
Tangannya dengan cepat meraih tas yang dia tinggalkan begitu saja tadi. Tentu saja setelah berlari dan menaiki lift saat ini Safira berada di kamarnya. Segera pergi dari sini, hanya itu yang ada di benaknya saat ini. Dengan cepat tangannya menutup pintu dari luar kamar dan berlari lagi ke arah lift.
“Mbak, saya mau checkout.” Saat ini Safira sudah berada di depan wanita yang tersenyum ramah padanya. Namun seketika ada perubahan pada mimiknya walaupun wanita itu tetap tersenyum padanya.
“Apa ada masalah dengan pelayanan kami Ibu Safira?”
“Tidak mbak, saya hanya ada urusan setelah ini.” Mencoba tersenyum ke wanita di depannya agar tidak curiga padanya.
“Tunggu sebentar ya Bu!” terlihat wanita di depannya menelpon seseorang, berbicara dengan suara pelan kemudian menutupnya dan menghubungi seseorang lagi.
“Ah, kenapa aku jadi kuatir ya. Dia tidak akan menggunakan kekuasaanya untuk menahanku di sini kan. Bukankah tadi dia menyuruhku pergi.” Safira menarik nafas dalam untuk menetralisir kegelisahan yang muncul di benaknya. Sejujurnya dia menyesali keputusannya untuk kembali ke hotel ini. Safira belum tahu apa yang bisa dilakukan Reffan walaupun dia tidak menerima kompensasi dari dirinya, dan cara penolakan Safira tadi baru saja mencabik harga dirinya.
Reffan memang melepaskan Safira saat itu, tapi tidak untuk waktu selanjutnya bahkan selamanya.
Bayu sudah berada di samping Reffan setelah melihat Safira pergi dia segera melangkah mendekati Reffan. Apalagi dilihatnya wajah Reffan yang menahan amarah yang siap meledak kapanpun.
“Apakah ada yang anda inginkan Pak?” Bayu masih terdiam di tempatnya berdiri karena tidak mendapatkan respon apapun dari Reffan. Cukup lama sampai benda pipih di sakunya bergetar.
“Apakah anda ingin saya menahannya Pak?” cukup lama Reffan terdiam
“Biarkan dia pergi!” jawaban yang ditunggupun akhirnya meloncat dari bibir Reffan
“Anda yakin Pak?” pertanyaan terlontar lagi dari mulut Bayu, karena tidak yakin dengan keputusan bosnya.
“Ya, kita akan lihat sejauh mana dia bisa berlari.”
Safira yang terlihat cemas memperhatikan wanita di depannya berbicara dengan seseorang melalui pesawat telepon mulai tidak sabar dan meremas jemarinya. “Kenapa lama, dia berbicara dengan siapa?”
“Baik Bu Safira, semua sudah selesai. Terimakasih sudah menginap, kami menunggu kedatangan ibu kembali.” Safira hanya membalasnya dengan senyum, karena hanya dia dan Tuhan yang tahu seberapa menyesalnya dia menginjakkan kembali kakinya di hotel ini.
Setelah tersenyum pada seorang petugas yang membukakan pintu lobby padanya, Safira segera membuka tasnya dan mengambil kunci mobilnya, Safira terus melangkah menuruni tangga dan baru saja dua langkah dia menjauh dari tangga terakhir matanya menangkap sebuah benda yang bergerak mendekat dengan cepat, dengan cepat Safira membalikkan badan untuk menghindar namun sesuatu mendorongnya dengan kuat.
“Astaghfirulloh..” tubuhnya jatuh dengan posisi miring membentur anak tangga, dia mulai merasakan nyeri menjalari tubuhnya. Safira berusaha duduk di tangga tempatnya jatuh, motor yang menyebabkan dia terjatuh sudah tidak terlihat. Petugas yang membukakan pintu lobby segera mendekatinya dan menanyakan bagaimana keadaannya. Safira mendengar suara langkah kaki berlari mendekat.
“Safira...” seseorang menyebut namanya membuatnya mendongakkan kepala untuk mengenali pemilik suara.
