
Reffan tertegun mendengar penuturan Safira, menyadarkan dirinya bahwa hidup tak selalu mulus, adakalanya Allah menguji kita bukan karena Allah tak sayang tapi justru karena Allah menginginkan kita semakin mendekat pada-Nya.
"Tak masalah jika kita tak bisa membuat penduduk bumi menyukai kita, asalkan penduduk langit merayu Sang Penguasa alam semesta untuk melihat kita." Lirih Safira berucap. "Karena mustahil membuat semua orang akan menyukai kita."
Reffan menarik nafas dalam mengeratkan pelukannya pada tubuh Safira.
"Kita lihat besok pagi ya sayang. Aku butuh waktu untuk mengizinkanmu pergi." Reffan berbisik di belakang telinga istrinya.
"Iya mas." Jawab Safira cepat.
Reffan kemudian melepaskan pelukannya.
"Istirahatlah. Masih ada yang harus kukerjakan sebentar. Nanti sore kita pulang." Reffan turun dari brankar, membantu Safira merebahkan tubuhnya kemudian menyelimutinya. Terakhir mengecup sayang kening istrinya. Safira tersenyum merasakan perhatian dari suaminya.
"Jangan menggodaku!" Ucap Reffan tiba-tiba.
"Siapa yang menggoda?" Safira terkejut karena tak bermaksud apapun.
"Senyummu sayang, sangat menggoda." Reffan tersenyum.
"Cemberut salah, senyum juga salah." Safira langsung memasang wajah tanpa ekspresi.
"Tidak salah sayang, karena semua yang kamu lakukan aku menyukainya. Tidurlah!" Reffan mengusap kepala Safira.
Safira langsung memejamkan matanya mendengar perintah suaminya.
Reffan tersenyum kemudian melangkah menjauh ke sofa meraih ponselnya dan menghubungi seseorang di sana.
.
"Aku akan mengantarmu dan menunggumu." Ucap Reffan sambil menunggu Safira menyempurnakan penampilannya.
"Apa gak papa mas. Bagaimana jika lama?" Safira ragu jika Reffan menunggunya dia kuatir suaminya akan ikut naik ke ruang kerjanya.
"Kamu bilang hanya ingin meminta maaf jadi tidak akan lama kan?" Reffan balik bertanya.
__ADS_1
"Iya... tapi mas Reffan di bawah aja ya, jangan ikut ke atas." Safira agak cemas jika Reffan ikut karena dia juga tak tahu apakah ada Fairuz di kantor.
"Hmmm....." Reffan hanya berdehem.
.
Bagas dan Ira sudah menunggunya di lobbi, tadi Safira menghubungi sahabatnya jika akan ke kantor untuk terakhir kalinya berpamitan pada semuanya. Sejujurnya dia juga tak yakin pada dirinya jika berjalan sendirian masuk ke ruang kerjanya.
"Firaaaa..." Ira berlari ke arah Safira yang baru saja turun dari mobil.
Bagas mendekat berjabat tangan dengan Reffan yang juga ikut turun.
"Ikut ke atas?" Bagas bertanya pada Reffan.
"Enggak. Mas Reffan nunggu di bawah." Safira menjawab cepat. Reffan hanya tersenyum menatap istrinya.
Safira bersama Ira dan Bagas masuk ke dalam lift meninggalkan Reffan duduk menunggu di lobbi.
Sejak masuk ke kantor Safira menunduk tak berani bersitatap dengan karyawan lain yang ditemuinya. Berbeda dengan kebiasaannya yang selalu ramah dan menyapa siapapun yang ditemuinya.
Tangan Safira terasa dingin, Ira menggenggamnya dan tersenyum pada sahabatnya. Bagaimanapun Safira takut mendengar suara sumbang tentang dirinya walaupun segala teori sudah memenuhi otaknya untuk menguatkan dirinya sendiri.
Bagas membuka pintu memberikan isyarat dengan kepalanya agar Safira masuk.
Pelan dengan kepala menunduk namun kemudian perlahan menegakkan kepalanya ditatapnya semua orang yang sedang duduk di meja kerjanya yang tak menyadari kehadirannya atau mungkin tak menginginkan kehadirannya.
