
"Nanti aku akan mengurusnya ma. Biarkan Safira nyaman dulu, aku tidak ingin terlalu menekannya." Reffan berbicara pelan yang diangguki mamanya.
"Sebaiknya kamu tinggal di Surabaya dulu saja pekan ini. Di sinikan ada orang kepercayaanmu yang bisa diandalkan. Awal kehamilan begini Safira pasti ingin selalu di dekatmu." Mama Raisa memberikan saran pada Reffan.
"Betul Fan, mamamu dulu juga manja banget saat awal hamil kamu maunya dipeluk terus." Papa Rendra menimpali.
"Ih papa. Mama gak begitu." Mama Raisa salah tingkah kemudian mencubit pinggang papa Rendra.
Reffan dan papa Rendra tertawa melihat mamanya.
"Ya sudah papa sama mama pulang dulu ya. Kalian baik-baik di sini." Papa Rendra berpamitan.
Mama Raisa tiba-tiba tertawa mengingat menantunya di bawah selimut.
"Sampaikan salam mama buat Safira ya. Dan kamu jangan mengganggu Safira yang sudah tidur." Mama Raisa sedikit mengeraskan suaranya, sengaja agar Safira bisa mendengar dan tidak terlalu malu karena mama Raisa mengira dirinya sudah tidur.
Reffan tersenyum.
"Papa mama hati-hati ya." Reffan mengantarkan mama papanya keluar kamar setelah mereka tak terlihat lagi baru Reffan masuk ke kamar.
Perlahan Reffan berjalan ke arah Safira yang masih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Reffan menarik pelan selimut yang menutupi wajah Safira. Tapi Safira menahannya dengan kuat.
"Mama dan papa sudah pulang sayang." Reffan kembali menarik selimut tapi Safira masih belum mau melepasnya.
Reffan tersenyum, istrinya pasti malu sekali sekarang.
Reffan menusukkan telunjuknya ke arah pinggang Safira. Safira berjingkat karena terkejut membuat kepalanya menyembul keluar selimut.
Wajah memerah dengan rambut berantakan keluar dari selimut. Bibirnya cemberut, lucu nan menggemaskan.
"Kamu lucu banget sih." Reffan mendekat ke wajah Safira, tangannya terulur merapikan rambut istrinya, disentuh dan disisirnya rambut hitam yang lembut dengan jemarinya.
Safira masih diam menunduk, hanya matanya melirik suaminya yang asik merapikan rambutnya.
"Gak papa sayang, mama papa kan juga pernah muda." Reffan tersenyum menatap wajah istrinya.
"Mas sih!" Safira masih cemberut lucu sekali.
"Aku kan lupa sayang. Sedari kamu pingsan tadi hanya kamu yang memenuhi otakku." Reffan menoel hidung Safira. "Jangan cemberut terus dong, kamu kalau cemberut gitu gemesin banget, minta digigit."
__ADS_1
Safira langsung menarik bibirnya daripada ada yang menggigitnya, Reffan tersenyum mengusap pipi istrinya tangannya menarik selimut yang sudah lepas dari genggaman istrinya.
"Mas..." Safira terkejut selimutnya tersingkap di bawah kakinya, akan menarik lagi tapi Reffan sudah menciumi lehernya.
"Ah mas..." Tangannya mendorong suaminya tapi Reffan yang merasa tangan Safira mengganggu aktivitasnya segera menarik dan menguncinya ke atas.
"Hukumanmu belum selesai sayang." Reffan langsung menyambar bibir Safira yang membuatnya terus ketagihan. Entahlah Reffan selalu ketagihan bersama Safira bahkan akhir-akhir ini istrinya terlihat sangat cantik membuatnya tak rela ada laki-laki di dekat istrinya apalagi jika sampai Fairuz melihatnya.
.
Wajah cantik yang selalu memantik naluri untuk menyentuhnya kini sudah terlelap dengan nyaman. Reffan suka sekali melihat wajah Safira yang terlelap setelah kelelahan meladeninya. Dan saat Safira sudah terlelap dia masih terus bergerilya di tubuh istrinya dan mengecupi wajahnya sampai puas. Kini Reffan mengambil ponsel Safira membuka aplikasi mobile banking milik istrinya dengan sidik jari dari telunjuk istrinya.