“Ah, Reffan, kenapa harus dia lagi.” ucap Safira dalam hati. Safira hanya menundukkan kepala dan berusaha untuk bangun.
“Bayu cepat ambil mobil!” suara Reffan terdengar seperti marah membuat Bayu tertegun sejenak.
“Baik Pak.” Secepat mungkin Bayu pergi menuju mobil hitam yang terparkir di tempat VIP.
Safira berusaha mengambil tasnya yang terjatuh tetapi tubuhnya sakit untuk menunduk diapun meringis tetapi menahan suaranya agar tidak keluar dan di dengar orang yang tepat berada di depannya. Saat Safira sudah meraih tasnya, Reffan merebutnya kasar. Safira terkejut, “Apakah dia benar-benar marah lalu kenapa merebut tasku.” Safira bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
Bayu sudah berada tepat di depan lobby di samping pintu mobil yang terbuka, Bayupun mendekati Reffan.
“Bawa ini Bayu!” dengan cepat Bayu langsung menerima tas yang diberikan Reffan.
“Masuk!”
Safira menggeleng
“Masuk, kita ke rumah sakit!”
“Saya tidak papa, saya bisa pergi sendiri.”
“Hah, bahkan kau kesulitan membawa tasmu sendiri, bagaimana kau akan mengemudi.” Reffan terlihat tersenyum tapi lebih mirip mengejek.
“Cepat masuk Safira atau aku gendong!”
Safira membelalakkan matanya terkejut dengan perkataan Reffan. Ah, dia lupa masih di lingkungan hotel jika dia minta tolong ke penjaga pun akan percuma karena mereka pasti lebih menuruti perintah pemilik hotel ini. Safira menelan ludahnya bingung harus berbuat apa. Reffan sudah mau melangkah mendekat, Safira reflek memundurkan langkahnya.
“Masuk!” Reffan mengulangi kata-katanya
Safira memandang kursi penumpang bimbang.
“Masuk Safira, aku hanya akan mengantarmu ke rumah sakit!” suara Reffan melunak dibanding sebelumnya.
Safirapun melangkah menuju kursi penumpang dengan tertatih karena sekarang nyeri di kakinya cukup menyiksa. Reffan mengikutinya dari belakang setelah memastikan Safira duduk dengan nyaman, Reffan menutup pintunya dan memutar masuk melalui pintu sebelah dan duduk di samping Safira.
“Dasar pemaksa, seenaknya sendiri, bisa-bisanya dia mengancam akan menggendongku segala. Apa yang ada di pikirannya, enak sekali memaksa semaunya sendiri.” Safira menggerutu dalam hati namun mimiknya tidak bisa menutupi jika dia benar-benar kesal.
Sementara Reffan justru tidak bisa memalingkan matanya dari memandangi Safira, matanya masih menelisik menduga bagian tubuh mana saja milik Safira yang terluka. Ada rasa kuatir menyelinap di hatinya, namun di sisi lain hatinya ada rasa senang yang ikut menjalar karena bersama Safira.
“Lihat Safira, bahkan kau belum benar-benar pergipun kau sudah kembali lagi di dekatku.” Ada senyum kecil tersungging di bibirnya.
Safira mulai cemas karena sebuah rumah sakit dilewati begitu saja oleh mobil yang ditumpanginya. Diapun tak mampu lagi menahan suaranya.
“Bukankah kita akan ke rumah sakit, kita baru saja melewatinya.” Safira berbicara namun pandangannya tetap ke luar jendela.
“Kita ke rumah sakit milik temanku. Kau tenang saja.” Ujar Reffan datar.
“Menurutmu apa aku bisa tenang bersama dengan Tuan Pemaksa seperti anda. Huh.” Lagi-lagi Safira hanya bisa melampiaskan kekesalan di hatinya saja, sudah tidak terhitung berapa kali dia menggerutu kesal dalam hatinya selama di perjalanan.
