Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Terungkap


__ADS_3

"Reffan kita sama. Kamu melakukan semua cara untuk mendapatkan Safira. Kamu pikir aku tak tahu semua caramu untuk mendapatkannya. Lalu apa aku salah melakukan semua cara untuk mendapatkanmu?" Claudia berteriak membuat Reffan mengurungkan langkahnya.


"Jangan pernah samakan aku denganmu Claudia. Apa kau melihatku menyakiti seseorang? Kamu seharusnya bisa melihatku fokus pada Safira tak peduli orang di sekitarnya asalkan mereka tidak mengganggu Safira. Dan kamu Claudia, kamu berani mendekati istriku dan menyakitinya." Bentak Reffan.


Claudia tercekat melihat netra tajam Reffan.


"Apa preman-preman itu juga ulahmu Claudia?" Reffan mendekati Claudia mengamati reaksi pada wajah Claudia.


Claudia kebingungan menyembunyikan reaksinya yang sudah tertangkap basah oleh Reffan.


"Dan jatuhnya Safira di depan lobby juga ulahmu?" Suara Reffan sudah memekakkan telinga siapapun yang ada di sana. "Aarrgh". Reffan menendang meja di depan sofa membuat kacanya jatuh berhamburan. Kemarahan Reffan sudah mencapai ubun-ubun. Claudia mundur sampai tak ada lagi udara di belakangnya, tubuhnya sudah menempel di dinding. Kakinya bergetar ketakutan, dia tak menyangka Reffan bisa semenakutkan ini saat marah.


"Claudia... jika kau masih berani mengganggu Safira, aku tak akan mempedulikan siapa orangtuamu. Jika orangtuamu tidak bisa mendidikmu, mungkin penjara bisa mengajarimu lebih waras."


Reffan meninggalkan ruangannya. Jika dia masih di sana, Reffan akan lupa jika Claudia seorang perempuan dia akan menghajarnya tak kenal ampun.


Sekarang di ruangan Reffan hanya ada Claudia dan Bayu. Bayu menelpon sekretaris Reffan.


"Diana tolong bawakan gunting ke ruangan pak Reffan." Ucapnya pada sekretaris Reffan kemudian menutup sambungan teleponnya.


Tak butuh waktu lama bagi Diana untuk memberikan gunting pada Bayu. Saat Diana akan beranjak keluar.


"Di, kamu tetap di sini." Ucap Bayu pada Diana tapi netranya menatap gunting yang berputar-putar di jarinya.


"Nona Claudia, anda tahu kan saya bukan orang yang sabaran. Jadi cepat katakan apa yang sudah anda perbuat pada Bu Safira?"


"Aku tak mengerti apa yang kamu katakan." Jawab Claudia cepat berusaha menutupi ketakutannya.


"Baiklah. Jangan salahkan saya, saya sudah bicara baik-baik dengan anda. Diana pegang tangannya."


"Kamu mau apa jangan kurang ajar kamu. Kamu tidak tahu siapa saya." Claudia panik saat Diana menarik kedua tangan Claudia ke belakang. Ini adalah hal mudah bagi Diana karena memiliki perawakan tubuh yang besar. Diana sangat bersyukur saat diterima sebagai sekretaris Reffan di Surabaya karena biasanya sekretaris identik dengan wanita seksi namun Reffan memilihnya karena ketangkasan dan kecepatannya dalam bekerja.


"Hai mau apa kamu sekretaris sialan. Jangan berani mendekatiku." Claudia berteriak berusaha membebaskan diri. Bayu semakin mendekat sambil memainkan gunting di tangan kanannya.


"Saya sudah memberi kesempatan anda untuk berbicara. Sepertinya gaya rambut gundul pas untuk anda Nona." Bayu tersenyum asimetris meraih ujung rambut Claudia.


Reffan berada di kamarnya, meninju dinding yang ada di depannya.

__ADS_1


"Bodoh, bagaimana aku bisa kecolongan seperti ini. Aku yang sudah menyebabkan Safira celaka selama ini." Tangannya kembali meninju dinding di depannya.


Reffan tidak menyangka Claudia akan senekat itu, apalagi berani mencelakai Safira. Hubungan orangtua mereka selama ini baik. Orangtuanya memang pernah mengutarakan untuk menjodohkan anak mereka namun orangtua Reffan menyerahkan semua keputusan tentang pendamping hidup pada anaknya karena merekalah yang nantinya akan menjalani seumur hidup mereka asalkan tidak melanggar norma.


Ponsel di kemejanya bergetar memperlihatkan nama Bayu.


"Iya. Tunggu di kolam renang." Jawabnya singkat memberikan instruksi pada asistennya.


Reffan segera kembali keluar dari kamarnya untuk menemui Bayu.


"Ini Pak. Ini yang menyebabkan Ibu Safira pergi."


Foto-fotonya bersama wanita yang diambil dari sudut pandang yang sangat pas membuat seolah Reffan bermesraan dengan seorang wanita. Padahal kejadian aslinya tidak sepenuhnya seperti yang terlihat di foto.


"Dan ini video aslinya." Bayu membukakan sebuah file untuk Reffan.


Dalam video itu terlihat kejadian sebenarnya saat tiba-tiba seorang wanita menabraknya ketika Reffan akan duduk bersama temannya. Wanita itu menyentuh dada Reffan dan Reffan menarik lengan wanita itu karena wanita itu tidak segera menjauh darinya. Jadi Reffan menyentuh lengan wanita itu untuk menariknya menjauh. Dia tidak suka ada wanita kecentilan di dekatnya. Namun hasil screenshoot foto-foto yang dikirimkan ke Safira berkata lain. Sudut pandang bisa membuatnya jauh berbeda dari kenyataan.


