Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Honey Moon 2


__ADS_3

"Mas, jangan.." Suara Safira terdengar bergetar.


"Kenapa?" Suara Reffan sudah serak.


"Malu mas.." Safira sangat malu bahkan tubuhnya bergetar.


"Tak ada orang lain selain kita berdua." Reffan sudah melepas jilbab Safira. Selanjutnya kancing gamis sudah terlepas. Tubuh Safira yang bergetar malah membuatnya semakin tertarik. Saat pakaian luarnya terlepas. Safira memeluk tubuhnya dan menabrak tubuh Reffan. Safira sangat malu, tubuhnya terekspos di depan laki-laki walaupun ini adalah suaminya sendiri. Reffan meraba kulit putih bersih di depannya, merasakan lekuk tubuh istrinya lalu mengangkat tubuh Safira keluar dari kolam renang.


Reffan membawa Safira ke dalam hujan air hangat yang keluar dari shower. Safira sungguh tak berani menatap Reffan. Entah bagaimana ceritanya keduanya sudah tak memakai sehelai benangpun. Reffan memakaikan handuk membelit tubuh Safira, sebelumnya dia sudah memakai handuk dililit di pinggangnya. Reffan menggendong tubuh istrinya yang nampak tegang menurunkan dengan pelan di atas ranjang meraih kedua tangan Safira dan menggenggam dengan kedua tangannya.


"Safira, boleh aku memintanya? Aku tahu ini sangat berharga untukmu tapi bolehkan aku yang memilikimu seutuhnya?" Ujar Reffan dengan pandangan yang siap menerkam.


Safira menelan ludahnya. Mau tak mau dia harus siap untuk suaminya. Diapun mengangguk pelan. Reffan mengecup puncak kepala Safira, membaca sebuah do'a. Doa yang membuat Safira semakin menegang karena dia tahu do'a apa yang sedang dibaca Reffan.


Reffan tahu Safira sangat tegang sehingga dia mencoba merilekskan Safira dengan cumbu dan rayunya. Setelahnya jangan tanya lagi, akhirnya Reffan berbuka puasa setelah sepekan menunggu menu lezatnya.


Safira meringkuk di dalam selimut dalam pelukan Reffan. Wajahnya masih terus di sembunyikan. Berbeda dengan Reffan yang merasa sangat bahagia dan puas. Tangan kekarnya terus mengelus punggung Safira.


Hari sudah sore, mereka berdua bahkan melewatkan jam makan siang. Namun, bagi Reffan apa yang baru saja mereka lakukan kenikmatannya mengalahkan makanan apapun. Mereka berdua duduk di sofa empuk, di depannya sudah ada berbagai sajian lezat yang seharusnya sudah disajikan dari tadi. Namun, sesuai instruksi Reffan. Karyawan hotel tidak berani mengantarkannya sebelum Reffan sendiri yang meminta diantarkan.


Reffan sengaja mendudukkan Safira di sofa untuk makan agar lebih nyaman. Sedari tadi wajah Safira terus menunduk, hanya sesekali melirik Reffan.


"Apa sakit sekali Safira?" Reffan meraih dagu Safira memaksa Safira untuk menatap netranya.


Safira menggeleng.


"Kenapa? Kamu menyesal sudah melakukannya denganku tadi?" Reffan gusar sendiri melihat ekspresi Safira yang tidak bisa ditebaknya.

__ADS_1


Safira menggeleng lagi, berusaha menghindari tatapan Reffan.


"Ada apa?" Ucap Reffan lembut.


"Aaaku hanya malu mas." Ucap Safira sangat pelan namun masih bisa didengar Reffan.


Reffan tersenyum, "Istri yang baik membuang rasa malunya saat membuka baju di depan suami dan memakai kembali perisai malunya saat sudah berpakaian lagi. Tak apa sekarang kamu malu asal nanti kalau tak pakai baju seperti tadi ya."


Wajah Safira langsung menghangat saat diingatkan lagi pergulatan pertama mereka.


"Apa gak usah pakai baju aja biar gak malu-malu." Reffan malah semakin menggoda Safira yang wajahnya sudah bak udang rebus.


"Mas ih..."


"Sabar ya, kalau kamu gak pake baju nanti kita gak jadi makan." Reffan menyuapkan seekor udang berbalut tepung ke mulut Safira yang hendak protes.


"Kenapa aku terus terpojok." Kesal Safira di dalam hatinya, mulutnya mengunyah dengan bibir yang cemberut.


Reffan menyuapi Safira dan makan sendiri untuk dirinya.


