Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Menenangkan Diri Sejenak


__ADS_3

Dua hari lagi adalah hari pernikahan Reffan dan Safira. Keluarga Safira sudah datang ke Surabaya. Rumah yang biasanya hanya ditinggali Safira seorang diri kini sudah ramai canda dan tawa keluarganya. Ya semuanya bahagia, hanya Safira yang menyembunyikan rasa gugup dan kuatirnya. Safira memilih baju santai atau kaos dengan lengan panjang yang hanya memperlihatkan jari-jemarinya. Ini dilakukannya untuk menutupi memar dan lebam di tangannya. Safira tidak ingin keluarganya mengkuatirkannya cukup dirinya saja yang mengkuatirkan kejadian malam itu.


Sejak kejadian malam itu, perasaannya sungguh terombang-ambing. Sebelum mengenal Reffan hidupnya baik-baik saja, tidak ada yang pernah berlaku jahat padanya. Namun setelah mengenal Reffan, dua kali ada yang ingin mencelakai dirinya. Gusar, tentu saja. Apakah ini sebuah pertanda tidak seharusnya mereka bersama.


"Ah, astaghfirulloh.. apa yang aku pikirkan." Safira menggeleng-gelengkan kepala mengusir pikiran buruk yang mengganggunya.


Sekuat aku mendekat


Jika Kau tak mengizinkan


Apa arti keinginanku


Sekuat aku berlari


Jika Kau ingin kami bersatu


Mana mungkin aku bisa pergi


Duhai pemilik jiwaku


Jika kami adalah dua jiwa yang seharusnya bersatu


Maka ringankanlah kaki ini melangkah


Jika hati kami memang seharusnya terikat


Maka ikatlah kami dalam perjanjian suci mitsaqan ghalizon*


Aamiin..


*perjanjian yang kuat yakni pernikahan


Ada yang menghangat di pelupuk matanya. Safira menelungkupkan telapak tangannya menutupi wajahnya. Namun apa yang dilakukan Safira membuat Hasna yang masuk ke kamar Safira tertegun. Lengan kaos panjang milik Safira melorot menampilkan tangannya yang membiru.


"Mbaaak.. Astaghfirulloh... mbak kenapa ini?" Tangan Hasna langsung meraih kedua tangan Safira. Safira buru-buru berdiri dan menutup pintu kamar.


"Mbak..." Hasna menatap tajam netra kakaknya meminta penjelasan.

__ADS_1


"Gak papa dek, kamu tenang aja. Ini kemarin pas mbak keluar ada yang kurang ajar. Jadi reflek mbak pukul orang itu. Eh, tangan mbak jadi malah gini." Safira tersenyum menjelaskan pada adeknya. "Ah, mudah-mudahan ini gak termasuk berbohong." Batin Safira.


"Mbak ih..." Perkataan Hasna sudah dipotong Safira.


"Sssttt.. sudah jangan dibahas lagi ya. Ibu dan ayah gak perlu tahu nanti malah kuatir."


"Mbak, aku seneng deh mbak akan menikah jadi ada yang jagain mbak, kalau ada yang gangguin mbak Fira nanti biar mas Reffan yang nonjok. Tapi aku juga sedih nanti aku gak bisa sering-sering nempelin mbak Fira." Hasna sudah menyandarkan kepalanya ke bahu Safira.


Safira mengelus kepala adeknya, "Dasar anak kecil. Kamu tetap adek mbak, kita hanya akan menambah anggota keluarga saja, keluarga Pak Reffan akan menjadi keluarga kita juga."


"Hasna, ikut mbak yuk!"


"Kemana?"


"Ke salon... yuk."


"Ih, calon pengantin mau perawatan." Hasna sudah menggoda kakaknya.


"Hush, anak kecil mau ikut gak?"


"Ikut lah mbak, lumayan di bayarin potong rambut dan facial."


"Nak, duduklah dulu. Ayah ingin berbicara sebentar."


"Iya ayah." Jawab Safira. Ibu Sofia juga ikut duduk di samping Pak Salman, sementara Hasna duduk di samping Safira sambil memeluk lengan kakaknya.


"Sayang sebentar lagi kamu akan menikah. Sebentar lagi tugas ayah akan digantikan oleh suamimu." Suara ayah Salman terdengar serak.


Pelupuk mata Safira menghangat mendengar ayahnya berbicara.


