
"Sampai kapan peluk begini?" Reffan menaruh ponselnya kemudian mengusap lembut kepala Safira. "Katanya lapar?"
Safira perlahan melepas pelukannya kemudian langsung mengambil sendok berisi makanan dan memasukkan ke mulutnya untuk dikunyah.
"Sayang, aku mau tanya sesuatu padamu." Ucap Reffan dengan netra yang selalu terkunci ke istrinya.
Safira langsung melihat ke arah Reffan yang wajahnya berubah serius.
"Kamu lebih suka kenyamanan atau dekat denganku sayang?" Tanya Reffan.
"Maksudnya mas?" Safira bingung dengan arah pertanyaan suaminya.
"Jika aku ada pekerjaan ke tempat yang kurang nyaman dalam waktu agak lama kamu pilih mana?"
"Tempat ternyaman Safira di sisi mas Reffan." Lirih Safira menjawab. "Kenapa mas masih bertanya?" Terlihat wajah murung istrinya.
"Astaghfirullah.." Reffan memekik dalam hatinya, dia yakin Safira pasti salah menafsirkan.
"Sayang.. maksud mas tadi mas mengkuatirkan kondisimu yang sedang hamil." Reffan mulai kuatir Safira ngambek.
Terlihat netra istrinya yang berkaca-kaca membuat Reffan merasa kacau karena telah melupakan perasaan istrinya yang mungkin sedang sensitif.
"Terserah mas Reffan saja, menilai Safira seperti apa." Safira hampir berdiri dari duduknya.
Reffan dengan cepat menarik lengan istrinya, membuat istrinya terduduk di pangkuannya. Safira berontak tapi Reffan memeluknya erat.
"Kamu belum makan, sekarang makan dulu nanti aku ladeni ngambekmu." Ucap Reffan tegas tak ingin dibantah. "Buka mulut!"
Safira masih diam saja.
"Mau disuapin pakai sendok atau pakai mulut?"
"Makan sendiri saja." Safira akan merebut sendok di tangan Reffan tapi Reffan mencegahnya. Tangannya yang bebas malah memeluk erat Safira.
"Gak ada pilihan makan sendiri. Mau coba disuapin pakai mulut? Belum pernah kan?" Reffan mengatakan dengan nada datar tanpa senyum membuat Safira menelan ludah.
"Gak mau. Aku bukan bayi pinguin."
Jawaban Safira membuat Reffan tersenyum.
__ADS_1
"Tapi kamu seperti bayi jika ngambek, menggemaskan." Reffan menyuapi istrinya dan makan untuk dirinya sendiri dalam satu piring. Walaupun ngambek Safira makan banyak, Reffan mengambil nasi dan lauknya dua kali.
"Sudah selesai mas makannya. Lepaskan! Aku mau membereskan piring dan meja."
Reffan melepaskan pelukannya. Safira langsung berdiri membawa piring ke wastafel dan mencucinya. Reffan hanya memandangi istrinya sambil nyamil buah strawberi. Senyumnya terus menghiasi bibir di wajah tampannya.
"Sudah selesai?" Reffan terus memperhatikan istrinya yang sudah selesai memberekan perlengkapan makan.
Safira mengangguk.
"Sekarang mau apa?" Reffan bertanya pada istrinya yang masih belum mau tersenyum.
"Mau tidur." Safira langsung melangkahkan kakinya ke kamar tak menunggu reaksi Reffan.
Reffanpun dengan cepat menyusulnya ke kamar, tempat favoritnya di manapun berada.
Reffan ikut naik ke ranjang sempit menyusul Safira yang sudah berbaring miring memunggunginya hampir semua tubuhnya tertutup selimut.
"Bumil kesayangan, maaf ya tadi mungkin aku salah memilih kata saat bertanya." Tangan Reffan sudah merayap ke lengan Safira mengusap lembut di sana. "Kamu kan sedang hamil apa tidak masalah jika berada di tempat dengan fasilitas seadanya? Dalam waktu dekat aku harus mengunjungi tempat yang akan dibangun resort. Tempat ini masih sepi tapi pantainya sangat indah jadi fasilitasnya sekarang masih belum memadai. Ada beberapa hal yang harus dibereskan jadi setidaknya menurut perkiraanku minimal dua pekan aku di sana. Bagaimana menurutmu sayang?" Reffan menjelaskan latar belakang pertanyaannya tadi yang membuat Safira ngambek.
Safira menyimak tapi diam saja tak merespon sedikitpun. Reffan yang berbaring di belakang Safira menjadi gemas. Tangannya mulai berkelana ke tempat kesukaannya dan meremasnya.
