Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Serangga Pengganggu


__ADS_3

Ini adalah hari ketiga setelah pernikahan Safira dan Reffan. Setiap harinya mereka berkencan berkeliling Surabaya, lebih tepatnya Reffan mengikuti kemanapun Safira mengajaknya pergi. Permintaan yang sederhana, Safira mengajaknya ke wahana permainan, tempat makan dan masjid-masjid bersejarah di kota ini. Seperti kemarin Safira mengajaknya berkeliling masjid dari masjid Sunan Ampel ke masjid Cheng Ho. Walaupun hanya Reffan yang solat dan Safira menunggunya. Safira membelikannya sebuah koko dan peci hasil jalan-jalan mereka di sekitar masjid Sunan Ampel. Safira begitu antusias memasangkan baju koko dan peci untuk Reffan, sementara saat ditanya mau beli apa, Safira hanya menggeleng. Satu lagi sifat Safira yang diketahui Reffan dia lebih suka memberi daripada meminta karena saat mereka jalan-jalan Safira lebih melirik barang-barang untuk Reffan daripada untuk dirinya sendiri. Namun Reffan langsung membelikan sebuah mukena traveling berwarna emas untuk Safira yang membuat senyum manis istrinya semakin merekah dan pelukan di lengan Reffan semakin mesra.


"Gak mau minta tapi seneng banget dibelikan." Gumam Reffan di dalam hatinya.


Reffan tersenyum saat menunggu makanan datang di sebuah kedai pangsit fenomenal di dekat kantor walikota Surabaya. Safira sedang bercerita kenangannya dulu saat makan di tempat ini bersama adeknya Hasna. Safira pribadi yang hangat, saat bercerita mengalir begitu saja membuat nyaman orang di sisinya dan saat menjadi pendengar dia mendengarkan dengan seksama tidak menyela yang membuat orang tidak nyaman, dia berbicara jika sudah saatnya. Sungguh jauh berbeda dengan Safira di awal pertemuan mereka, dingin dan tidak banyak bicara. Karena begitulah Safira bersikap di hadapan laki-laki.


Hari masih pagi Reffan memandangi istrinya yang menggunakan pakaian santai dan sedang membaca buku di dekat jendela.


"Sayang.. sedang apa?" Tanya Reffan memperhatikan buku yang dibaca Safira.


Safira buru-buru menutup bukunya dan berdiri.


"Cuman baca-baca sambil nunggu mas selesai mandi. Kita langsung sarapan kan?"


Reffan tersenyum jahil melihat sampul buku yang disembunyikan Safira. Kemudian merebut buku Safira. "Kayaknya aku perlu baca juga deh. Terutama bab-bab yang ini." Reffan menunjuk tulisan di daftar isinya membuat Safira merona salah tingkah. Buku tentang membina rumah tangga itupun direbut kembali oleh Safira dan dibawanya lari menghindar dari Reffan namun Reffan menyusulnya dengan cepat dan memeluknya dari belakang.


"Berapa hari lagi Safira, aku sudah tak tahan." Ucap Reffan di belakang telinganya yang membuat bulu halus di tubuh Safira meremang seketika.


"Mas, sarapan!" Ucap Safira berusaha mengalihkan fokus suaminya pada dirinya.


"Ini aku lagi minta menu pembukanya. Morning kiss please!" Reffan menghadapkan tubuh Safira ke arahnya sambil menunjuk pipi kanannya, lalu pipi kirinya. Safira mengecupnya bergantian. Saat menunjuk bibirnya, Safira malu-malu menundukkan wajah meronanya. Reffan yang tak sabar mengecup bibir pink yang menggoda, dua kecupan dan yang ketiga sudah berubah menjadi ciuman panjang yang melenakan.


Reffan dan Safira sudah berada di pinggir kolam renang menikmati sarapan mereka. Setelah menikah mereka menginap di kamar Reffan yang biasa ditempatinya saat ke Surabaya. Keluarga Safira sudah kembali ke Yogyakarta karena Hasna yang harus kuliah dan keluarga Reffan juga sudah kembali ke Jakarta, Raffipun sudah kembali ke Inggris karena harus kuliah juga. Dua pekan lagi dia akan ke Jakarta menghadiri resepsi kakaknya yang diadakan di Jakarta.


"Sayang, ada rekan sekaligus temanku yang akan kemari, tidak papakan aku temui sebentar? Kamu tunggu di kamar aja ya?" Ucap Reffan setelah mereka sarapan.


"Mas ada meeting dengannya?"


"Tidak, hanya mengobrol sebentar. Dia hanya berkunjung karena kebetulan sedang di Surabaya dan ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kita."

__ADS_1


"Tidak mengajakku?"


"Tidak, aku sudah mengajak Bayu untuk apa mengajakmu..."


