Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Pekan Terakhir


__ADS_3

Safira duduk di samping suaminya. Reffan sudah menghadapkan tubuh ke arah istrinya. Ada ragu, tapi berusaha ditepisnya. Entah apa kata Reffan nanti, Safira akan segera mengatakannya.


"Mas, maafkan aku. Apa aku boleh menghabiskan uang yang mas berikan padaku bulan ini?" Safira memberanikan diri untuk menatap wajah suaminya.


"Untuk apa?" Reffan bertanya datar.


"Untuk... untuk membayar denda saat aku resign mas?" Safira menunduk sekarang.


"Apa masih kurang?" Telunjuk Reffan mengangkat dagu istrinya.


"Dengan gajiku bulan depan sudah cukup mas." Safira menatap suaminya yang berwajah datar entah apa artinya.


"Jika aku yang bayar apa kamu mau resign sekarang?" Reffan menarik dagu Safira mendekat ke wajahnya.


"Satu pekan lagi sudah ganti bulan mas. Aku akan mengajukan resign sekarang tapi masih bekerja sampai akhir bulan. Rasanya tidak baik langsung pergi begitu saja, setidaknya kan aku harus memberi tahu seminggu sebelumnya."


Reffan meraih ponselnya, mengetik sesuatu di sana yang Safira juga tak tahu apa.


"Terimakasih sudah mengatakan padaku, aku sudah menunggumu untuk mengatakannya." Reffan mengecup sekilas bibir Safira.


"Eh..." Safira tertegun dengan yang diucapkan suaminya.


"Mas sudah tahu tentang ini?" Wajah Safira berubah penasaran.


Reffan tersenyum. "Aku menginginkanmu Safira, maka semua tentangmu aku harus tahu."


Safira mengerjap, rambut-rambut halus di tubuhnya berdiri mendengarnya. Entahlah dia merinding mendengar Reffan mengatakannya.


"Ada lagi yang mau kamu katakan sayang?" Reffan menjauhkan wajahnya mengamati ekspresi istrinya yang menegang.


Safira menggeleng. Wajah Reffan kembali mendekat.


"Aku mencintaimu Safira dan akan selalu begitu." Reffan berbisik di dekat telinga istrinya.


Tubuh tegangnya mematung mendengar pernyataan cinta dari suaminya yang entah mengapa membuat keringat dinginnya bercucuran.


Tangan Reffan sudah membingkai wajah istrinya agar tak pergi kemana-mana. Bibir menawan istrinya sudah dinikmati sesuka hatinya, ada rasa lega saat istrinya terbuka padanya, bukankah itu artinya tak ada lagi batas di antara mereka.


Reffan melepas bibir Safira, memandangi wajah cantik yang merona. Senyumnya merekah memandangi wajah memerah kesukaannya.


"Terimakasih sayang." Reffan berucap pada istrinya.

__ADS_1


"Aku yang seharusnya berterimakasih mas. Maaf aku merepotkan mas Ref..." Safira belum menuntaskan kata-katanya Reffan sudah menggigit bibirnya dan melahapnya tanpa jeda.


Safira menghirup udara dengan cepat saat Reffan melepas bibirnya.


"Hukuman karena kamu masih mengatakan merepotkanku. Sudah kukatakan aku bahagia dibutuhkan olehmu. Mau lagi?" Reffan mengusap bibir istrinya yang memerah karena ulahnya.


Safira langsung menggeleng, memundurkan wajah.


"Apa kamu lelah?" Reffan bertanya pada istrinya. Tangannya sudah meraih tubuh istrinya dan membawanya ke kasur empuk dengan cepat.


"Mas mau memijitku lagi?" Safira bertanya dengan wajah sumringah.


"Iya tapi ganti bagian." Reffan tersenyum penuh makna. Tangannya tanpa peringatan langsung mendarat di area kesukaannya.


"Auw mas.." Safira menggeliat akibat ulah suaminya membuat Reffan semakin menyerangnya tanpa jeda.


.


"Kamu tinggal menandatanganinya." Reffan menyerahkan sebuah map pada istrinya yang sudah rapi dengan baju kerjanya.


Safira membuka map yang diberikan suaminya dan membacanya. Surat pengunduran dirinya per tanggal satu bulan depan sudah ada digenggamannya hanya menunggu tanda tangannya saja. Reffan mengulurkan sebuah bulpoin dengan gagang emas, itu adalah bulpoin milik suaminya. Safira meraihnya, kemudian menandatangani di depan suaminya. Dirinya terpesona dengan tanda tangannya. Ah bukan tanda tangannya tapi pada tinta yang keluar dari pena suaminya, berbeda dan bisa dibedakan harganya.


