Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Bagaimana Jika Aku...


__ADS_3

Reffan menatap istrinya, hatinya juga terluka saat hati Safira sakit. Hari ini Reffan melihat Safira rapuh tak seperti biasanya. Wanita yang dikenalnya mempunyai dua sisi, anggun dan perkasa kini seoalah tak berdaya.


Reffan naik ke tempat tidur Safira, brankar rumah sakit yang tidak terlalu besar menyanggang dua tubuh mereka. Diraihnya tubuh Safira masuk ke dalam pelukannya.


Pelukan yang selalu dirindukan Safira membuatnya tenang, membuatnya sadar dia sangat membutuhkan suaminya. Dulu dia adalah wanita yang mandiri, tinggal sendirian jauh dari keluarga dekat membuatnya tak ingin bergantung pada siapapun dan lagi dia adalah anak pertama yang sejak dulu selalu berusaha menjaga adeknya. Namun sekarang, Allah memperlihatkan sisi rapuhnya saat terikat dengan laki-laki yang dikirimkan Sang Pencipta untuk bertanggung jawab atas dirinya.


Satu setengah bulan usia pernikahannya, melepas status lajang dengan cepat bahkan terkesan mendadak. Reffan Satriya Bagaskara memang membuatnya lemah sejak awal perjumpaan mereka. Laki-laki pemaksa yang bertindak cepat untuk mengikatnya.


"Aku baru belajar menjadi seorang istri. Maaf jika membuat mas kecewa." Setitik cairan bening lolos dari sudut netranya, Safira menghapusnya cepat. "Dan sekarang Allah memberiku hadiah untuk menjadi calon ibu. Apa aku bisa menjadi ibu yang baik sementara aku masih tertatih menjadi istri yang baik?"


Reffan mengusap lembut pipi istrinya. "Aku bukan nabi Muhammad yang sempurna bagaimana aku bisa mengharap istriku sempurna. Kita sedang sama-sama belajar sayang, tak apa jika dengan belajar kita masih menemukan kekurangan. Bukankah itu akan membuat kita menjadi lebih baik lagi. Justru saat kita merasa jumawa tak butuh lagi belajar kita tak akan menemukan apa yang harus kita perbaiki." Reffan mengecup sekilas bibir Safira. "Kamu di sisiku adalah kebahagiaan yang tak terhingga, istri terbaik dan insyaAllah akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak."


Safira memeluk suaminya. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba mengaliri seluruh sel tubuhnya. Bukankah kebahagiaan seorang istri saat suaminya menerima dirinya apa adanya. Mau mengerti kelemahannya dan mengingatkan dengan lembut kesalahannya. "Terimakasih mas." Ucapnya lirih.


"Sama-sama sayang." Jawab Reffan lembut.


"Maafkan aku ya mas." Safira tetap merasa harus meminta maaf. "Selama ini aku keras kepala." Safira memandang wajah suaminya setelah puas berada di pelukan Reffan. "Andai saja...."


Safira belum selesai menyelesaikan kalimatnya, Reffan sudah meletakkan telunjuknya di bibir Safira.


"Ssssttt... Allah tak suka kita berandai-andai. Biarlah yang sudah terjadi kita ambil hikmahnya." Reffan mengecup sayang puncak kepala Safira.


Safira mengangguk, "Maaf..." ucapnya lirih, bagaimanapun ada sesal di hati Safira dan mungkin ini adalah cara Allah untuk menegurnya karena terlalu sering nego dengan titah suaminya.


"Jangan minta maaf lagi. Dan jangan pernah berpikir merepotkan suamimu ini. Dibutuhkan olehmu adalah kebahagiaan bagiku. Sudah tugasku memenuhi seluruh kebutuhanmu, menjagamu, membahagiakanmu. Aku senang memenuhi kebutuhan lahir dan batinmu." Ucap Reffan dengan senyum sejuta makna.


Safira tersipu dengan yang dikatakan suaminya karena otaknya membayangkan yang tidak-tidak.


"Sabarlah! Jangan minta sekarang, kita sedang di rumah sakit." Reffan yang melihat rona di wajah istrinya menjadi bersemangat untuk menggoda Safira.

__ADS_1


"Enggak mas. Bukan..." Safira membelakangi tubuh suaminya, malu karena salah tingkah. Wajahnya sekarang pasti sudah memerah bak udang goreng karena dirasakan pipinya yang memanas.


