Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Siaga


__ADS_3

"Jangan berfikir macam-macam!" Reffan meraih pundak Safira kemudian menggiringnya ke teras samping.


Suara gemericik dari miniatur air terjun yang jatuh ke dalam kolam berisi puluhan ikan yang didominasi warna orange memanjakan mata dan menyegarkan pikiran. Reffan benar-benar menyiapkan semuanya dengan apik. Setelah semua siap baru dia memberikan kejutan kepada istrinya.


Reffan mendudukkan Safira di samping mamanya. Dia berjongkok di antara istrinya dan mamanya.


"Mama dan Safira, tolong mengertilah. Sebuah kebahagiaan bagi seorang suami bisa menyediakan tempat tinggal yang nyaman untuk istri dan anak-anaknya. Tinggal di atas hasil jerih payahnya, menata dan mengatur istananya sesuai keinginannya itu adalah impian seorang laki-laki." Tangan kanan Reffan menggenggam tangan mama Raisa dan tangan kirinya menggenggam tangan Safira.


Safira masih terlihat murung namun kemudian mama Raisa mulai nampak tersenyum.


"Mama mengerti sayang, terserah kamu saja. Kamu jangan merasa tak enak Safira, mama tadi hanya mencoba keberuntungan saja barangkali Reffan berubah pikiran yah walaupun mama tahu jika Reffan sudah memutuskan akan mustahil merubahnya." Mama Raisa mengusap lembut tangan menantunya.


Reffan tersenyum, "Sudah ada kamar mama di sini, mama bisa menginap kapanpun. Kita juga bisa sering-sering mengunjungi mama dan papa, bukankah masih satu kota. Lagipula..." Reffan mengangkat dagu Safira yang menunduk untuk menatapnya. "Kita kan pengantin baru, nanti mama bisa iri jika setiap hari melihat kita, kan kasihan papa." Reffan tersenyum mengedipkan mata dan berhasil membuat mama Raisa melotot.


"Duh anak ini. Bener-bener ya." Mama Raisa sudah mencubit pinggang Reffan. Reffan mundur menghindar dan terjadilah kejar-kejaran antara Reffan dan mama Raisa.


Safira yang wajahnya merona semakin merona saja karena tertawa melihat Reffan terpojok dan dihadiahi puluhan cubitan oleh mamanya.


.


Usia kehamilan Safira sudah masuk dua belas minggu, perutnyapun sudah mulai terlihat membesar. Wajahnya yang cantik terlihat semakin bersinar dan menggemaskan bagi Reffan tentu saja. Karena dia tak akan membiarkan ada pria lain yang menikmati pahatan sang Pencipta di wajah istrinya.


Hari ini mereka berada di Surabaya untuk menghadiri pernikahan sahabatnya Bagas dan Ira. Bagas memutuskan untuk mengadakan resepsi di Surabaya untuk memudahkan teman-temannya hadir di acara resepsi. Itu alasan kedua karena sebenarnya alasan pertamanya adalah karena Reffan memberi kebebasan untuk Bagas memakai ballroom di hotelnya. Bukankah ini kesempatan yang tidak perlu dipikirkan dua kali. Apalagi Reffan juga memberikan voucher menginap paket honeymoon.


Kebaikan tanpa embel-embel membuat mereka berada dalam siklus saling memberi. Bagi Reffan apa yang diberikannya pada Bagas tak sebanding dengan kebaikan Bagas yang menyelamatkan istrinya. Dan bagi Bagas apa yang dilakukannya sudah menjadi sebuah keharusan karena Safira adalah sahabatnya yang tak perlu identitas untuk menolongnya, sehingga Bagas bisa bertemu ibunya di saat terakhir kehidupan wanita yang telah melahirkannya. Mereka hanya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan sebagai seorang manusia. Tapi bukankah sang Pencipta Maha Melihat. Maka barangsiapa mengerjakan kebajikan seberat żarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat żarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Qur'an Surat Az Zalzalah ayat 7-8.

__ADS_1


"Ira... cantik banget sih. Aku sampai pangling tadi." Safira memeluk sahabat yang dirindukannya.


Ira tersenyum, "Kamu juga makin cantik saat hamil."


"Pegang perut Safira biar cepat nular Ra!" Bagas memberi perintah tanpa sungkan.


Walaupun malu-malu Ira akhirnya mengusap lembut perut Safira sambil berdo'a bisa segera merasakan hamil seperti sahabatnya.


