Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Pekan Terakhir 3


__ADS_3

"Saya akan ikut dengan suami saya Bu." Safira menjawab sambil tersenyum.


"Suaminya kerja dimana?" Bu Dar kembali bertanya dengan ramah.


"Wiraswasta Bu. Domisili di Jakarta." Safira kembali menjawab dengan tenang.


"Saya harus bilang apa kalau alasannya ikut suami. Padahal berat bagi saya menerima surat pengunduran kamu Safira. Kinerja kamu bagus, attitude kamu juga bagus. Apa ada alasan lain yang membuatmu mundur?" Bu Dar menatap Safira penuh makna.


"Suami saya menginginkan saya mundur dan itu sudah menjadi alasan utama untuk saya mundur Bu." Sejenak mata Safira berkaca-kaca tapi dengan cepat Safira berusaha mengendalikan diri.


Bu Dar tersenyum. "Ya ya... bahkan suamimu sudah mentransfer uang denda bersamaan dengan surat ini ada di meja saya. Kamu seperti gelas kaca Safira, suamimu pasti susah payah menjagamu."


Sejenak Safira tertegun dengan perkataan Bu Dar.


"Gelas kaca?" Lirih Safira mengucapkannya, inginnya dalam hati saja tapi ternyata terdengar sampai telinga Bu Dar.


"Bening tapi mudah pecah. Menarik untuk dipegang tapi saat pecah kamu akan hancur dan melukai. Orang di sekitarmu akan terluka saat kamu hancur Safira. Itulah sebabnya mereka hati-hati menjagamu." Bu Dar tersenyum.


Safira masih mencerna perkataan Bu Dar. Netranya mengerjap menatap wajah Bu Dar di depannya. Bu Dar hanya tersenyum melihat wajah bingung Safira.


"Bahagialah dengan pilihanmu. Semoga pekan ini memberi kenangan indah untukmu. Jangan fokus pada satu lalat pengganggu, lihatlah bunga dan kupu-kupu di sekitarmu." Bu Dar berdiri menepuk pundak Safira diikuti Safira yang juga berdiri. Safirapun keluar ruangan dengan penuh tanda tanya di benaknya mencerna setiap kata yang meluncur indah dari bibir Bu Dar.


.


Safira tersenyum bergantian memandang Bagas dan Ira. Ira di sampingnya dan Bagas yang duduk di seberang Ira, ada meja yang memisahkan mereka. Mereka sedang menunggu pesanan makan siang datang di rumah makan dekat kantor.


"Baiklah Safira aku akan mengatakannya." Bagas yang mendapat lirikan dari Safira tak tahan untuk berpura-pura biasa saja. "Kami memang ada hubungan yang serius."


Senyum Safira merekah. Tangannya memeluk Ira.


"Kapan kalian akan menikah?" Safira langsung antusias bertanya.


Bagas melirik Ira yang menunduk.


"As soon as possible.." Bagas menjawab mantap.

__ADS_1


"Barakallah... semoga lancar semuanya.." Safira memeluk sahabatnya lagi.


Ira tersenyum. "Makasih Fir."


Ira tersenyum tapi kemudian wajahnya berubah datar seperti memikirkan sesuatu.


"Hei ada apa?" Safira menyadari sahabatnya sedang gelisah.


"Jika aku dan pak Bagas menikah bukankah aku harus mengundurkan diri dan membayar denda pinalti." Ira keceplosan lupa jika ada Bagas juga di sana. Telapak tangannya langsung menutup mulutnya.


Safira tersenyum merangkul pundak sahabatnya. "Tenang saja, pak Bagas tidak akan keberatan membayarnya. Benarkan pak?" Safira melirik ke arah Bagas.


Bagas yang sedang menyedot minumannya terbatuk-batuk saat mendengar penuturan Safira.


Tanpa rasa bersalah Safira melanjutkan perkataannya, "Pak Bagas pernah mengatakan hal itu padaku, dia tidak akan keberatan membayar denda istrinya. Jadi kamu tidak perlu risau, pak Bagas pasti sudah menyiapkannya." Safira tersenyum melirik Bagas.


"Iya Ra tak perlu memikirkan hal itu. Uang segitu dibandingkan wanita sepertimu tak ada artinya." Bagas mulai besar kepala.


Kini Safira yang terbatuk-batuk.


