Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Kita Tetap akan Ke Kota


__ADS_3

Saat matahari tegak di atas kepala, Reffan benar-benar pulang menemui Safira. Safira yang mendengar suara Reffan, Bayu dan Tama segera mendekati pintu untuk membukanya meskipun Reffan membawa kunci tapi Safira ingin membukakan pintu untuk suaminya.


Ketiga pria masih mengobrol namun seketika terdiam saat mata mereka hampir bersamaan melihat ke meja di teras rumah yang ditempati Reffan. Apa yang mereka lihat membuat pembicaraan diantara mereka langsung terhenti. Dan saat Safira membuka pintu, mereka bertiga mengalihkan pandangan ke arah Safira.


Safira sampai mundur saat melihat tiga tatapan pria fokus ke arahnya. Namun Reffan dengan cepat melangkah tepat ke depan istrinya.


"Apa ini sayang?" Reffan menunjuk bungkusan dengan lirikan matanya.


"Tadi ada yang mengantar, katanya dari mas Reffan. Aku menyuruhnya menaruh di situ mas." Jawab Safira.


"Laki-laki atau perempuan?" Reffan bertanya lagi.


"Laki-laki. Bukan mas yang menyuruh ya?" Tanya Safira.


"Anak pintar!" Reffan mengusap kepala Safira yang tertutup jilbab.


Reffan melirik Bayu, Bayupun mengangguk seolah tahu apa yang diperintahkan bosnya. Kemudian Reffan memutar tubuh Safira untuk masuk ke dalam rumah dengan salah satu tangan membawa kantong berisi box makanan.


"Pasti sudah lapar kan? Ayo kita makan!" Reffan manarik kursi untuk Safira duduk. Kemudian menarik kursi di sebelah Safira. Belum sampai duduk, Safira menggenggam lengan suaminya.


"Kita cuci tangan dulu mas!" Ujar Safira lembut. Safirapun berdiri lagi tersenyum memandang suaminya yang juga tersenyum ke arahnya.


Cuci tangan bersama saling berebut air yang mengalir hingga pada akhirnya Reffan berdiri di belakang Safira mencuci tangan istrinya dan tangannya sendiri. Kecupan singkat mendarat di bibir Safira saat Safira memutar tubuhnya. Hanya singkat saja, karena Reffan tahu istrinya pasti sudah kelaparan.


.


Bayu mengambil bungkusan dari meja di teras rumah yang ditempati Reffan. Diamati, dibuka, diendus aromanya, dibolak-balik lauknya dan berakhir di tutup kembali. Setelah itu pandangan netranya masih terus fokus pada bungkusan di depannya.


Tama hanya menggelengkan kepala, karena perutnya sudah lapar. Akhirnya dia mendahului Bayu menyantap makanan yang dibawanya tadi.


"Siapa yang mengirim makanan ini?" Bayu bergumam. "Apa tujuannya?"


"Wanita yang menyambut kedatangan kita saat itu." Tama menjawab gumaman Bayu sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Laki-laki yang mengantarnya." Balas Bayu.


"Suruhan saja." Tama masih menjawab dengan mengunyah.


"Kenapa yakin?" Bayu sekarang bertanya.


"Sorot matanya." Tama menjawab cepat, tangannya sudah akan menyendok makanan lagi.

__ADS_1


"Tujuannya?" Bayu ingin memastikan apa yang terlintas dalam pikirannya apakah juga sama dengan yang Tama pikirkan.


"Safira." Jawab Tama sambil mengunyah.


"Artinya?"


"Dua kemungkinan, racun atau mencelakai Safira. Tapi aku rasa bukan yang pertama." Tama menjawab ringan tapi kemudian dahinya berkerut. "Atau..."


Bayu memandangnya kemudian berusaha menghalang pikiran buruk yang kompak merasuki otak mereka.


"Kita bertindak!" Bayu berkata cepat.


"Biarkan saja dulu. Istri pak Reffan bukan orang bodoh. Tapi lebih baik kita tidak meninggalkan Safira sendirian." Tama berpendapat. "Tanyakan pada orang kita yang mengawasi Bara!"


Bayu mengangguk karena itu juga yang ada dalam pikirannya. "Daritadi kau menyebut Safira Safira belum pernah lihat pak Reffan murka bercampur cemburu ditambah kesal. Bisa turun derajat kamu."


Tama langsung menelan makanan yang belum selesai dikunyahnya. Seketika pandangannya langsung menyusuri sekitarnya.


"Suaraku pelankan?" Tama mulai kuatir.


Bayu menikmati sekali wajah Tama yang cemas.


.