Hari bahagia untuk Bagas dan Ira, siapa sangka orang yang terlanjur kita cinta dan perjuangkan ternyata bukan jodoh kita. Itulah yang terjadi pada Bagas dan Ira. Cukup berprasangka baik saja pada Allah karena sang Pencipta tetap yang paling tahu apa yang terbaik untuk yang diciptakannya.


Safira terlihat bahagia karena di resepsi Bagas dan Ira bisa bertemu dengan rekan-rekan kerjanya dulu. Sekilas Safira rindu saat bekerja dulu tapi kemudian perasaan itu ditepisnya saat melihat wajah suaminya. Bersyukur adalah hal yang paling tepat dilakukannya saat ini, bukankah apa yang telah Allah berikan terlalu banyak untuknya.


Safira dan Reffan menginap di hotel Surabaya, tempat yang sama dengan pesta resepsi pun demikian dengan Bagas dan Ira. Bukan Reffan jika tak menggunakan kesempatan yang ada. Kesempatan hadir di resepsi Bagas membuatnya ingin mengulang malam pertama setelah resepsi yang dulu gagal. Reffan meminta karyawannya menyiapkan kamar dengan segala pernak-pernik yang sama dengan kamar yang disiapkannya dulu untuk malam pertama setelah halal.


"Mass..." Safira terkejut saat masuk ke dalam kamar. Semerbak aroma kelopak bunga sudah memenuhi seluruh sudut kamar. Ingatan Safira langsung terbang ke malam pertama setelah resepsi di Surabaya. Diapun tersenyum mengingatnya.


"Gak cocok mas. Lihat perutku sudah mulai membesar." Safira menyentuh perutnya yang sudah nampak membesar, mengusapnya lembut.


"Aku suka, kamu semakin menggemaskan." Tangan Reffan mulai menjelajah dan meremas di bagian favoritnya.


"Ah mas... aku mau mandi.." Safira menggeliat berusaha lepas dari cengkeraman suaminya.


"Ayuk. Aku mandikan!" Dengan cekatan Reffan mengangkat tubuh Safira berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Setelahnya, jangan tanya lagi apa yang terjadi karena nyamuk saja malu untuk melihat mereka.

__ADS_1


Di hotel yang sama dua pasang suami istri sedang menikmati malam yang panjang bedanya yang satunya pengantin baru dan satu lagi yang selalu merasa masih baru.


.


Senja masih setia mengantar kepergian sang surya. Inilah yang terjadi setiap hari, pagi berganti malam, hari berganti pekan, pekan berganti bulan... Kehamilan Safira sudah masuk bulan ke sembilan. Menurut perkiraan dokter satu pekan lagi Safira akan melahirkan.


Reffan lebih sering di rumah. Pekerjaannya diserahkan kepada Bayu. Dia ingin fokus menemani Safira menjelang kelahiran putranya. Mereka berduapun menginap di rumah papa Rendra agar lebih banyak yang mengawasi Safira.


Pagi di halaman rumah papa Rendra beberapa kali Safira berhenti untuk duduk. Ada rasa aneh yang timbul namun kemudian hilang dengan sendirinya. Nafasnyapun mulai tersengal padahal dua bulan ini setiap pekan Safira selalu mengikuti senam hamil.


"Kenapa sayang?" Reffan mulai cemas melihat ritme pernafasan istrinya dari wajahnyapun terlihat menahan sesuatu.


"Gak papa mas. Apa ini yang namanya kontraksi palsu ya. Karena kata dokter jika akan melahirkan kontraksinya akan konsisten dan sering muncul." Safira terlihat berpikir karena ini adalah pengalaman pertamanya.


"Kita ke dokter saja ya. Aku gak ngerti sayang." Reffan mulai membujuk Safira dengan jalan yang paling aman.


"Nanti dulu lah mas. Kayaknya belum deh, gak enak di rumah sakit." Safira berjalan lagi, kini dia masuk ke dalam rumah hendak membersihkan badannya setelah jalan pagi di halaman rumah papa Rendra.


Reffan hanya diam mengikuti istrinya. Selalu siaga di dekat istrinya, kemanapun Safira melangkah Reffan akan mengikutinya kecuali ke kamar mandi, Safira akan mengusirnya dan mendorong suaminya untuk keluar.


Reffan masih duduk di tepi ranjang menunggu Safira yang masih membersihkan diri di kamar mandi.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Kini Reffan sudah berdiri di depan pintu kamar mandi karena cemas tidak mendengar suara air dan menurut Reffan, Safira sudah terlalu lama di kamar mandi.


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan wajah risau sang istri.

__ADS_1


"Mas, keluar bercak darah."


__ADS_2