"Safira Nadhifa Almaira putri ayah. Kamu adalah putri yang ayah sayangi dan banggakan. Terimakasih karena telah menjadi anak yang baik untuk kami, kakak yang baik untuk adikmu. Sebentar lagi kamu bukan hanya menjadi anak kami tapi juga anak orangtua suamimu maka jadilah anak yang baik untuk mertuamu, sayangilah mereka seperti kau menyayangi kami. Saat kau sudah menjadi seorang istri. Surgamu ada di suamimu maka jadilah istri yang menyenangkan untuk suamimu jangan menyusahkannya. Jadilah istri yang patuh pada suamimu selama tidak melanggar hukum Allah, jagalah kehormatan suamimu dengan menjaga kehormatanmu. Tutupilah aib suamimu, dan jadilah tempat berlabuh yang nyaman untuk suamimu. Laki-laki tak ingin terlihat lemah di hadapan wanita, maka jadilah tempat bercerita yang nyaman baginya, berilah nasihat tanpa menyombongkan diri, siapkan ilmu dan tatalah hatimu sebentar lagi kamu akan melaksanakan ibadah terlama dalam hidupmu. Ayah dan ibu sangat berharap kamu akan memudahkan langkah kami ke surga dengan menjadi istri yang sholehah untuk suamimu."


"InsyaAllah ayah."


"Ayah percaya padamu Safira. Doa kami tak pernah berhenti untukmu."


Safira menghambur memeluk ayah Salman dan Ibu Sofia, Hasnapun ikut menghambur memeluk punggung kakak kesayangannya.

__ADS_1


Kemudian ibu Sofia menyuruh Safira segera pergi ke salon agar siang hari sudah sampai rumah.


Safira lebih memilih merilekskan tubuhnya di salon muslimah ditemani Hasna. Mencoba melepaskan apa yang membebani pikirannya.


Sementara di sofa kamarnya Reffan sedang berbincang serius dengan Bayu sang asisten.


"Jadi mereka melakukan itu atas inisiatif sendiri? tidak ada yang menyuruh?"


"Betul pak. Pihak polisi mengatakan begitu pak setelah menginterogasi pelaku."


"Bagaimana mereka bisa memilih korbannya adalah Safira, mereka juga kan yang menyayat roda mobil Safira."


"Polisi mengatakan pelaku sudah mengamati tempat parkir sebelum Safira datang."


"Tapi Safira bilang preman-preman itu bahkan tidak merebut atau meminta barang apapun pada Safira." Reffan menyandarkan tubuhnya.


"Sedangkan pelaku mengaku akan menjambret Safira." Tukas Bayu.


"Ini anehkan. Entahlah aku merasa pelaku-pelaku itu tidak benar-benar jujur."


"Sepertinya begitu Pak."


"Kamu sudah menyuruh orang mengawasi Safira terus kan."


"Sudah Pak."


Reffan tersenyum meraih ponselnya dan melacak keberadaan Safira. Saat tahu dimana Safira sekarang, senyumnya semakin mengembang.


"Gadis pintar, aku jadi tak sabar mencicipimu."


Bayu hanya memasang ekspresi datar di wajahnya, dia tahu betul apa yang menjadi penyebab senyum lebar di wajah bosnya, apalagi jika bukan Safira. "Benar kata orang ternyata jatuh cinta bisa membuat orang gila. Upss." Bayu langsung menutup mulutnya, bagaimana bisa dia membicarakan bosnya dalam hati dan mengatainya seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri.


Satu hari sebelum hari pernikahannya, rumahnya mendadak ramai orang hilir mudik, ada beberapa orang yang datang mendekorasi rumahnya. Halaman rumah, ruang tamu dan kamar Safira. Safira memilih duduk di pojok kamarnya memperhatikan orang yang keluar masuk kamarnya. Hatinya berdegup lebih cepat mengingat besok akan ada orang asing yang masuk ke dalam kamarnya dan menginap di sini bersamanya. "Ah, aku takut." Safira berteriak di dalam hatinya.


Sementara di sebuah kamar lain, kamar yang selalu menjadi tempat menginapnya saat di Surabaya. Sebuah kamar paling istimewa yang hanya bisa ditempati pemilik hotel. Reffan mengamati beberapa karyawannya yang sedang merapikan dan menghias kamarnya.


Reffan tak berhenti tersenyum membayangkan akan ada Safira di kamar ini. Wanita yang menjadi tujuannya setelah hampir selalu hadir dalam mimpi Reffan. Reffan telah bertemu dengannya dan satu hari lagi wanita itu akan sah menjadi istrinya.

__ADS_1


"Aku akan menjagamu Safira, hingga wajahmu tak akan pernah berpaling dari melihatku. Aku akan menjagamu Safira hingga kau tak perlu mengkuatirkan hal lain selain bahagia bersamaku."


__ADS_2