
Langit biru sudah berangsur jingga, arakan awan beriringan di sekitar pancaran matahari yang bersiap pergi. Lalu lalang kendaraan hanya bisa merayap, lautan mobil dan motor sudah menjadi pemandangan yang menyesakkan mengantar kepergian matahari. Kediaman Rendra Bagaskara masih sepi, papa Rendra baru saja pulang bertemu rekannya. Saat ini papa Rendra masih berada di kamar mandi dan mama Raisa menunggu sambil menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Raffi masih belum pulang, berkumpul dengan teman-teman sekolahnya di Jakarta. Reffan dan Safira sejak tadi masih di kamar bahkan Reffan menyuruh asisten membawakan makan siangnya ke kamar. Hanya beberapa asisten yang terlihat sibuk memberekan rumah dan menyiapkan makan malam.
Safira memercing ketika buang air kecil, perut bagian bawahnya juga terasa tak nyaman sedikit nyeri yang dirasakannya. Reffan mengamati ekspresi istrinya. Tadi dia menggendong istrinya ke kamar mandi karena Safira tak juga beranjak dari kasur padahal senja sudah menyapa. Beberapa menit lagi adzan magrib akan menggema.
"Ada yang sakit?" Reffan kuatir melihat ekspresi istrinya.
Safira tersenyum kecil, menggeleng pelan. Rasanya tenaganya sudah benar-benar habis. Reffan membantu Safira membersihkan diri dan bersuci. Netranya terus menyelidik ekspresi di wajah istrinya.
"Apa aku keterlaluan?" Pekiknya di dalam hati.
Dua pekan usia pernikahan mereka yang masih terbilang baru. Sejujurnya Reffan tak bisa menahan diri jika berdekatan dengan Safira. Dan baru kali ini Reffan mencoba hal-hal baru saat bercinta dengan istrinya.
Mereka baru saja solat berjamaah di dalam kamar. Safira masih diam saja sejak tadi, mukenanya masih menempel di tubuhnya.
"Apa ada yang tidak nyaman Safira?" Reffan membuka pertanyaannya lagi.
Safira terlihat ragu akan mengatakannya namun dia juga tidak bisa menutupi ekspresi di wajahnya.
"Katakan Safira jangan ada yang kamu tutupi, buang rasa malumu di depan suamimu. Apa aku menyakitimu?" Wajah Reffan mendekat ke wajah istrinya yang menunduk, tangannya mengangkat dagu istrinya agar melihatnya.
"Hanya capek mas." Ujarnya menghindar dari tatapan Reffan.
"Jangan bohong Safira, sejak tadi aku memperhatikanmu." Ujar Reffan cepat, Safira sampai tersentak. "Katakan!"
"Sakit mas." Jawab Safira pelan.
"Mana yang sakit?" Tanya Reffan cepat.
"Ehmm. Bawah mas." Wajahnya memerah.
Tangan Reffan meraih perut Safira menekannya kemudian beralih semakin ke bawah.
"Jangan mas!" Safira menahan tangan suaminya yang hampir tepat sasaran.
"Kenapa? Kan aku sudah bilang, buang rasa malumu di depan suamimu." Tangannya meraih mukena Safira dan menjatuhkannya begitu saja. Segera dibopongnya Safira ke atas ranjang. Mukena bawahnya sudah dilempar Reffan ke lantai. Tangannya sudah bersiap mengecek milik istrinya.
__ADS_1
"Mas.." Safira merapatkan kakinya.
"Kenapa lagi?" Reffan sudah tak sabar
"Jangan mas. Cuman gak nyaman aja kok." Safira mencegah suaminya.
Reffan membuang nafas. "Maaf, aku menyakitimu." Reffan akhirnya merangkak ke samping Safira. "Aku panggil dokter dulu ya." Reffan hendak meraih ponselnya, Safira menarik lengan suaminya.
"Jangan mas. Gak usah." Safira panik.
"Kamu kesakitan, aku gak boleh lihat, gak mau diperiksa dokter juga. Maunya gimana?" Suara Reffan melembut, kasihan melihat istrinya yang kesakitan karena ulahnya yang tak bisa menahan diri.
"Aku hanya ingin tidur. Boleh mas?" Wajah Safira memelas karena sejujurnya dia malu juga jika harus mengatakan dan diperiksa dokter di area pribadinya.
"Ya sudah tidurlah. Nanti aku bangunkan solat Isya' dan makan malam." Reffanpun mengalah.
Safira memang sangat lelah. Hukuman dari Reffan membuatnya hanya turun ranjang untuk ke kamar mandi dan solat. Dia memang sangat ingin memejamkan mata saat ini.
.
"Tidur ma." Jawab Reffan enteng lalu mengambil sedikit nasi beserta lauk pauknya.
"Sudah tidur? Safira baik-baik saja?" Tanya mama Raisa lagi.
"Cuman capek aja ma." Reffan menjawab kemudian memasukkan sendok berisi makanan ke dalam mulutnya.
Papa Rendra tersenyum mendengar jawaban anaknya.