"Aku akan mengurusnya. Pekan ini terakhir kamu bekerja sayang. Pekan depan aku janji harimu akan lebih menyenangkan bersamaku." Reffan meraih tangan istrinya agar berdiri di depannya.


Safira tersenyum. "Iya mas. Terimakasih."


.


"Safira......" Ira menyambutnya di lobby sengaja menunggunya di sana.


"Eh, ada di sini." Safira berjalan cepat ke arah sahabatnya yang juga berjalan mengarah padanya.


"Ya Allah Safira. Apa kabar keponakanku kamu ajak melompati eskalator." Ira berbisik di telinga Safira.


"Eh..Ssstttt.." Safira menyuruh sahabatnya diam karena mengetahui arah pembicaraannya.


Ira tertawa. Mereka berdua masuk ke dalam lift.


"Kamu lihat gak. Kamu sudah jadi buronan."


"Eh???" Safira terkejut mendengar perkataan sahabatnya karena dia sendiri belum sempat membuka berita di internet.

__ADS_1


"Buronan dalam tanda kutip, dicari untuk mendapat hadiah, banyak youtuber nyariin kamu lhoo..." Ira menggebu-gebu bercerita.


"Bikin kaget aja. Jangan membicarakan ini lagi ya dan jangan ada yang tahu."


Ira tersenyum. "Siap bos."


Safira ikut tersenyum. "Wajahmu cerah sekali hari ini. Ada yang beda..." Safira terlihat berpikir. "Apa ya?"


Ira tersenyum malu-malu. Pintu lift terbuka.


"Ra, ada apa?" Safira mengejar Ira yang berjalan mendahuluinya dengan cepat.


.


Di kantor pusat Jakarta. Seorang pria duduk di kursinya dengan nyaman, tapi tatapannya fokus pada ponsel di depannya kemudian menghubungi nama yang tertera di sana.


"Selamat siang Bu Dar. Apa kabar Bu Dar? Haha... Bu Dar bisa saja. Saya butuh bantuannya. Kamera CCTV di ruangan bapak apa masih aktif? Tolong kirimkan ke saya yang ada Safiranya! Dirahasiakan ya Bu Dar. Saya tunggu, terimakasih bantuannya Bu Dar."


.


Safira yang baru datang langsung duduk di belakang meja kerjanya saat melihat Fairuz. Fairuz berada di depan ruangannya tak berkedip melihat Safira. Wanita incarannya itu semakin cantik bersinar. Mungkin benar Fairuz sedang puber kedua sekarang, dia merasakan jatuh cinta seperti masih muda. Bedanya saat ini dia hanya sekedar ingin memiliki tubuh Safira tidak peduli dengan hatinya.


Awal pekan yang indah dan pekan ini akan menjadi kenangannya saat sudah tak lagi bekerja. Safira berharap bisa menikmati pekan terakhir di kantornya dengan bahagia.


Dan ternyata harapannya terkabul. Sampai jam pulang, Safira bisa menikmati pekerjaannya tak ada gangguan dari Fairuz dan tak ada pekerjaan tambahan juga darinya. Dia bisa menikmati makan siang dengan tenang bersama Ira dan Bagas. Tapi ada yang berbeda dari keduanya, Ira yang malu-malu dan Bagas yang mencuri pandang. Apa mereka berdua? Safira belum berani menyimpulkan segera.


Hari ini Safira pulang ke hotel Reffan, dia tidak membawa mobil tapi dijemput oleh karyawan Reffan yang perempuan karena Reffan masih berada di luar bersama Bayu dengan rekan bisnisnya.


Sebuah mobil terus mengikutinya dengan menjaga jarak sejak berada di kantor. Bahkan mobil tersebut juga ikut masuk dan memarkirkan mobilnya, netra pemiliknya terus mengawasi Safira dari jauh. Setelah Safira tak terlihat lagi masuk ke dalam lift, orang tersebut bertanya ke resepsionis.


"Saya ingin bertemu tamu atas nama Safira yang menginap di sini." Ujar laki-laki itu.


"Maaf pak tidak ada pemesanan kamar atas nama Ibu Safira." Resepsionis menjawab setelah memeriksa daftar tamu.


"Oh ya.. Sudah betul mengeceknya mbak?" Laki-laki itu bertanya lagi.


"Sudah saya cek ulang. Tidak ada pak."


"Baik. Terimakasih ya." Laki-laki itu keluar dari lobby dengan senyum sinisnya.


"Rumahmu kosong dan kamu menginap di hotel. Berapa gajimu dan suamimu sampai bisa menginap di hotel setiap hari. Jika suamimu kaya kamu tak mungkin jadi karyawan biasa seperti sekarang, atau sudah ada yang membookingmu sehingga kamu tidak tergoda denganku."

__ADS_1


__ADS_2