
Mata Safira terpejam setelah pertempuran panas yang tak seimbang. Safira hanya pasrah dengan perlakuan Reffan padanya. Safira menganggap itu hukuman untuknya.
Reffan masih di samping istrinya, memperhatikan wanita cantik yang terlelap karena perbuatannya. Pikirannya masih melayang merasakan kenikmatan tubuh istrinya, tangannya bahkan masih bergerilya di atas tubuh istrinya. Diturunkannya selimut yang menutupi tubuh mereka berdua, Reffan tersenyum. Jejak perbuatannya terlihat jelas di sana, tadi dia memang tak sanggup mengendalikan dirinya saat mengingat ada yang menginginkan istrinya. Tangannya kembali terkepal, Safira masih tetap terpejam walaupun tangan Reffan menelusuri tubuhnya.
"Kau lelah sekali sayang sampai tak bangun padahal sedari tadi aku menyentuhmu." Reffan kembali tersenyum melihat wajah istrinya.
Reffan memang marah, juga pada Safira tapi amarahnya menggambarkan cintanya yang ingin menjaga istrinya.
"Bangun Safira, sudah petang!" Reffan menarik hidung istrinya tapi istrinya hanya menggeliat dan mencari posisi nyaman untuk tidur lagi.
Reffan tersenyum, tangannya menari-nari di wajah Safira semakin turun ke lehernya dan turun lagi. Dia berhenti, melihat ekspresi istrinya, wajah istrinya bergerak-gerak resah. Tangannya turun lagi.
"Ini salahmu karena tak bangun juga!" Tangannya meremas milik istrinya
"Aahh!" Istrinya langsung terbangun, terduduk dan menarik selimut lalu mendekapnya dengan erat.
Wajah cantiknya panik, matanya mengerjap-ngerjap. Sungguh sangat menggemaskan dengan rambut berantakan yang semakin lucu. Tubuhnya beringsut mundur sampai hampir menempel di kepala ranjang. Matanya mulai berani menatap suaminya.
Reffan ingin tertawa melihat reaksi istrinya, dia seperti habis memperkosa istrinya sendiri. Tubuh kesayangannya semakin meringkuk saat Reffan mendekatinya. Tangannya mengelus lembut pipi istrinya.
"Sedari tadi dibangunkan gak bangun-bangun, terpaksa pakai cara itu untuk membangunkanmu. Ternyata berhasil." Reffan mengatakan dengan wajah datar. "Ayo mandi! Sudah akan masuk waktu magrib."
Safira masih membeku.
"Mau dimandikan?" Reffan meraih selimut yang menutupi tubuh istrinya. Safira menahannya.
"Iya mas. Aku mandi!" Safira menjawab cepat. Kakinya segera turun ke lantai. Tapi begitu kakinya menginjak lantai, perut bagian bawahnya seperti diremas.
"Kenapa?" Reffan mendekati punggung Safira. "Mana yang sakit?" Tangannya meraba bagian tubuh yang dipegang Safira.
"Perutku mas, yang bawah." Safira menjawab pelan.
Reffan mengangkat tubuh Safira kemudian menidurkannya lagi.
__ADS_1
"Aku panggilkan dokter aja ya." Reffan meraih ponselnya.
"Gak usah mas. Aku istirahat dulu saja sebentar. Mas mandi dulu." Safira mencegahnya, Safira menduga hanya kram perut biasa.
"Setelah aku mandi jika masih sakit, kita panggil dokter. Jangan membantah!" Reffan turun dari ranjang menuju ke kamar mandi.
.
"Bagaimana, masih sakit?" Tanya Reffan setelah keluar dari kamar mandi.
"Sudah enakan mas." Safira menjawab cepat. Reffan mendekat, meraih tubuh istrinya.
"Eh mas, mau ngapain?" Safira terkejut merasakan tubuhnya melayang.
"Mandiin kamulah." Reffan menjawab ringan tanpa beban.
"Aku bisa mandi sendiri mas. Tu..." Belum selesai Safira menyelesaikan kalimatnya. Sudah dipotong suaminya.
"Aku masih marah padamu. Jangan berani-berani membantahku."
Reffan membantu Safira mandi membuat istrinya kikuk apalagi saat melihat hasil perbuatan suaminya hampir di seluruh tubuhnya.
"Kenapa tegang sekali, semuanya juga sudah aku nikmati." Reffan bersikap biasa saja, berusaha menahan diri karena jika tidak ronde berikutnya akan berlangsung.
.
