Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Bertemu Damar


__ADS_3

Safira bersikap biasa saja pada Damar berbeda dengan Ira. Mungkin saat ini debaran jantung Ira bisa dirasakan pula oleh Safira yang duduk di sebelahnya. Safira mengelus lembut tangan sahabatnya membuat Ira menoleh dan tersadar dari perasaannya yang nano-nano.


Sesi pertama pelatihan sudah selesai, tiba waktunya solat dan makan. Safira dan Ira pergi ke mushola dulu untuk solat Dhuhur. Ternyata Bagas dan Damar ada di belakang mereka hendak solat terlebih dahulu.


"Apa kamu bahagia Safira?" Pertanyaan Damar tepat di belakang Safira dengan suara yang berbisik membuatnya tertegun dan mematung. Namun ternyata pertanyaan itu tak membutuhkan jawaban. Damar melewatinya kemudian duduk melepas sepatunya seolah tak pernah mengatakan apapun pada Safira.


"Kenapa Fir?" Tanya Ira yang sedang meletakkan sepatunya di rak.


"Enggak.. Yuk!" Safira juga meletakkan sepatunya kemudian mengajak Ira masuk ke tempat wudhu.


"Fir.." Tangan Ira menarik lengan Safira yang baru saja melepas mukenanya.


"Ada apa?" Safira menghentikan akan melipat mukenanya.


"Aku deg-degan ada pak Damar." Ira sedikit berbisik berbicara dengan sahabatnya.


"Masih suka ya?" Safira tersenyum melihat Ira yang tersenyum malu-malu.


"Gimana dong, mungkin gak ya pak Damar bisa ada rasa padaku?" Ira terlihat bingung sendiri dengan perasaannya.


"Jangan berharap pada manusia untuk sesuatu yang tak pasti. Berharap dan percayalah pada Allah. Dia yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita. Percayalah Allah takkan pernah mengecewakan kita!" Safira menangkup tangan sahabatnya, sejujurnya Safira takut sahabatnya bersedih dan kecewa lagi seperti dulu.


Ira tersenyum, perasaannya lebih tenang sekarang.


Saat mereka berdua keluar dari mushola ternyata Bagas dan Damar sedang duduk memakai sepatunya. Safira dan Irapun mengambil sepatu dan segera memakainya. Safira menggandeng lengan sahabatnya pergi mendahului para laki-laki yang sedang menatap mereka. Bagas tersenyum melihat persahabatan Ira dan Safira, Damarpun tersenyum, senyum sinis, "Kamu lebih memilih persahabatanmu daripada aku Safira." Ada perasaan sakit hati yang muncul lagi mengingat wanita yang pernah mengaduk-aduk perasaannya.


Pukul lima sore pelatihan hari pertama berakhir. Safira ikut ke kamar Ira untuk solat magrib di sana, setelah itu mereka akan makan malam bersama.


Safira mengirimkan pesan pada suaminya.


Mas, aku nginep di kamar nomor berapa?


Pesan terkirim sedetik kemudian terbaca


Bertanyalah pada resepsionis, tanyakan kamar pak Reffan, mereka akan mengantarmu.


"Apa mas Reffan juga akan ke sini ya? Tapi mas Reffan menyuruhku ke resepsionis itu berarti kamarnya masih kosong. Ah, aku ingin menginap di kamar Ira." Di benak Safira muncul banyak pertanyaan.


Seusai solat magrib, Ira dan Safira keluar kamar menuju restauran di lantai bawah. Ira sudah berganti baju lebih santai sedangkan Safira masih memakai seragamnya karena semua pakaian gantinya masih di koper yang tidak diizinkan Reffan untuk dibawanya.


"Ra maaf ya, kamu jadi tidur sendirian. Kamu gak papa di kamar sendirian?" Safira merasa bersalah pada sahabatnya.


"Aku sudah membayangkan pasti seru sekali kita nginap bareng. Yah batal ternyata!" Ira terlihat sangat kecewa. "Abang suami kenapa sih gak mau minjemin kamu ke aku dulu, memangnya aku bakal ngrebut kamu."


Safira spontan tertawa, Ira akhirnya juga tertawa.

__ADS_1


"Gak papa Fir, aku maklum kok. Suamimu berarti nanti menginap di sini juga?" Ira bertanya penasaran.


"Ehm mungkin. Aku juga belum tahu." Safira nampak berpikir kembali.


"Eh, Ra kalian sudah di sini... Bro, di sini aja kita gabung sama mereka berdua." Bagas langsung duduk di depan Ira, Damar mengikuti duduk di depan Safira.


Bagas banyak bicara seperti biasanya. Ira terlihat kikuk, dan Damar terlihat biasa menanggapi obrolan Bagas namun matanya tahu harus mencuri pandang ke arah mana. Sementara Safira terus memandang sahabatnya Ira.


"Kamu kok belum ganti baju Fir? Suamimu belum ke sini." Bagas yang sudah selesai makan bertanya juga karena penasaran.