"Kenapa gak bilang saja sih sayang kalau masih kurang. Bagaimana mungkin kamu masih merasa merepotkanku? Apa aku masih kurang menghujanimu dengan cinta sehingga kamu masih belum membuka tabir di hatimu. Safira, apa kamu mencintaiku?" Reffan bergumam pelan memandangi wajah istrinya.
.
Sabtu pagi di ibukota, sinar keemasan mentari baru saja menyapa hangat. Di jalan raya kendaraan bermotor sudah saling mengejar, berlomba lebih cepat sampai di tujuan.
Bagas dan Ira berniat akan jalan-jalan keliling Jakarta hari ini, besok mereka baru akan kembali ke Surabaya. Safira? Entah mereka juga tak tahu akan kembali ke Surabaya kapan tapi mereka sepakat tak akan bertanya karena tatapan suami Safira saat membawa Safira yang pingsan sangat menakutkan menembus hingga ke jantung.
.
"Kita di kamar aja hari ini seharian." Reffan mengusap lembut punggung istrinya yang sedang memeluknya.
"Seharian? Apa tidak ke rumah mama?" Safira bertanya.
"Apa kamu sudah siap bertemu mama?" Reffan tersenyum mengingat kejadian kemarin malam.
Wajah Safira langsung merona mengingatnya membuatnya semakin rapat memeluk suaminya.
"Kamu memelukku begini mau minta lagi?" Reffan membalas pelukan Safira.
Safira langsung mendorong tubuh suaminya dan menjauhkan tubuhnya sendiri.
Reffan tertawa lagi.
"Sore saja kita ke rumah mama. Sekarang di sini aja, kan enak di kasur berdua begini." Reffan menarik lagi tubuh istrinya agar memeluknya lagi tapi tubuhnya sudah menegang. "Ah Safira selalu membuatku kesetrum jika dekat-dekat begini." Batinnya mulai gelisah.
"Mas gak pengen jalan-jalan?" Safira mendongak bertanya pada suaminya.
__ADS_1
"Mau kemana?" Reffan balik bertanya.
"Boleh ke mall gak mas? Aku pengen lihat mall Jakarta sekalian makan siang nanti." Safira bertanya riang.
Melihat Safira yang antusias, Reffan tersenyum.
"Boleh tapi setelah ini, sebentar saja."
"Mas kita sudah mandi. Mas..." Percuma Safira berbicara, Reffan tak akan mendengarkannya.
.
Reffan dan Safira baru keluar kamar setelah matahari terik. Mereka berdua pergi ke sebuah mall di ibukota.
Reffan menggelengkan kepala saat istrinya hanya berjalan-jalan tapi tak juga memilih baju.
"Kamu mau beli yang mana sayang?" Reffan akhirnya tak sabar juga.
"Makan... yuk mas makan." Safira menarik lengan Reffan.
"Gak beli apa-apa nih?"
Safira hanya tersenyum menggelengkan kepala. Tangannya menarik tangan Reffan yang belum beranjak karena tak rela istrinya tak membeli barang satupun.
Safira menarik lengan Reffan agar mengikutinya.
"Mas, makan udon ya?" Mata Safira berbinar melihat restauran Jepang dengan logo halal.
.
Ira dan Bagas saat ini sedang menikmati makan siang di mall. Tak biasanya mereka pergi berdua, mereka biasa pergi bertiga dengan Safira. Walaupun agak canggung mereka berusaha menikmati jalan-jalan mereka.
"Ah jatuh." Bagas menjatuhkan sumpitnya, diapun menundukkan kepalanya di bawah meja, tangan kanannya meraih sumpit yang jatuh. Setelah berhasil mengambil sumpit diapun duduk tegak kembali namun tangan kirinya ternyata mendarat di atas tangan kanan Ira.
Ira hendak menarik tangannya tapi Bagas justru menggenggam tangan Ira. Netranya lekat meneliti wajah gadis di depannya.
"Ira manis, diapun wanita baik." Bagas bergumam di dalam hatinya, ada desiran halus di dadanya.
Buukk!
__ADS_1
Sebuah tas perempuan mendarat di lengannya. Sontak mengagetkan Bagas dan Ira, Bagaspun menarik tangannya begitu juga dengan Ira. Netra mereka langsung tertuju pada pemilik tas yang mendarat dengan keras di lengan Bagas.