"Ada apa sayang, sejak di sini kamu jadi pendiam?" Reffan langsung melingkarkan tangannya di perut Safira, mengusap lembut perut istrinya yang kini di dalamnya sedang tumbuh buah hati mereka.


Safira tersenyum menoleh ke suaminya, "Gak papa kok mas."


"Gak percaya! Biasanya kamu tidak begini. Ada yang kamu pikirkan?" Reffan menatap lekat wajah cantik istrinya. Gelap di luar membuat wajah istrinya nampak bersinar memantulkan cahaya dari lampu di ruangan itu.


Safira menggeleng. Dia mencoba untuk tersenyum semanis mungkin.


Jari-jari Reffan sudah menari-nari di pinggang Safira.


"Aaaa... mas." Safira yang akan berlari langsung ditangkap Reffan. Jari-jarinya kembali bergerak lincah di pinggang istrinya.


"Mas sudah.... " tawa Safira sudah meledak tidak tahan menahan geli yang ditimbulkan jemari Reffan.


"Katakan! Apa yang kamu pikirkan?" Reffan tersenyum melihat Safira yang sudah melorot dipelukannya. Wajahnya sudah memerah karena tertawa. Reffanpun ikut terduduk memeluk Safira dari belakang.


"Aku sungguh tak papa mas. Hanya bingung harus melakukan apa di sini. Mas melarang ini dan itu, memasak, bersih-bersih, juga keluar dari pintu rumah. Maaf aku hanya belum terbiasa." Jawab Safira sambil bersandar di dada Reffan.

__ADS_1


"Kamu ingin melakukan apa?" Reffan belum bisa menebak yang diinginkan Safira.


"Apa aku boleh jalan-jalan di sekitar sini, ke rumah-rumah warga?" Safira bertanya dengan suara pelan, sebenarnya dia juga ragu Reffan akan mengizinkannya.


"Tidak!" Reffan menjawab cepat, kejadian tadi siang langsung teringat di memorinya.


Safira menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Apa karena ada yang mengantar makanan tadi siang mas?"


"Salah satunya." Jawab Reffan cepat.


"Salah duanya?"


"Aku tak mungkin membiarkanmu kemana-mana sendiri sayang. Ini bukan wilayahmu, kita pendatang di sini." Reffan memeluk Safira semakin erat.


Safira kembali terdiam karena apa yang dikatakan Reffan memang benar.


"Besok kita jalan-jalan ke kota. Kita akan berbelanja bahan-bahan yang kamu butuhkan untuk memasak atau keperluan kita selama di sini."


"Di sekitar sini apa tidak ada yang menjual keperluan sehari-hari mas?" Tanya Safira heran.


"Aku juga tak tahu. Mungkin Bayu tahu. Tapi kita tetap akan ke kota."


"Mas butuh sesuatu?"


"Hmm..." Reffan hanya berdehem karena tangannya sudah menjelajah ke tempat-tempat favoritnya.


"Mas butuh apa ke kota?" Safira bertanya sambil tangannya menghalau tangan Reffan yang sudah bergerilya dan menyusup di balik jilbabnya yang menutupi dada.


"Butuh kamar hotel." Bisik Reffan di dekat telinga istrinya.


"Mas ih..." Safira mencubit lengan suaminya kuat membuat tangan Reffan langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan mengusap-usap hasil perbuatan istrinya.


"Sakit sayang..." Reffan memelototi Safira, tangannya langsung meraih pinggang istrinya yang akan kabur. Jemarinya langsung bergerak lincah di pinggang Safira kemudian beralih menari-nari di leher istrinya.


"Aaaa.. haaa... ampun mas." Tubuh Safira sudah menggeliat ke sana kemari. Saat tangan Reffan menutup jendela, Safira segera berlari dari cengkraman jahil suaminya. Berlari ke kamar dan menyembunyikan seluruh tubuhnya di bawah selimut. Safira pasti lupa jika dia berlari ke tempat kesukaan Reffan.


Di teras rumah sebelah, walau tak bermaksud mendengarkan tetap saja suara tawa Safira terbawa angin ke telinga mereka. Mereka saling memandang kemudian melempar pandangan ke depan.


"Gak kuat aku tinggal di sebelah rumah pengantin baru. Padahal sudah sebulan lebih mereka menikah." Gumam salah satunya di dalam hati.


"Ya Allah, aku benar-benar terdzalimi tinggal di sini. Kabulkan do'aku Ya Allah, bukankah engkau selalu mengabulkan do'a orang-orang yang terdzalimi. Tolong kirimkan bidadari untukku Ya Allah agar aku punya kesibukan di malam hari selain menemani pria di sampingku." Ratap satunya lagi.

__ADS_1


__ADS_2