"Setelah ini aku cek." Safira berbicara tegas seperti biasa.


"Suamimu menjemputmu atau akan menginap di sini juga?" Tak terduga Damar berani bertanya pada Safira.


Safira bingung harus menjawab apa, sejujurnya dia belum tahu apakah suaminya juga akan kemari.


"InsyaAllah menginap di sini pak." Safira dengan tenang menjawab.


"Wah, aku jadi ingin bertemu dengannya. Pria yang sudah mendapatkanmu." Damar berbicara sambil melihat Safira membuat Bagas dan Ira menatapnya. Bagas dengan tatapan heran dan Ira dengan tatapan kecewa karena terlihat jelas mata pria yang disukainya masih tertarik pada wanita di depannya.


"Fir, aku sudah selesai mau ke kamar." Ira berkata sambil menunduk.


"Aku juga sudah selesai. Yuk! Kita duluan ya pak." Safira berdiri menggandeng lengan sahabatnya.


Mereka berdua kembali ke kamar Ira.


"Dia masih menyukaimu." Ira duduk di ranjang menunduk tanpa melihat ke arah Safira.


Safira berjalan menuju sahabatnya. Safira menggelengkan kepalanya.


"Maaf."


"Bukan salahmu. Bahkan kamu secara jelas menolaknya."


"Ra, aku tak akan mengatakan kamu punya kesempatan."


Ira menatap Safira heran.


"Tapi aku ingin mengatakan, Allah sudah menyiapkan yang terbaik untukmu. Entah dia Damar atau bukan. Jangan kunci perasaanmu dulu, berdo'alah minta didekatkan dengan yang terbaik. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik juga menurut Allah begitu juga sebaliknya. Siapkan saja hatimu untuk menerima pemberian Allah, jangan berharap pada manusia." Wajah teduh Safira menenangkannya.


"Tak mudah Safira karena aku pernah jatuh cinta padanya. Dan aku tahu diapun tak mudah untuk mengalihkan hati karena pernah jatuh cinta padamu." Ira lemas menjatuhkan kepalanya di pundak Safira yang sudah duduk di sebelahnya.


"Allah yang membolak-bolakkan hati. Kau hanya perlu percaya dan berdo'a pada-Nya." Safira berbicara lembut.


.

__ADS_1


Dua laki-laki masih betah duduk berlama-lama di restauran.


"Gimana bro sudah laku belum?"


"Haha... ngledek nih. Kamu sendiri sudah laku belum?"


"Baru bisa move on. Rehat dulu lah."


"Eh kenapa nih, habis putus?"


"Enggak, ditinggal kawin. Apanya yang putus, dekat aja gak pernah."


"Kok samaan. Perempuan yang mengobrak-abrik hatiku bahkan tak pernah memberiku kesempatan untuk dekat dengannya. Tiba-tiba aja ngasih tahu sudah akan menikah."


"Sakit kan bro!" Temannya menepuk pundaknya. "Awalnya aku juga merasa sakit banget. Tapi setelah aku mencoba ikhlas dan berteman dengannya perasaanku lebih lega."


"Bisa begitu?"


"Bisa, dia terlalu baik tak pantas aku membencinya."


.


Di kamar berdua, Ira dan Safira mengobrol urusan perempuan. Namun seketika wajah Safira menjadi panik saat melihat waktu yang ditunjukkan ponselnya. 19.42.


"Ya Allah. Ra, aku pergi dulu ya." Safira langsung merapikan pakaian dan jilbabnya kemudian dengan cepat meraih tas miliknya.


"Ada apa? Suamimu sudah ke sini?" Pupil mata Ira mengikuti pergerakan Safira yang mondar mandir membereskan perlengkapannya.


"Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum." Safira langsung berjalan cepat menuju pintu tak mendengarkan pertanyaan Ira.


.


"Maaf mbak, kamar atas nama Reffan Satriya Bagaskara nomor berapa ya?" Dengan nafas terengah Safira bertanya pada resepsionis.


"Ibu Safira ya? Mari bu saya antar." Senyum ramah selalu menghiasi wajah wanita yang ditanya oleh Safira.


"Terimakasih." Safira hanya mengekori resepsionis yang mengantarnya. Saat sudah masuk di lift, tangan wanita itu memencet tombol dengan angka tertinggi.


"Silakan Bu Safira." Wanita yang mengantarnya memberikan sebuah kartu yang berfungsi untuk mengakses kamar saat mereka tiba di depan pintu kamar.


"Terimakasih." Safira tersenyum ramah.


Wanita yang mengantarnya sudah menjauh. Safira segera membuka pintu dan masuk ke dalamnya.


"19.51. Gadis pintar!" Suara seseorang yang sangat dikenalinya sudah memenuhi kamar.

__ADS_1


Safira menelan ludah, suaminya benar-benar ada di sini.


__ADS_2