"Salah sendiri diajak bicara diam saja." Reffan masih belum ingin menjauhkan tangannya yang berkelana.
"Maaassss..." Safira berteriak merubah posisi tubuhnya menjadi terlentang karena tangan suaminya semakin nakal menjelajahi tubuhnya.
Kesempatan bagi Reffan berada di atas tubuh Safira memandang lekat wajah kesal istrinya.
"Rindu gak jika lama tak berjumpa denganku?" Tanya Reffan setelah mengecup bibir istrinya sekilas.
"Mas rindu gak lho?" Safira malah menjawab dengan pertanyaan.
"Bisa gak kamu tidur tanpa memelukku?" Tanya Reffan lagi.
"Mas sendiri bagaimana?" Safira masih membalikkan pertanyaan Reffan.
Reffan langsung menghisap bibir istrinya dan menggigitnya.
"Kenapa balik bertanya bukannya menjawab." Reffan melepaskan bibirnya saat merasakan Safira merintih namun tertahan, nafasnyapun memburu. "Jawab sayang!"
__ADS_1
Setelah mengatur nafasnya, Safira mulai berbicara. "Aku seperti bayanganmu di cermin mas. Saat kamu merindukanku aku juga sama, saat kamu ingin memelukku aku juga ingin berada di dalam pelukanmu."
Reffan tersenyum, "Saat ini aku menginginkanmu. Jadi kamu juga pasti menginginkankukan?"
"Bukan begitu mas." Ucapan Safira tak didengar Reffan. Satu persatu pakaian mereka sudah terbang dan mendarat tak beraturan.
.
Matahari semakin terik, sinar hangatnya sudah berubah menyengat kulit kepala membuat orang yang berjalan di bawahnya berpeluh keringat. Sekitar 150 juta kilometer jarak bumi dan matahari namun panasnya sudah luar biasa saat tengah hari. Padahal nanti saat di padang mahsyar, jarak matahari dengan kita begitu dekat, tak ada yang bisa menjadi penolong kita agar tidak tenggelam dengan keringat kita sendiri kecuali amal perbuatan kita saat masih bernyawa.
Peluh membasahi kening Safira yang masih tertidur, hawa panas di luar rumah nampaknya juga sedikit terasa di dalam rumah karena AC yang dimatikan.
Sementara Reffan wajahnya lebih segar karena baru saja mandi dan sekarang sedang berkutik dengan smartphonenya.
"Sudah bangun?" Tanya Reffan pada Safira yang membuka matanya perlahan.
"Jam berapa mas?" Tanya Safira dengan suara yang masih serak.
"Setengah dua belas. Tidurlah lagi jika masih ngantuk nanti setelah Hasna pulang kita jalan-jalan." Jawab Reffan.
Mata Safirapun kembali terpejam setelah Reffan menjawab. Safira kembali terlelap dengan cantik.
Tak lama kemudian Ayah Salman dan Ibu Sofi pulang. Reffan membukakan pintu menyambut mereka kemudian menemani ayah Salman mengobrol sebentar.
Hampir pukul satu siang Hasna pulang langsung mengetuk kamar kakaknya.
Safira yang sudah segar karena sudah tidur dan mandi membukakan pintu.
"Mbak.. capek gak? Jadi jalan-jalan gak?" Tanya Hasna dengan wajah penuh harap.
"Mbak barusan tidur kok. Seger banget sekarang." Jawab Safira tersenyum.
"Asiikkk. Tunggu ya mbak, aku mau siap-siap." Wajah Hasna berseri-seri mendengar jawaban kakaknya.
"Ajakin ibu dan ayah ya. Mbak juga siap-siap dulu." Ujar Safira.
"Ayah ibu ayok siap-siap mau jalan-jalan." Suara Hasna menggelegar sampai sudut rumah. Kemudian orangnya menghilang ke kamar.
Menjelang sore mereka jalan-jalan setelah sebelumnya mampir solat Ashar dulu di sebuah masjid yang mereka jumpai. Jalan-jalan sederhana menikmati suasana sore Yogyakarta yang katanya akan membawamu kembali karena rindu sambil berbincang hangat menikmati bakmi godog yang juga hangat. Di sini Reffan belajar tentang kesederhanaan dan kehangatan sebuah keluarga yang akan selalu dirindukan setiap hati yang ada di sana saat mereka tak lagi berada dalam satu atap. Sebuah alasan untuk pulang.
__ADS_1
"Ah, aku kuatir membawa Safira bersamaku tapi aku juga tak tenang meninggalkan Safira jauh dariku." Batin Reffan galau saat melihat istrinya yang tersenyum menatapnya.