Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Pacaran Halal


__ADS_3

Reffan menjauhkan wajahnya, menikmati ekspresi Safira yang ketakutan, bulu mata milik Safira berulang kali mengerjap-ngerjap membuat wajahnya bertambah imut. Satu kecupan mendarat cepat di bibir pinknya. Kemudian tangan Reffan sudah berpindah ke pinggang ramping istrinya, Reffan menggelitikinya.


"Jangan! Aaa.." Safira menggeliat ke kanan dan ke kiri, tangannya berusaha menghalau tangan Reffan tapi tidak berpengaruh apapun untuk Reffan.


"Sudah pak, sudah." Safira sudah tertawa tak mampu menahan rasa geli, wajahnyapun memerah.


"Apa, kamu panggil pak lagi?" Reffan mempercepat frekuensi tangannya.


"Sudah, ampun mas."


"Panggil sayang dulu dong."


"Sayang tolong lepaskan, please!"


Reffan menyudahi aksi tangannya.


Safira lalu duduk bersandar, Reffan mengikuti duduk di sampingnya.


"Sudah ngantuk?"


"Belum." Safira menggeleng.


"Mau nonton film?"


"Boleh."


Reffan mengambil remote televisi lalu menyalakannya dan mencari channel yang menarik. Pilihannya berhenti saat layar menampilkan film action barat.


"Mau yang ini?" Tanya Reffan


"Iya."


"Kamu suka film action?"


"He em." Pandangan Safira lurus ke layar televisi di depannya.


"Safira."


"Ey, iya. Ada apa?"


"Ceritakan apa yang kamu tidak suka?"


Safira nampak berpikir sejenak. Matanya melirik ke arah Reffan.


"Kenapa ingin tahu? Biasanya orang akan bertanya apa yang kamu suka terlebih dahulu?"


"Siapa yang bertanya begitu. Pasti laki-laki kan?"


Safira tersenyum.


"Aku kan beda. Aku ingin menjagamu dan hatimu agar selalu bahagia tidak akan ada hal yang tidak kamu suka yang akan muncul di sekitarmu yang akan merusak suasana hatimu."


Safira tersipu malu. Wajahnya sudah merona bahagia. Safira merasa tersanjung mendengar perkataan Reffan.


"Aku tidak suka dikhianati dan dimanfaatkan. Itu saja." Pandangan Safira menunduk dalam seperti memikirkan sesuatu.


"Apa pernah ada yang melakukannya padamu?"


"Tidak. Tapi aku sering melihatnya di sekitarku."


"Safira." Tangan Reffan meraih tangan Safira meletakkannya di dadanya. "Jantung ini menjadi saksi, selama dia berdetak cintaku hanya untuk istriku. Dan akupun menginginkanmu begitu. Cukup lihat aku Safira, jangan membakar rasa cemburuku. Karena apinya mungkin akan melahap kita berdua. Bisa?"

__ADS_1


Safira mengangguk.


"Apa lagi yang tidak kamu suka? atau mungkin ada hal yang kamu takutkan."


"Hmm.. bukan takut tapi mungkin jijik. Aku tidak suka hewan-hewan melata, tikus, kecoa, sebangsa itulah."


"Kamu kan bisa langsung menginjaknya. Orang aja bisa kamu jatuhkan apalagi hanya hewan kecil begitu."


"Jijik." Safira begidik.


Reffan tersenyum asimetris seperti memikirkan sesuatu. "Ada lagi?"


"Hmm.. tidak." Jawab Safira. "Kalau anda, apa yang tidak disukai?"


"Kamu mau aku gigit memanggil formal begitu."


"Maaf belum terbiasa." Safira nyengir. Safira masih merasa orang di depannya adalah orang asing yang tiba-tiba menjadi orang dekat jadi masih terasa aneh bercakap akrab dengannya.


"Mas Reffan tidak suka apa?"


"Semua yang tidak kamu suka."


"Ih.. Kenapa menjawab seperti itu." Safira kesal dengan jawaban Reffan.


"Haha... Ssstttt diam Safira jangan bergerak." Reffan yang tertawa wajahnya berubah serius.


"Ada apa?"


"Diam jangan bergerak! Aku akan memecat mereka, bagaimana bisa ada kecoa di kasur."


"Apa?" Safira langsung bersimpuh menabrak Reffan tanpa sadar, tubuhnya masuk ke dalam pelukan Reffan.


Reffan tersenyum lama-lama senyum yang ditahannya sudah berubah menjadi tawa yang membahana. "Ha...ha...ha..."


"Mas... Mas ngerjain aku ya...."


"Hahaha..." Tawa Reffan masih menggema.


"Ih, mas tanya-tanya yang gak aku suka cuman buat ngerjain aku kan?" Safira sudah menjauh dari Reffan, bibirnya cemberut lucu sekali.


"Haha.... sayang..." Tawa Reffan masih tersisa, tangannya mencoba meraih Safira yang ngambek. "Sudah dong ngambeknya, tambah gemesin lho kalo ngambek, nanti aku gigit lho bibir kamu yang lucu banget ini."