Seusai makan Reffan membawa makan malam untuk Safira dengan tangannya sendiri. Mama Raisa tidak bisa dicegah untuk tidak ikut ke kamar Reffan.
"Mama mau ke kamar kamu kok gak boleh, ya terserah mama dong. Mama cuman mau lihat anak perempuan mama." Mama Raisa terus mengekori Reffan sampai ke kamarnya.
"Safira lagi istirahat ma. Besok kan juga bisa lihat Safira." Reffan masih berusaha menghalangi langkah mamanya.
"Kamu ini kenapa sih. Sudah minggir." Begitu sampai di depan kamar, mama Raisa langsung menggeser tubuh Reffan dan masuk ke kamar anaknya.
__ADS_1
"Untung aja Safira gak cuman pakai selimut." Reffan berkata dalam hatinya.
Wajah polos sedang terlelap bergelung selimut. Itulah pemandangan yang nampak di mata mama Raisa. Wajah teduh, cantik alami namun terlihat gurat lelah sangat jelas di sana.
"Kamu ajakin ngapain aja sih sampai Safira tidur duluan begini." mama Raisa berbisik pada putra di sebelahnya.
"Ya biasalah ma. Pengantin baru." Sahut Reffan sekenanya.
"Perhatikan juga kenyamanan Safira jangan nurutin kemauanmu saja. Sudah selayaknya kamu menjaganya bukan hanya lahir tapi juga batinnya."
"Iya ma." Reffan terpaku, sejenak dia merasa bersalah hanya menuruti keinginannya saja tanpa peduli istrinya yang merasa tak nyaman.
Melihat wajah Safira dan Reffan bergantian membuat mama Raisa kembali mengingat percakapan dengan Claudia tadi pagi.
Raisa adalah surganya Reffan ma pa. Tolong terima istriku ibu dari Reffan anakku.
"Orang tua mas Rendra yang tak kunjung membuka suara membuat Mas Rendra kembali memohon. Tante bahkan mengutuk diri tante sendiri karena membuat anak dan orangtua tak akur. Tante berpikir saat itu mungkin pintu yang sudah tertutup akan sulit terbuka seperti pintu rumah orangtua mas Rendra yang takkan terbuka untuk tante. Namun ternyata tante salah, Allah sungguh bermurah hati pada tante, mama mas Rendra menghampiri tante dan memeluk tante. Mulai saat ini kamu adalah menantuku, pintu rumah ini terbuka untuk ibu dari cucuku dengan satu syarat. Kau harus mau belajar. Agar tidak ada yang memandangmu sebelah mata. Kami melihat ke arah papa mas Rendra yang masih diam. Sedetik dua detik tiga detik. Terserah kalian saja. Rendra sudah besar dia yang akan menanggung semua perbuatannya. Mas Rendra memelukku dan Reffan. Bersabarlah sebentar, pintu sudah terbuka, aku akan selalu di sampingmu."
"Mama mas Rendra mengajakku ke berbagai tempat. Fashion show, butik, salon mengajari berbagai hal yang akrab dipakai wanita kelas atas. Kami mulai akrab dan melakukan banyak hal bersama kemudian. Mas Rendrapun menetap di Jakarta.Tempat terbaik adalah tempat yang memudahkan kita mengunjungi orangtua kita. Begitu mas Rendra mengatakan keputusannya dulu. Tante jelas senang karena juga bisa lebih sering mengunjungi orang tua tante."
"Dan sekarang kamu meminta tante tidak menerima Safira. Begitu Claudia?" mama Raisa menatap wajah salah tingkah Claudia.
Claudia tidak bisa berbicara mendengar kisah mama Raisa.
"Kamu minta tante menjadi mertua jahat untuk Safira?" Mama Raisa melanjutkan pertanyaannya pada Claudia.
"Saya sangat mencintai Reffan tante, saya sudah menyukainya saat awal kuliah bertemu dengan Reffan. Dia begitu menarik dengan sikapnya yang dingin. Matanya tak pernah membulat menatap wanita-wanita seksi di depannya. Wajahnya begitu bersahaja." Claudia menceritakan perasaanya.
"Dan apakah kamu juga begitu? Apakah kamu juga bisa menjaga sikapmu pada laki-laki seksi di hadapanmu?" Kata-kata mama Raisa bagaikan anak panah yang menusuk tepat di jantung Claudia. Claudia terhenyak mematung.
"Aku-aku suka melihat pria yang tergila-gila memandangku. Aku juga suka berdekatan dengan pria2 bertubuh atletis. Aku sudah melakukan. Ah..." Claudia merasa tergilas sendiri, untuk saat ini dia merasa tak pantas bersanding dengan Reffan.
"Claudia. Perbaikilah dirimu, agar jodohmu sesuai denganmu nantinya. Terimalah takdir Reffan adalah jodoh Safira. Sejak Reffan memilihnya maka saat itu juga Safira adalah bagian dari keluarga ini. Dia menjadi anak perempuan tante. Menggores Safira sama halnya dengan memancing tanduk tante."
Claudia menciut mengingat apa yang telah dilakukannya pada Safira. "Apa tante sudah tahu ya." Cicit Claudia dalam hatinya.
__ADS_1