
"Direksi?" Fairuz bergumam pelan. "Ada apa ya?"
Pertemuan dengan direksi sangat langka bisa menyenangkan atau menegangkan. Fairuz tersenyum kecil.
"Apa aku akan dipromosikan?" Batinnya.
.
Kedatangan mobil Reffan di depan UGD sudah disambut tenaga kesehatan yang bertugas karena sebelumnya Bayu menghubungi dokter Rendra, teman Reffan sekaligus anak pemilik rumah sakit.
Rendrapun yang baru saja selesai pertemuan penting dengan para kepala departemen rumah sakit datang dengan berlari kecil menghampiri Reffan.
"Apa yang terjadi dengan istrimu Fan." Dokter Rendra menatap sekilas Safira yang berbaring di brankar rumah sakit didorong menuju ruang tindakan.
Reffan tak menjawab pertanyaan dokter Rendra, pikiran dan matanya masih fokus pada Safira.
Bagas dan Bayu hanya diam, saling pandang sebentar namun kemudian membuang pandangan.
"Aku mau masuk. Kasihan Safira sendirian." Reffan sudah siap mendorong pintu yang memisahkan raganya dengan Safira. Namun ditarik dokter Rendra.
"Biarkan dokter memeriksanya dulu, hanya sebentar setelah itu kamu bisa masuk." Rendra menenangkan Reffan, netranya meneliti ekspresi Reffan. "Apa yang terjadi?"
Reffan masih terdiam, pikirannya juga masih kacau memikirkan Safira dan dia sendiri juga tak tahu bagaimana kejadiannya sampai Safira seperti ini.
"Fan!" Dokter Rendra setengah berteriak gemas karena Reffan tetap diam.
"Apa sih Ren? Aku bingung ini. Kamu jangan tanya terus! Aku juga gak tahu kejadiannya bagaimana." Reffan ikut meninggi suaranya.
"Kamu gak KDRT kan?" Rendra bertanya hati-hati.
"Gila kamu!" Reffan sudah marah sekarang, matanya melotot ke arah dokter Rendra.
"Aku kan cuman tanya. Sensi amat sih!" Dokter Rendra menimpali santai. "Kamu duduklah dulu."
Bayu dan Bagas sama-sama menggelengkan kepala.
Rendra menghampiri Bayu dan Bagas untuk bertanya kejadiannya karena sepertinya percuma berbicara dengan Reffan.
Duapuluh menit berlalu, dokter Rendra mendengarkan penjelasan dari Bagas dengan wajah serius berkali-kali dia mengumpat.
Dokter wanita yang telah memeriksa Safira keluar menemui Reffan.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri saya dok? Apakah Safira sudah sadar? Apa anak saya baik-baik saja?" Reffan menyerang dokter dengan berbagai pertanyaan yang sedari tadi terus berputar di kepalanya.
Dokter wanita itu tersenyum sementara dokter Rendra yang menyaksikannya menggelengkan kepala. Tadi ditanya diam saja, giliran bertanya panjangnya tak kira-kira. Begitulah kira-kira dokter Rendra bergumam dalam hatinya.
"Bu Safira sudah stabil kondisinya. Sebentar lagi kami akan memindahkan ke ruang perawatan hanya saja masih belum siuman. InsyaAllah sebentar lagi akan bangun. Dan kondisi janinnya, alhamdulillah baik-baik saja di perut ibunya." Dokter wanita paruh baya itu menjelaskan dengan tersenyum.
"Alhamdulillah. Apa ada luka serius dok?" Reffan lega tapi masih mengkuatirkan kondisi Safira.
"Hanya di pipi kiri dan sudut bibirnya tidak ada luka lain pak Reffan." Dokter menjelaskan lagi.
"Baik dok, terima kasih. Ada yang lain tentang kondisi istri saya dok?" Reffan bertanya lagi untuk menenangkan dirinya.
"Saya akan memeriksa kembali setelah Bu Safira siuman ya pak." Dokter tersebut tersenyum kemudian berpamitan.
Reffanpun masuk menemui Safira bersama dokter Rendra. Bagas dan Bayu menunggu di luar.
Reffan fokus menatap wajah istrinya yang sudah tidak sepucat tadi. Wajah cantik Safira tetap mempesona membuat Reffan melirik dokter Rendra yang berada di dekatnya.
"Apa? Aku hanya memeriksa cairan infus Safira." Dokter Rendra menatap Reffan yang meliriknya tajam.
Reffan semakin melebarkan matanya.
"Aku hanya memeriksa cairan infus Nyonya Reffan. Puas?" Dokter Rendra membuang nafas kasar.
"Jika aku lihat rekam medisnya, semuanya normal. Wajahnya juga terlihat lebih segar setelah mendapatkan oksigen dan cairan infus." Dokter Rendra menjelaskan kembali.