"Ih gak mau. Sudah sana tidur." Safira menepis tangan Reffan.


"Aku hanya memastikan, ternyata benar walaupun istriku seorang pendekar, dia tetap seorang wanita yang takut kecoa." Reffan tersenyum memeluk Safira yang menepisnya.


"Iseng banget sih mas."


"Gak papa iseng sama istri sendiri. Enaknya pacaran setelah nikah. Pacaran halal, boleh sentuh-sentuh kayak gini." Reffan mencubit pelan hidung Safira.


Safira tersenyum.


"Besok kita kencan ya." Ujar Reffan.


Safira mengangguk sambil kembali memeluk Reffan.


"Sudah yuk tidur, jangan menggodaku terus." Ucap Reffan


"Iih..." Safira melepas pelukannya kemudian berbaring memunggungi Reffan.


Reffan tersenyum memeluk tubuh Safira dari belakang. "Terimakasih Allah, aku akan menjaganya sekuat yang aku bisa." Suara hati Reffan.

__ADS_1


Sebelum subuh Safira terbangun, dia merasa seperti guling yang sedang dipeluk Reffan. Pelan-pelan Safira membebaskan diri dari pelukan Reffan kemudian beranjak ke kamar mandi.


"Mas sudah bangun?" Safira baru saja selesai mandi dan memakai pakaian Reffan. "Aku pinjam baju mas ya? Gak papa kan?"


Reffan tersenyum melihat Safira yang memakai kaos dan trainingnya yang kebesaran. "Kenapa gak dari kemarin malam ide ini muncul sehingga aku tidak perlu tersiksa melihat tubuh Safira yang hanya dibalut gaun mini itu." Batin Reffan. Reffan mengulurkan tangannya yang kemudian diraih Safira.


"Pakai apapun kamu selalu cantik sayang. Morning kissnya mana?" Reffan menatap lekat istrinya.


"Kita kan lagi pacaran jadi gak ada cium-cium dong."


"Kan ini pacaran plus-plus. Pacaran halal jadi boleh ngapain aja." Reffan menarik tangan Safira, membuatnya terduduk di pahanya. "Morning kiss." Seru Reffan sambil menunjuk pipi kanannya. Safira mengecup pipi yang ditunjuk Reffan. Kemudian Reffan menunjuk pipi kirinya. Safira mengecup lagi pipi yang ditunjuk Reffan. Kemudian Reffan menunjuk bibirnya, Safira terdiam menunduk. Dengan cepat Reffan mengecup bibir Safira membuat wajah cantiknya merona menggemaskan.


"Aku mandi dulu ya dan bersiap solat subuh."


Hari ini Safira dan Reffan pergi jalan-jalan berdua berkeliling kota Surabaya. Safira mengajak Reffan ke Atlantis Land. Walaupun tinggal di Surabaya, Safira belum sempat mengunjunginya baru kali ini dia pergi ke sana bersama Reffan.


Safira mengajak Reffan menaiki beberapa wahana. Dark Coaster, Bumper Car Senior, Viking mereka tertawa bersama. Reffan memaksa Safira masuk ke wahana Misteri Atlastis.


"Kamu takut?"


"Bukan takut, malas aja."


"Ya udah ayo masuk."


Safira berkali-kali menyipitkan matanya melewati replika kota mati. Pelukan di lengan Reffanpun menjadi hal yang sangat dinikmati Reffan, ini adalah salah satu wahana favorit bagi Reffan tapi tidak bagi Safira.


Selanjutnya Reffan mengajak Safira masuk ke wahana Istana Es.


"Tapi gak bawa jaket. Dingin banget di dalam."


"Aku akan menghangatkanmu." Reffan langsung menarik tangan Safira mengikutinya masuk. Dan benar saja dengan suhu sekitar -15°C mereka kedinginan. Reffan terus memeluk Safira yang kedinginan karena tidak siap dengan pakaian hangat sebelumnya.


Kemudian mereka makan berdua, mengobrol ringan.


"Kamu senang?" Tanya Reffan


"Iya senang. Begini ternyata rasanya berkencan dengan laki-laki."


"Kamu tidak pernah pergi dengan laki-laki?"


"Pernah."


"Apa? dengan siapa?"


"Dengan banyak orang. Ya cowok cewek teman kerja saat wisata tahunan."


Reffan bernafas lega. "Karena ini kencan pertamamu aku akan menuruti semua kemauanmu."


"Mas Reffan pernah berkencan ya sebelumnya?"


"Hmm.."


"Tuh kan pasti di luar negeri kan. Suka jalan-jalan sama bule-bule seksi?"


"Enggak."


"Oh bukan bule, berarti wanita Indonesia yang kuliah juga di sana. Asyik ya?"


"Enggak."


"Kenapa."

__ADS_1


"Beduaannya sama Raffi jelas gak enak."


__ADS_2