Mobil memasuki area rumah sakit dengan bangunan bertingkat yang cukup megah, di depan bangunan bertuliskan UGD mobil berhenti. Safira dengan cepat membuka pintu mobil dan berjalan pelan. Tangan kirinya memegang lengan tangan kanannya yang terasa semakin nyeri. Reffan dan Bayu hanya bisa menatap Safira tapi tak bisa membantunya, Safira pasti akan lebih marah lagi jika mereka menyentuhnya.
“Apa yang kau lihat Bayu? Jangan menatap milikku!”
__ADS_1
“Maaf Pak, saya hanya memastikan Ibu Safira bisa berjalan sendiri.”
“Kau pikir aku akan membiarkanmu menangkapnya jika dia terjatuh, mau mati kau hah!”
“Tidak Pak, tentu saja tidak. Maafkan saya!” gelagapan Bayu menjawab ancaman bosnya.
“Duh, susahnya menghadapi bos yang jatuh cinta.” gerutu Bayu di dalam hati.
Sementara Safira sama sekali tidak mempedulikan dua orang di belakangnya, dia terus berjalan walaupun mendengar dua orang tak akur yang ribut di belakangnya.
Reffan yang menyadari Safira sudah melangkah semakin jauh segera menyusul diikuti Bayu di sampingnya.
"Bayu urus administrasinya dan hubungi Rendra beritahu kita di sini.”
“Baik pak!”
Reffan mendampingi Safira masuk ke ruangan UGD, seorang perawat membantu Safira naik ke pembaringan. Seorang laki-laki berjas putih mendekat menyapa Safira. Safira baru saja akan mengatakan sesuatu namun Reffan sudah memotongnya.
“Maaf Dok, apakah....”
“Dok, saya minta dokter perempuan saja yang memeriksa calon istri saya.” Ucap Reffan dengan tatapan tajam.
Safira yang perkataannya terpotong melongo terkejut. Safira memang hendak meminta dokter perempuan untuk memeriksanya namun Reffan sudah lebih cepat mengatakannya, “Apa calon istri, kenapa kau seenaknya sendiri tuan pemaksa, siapa yang calon istrimu.” protes Safira di dalam hatinya. Pandangan Safira bertemu dengan pandangan Reffan, tatapan kesal jelas terlihat di mata Safira, namun Reffan justru membalasnya dengan senyum tipis seolah menikmati kekesalan Safira.
"Kamu menggemaskan sekali Safira bahkan dengan tatapan yang mau memakanku begitu.” Batin Reffan. Kedua insan masih saling menatap, yang satu menatap sebal dan yang satunya menatap gemas hingga tidak menyadari dokter laki-laki telah berganti seorang dokter perempuan.
“Selamat siang ibu, apa yang ibu rasakan sekarang.” Sapaan dokter membuat Safira dan Reffan menghentikan perang dinginnya.
“Tadi calon istri saya terjatuh di tangga lobby dokter dengan posisi miring ke kanan. Tolong diperiksa semuanya dok jangan ada yang terlewat. Saya mau yang terbaik untuk calon istri saya.”
“Baik Pak tentu saja.” Tangan dokter meraih tangan kanan Safira, perawat di sampingnya akan menggulung lengan baju Safira namun Safira menghentikannya.
“Bisakah bapak di luar saja?” matanya menatap Reffan tajam
“Aku hanya ingin mendampingi calon istriku dan memastikan keadaannya.”
“Bahkan jika benar anda adalah calon suami saya, anda tidak berhak melihatnya.”
Perawat yang tersenyum segera mendekati Reffan karena dipikirnya calon suami istri di depannya sedang bertengkar.
“Maaf Pak, sebaiknya bapak menunggu di luar saja, setelah memeriksanya kami akan mengabari anda.”
Reffanpun tak mendebat perkataan perawat, seutas senyum dilemparnya ke Safira sebelum dia beranjak pergi.
__ADS_1
“Baik bu, sebaiknya bajunya dibuka ya, agar tidak ada yang terlewat dalam pemeriksaan.” Safira masih memandang ke gorden penyekat memastikan Reffan sudah pergi jauh.
“Pandai sekali kau mau mencuri kesempatan Reffan, dasar mesum.”