Reffan menghembuskan nafas lega, disentuhnya sudut bibir Safira yang masih meninggalkan jejak luka juga pipi mulusnya yang masih memerah meskipun sudah mulai memudar. Tangan sebelahnya mengepal. Sekarang Reffan merasa sangat kesal karena belum menghajar Fairuz sama sekali.
Beberapa perawat datang untuk memindahkan Safira ke ruang perawatan. Reffan selalu berada di dekat istrinya. Dokter Rendra tidak ikut ke ruang perawatan karena ada yang harus diselesaikannya, Bagas dan Bayu yang masih di sana ikut masuk ke ruang perawatan.
"Bayu, tolong ambilkan perlengkapanku untuk menginap di sini dan suruh koki hotel menyiapkan menu makanan kesukaan Safira." Reffan memberikan perintah untuk Bayu.
Bagas berdecak tapi hanya di dalam hatinya, "Wow, rumah sakit rasa hotel."
Reffan melirik Bagas.
"Ah iya, aku juga pamit. Semoga Safira lekas siuman." Bagas berniat ikut keluar karena tak kuat mendapat lirikan Reffan.
"Duduklah dulu! Kita mengobrol sebentar." Reffan mempersilakan Bagas duduk di sofa.
Walau ragu Bagaspun duduk kemudian Reffanpun duduk di sofa lain yang berdekatan.
__ADS_1
"Terimakasih sudah menolong Safira." Reffan membuka suara. Walaupun Reffan sebenarnya cemburu pada Bagas yang sangat perhatian pada Safira tapi Bagas tetap orang yang berjasa menolong Safira.
"Sama-sama." Singkat Bagas menjawab, takut juga dia dengan tatapan tajam Reffan.
"Apa anda masih menyukai Safira? Anda membuntutinya?" Reffan bertanya pada Bagas daripada menebak-nebak isi hati Bagas.
Bagas tersenyum. "Suaminya cemburu ternyata." Batin Bagas.
"Orang yang sehat akalnya akan menyukai Safira lebih tepatnya kepribadian Safira. Jangan salah mengartikan sikap saya pada Safira, saya hanya ingin menjaga wanita baik seperti Safira. Tadi saya hanya memastikan dia selamat sampai tujuan, tapi saya malah melihat mobil Fairuz mengikutinya. Tidak ada lagi cinta untuknya karena saya sudah memutuskan untuk mencintai wanita lain." Bagas tersenyum mengingat wajah manis Ira.
"Benarkah? Kamu akan segera menikah?" Reffan tersenyum mendengar jawaban Bagas.
"InsyaAllah." Bagas menjawab mantap.
"Saya senang sekali mendengarnya. Katakan saja kapan waktunya? Pakailah ruangan hotel yang kamu suka untuk acara pernikahanmu, saya juga akan memberimu paket menginap di hotel saya terserah pilihlah kotanya." Reffan berbicara seringan kapas.
Berbeda dengan Bagas yang terkejut karena baru saja mendapat durian runtuh. Hatinya ingin menolak hadiah dari Reffan tapi pikirannya berat untuk tidak menerima. Dan lisannya bingung memilih kata.
"Ah..." Kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Bagas. "Tidak perlu begitu, saya malah jadi tidak enak." Basa-basi berharap Reffan memaksa.
"Ini karena kebaikanmu. Safira juga pasti senang aku melakukannya untuk sahabatnya." Reffan meyakinkan Bagas untuk menerima tanda terimakasihnya.
"Safira. Bahkan aku berhutang budi padanya." Wajah Bagas menunduk mengingat apa yang dilakukan Safira untuknya.
.
Sekarang tinggal dua orang manusia di kamar perawatan. Kamar yang sama saat Reffan memaksa Safira dirawat di rumah sakit dulu.
Reffan duduk di samping Safira berbaring, menyentuh sudut bibir yang terluka.
"Maaf sayang aku gagal menjagamu." Reffan mengecup puncak kepala istrinya.
Kecupan Reffan membuat bulu mata Safira bergerak-gerak, mata yang terpejam itupun terbuka menyapa suami yang sejak tadi selalu ada didekatnya.
"Sayang..." Reffan mengecup lagi puncak kepala Safira.
"Mas...." Safira senang sekali melihat suaminya saat membuka mata karena memorinya langsung berputar pada kejadian terakhir sebelum dia tak sadarkan diri.
"Apa yang kamu rasakan? Bagian mana yang sakit?" Reffan bertanya lembut.
Safira meraba dadanya, dirasakannya jantungnya memompa darah lebih cepat mengingat semua kejadian hari ini.
__ADS_1
"Hatiku yang sakit mas."