"Ooo... " Wajah Safira berubah, ada raut kecewa nampak jelas di sana.


"Untuk apa mengajakmu yang akan membuat dua laki-laki memandangi wajah istriku. Wajah cantikmu buatku saja." Bisik Reffan di telinga Safira yang membuat wajah kecewanya berubah merona.


Safira tersenyum lembut melirik suaminya yang masih terus fokus pada dirinya.


"Aku tunggu di kamar, mas santai saja."


"Aku tidak akan lama kok, aku tahu kamu pasti rindu." Reffan bangkit dari tempat duduknya diikuti Safira yang sudah berjalan duluan pura-pura tak mendengar perkataan Reffan. Tapi Reffan segera menyusulnya dan meraih pinggang Safira.


"Mas, malu..."


Safira meraih telapak tangan Reffan melepaskan pelukan Reffan dari pinggangnya. Tapi Reffan segera meletakkan tangannya di pinggang Safira lagi.


"Diam atau kucium." Bisik Reffan yang membuat Safira langsung terdiam dan membiarkan Reffan melakukan apapun yang disukainya.


Safira menundukkan pandangan selama perjalanan ke kamar mereka, karyawan hotel yang berjumpa dengan mereka juga selalu membungkukkan badannya. Safira benar-benar malu dengan perlakuan Reffan yang memeluk pinggangnya, tak ada lagi jarak di antara mereka tubuh mereka benar-benar menempel bahkan Safira harus menyesuaikan kakinya dengan langkah lebar Reffan.


Sesampainya di kamar, "Tunggu ya jangan kemana-mana. Morning kiss!" Reffan menunjuk pipi kanannya.


"Tadi kan sudah."


"Memang kenapa kalo lagi? Setiap aku akan keluar kamu harus memberi ciuman dong."


Safira segera mengecup pipi Reffan kanan dan kiri.

__ADS_1


"Ada yang belum. Reffan memajukan bibirnya."


Muaachh... satu kecupan singkat mendarat di bibir Reffan berharap sang suami segera melepaskan tangannya dari pinggang Safira.


Reffan tersenyum.


"Nanti aku ajarin." Tangannya mencubit hidung mancung Safira. Kecupan di kening Safira mengakhiri pelukannya.


Setelah kepergian Reffan, Safira ke kamar mandi berwudhu, biasanya Safira akan solat Dhuha tapi karena berhalangan dia hanya berwudhu saja. Baru saja akan mendekati sofa di dekat jendela. Ponselnya bergetar beberapa kali menandakan ada pesan beruntun yang masuk.


Digenggamnya benda pipih itu kemudian dibukanya pesan dari nomor tak dikenal yang mengirimkan beberapa foto.


"Astaghfirullah.." Tangan Safira meraba dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Matanya memanas, pun demikian dengan tubuhnya. Diperiksanya foto-foto yang dikirim padanya dengan teliti.


"Ini hasil screenshoot video. Dia mengenali laki-laki dalam foto itu yang memakai baju persis dengan yang dipakai Reffan pagi ini. Foto itu menunjukkan suaminya memegang lengan seorang wanita dengan jarak yang sangat dekat merekapun saling pandang. Di foto lain wanita yang rambutnya terurai itu memegang dada Reffan. Beberapa foto lain memiliki pose yang mirip. Safira yakin itu benar-benar foto asli.


Airmatanya sudah tak terbendung.


"Apa karena ini mas melarangku ikut. Karena yang akan kau temui adalah wanita. Kau bebas berbuat apapun karena tidak ada aku."


Kakinya lemas, dia terduduk begitu saja di pinggir nakas. Dadanya naik turun menandakan emosi yang menguasai pikirannya saat ini.


Dua menit dia menangis dalam keadaan terduduk. Kemudian diusapnya kasar sisa airmatanya. Dikemasinya baju-bajunya yang memang tidak banyak. Diraihnya ponselnya untuk memesan taksi on line. Safira segera keluar dari kamar hotel berjalan cepat menuju lobby. Karyawan yang mengenalnya sebagai istri pemilik hotel hanya membungkukkan badannya. Karyawan yang berjaga di lobbypun tak berani menghentikannya meskipun keinginan kuat untuk bertanya sudah di bibir namun hanya bisa melihat istri bosnya masuk dalam mobil begitu saja.


"Semoga semua baik-baik saja." Batin sang karyawan.


Di mobil Safira memandangi ponselnya dengan tangan bergetar.


"Kita baru tiga hari menikah mas. Aku yang salah karena tak mengenal dirimu dengan baik." Setitik cairan bening menetes lagi tanpa permisi menjadi saksi perjalanannya dalam hening menuju stasiun Gubeng Surabaya.

__ADS_1


__ADS_2