Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Reffan Marah


__ADS_3

Safira mendaratkan kakinya di eskalator seberang yang berlawanan dengan arahnya tadi dan dengan cepat meraih tubuh anak perempuan yang menangis hampir tak sadarkan diri. Safira merengkuhnya ke dadanya menggendongnya turun melawan arah eskalator dengan cepat.


Ibu yang masih menggendong anaknya yang lain menangis mengikuti kaki cepat Safira yang keluar dari mall. Karena menggendong anak di dadanya, sisi jilbab yang diselipkannya melorot menampilkan wajah cantiknya. Anak yang dipeluknya erat melihat wajah Safira.


"Kakak cantik.." Lirih anak itu bergumam namun masih bisa didengar Safira. Safira meliriknya tersenyum kemudian menyelipkan kembali jilbabnya. Di dekat satpam Safira mendudukkan anak tersebut. Ibunyapun sudah memeluk kedua anaknya sambil menangis.


Safira berbalik akan segera pergi. Namun ibu tadi langsung memeluknya.


"Terimakasih." Ucapnya masih menangis.


"Sama-sama Bu. Maaf saya harus segera pergi." Safira melepas pelukan ibu tadi kemudian segera berjalan cepat menjauh.


"Semoga Allah selalu menjagamu.." Ibu tadi bergumam lirih menatap punggung Safira yang menjauh. Kemudian kembali memeluk anaknya.


Safira berjalan menjauh dari lobby mall, seseorang langsung memakaikan kemeja di badannya. Safira menarik jilbab yang menutupi wajahnya. Reffan menarik pundak Safira dalam dekapannya kemudian berjalan beriringan menyeberang jalan lalu masuk ke dalam sebuah cafe.


.


Kini mereka duduk berhadapan terpisah sebuah meja di antara mereka. Yang satu menunduk sesekali mencuri kesempatan melirik laki-laki di depannya tapi saat tatapan tajam suaminya menusuk netranya, dia kembali menunduk.


"Maaf mas." Safira memberanikan diri membuka mulutnya.


"Aku tidak menerima permintaan maafmu." Reffan menjawab dengan netra yang masih belum berubah. Tajam dan fokus menatap Safira.


Saat melihat Safira melompati pembatas eskalator, Reffan merasakan jantungnya hampir ikut lompat. Debaran di dadanya sudah tak beraturan lagi, bagaimana bisa membawa anaknya melompati pembatas bahkan Safira masih menggunakan rok.


"Mas, maaf jangan marah." Safira merajuk tapi Reffan bahkan tak bergeming sedikitpun. "Kasihan mas, anak tadi terlepas dari ibunya."


"Kamu bisa mengatakan padaku setelah kita turun dari eskalator, tidak dengan melompatinya Safira."


"Anak itu sudah tak terlihat mas, keadaannya butuh untuk segera ditolong." Safira menyentuh tangan suaminya tapi Reffan menjauhkan tangannya.


Seorang laki-laki datang mendekati Reffan.


"Selamat siang pak Reffan. Mobilnya ada di depan." Pria itu membungkuk menyerahkan kunci.


"Apa yang terjadi di sana?" Reffan berkata tanpa menatap pria di sebelahnya. Netranya masih terus mengawasi Safira.

__ADS_1


"Ledakan tabung gas dari sebuah restauran. Sudah padam, sepertinya orang-orang yang melihat asapnya membuat keadaan menjadi panik." Pria tersebut menjawab pertanyaan Reffan.


Reffan menyerahkan kunci mobil yang dipakai sebelumnya. Dari yang terlihat Safira, Reffan menyuruh pria tersebut mengambil mobil di mall dan Reffan akan mengendarai mobil yang dibawa pria tersebut.


Tanpa kata, Reffan menarik lengan Safira menariknya mengikuti langkahnya. Setelah di dekat mobil yang terparkir di depan cafe, Reffan membukakan pintu dan mendorong lembut tubuh Safira.


Mobil masuk ke area rumah sakit.


"Mas kita mau apa ke rumah sakit?" Safira tak bisa menahan bibirnya yang sedari tadi diam saja untuk bertanya.


"Memeriksa keadaan anakku." Reffan menjawab datar.


Safira melongo tapi tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti langkah suaminya.


"Silakan pak Reffan dan ibu. Ada yang bisa saya bantu?" Dokter perempuan yang kemarin memeriksa Safira tersenyum ramah.


"Tolong periksa keadaan anak saya dok. Mamanya baru saja outbond." Reffan melirik ke Safira yang wajahnya memerah malu.


"Outbond yang bagaimana pak?" Dokter bertanya dengan wajah serius.


"Ya begitulah dok, melompati aral melintang, menggendong beban berat. Begitulah kira-kira." Reffan berbicara dengan ekspresi datar.


"Mari bu, kita lihat dulu keadaan dedeknya." Dokter berdiri dari duduknya mengarahkan Safira untuk menjalani pemeriksaan.