Reffan memeluknya dari belakang. Tak ada kata, tubuh Safira membeku dengan jarak sedekat itu. Begitupun Reffan yang harus menahan diri tidak bertindak lebih. Reffan melepas pelukannya kemudian berdiri dari posisinya membuat Safira membalikkan badan.


"Aku ke kamar mandi dulu ya sayang, sebentar lagi adzan." Sebelum pergi Reffan mengusap kepala Safira.


.


"Tiga sendok lagi sayang. Ini makanan kesukaanmu lhoo." Reffan sedang menyuapi Safira makan. Wajah mereka berdua lebih segar setelah membersihkan diri.


"Iya mas. Aku suka banget makanannya apalagi udangnya besar-besar tapi ini porsi jumbo mas. Kenyang banget mas." Safira menampilkan wajah memelasnya sambil mengusap-usap perutnya agar Reffan menghentikan suapannya.


"Porsi makanmu harus bertambah sayang, anakku akan semakin besar di perutmu."


Safira cemberut.


Reffan tersenyum, ada kata-katanya yang membuat Safira cemberut. "Anak kita akan semakin besar di perutmu sayang. Lagi pula sekarang ini aku sedang menyuapi anak kita, jadi cepat buka mulut." Reffan menyentuh dagu Safira agar membuka mulut.


.


Malam kian pekat pertanda waktu istirahat. Reffan menyuruh Safira tidur, dia sendiri sudah berbaring miring menghadap istrinya dengan tangan yang menyangga kepalanya.


"Mas Reffan gak tidur di sofa bed aja?" Safira bertanya pada suaminya.


"Kamu mengusirku seperti waktu itu?" Reffan memainkan telunjuknya di wajah Safira. "Kamu ingat tempat ini?"


"Mana mungkin aku lupa mas." Safira tersenyum walaupun sebenarnya merinding juga mengingat Reffan yang tak bisa dibantah saat itu.


"Aku tak mau tidur di sofa bed lagi, kan sekarang kamu sudah menjadi milikku." Reffan mencubit hidung Safira gemas.

__ADS_1


"Mas gak nyaman nanti tidurnya. Nanti malah capek semua badannya." Safira mengkuatirkan keadaan suaminya.


"Diamlah! Tidur! Atau mau kuberi obat tidur yang nikmat?" Reffan memejamkan matanya menyusupkan wajahnya ke leher Safira. Namun tiba-tiba Reffan ingat sesuatu, netranya terbuka lagi. "Sayang.."


"Iya mas?" Safira memandang lekat wajah suaminya.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Bagas sehingga dia merasa berhutang budi padamu?"


Safira terkejut suaminya menanyakan hal itu.


"Tadi Bagas mengatakannya tapi tak mau memberitahunya malah menyuruhku bertanya padamu." Reffan terlihat sedikit kesal.


"Hanya bantuan kecil mas." Jawab Safira ringan.


"Apa itu?" Reffan masih penasaran.


"Maaf mas bukannya aku tidak mau bercerita tapi aku tak ingin mengingat apa yang sudah aku lakukan untuk menolong orang. Bukankah Allah suka saat kita bersedekah dengan tangan kanan kita, tangan kiri kita tidak melihatnya. Aku hanya takut ada terselip perasaan sombong yang tak pantas aku miliki." Safira berbicara hati-hati.


Reffan masih menatap lekat istrinya.


"Percayalah mas, mas juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku saat itu. Seseorang yang membantu temannya tidak lebih." Safira kembali menjelaskan karena suaminya masih diam menatapnya.


"Baiklah. Jika kamu tidak mau mengingatnya." Reffan memeluk tubuh Safira seperti memeluk guling.


"Apa kamu mencintaiku Safira? Kenapa tak memanggilku sayang?" Reffan berbisik dengan mata yang terpejam.


Semburat merah muncul di pipi Safira, mendadak dia malu sendiri dengan pertanyaan suaminya. Safira memang masih malu untuk memanggil suaminya begitu apalagi jika ada orang lain yang mendengarnya.


"Kenapa diam? Siapa yang kamu cintai Safira?" Reffan masih memejamkan mata.

__ADS_1


Safira tersenyum jahil.


"Bagaimana jika aku mencintai Bagas mas?"


__ADS_2