"Dulu di tempat kerja kita juga, kemudian mutasi ke Jakarta lumayan senior lah sudah punya anak satu." Ira menjelaskan.
"Wah... abang Hans sudah bapak-bapak beranak dua." Ira tertawa setelah berkata.
Safira juga tersenyum sangat lebar.
Dua orang laki-laki di depannya hanya menatap wanita di depannya yang terlihat bahagia sekali. Bagas ikut tersenyum melihat sahabatnya bahagia, persahabatan yang tulus saling menjaga memang benar-benar indah. Itu yang dirasakannya, untunglah dia memutuskan untuk move on dari Safira sehingga persahabatan mereka bisa diselamatkan.
Berbeda dengan Damar yang wajahnya datar menatap Ira dan Safira bergantian. Senyum Safira tanpa beban, dia seakan tak terima Safira terlihat bahagia setelah menolaknya. Dan Ira, wanita ini yang menyebabkan Safira menolaknya. Tangannya terkepal di atas paha dengan pandangan yang masih menatap kedua wanita yang asik bercerita.
"Bang..." Ira melambaikan tangannya saat dilihatnya Hans baru saja muncul. Hans tersenyum kemudian mengarahkan kakinya mendekati meja yang dihuni dua wanita yang dikenalnya.
"Hai kalian apa kabar?" Hans menyapa.
"Baik Bang." Ira menjawab cepat
"Baik Bang. Istri gimana kabarnya?" Safira gantian bertanya.
"Istri lagi mabuk. Makan harus dipaksa." Hans terlihat membuang nafas. Kemudian menarik kursi dan duduk mengelilingi meja
"Bagas!" Bagas mengulurkan tangan ke arah Hans.
__ADS_1
"Hans." Hans tersenyum menjawab uluran tangan Bagas
"Damar." Damar mengulurkan tangan setelah dilirik Hans.
"Hans." Dia juga tersenyum pada Damar.
"Ini gak papa bang, istri ditinggal sendiri. Kasihan bang lagi hamil." Safira berbicara.
"Sudah izin tadi sama istri katanya gak papa ketemu Safira dan Ira mumpung lagi di sini tapi jangan lama-lama." Hans tertawa mengingat izin bersyarat yang diberikan istrinya. Hans sejak dulu selalu jujur pada istrinya jika berteman dengan Ira dan Safira dan menganggap mereka seperti adek-adek.
"Bentar ya bang aku pesenin minum dulu." Safira berdiri hendak memesan minum dan memilih makanan serta camilan untuk mereka.
Tak lama saat Safira sudah selesai memesan dan akan membayar. Damar mengeluarkan uang terlebih dahulu.
"Aku yang bayar. Aku tak mau kamu membayar makanan yang akan kumakan." Damar berbicara tanpa melihat Safira.
Ternyata Hans juga menyusul Safira.
"Abang yang bayar, kalian tamu abang." Hans menyerahkan sebuah kartu pada kasir dan mengembalikan uang Damar sambil meliriknya.
Tadi Damar berpamitan akan memesan minuman lain sebelum menyusul Safira. Sedangkan Hans yang sedang asik berbincang dengan Ira dan Bagas ikutan menghampiri Safira berjalan tak jauh di belakang Damar.
"Makasi bang." Safira tersenyum, dia lebih rela ditraktir Hans daripada Damar.
"Sama-sama dek." Hans juga tersenyum.
Mereka kembali, Hans melangkah lebih dulu membawakan pesanan Safira. Damar sengaja berjalan menunggu Safira lebih dulu.
"Safira katakan padaku dengan jujur, apakah kau menolakku dulu karena Ira." Damar berbicara di sebelah Safira yang menunggu pesanan yang belum selesai.
"Tidak." Safira menjawab tegas.
"Bohong!" Damar membalas cepat.
"Anda bertanya tapi tak percaya dengan jawaban saya. Lalu untuk apa anda bertanya?" Safira juga berkata tanpa melihat Damar.
"Karena aku tak terima kalian memporak-porandakan perasaanku." Damar berbicara pelan tapi penuh penekanan.
"Perasaan seseorang tak bisa dipaksa pak. Semoga anda segera mendapatkan pasangan yang terbaik untuk anda." Safira tak ingin melanjutkan percakapannya dengan Damar tapi pesanannya sudah hampir selesai.
Damar tersenyum kecut. "Kau pikir mudah menghapus jejakmu di hati dan pikiranku. Bahkan bayanganmu masih memenuhi pelupuk mataku. Aku belum pernah jatuh cinta seperti jatuh cintaku padamu. Namun kamu benar-benar sudah menjatuhkan harga diriku tanpa sedikitpun kesempatan. Mudah bagimu berkorban untuk Ira hah? Apa aku tak ada harganya di matamu Safira? Tak bisakah kamu menghargai sedikit saja perasaanku saat itu."
"Dengarkan saya baik-baik pak Damar. Penolakan saya bukan karena Ira. Tapi memang karena anda bukan jodoh saya. Saya mengenali pemilik tulang rusuk saya sebagaimana suami saya yang mengenali tulang rusuknya. Maaf jika saya mengecewakan anda. Bisakah kita tidak mengungkitnya lagi? Saya minta maaf jika lisan saya menyakiti anda dulu dan sekarang." Safira meninggalkan Damar membawa pesanan yang sudah siap.
__ADS_1
"Aku tidak butuh permintaan maafmu Safira." Damar bergumam setelah Safira meninggalkannya.