"Tekanan darahnya agak naik 130/80. Masih bisa ditoleransi." Kemudian dokter menggerakkan alat usg di perut Safira dengan sedikit menekannya. "Kondisi kandungan baik pak bu."


Reffan tersenyum menatap bulatan kecil di layar. Begitu juga dengan Safira, dadanya terasa berdesir lembut menciptakan berjuta rasa. Bahagia, haru, dan entah apalagi.


.


Reffan masih terus diam selama perjalanan pulang, walaupun perasaannya sekarang lega tapi masih menyisakan kekecewaan pada Safira yang bertindak sembrono. Bukankah Safira seharusnya sekarang lebih berhati-hati karena sekarang ada buah hati di dalam perutnya. Saat tadi akan solat di mushola rumah sakitpun Reffan hanya menggandeng tangan Safira tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Mobil sudah memasuki halaman rumah papa Rendra. Setelah mobil terparkir, Reffan keluar lebih dulu membiarkan Safira berjalan di belakangnya.


Mama Raisa menyambut kedatangan mereka dengan senyum merekah. Tapi kemudian senyumnya lenyap saat melihat Reffan yang berwajah dingin dengan hanya memakai kaus lengan pendek sedangkan Safira malah memakai kemeja Reffan.


"Reffan ada apa? Kenapa Safira..." Mama Raisa bingung dengan pemandangan di depannya.

__ADS_1


"Gak papa ma, tolong katakan pada menantu mama jika dia masih suka lompat-lompat seenaknya lebih baik tidak pergi kemana-mana. Aku akan mengurungnya di rumah." Reffan berlalu pergi kemudian menaiki tangga dan masuk ke kamar.


"Sayang ada apa?" Mama Raisa beralih bertanya pada Safira.


"Gak papa ma, ma maaf sebentar ya Safira menyusul mas Reffan dulu." Safira menggenggam tangan mama Raisa.


"Ya sudah susul suamimu, jangan membiarkan masalah berlarut-larut." Mama Raisa mengusap punggung Safira lembut.


.


Dibukanya perlahan kamar Reffan. Suaminya kini sedang duduk di sofa dengan ponsel di tangannya. Safira mendekat duduk di lantai di depan suaminya.


"Apa yang kamu lakukan? Bangun Safira!" Reffan terkejut Safira bersimpuh di hadapannya.


Safira menggeleng, "Maafkan aku mas. Jangan marah lagi!"


"Bangun Safira!" Reffan menarik paksa lengan Safira, mendudukkan di sofa.


Reffan menarik nafas dalam kemudian membuangnya kasar.


"Sekarang kamu tidak membawa dirimu seorang Safira, ada anak kita di dalam dirimu. Saat kamu terluka itu juga akan menyakitiku dan jika terjadi sesuatu pada kalian berdua itu akan menghancurkanku." Telunjuk Reffan mengangkat dagu Safira, membuat wajah cantik yang sedari tadi menunduk menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku minta maaf mas. Sungguh aku tak bermaksud melukai diriku sendiri apalagi anak kita. Saat itu aku membayangkan diriku jika ada di posisi ibu tadi yang pasti sangat terluka karena tidak bisa menggapai dua anaknya sekaligus. Dan anak perempuan tadi pasti ketakutan dan kesakitan tubuh mungilnya terombang-ambing orang di sekelilingnya. Maaf jika aku gegabah memutuskan untuk menyelamatkan anak perempuan tadi. Aku hanya berharap, seandainya suatu saat nanti tanganku tak mampu menggapai anakku, tubuhku tak mampu melindunginya. Dimanapun anakku berada semoga Allah mengirimkan tangan makhluknya untuk menjaga dan melindunginya." Ada sesak yang tiba-tiba memenuhi dada Safira saat mengatakannya.


Tangan Reffan terulur menghapus setetes cairan bening yang lolos dari sudut mata Safira. Reffan mengecup kening istrinya, kedua hidung mereka bertemu membuat Safira kembali menitikkan air mata.


"Setelah ini katakan padaku apa yang akan kamu lakukan, kamu tak boleh pergi sendirian. Jika perlu aku akan memborgol tanganmu."


Safira tersenyum saat melihat Reffan menggenggam erat kedua pergelangan tangannya. Namun dua detik kemudian senyumnya hilang saat tangannya dikalungkan ke leher suaminya dan Reffan mendorong punggungnya mendarat di sofa.


"Mas..."


"Diam! Aku ingin menyapa anakku, dia mengatakan sudah kangen pada ayahnya saat di layar tadi."


Safira bengong tapi hanya sejenak karena Reffan langsung menyerang dengan bibirnya di tempat favoritnya.


.

__ADS_1


Mama Raisa menutup pelan kamar Reffan yang tadi tidak ditutup rapat oleh Safira. Tadi dia mengkuatirkan kondisi Safira menghadapi kemarahan Reffan. Tapi kini bibirnya menyunggingkan senyum. Di tangannya tergenggam ponsel yang menampilkan video amatir dengan judul Ninja Berhijab Menyelamatkan Anak Perempuan.


__ADS_2