"Apa yang kamu lakukan pada Claudia?" Tanya Reffan pada asistennya setelah selesai melihat rekaman video.


"Dimana dia sekarang?"


"Sudah pergi pak. Dia memohon agar orangtuanya tidak diberi tahu tentang semua perilakunya."


"Huh, masih berani dia berkata seperti itu. Kirim foto dan video itu ke nomorku."


"Sudah pak."


"Sekarang antar aku ke Safira. Saatnya memberinya hukuman."


"Bapak, mau melakukan apa? Menurut saya Bu Safira tidak sepenuhnya salah mungkin..." Kata-kata Bayu sudah diputus Reffan.


"Kenapa kamu membelanya. Tidak seharusnya dia pergi tanpa mengatakan apapun. Itu urusanku kamu tidak perlu tahu apa yang akan kulakukan." Reffan tersenyum menyeringai.


"Maaf Pak."


"Sekarang antarkan saya ke tempat Safira. Saya ambil barang-barang saya dulu kamu tunggu di lobby."

__ADS_1


"Baik Pak."


Di cottage Safira jarang sekali keluar kamar. Dia hanya keluar saat mengambil makanan. Safira menghabiskan waktunya untuk membaca buku sambil sesekali melirik ponselnya. Dadanya berdegup kencang setiap ponselnya bergetar. Harapannya Reffan menghubunginya selalu terbang begitu saja. Kecewa... tentu saja itu yang Safira rasakan, Safira merasa Reffan sudah melupakannya karena bertemu dengan wanita dalam foto itu.


"Salah. Aku yang salah telah memutuskan menikah tapi tak mengenal pribadi calon suamiku. Perasaanku saat itu begitu condong padanya, aku jadi lambat berpikir di dekatnya. Kupikir dia laki-laki yang berbeda. Nyatanya aku yang terbawa perasaan tanpa berpikir dengan matang. Apa semudah itu? Wanita keluar masuk dalam kehidupanmu?" Setetes cairan bening lolos begitu saja dari mata Safira yang terpejam. Sekarang tubuhnya meringkuk di kasur sendirian memeluk buku yang baru saja dibacanya, buku yang menemani kesendiriannya dalam rindu yang belum bertepi.


Reffan sudah tiba di cottage saat sore hari tapi tiba-tiba dia mengurungkan untuk menemui Safira malam ini. Ditahannya rasa rindu yang menyiksa, dia yakin saat ini Safirapun merasakan hal yang sama, tersiksa berjauhan darinya. Safira bersikeras tidak menghubunginya maka dia juga akan menahan diri malam ini di cottage yang bersebelahan dengan istrinya. Bayu sudah disuruh mencari hotel lain agar tidak menginap di tempat yang sama dengannya dan Safira.


Maka inilah dua insan yang saling merindu tapi enggan mengalah demi sebuah keyakinan pasangannyalah yang salah.


Pagi hari di restauran cottage. Gadis cantik dengan kaos lengan panjang navi, rok jeans dan jilbab senada dengan pakaiannya yang terjuntai seperutnya. Warna yang kontras dengan kulit putih bersihnya. Dari meja yang cukup jauh seorang pria menatap tajam pria lain yang memandang sang gadis dengan tatapan lekat penuh makna.


Dari sisi manapun Safira memanglah mempesona. Saat diampun dia sudah mempesona bagaikan seorang model yang sedang melakukan pemotretan dengan segala pose padahal jelas tak ada make up mencolok di wajahnya justru wajahnya yang natural membuat orang senang memandangnya berlama-lama.


Biasanya Safira akan masuk kembali ke kamarnya setelah sarapan.


"Kenapa berasa merinding ya.." Safira mengedarkan pandangannya sekilas. "Kayaknya aku kedinginan deh karena gak gerak berhari-hari. Jalan-jalan sebentar berjemur kayaknya enak." Safira melangkahkan kaki melihat pemandangan yang tersaji di sekitar cottage, suasana pegunungan dengan banyaknya pepohonan adalah tempat ternyaman menurut Safira.


Safira tak menyadari dua orang laki-laki mengikutinya. Seorang berjalan mempercepat langkahnya menuju Safira, namun seorang lagi menghadangnya.


"Apa anda ada urusan dengan istri saya?" Reffan menghadang pria yang sedari tadi menatap lekat istrinya tepat saat orang itu semakin dekat berjalan ke arah Safira.


"Istri anda?" Pria itu menyipitkan matanya.


"Wanita berhijab yang anda ikuti itu istri saya."


"Oh ya? Jika itu istri anda seharusnya anda tidak jauh-jauh darinya. Ah, baiklah jika itu istri anda, tadinya aku pikir dia sendirian karena sepertinya dia belum tersentuh." Tanpa rasa bersalah pria itu meninggalkan Reffan begitu saja.


Reffan melotot, "Dasar buaya, tahu aja Safira belum tersentuh." Jengkel sekali Reffan ada pria yang memandangi tubuh istrinya padahal pakaian Safira termasuk longgar.


"Sudah ah, balik aja ke kamar." Safira membalikkan badannya dan terkejut sesosok pria tampan yang dirindukannya sedang menatapnya.


"Sudah selesai tebar pesonanya." Ucap Reffan datar.


Safira malah memutar balik langkahnya menjauh tapi karena debaran jantungnya yang tak terkontrol dia tidak menyadari jalan yang dilaluinya berlubang dan...


"Auw... Astaghfirullah." Cicit Safira jatuh memegang kakinya yang terkilir.

__ADS_1


__ADS_2