"MasyaAllah... luar biasa pak Bagas sudah memikirkan masa depan Bu Bagas." Safira menggoda sahabatnya yang tersenyum malu kemudian mencubit lengan Safira.


Mereka bertiga tersenyum bahagia menikmati pesanan makan siang yang baru saja datang.


Kebahagiaan Bagas dan Ira tentu saja juga membuat Safira berbunga-bunga. Jangan fokus pada satu lalat lihatlah bunga dan kupu-kupu di sekitarmu. Mendadak Safira mengingat perkataan Bu Dar membuatnya kembali merenung setelah menghabiskan makanannya.


"Apa kamu tidak mundur Fir?" Perkataan Bagas membuatnya terkejut.


"Eh apa?" Safira yang terkejut bertanya kembali.


"Kamu apa masih mau bertahan bekerja?" Bagas bertanya lagi.


"Pekan ini terakhir aku bekerja. Pengunduran diriku sudah diurus." Safira tersenyum bergantian menatap sahabatnya yang sedang fokus menatap wajah Safira.


Ira mengusap tangan Safira di meja. "Kami akan merindukanmu."

__ADS_1


"Kalian tidak akan mengundangku di pernikahan kalian?" Safira tersenyum tak ingin terlihat bersedih.


"Aku akan menggelar karpet merah untuk menyambutmu." Bagas berceloteh untuk menghilangkan suasana sedih yang sedang menghinggapi mereka.


"Bukankah itu selalu ada di acara pernikahan untuk berjalan para tamu?" Safira membalas perkataan Bagas.


Mereka bertiga tertawa sebelum akhirnya meninggalkan tempat makan siang mereka yang kelak akan mereka rindukan dalam suasana yang berbeda.


.


Sementara Audri dan Fairuz sedang makan siang di dalam ruang VIP sebuah restauran. Audri mengajak Fairuz makan siang di luar. Hal yang langka karena biasanya Audri yang menerima ajakan keluar dari suaminya. Mereka makan siang dalam hening, hanya Fairuz yang mencoba mengambil hati istrinya dengan mengambilkan berbagai menu ke piring istrinya.


"Sayang ada apa?" Fairuz mengusap lembut tangan istrinya. Audri menarik nafas dalam kemudian menarik tangannya dari genggaman tangan Fairuz.


"Sejak kapan mas bermain di belakangku?" Audri menatap tajam ke arah Fairuz.


"Maksudmu?" Fairuz cukup terkejut dengan pertanyaan istrinya.


"Sudahlah mas jangan berpura-pura. Untuk apalagi mas membeli banyak properti di belakangku jika mas tidak bermain dengan wanita lain di belakangku." Audri berusaha tenang.


"Kamu ini ngomong apa sih Audri. Jangan memancing kesabaran mas ya. Kamu tahu selama ini aku selalu memperlakukanmu dengan baik jadi jangan bicara aneh-aneh." Fairuz mulai emosi.


"Ya berlaku baik padaku untuk menutupi bejatnya perbuatanmu. Iya kan? Tak tahu malu kamu mas? Kamu pikir itu uangmu? Itu uangku mas, uang dari perusahaan keluargaku. Dan karena kebejatan kamu membuat perusahaanku terkena akibatnya." Audri tak sanggup membendung amarahnya.


"Jaga bicaramu Audri!" Fairuz berdiri menatap tajam ke istrinya.


"Mas yang harus menjaga sikap mas. Kembalikan semua yang mas beli dengan uangku!" Audri ikut berdiri menatap suaminya.


Fairuz mengeram. "Ini pasti karena Safira. Safirakan yang mengatakan padamu?"


Ingatan Fairuz langsung terbawa ke Safira yang pernah mengancamnya. "Awas kamu Safira, jika ini benar-benar karenamu!" Fairuz mengatakan di dalam hatinya tangannya terkepal di atas meja.


"Jadi wanita itu bernama Safira. Apa dia mengancam dan memerasmu?" Mata Audri berkilat, mendengar nama seorang wanita yang disebut bibir suaminya.


"Sial! Kenapa aku malah keceplosan menyebut nama Safira." Fairuz mengumpat di dalam hati. Di sudut hatinya ada perasaan tak rela saat Audri menyebut Safira mengancam dan memerasnya.

__ADS_1


__ADS_2