Sudah menjadi tradisi jika ada salah satu karyawan yang akan mutasi atau resign maka semua orang akan menyiapkan sebuah pesta kecil untuk acara perpisahan. Sebenarnya bukan pesta juga hanya acara makan-makan sambil bersenda gurau. Dan itu pasti tak berlaku untuk dirinya, namanya sudah cacat di mata teman-temannya.
"Kemarilah nak!" Suara Bu Dar menyadarkannya, "Kemarilah Safira!"
Tadinya Safira tak yakin ada suara memanggilnya tapi saat melihat Bu Dar yang tersenyum berdiri agak jauh darinya dia yakin namanya yang disebut oleh Bu Dar, wanita paruh baya yang disegani di perusahaan. Bu Dar mengulurkan tangannya meyakinkan Safira bahwa dia memanggilnya.
Dengan cepat Safira melangkah menyambut uluran tangan wanita yang diseganinya karena tak ingin membiarkan tangan Bu Dar menggantung menunggunya.
Dooorrr...! Dooor...! Dooor...!
__ADS_1
Safira terkejut setelah tangannya menyentuh tangan Bu Dar ada suara keras yang ternyata dari balon yang diletuskan.
"Safiraaaaa...." Belum selesai terkejut dengan tiga letusan balon, semua orang memanggilnya serentak kemudian berhambur ke arahnya, para teman-teman perempuan memeluknya bersamaan.
Netra Safira memanas tak sanggup membendung cairan yang menetes dari sudut netranya meskipun dia belum tahu apa yang terjadi.
Safira menoleh ke Ira dan Bagas tapi ternyata kedua sahabatnya masih terharu belum bisa berkata-kata. Kemudian matanya menatap Bu Dar yang tersenyum ke arahnya.
"Kamu datang membawa kebaikan dan kamu juga akan pergi meninggalkan memori kebaikan untuk kami." Bu Dar ikut berkaca-kaca mengatakannya. "Ingatlah kenangan yang baik-baik saja dari sini, seperti kami juga akan mengingat semua hal baik tentangmu."
Safira tersenyum tapi tetesan air mata masih tak mau berhenti. Tapi hari ini tetesan air mata ini menjadi saksi kenangan indah yang suatu hari nanti dirindukan oleh Safira.
"Ah seharusnya kamu bilang pada kami, kita kasih si Viruz pelajaran sama-sama." Farida senior perempuan berkata.
"Sssttt..." Temannya menyenggol bahu Farida. Mereka sudah sepakat tidak membicarakan Fairuz agar tidak merusak suasana perpisahan untuk Safira.
Sejenak Safira memang terdiam saat nama itu diucapkan. Matanya melirik pintu ruangan Fairuz.
"Dia tidak di sini dan sepertinya tidak akan kembali ke sini." Ucap Bu Dar melihat Safira yang melirik ruangan Fairuz.
"Kenapa Bu Dar? Apa dia masih punya urat malu sehingga tak berani datang lagi ke sini." Farida yang mempunyai sifat ceplas ceplos menimpali.
"Hush! Sudah jangan membicarakan hal lain. Ini acara Safira, kenapa kamu malah ngepoin orang lain." Bagas menimpali Farida yang usianya tak jauh berbeda dengannya.
"Ah, iya maaf-maaf!" ucap Farida sambil merangkul pundak Safira.
"Safira kita semua minta maaf ya karena pernah menilaimu buruk." Farida mewakili teman-temannya bicara.
Safira menggeleng kemudian tersenyum. "Saya yang minta maaf mbak. Tolong maafkan semua kesalahan saya selama saya di sini."
"Gimana nih teman-teman diterima gak permintaan maaf Safira?"
Semua orang menggelengkan kepala hampir bersamaan.
Wajah Safira langsung berubah bingung, "Bagaimana ini, mereka tidak mau memaafkanku. Apa aku pernah melakukan kesalahan fatal pada mereka? Atau tak sengaja mengucapkan kata-kata kasar?" Benaknya dipenuhi berbagai pertanyaan.
__ADS_1
Safira mengedarkan pandangannya melihat wajah teman-temannya. Wajah mereka terlihat datar juga sedang menatap Safira. Bahkan sebagian dari mereka bersedekap.
"Kenapa tak memaafkanku?" Safira yang bingung memutuskan bertanya.