"Mas sudah. Aku sudah kenyang mas." Ucap Safira dengan mulut yang tak berhenti mengunyah sedari tadi.


"Sedikit sekali makanmu. Kamu harus makan yang banyak sekarang persiapan tempur nanti malam." Ucap Reffan yang menyuapkan potongan daging ke mulut Safira.


Safira sampai terbatuk-batuk mendengar jawaban Reffan.


"Pelan-pelan Safira! Gak sabaran banget!" Ucap Reffan ringan tak merasa bersalah sedikitpun. Tangannya mengusap lembut punggung istrinya.

__ADS_1


"Bagaimana kakimu? Apa masih sakit?" Tanya Reffan saat mereka berdua duduk di depan televisi setelah makan.


"Sudah baikan jadi mas gak perlu gendong aku ke mana-mana."


"Masak sih? Coba dicek dulu." Ujar Reffan sembari mendekat ke kaki Safira.


Safira langsung menarik kakinya, " Gak mau, malah sakit lagi kalau mas cek. Nanti ditarik lagi."


Reffan tersenyum, "Jangan dibuat jalan dulu, bilang saja jika akan kemana. Baru tadi pagi juga nanti kalau sakit lagi jadi lama sembuhnya. Aku sih seneng aja kalau sembuhnya lama jadi bisa beraktivitas di ranjang terus." Reffan tersenyum namun senyum Reffan terasa menyeramkan bagi Safira.


Reffan dan Safira menikmati langit jingga senja dari teras villa. Duduk berdua saling bercerita mengenal antara satu dengan yang lainnya. Karena bagaimanapun sebelumnya mereka adalah orang asing bagi yang lainnya, tak pernah mengenal satu sama lain. Maka di awal pernikahan mereka lebih banyak bercerita untuk mengetahui pasangan yang digenggamnya saat ini.


Reffan merasakan bahagia yang tak terkira, bertemu Safira di dalam mimpi kemudian bertemu di dunia nyata lewat skenario lift macet yang tentu saja sudah diaturkan Tuhan untuk pertemuan mereka. Dan sekarang Safira seutuhnya menjadi miliknya, memeluk dan mencium aroma tubuh Safira sudah seperti candu bagi Reffan.


Sementara bagi Safira, pertemuan tak terduganya dengan Reffan sungguh sangat mendebarkan. Reffan adalah pria yang mampu membuatnya lemah dan tak berkutik. Reffan selalu menang memaksakan kehendaknya dan sekarang pria pemaksa itu telah menjadi suaminya. Malu namun bahagia itulah yang Safira rasakan. Walaupun sebelumnya dia meragukan keputusan untuk menikah dengan Reffan namun setelah melihat kejadian yang sebenarnya Safira malah merasa bersalah telah pergi tanpa mengkonfirmasi. Safira tak terlalu tahu tentang suaminya namun dia akan belajar mengimbangi dan memahami suaminya termasuk kejahilan suaminya yang tak terduga.


Jika banyak orang berpendapat bagaimana bisa seseorang menikah tanpa pacaran. Nyatanya bisa saja, banyak yang telah mengalaminya dan mereka menikmatinya hingga akhir hayat mereka. Tentu saja bukan tanpa usaha untuk mengenali calon pasangan kita apalagi pasrah saja seperti membeli kucing dalam karung.


Tahun pertama pernikahan adalah waktu untuk beradaptasi menyatukan dua jiwa yang berbeda, melengkapi kekurangan masing-masing pasangan, menerima segala keunikan yang mungkin hanya pasangan kita yang memilikinya. Dan tentu saja yang bertahan adalah pasangan yang saling berlomba memberi pada pasangannya, karena itu pula yang akan dilakukan oleh pasangannya. Bukankah saat kita merasa dicinta dan diperhatikan kitapun akan melakukan hal yang sama.


"Buka mulut!" Perintah Reffan.


Safira menggeleng. "Beneran, kenyang mas!"


"Satu lagi." Tangan kiri Reffan meraih dagu Safira sementara tangan kanannya bersiap menyuapi istrinya yang masih menutup rapat bibirnya.


Mau tak mau Safirapun membuka mulutnya agar cepat selesai, karena Reffan bukan orang yang akan mengalah begitu saja.

__ADS_1


"Kamu harus makan yang banyak karena hukumanmu akan dimulai malam ini." Tangan Reffan menyentuh puncak kepala Safira dengan seringai di wajahnya yang membuat bulu halus di tubuh Safira berdiri tiba-tiba.


__ADS_2