Mereka berdua menunggu waktu solat Isya' kemudian makan malam bersama di dalam kamar. Reffan tak berkata apapun selain menyuruh Safira makan. Safira juga belum berani memulai percakapan melihat wajah dingin suaminya. Meskipun tanpa kata, Reffan mengambilkan lauk ke piring Safira.
"Sudah cu..." Safira langsung berhenti bicara saat melihat tatapan tajam Reffan menembus netranya. Diapun membiarkan Reffan menaruh lauk apapun di piringnya dan segera menghabiskan.
Makan malam dalam diam hanya suara piring beradu dengan sendok dan garpu. Bahkan Safira makan dengan hati-hati takut suara sendoknya mengganggu.
"Istirahatlah.." Perintah Reffan.
__ADS_1
Safira langsung naik ke ranjang. Dia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang mencuri pandang suaminya yang berada di depan meja, entah melakukan apa Safira juga tak berani bertanya. Lama-lama Safira mengantuk juga karena tubuhnya juga terasa lelah ditambah lagi perutnya yang masih tak nyaman. Suaminya sangat luar biasa saat marah.
Tubuh Safira melorot mencari tempat ternyaman, matanya terpejam, nafasnya mulai teratur, diapun terlelap.
Reffan mendekati ranjang. Dipandanginya wajah lelah sang istri, setelah memastikan istrinya sudah tertidur Reffan menjauh berjalan meraih tas Safira mengambil ponsel istrinya yang sejak tadi belum disentuh istrinya.
Reffan kembali ke mejanya, duduk dan mulai membuka ponsel istrinya.
"Pasti ada sesuatu yang bisa kutemukan di sini." Ucapnya pelan.
Reffan membuka chat. Beberapa chat terakhir dibukanya. Nama Bagas ada di sana. Matanya bergerak seirama dengan gerakan tangannya.
"Bahkan Bagas saja mengetahuinya. Dia bahkan membantumu. Apa kamu bercerita pada Bagas tapi malah tak mengatakan apapun padaku." Reffan meremas ponsel di tangannya.
Reffan kembali membuka file terakhir. Dia menemukan file rekaman suara. Tiga rekaman suara dalam seminggu terakhir ini dikirim ke ponselnya sendiri. Reffan mengambil headset agar Safira tidak terbangun. Tangannya mulai menyentuh file yang kemudian memperdengarkan suara Fairuz dan Safira.
Amarah yang tadi siang bergemuruh di dalam dadanya kembali lagi.
"Brengsek! Kurang ajar! Beraninya kamu berbicara seperti itu pada istriku." Tangannya sudah terkepal. Dadanya naik turun dengan cepat, tangannya terus terkepal sampai ketiga rekaman selesai didengarkan.
Dengan kasar Reffan membuka headset dan melemparnya ke meja. Dipandangnya ranjang yang menampilkan punggung istrinya.
"Kenapa kamu malah meminta tolong pada Bayu Safira, kenapa malah Bagas yang membantumu. Apa kamu takut padaku? Atau takut aku menyuruhmu berhenti bekerja." Reffan berbicara pelan dengan kedua tangan yang masih terkepal.
Tangannya meraih ponsel miliknya lagi. Diketiknya sebuah pesan pada asistennya.
Urus pengunduran diri Safira
Setelah mengirim pesan dia mendatangi istrinya yang masih terlelap. Naik ke ranjang dan terduduk di samping istrinya. Amarahnya masih sesak memenuhi dadanya ditambah lagi kekecewaan karena istrinya belum mau terbuka padanya.
Dipandanginya wajah polos Safira, nafasnya yang tenang. Safira bergerak, tangannya mencari suaminya. Begitu berhasil menggapai tangan Reffan, Safira menarik dan memeluknya. Nyaman sekali tidurnya. Amarah yang tadi mendominasi berangsur mereda melihat nyamannya tidur Safira memeluk tangannya.
"Kamu pasti lelah sekali gara-gara Fairuz brengsek itu." Gumamnya dalam hati. "Sudah cukup Safira! Aku tak ingin dia melihatmu lagi."
__ADS_1
Reffan berbaring menghadap ke istrinya, balik memeluk tangan istrinya. Tapi kemudian bukan lagi tangan Safira yang di peluk, Reffan menarik tubuh istrinya masuk ke pelukannya. Bibirnya menyunggingkan senyum saat istrinya ndusel dalam pelukannya. Dia merasa dibutuhkan istrinya dan itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untuknya sebagai suami.
Setelah ini kamu harus membutuhkanku Safira, aku suamimu aku yang kamu butuhkan.