
"Mas menyiapkan semua ini?" Tanya Audri istri Fairuz
"Tentu saja sayang. Untukmu." Fairuz tersenyum mendekat ke istrinya dan mencium pipinya. Berbeda dengan hatinya yang sedang mengumpat, "Beraninya kamu Safira. Awas kau!"
.
Malam di kamar suaminya di hotel. Safira sudah memeluk bantal yang biasa digunakan suaminya. Tubuhnya lelah karena seharian berada di belakang meja menyelesaikan tugasnya. Tugas yang diberikan Fairuz mengacaukan pekerjaan Safira hari ini, dia harus mengebut menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Selelah apapun tubuhnya dia berusaha untuk tidak mengeluh, dia bersyukur Allah mengirimkan Bagas untuk membantunya hari ini.
Fainna ma'al 'usri yusraa. Inna ma'al 'usri yusraa. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Diulang-ulangnya Al Qur'an surat Al Insyirah ayat 5-6 dengan lisannya sebagai pengingat bahwa pertolongan Allah akan selalu dekat.
Sore tadi Reffan mengabari Safira jika akan menemui seseorang. Jadi Reffan memintanya tidur tanpa menunggu videocall seperti biasanya.
"Mas aku rindu." Dipeluknya bantal semakin erat karena saat-saat seperti ini membuat kerinduan pada suaminya semakin membuncah. Lelah fisik dan lelah pikiran. Apa yang menunggunya besok? Entahlah. Safira sudah memikirkan dua kemungkinan yang akan terjadi. Fairuz tersadar setelah istrinya yang datang atau Fairuz akan marah padanya. Dia berdo'a semoga saja yang pertama terjadi dan Fairuz tidak akan pernah mengganggunya lagi.
.
"Dimana kamu Safira?" Beberapa kali Fairuz mengumpat menyebut nama Safira. Saat ini dia berada di depan rumah Safira yang sepi, mobil Safira juga tidak terlihat.
"Awas kau. Berani sekali kamu lari dariku dan mendatangkan istriku menggantikanmu." Fairuz membanting pintu mobilnya, memukul setirnya, kemudian melaju dengan rasa kesal yang bertumpuk-tumpuk.
.
Safira sudah duduk di belakang mejanya saat Fairuz memasuki ruangannya. Dia sedang sarapan sambil mengerjakan pekerjaannya lebih awal. Safira meminta karyawan hotel membungkus sarapannya agar bisa dibawa ke kantor pagi ini.
"Safira, cepat ke ruangan saya." Fairuz berdiri di hadapan meja Safira.
"Maaf pak ini belum masuk jam kerja, kurang 20 menit lagi. Saya juga masih sarapan." Safira menjawab sambil berdiri.
Fairuz meremas jari-jarinya yang terkepal yang tak luput dari pandangan Safira.
"Nikmati sarapanmu! Mungkin kamu tidak akan sempat makan siang. Saya tunggu di ruangan tepat 18 menit lagi." Fairuz melihat jam tangan mewahnya.
Tangan Safira mengepal di atas meja. Matanya terpejam. Tubuhnya meluruh di kursi. Diraihnya menu sarapan yang masih tersisa, walau terasa berat menelan, dia harus mengisi energinya. Tubuhnya harus kuat untuk menghadapi hari ini.
.
"Duduk!" Kata pertama yang diucapkan Fairuz saat Safira memasuki ruangannya.
__ADS_1
Safirapun duduk di pinggir sofa. Fairuz berjalan mendekati sofa dan duduk di sisi yang lain.
Fairuz bertepuk tangan di hadapan Safira. Safira melirik sebentar kemudian memilih menatap meja di hadapannya.
"Saya harus bertepuk tangan untuk wanita pemberani di depan saya." Fairuz tersenyum asimetris. "Kamu luar biasa Safira!"
"Ikut saya! Ambil tasmu!"
"Kemana?"
"Mengganti makan malam yang kamu lewatkan."
"Tidak."
"Kamu menolak?"
"Ya."
"Kamu mau ikut pergi atau mendapat penilaian buruk kinerjamu?"
Tangan Safira mengepal, netranya memandang tajam ke arah Fairuz.
"Matamu sangat indah Safira." Fairuz malah terpesona dengan keindahan sepasang mata yang menatapnya tajam.
"Itu di rumah Safira. Aku memperlakukannya dengan baik di rumah. Nanti kamu akan merasakan indahnya petualangan." Fairuz menjawab tak tahu malu.
"Anda benar-benar rusak."
"Haha...Ini namanya mencari banyak pengalaman Safira. Kamu lugu sekali cantik. Haha..." Tawa Fairuz masih memekakkan telinga Safira.
Safira menggelengkan kepala. Dia muak berbicara dengan orang di depannya. Safira berdiri.
"Mau kemana? Kita belum selesai." Fairuz berdiri dan mendekat ke arah Safira. "Turunlah lebih dulu dan masuk ke mobilku. Ini kuncinya." Fairuz menyerahkan kunci mobilnya. "Tidak akan ada yang tahu." Fairuz berbisik mendekat. Safira menjauhkan kepalanya.
"Saya tidak akan pernah pergi dengan anda. Permisi." Safira akan melangkah ke pintu
"Berhenti Safira. Jangan sok jual mahal. Aku tidak main-main dengan perkataanku. Apa yang membuatmu masih bertahan dengan keadaanmu. Aku akan membelikanmu apartemen dan mobil baru untukmu yang tidak bisa diberikan suamimu padamu. Mobil itu tidak cocok untuk wanita secantik kamu Safira. Suamimu payah Safira membiarkan istrinya naik mobil jadul begitu."
Dada Safira bergemuruh mendengar hinaan Fairuz pada suaminya. Suaminya jelas mampu membelikannya mobil tapi justru Safira yang menolaknya karena mobil yang dipakainya saat ini adalah pemberian orangtuanya. Safira ingin menghargai pemberian orangtuanya.
__ADS_1
"Bapak Fairuz yang terhormat. Jangan pernah menghina suami saya. Level anda jelas jauh berada di bawah suami saya. Seharusnya anda berpikir seribu kali untuk mendekati perempuan bersuami seperti saya. Saya mendatangkan istri anda untuk menyadarkan anda bahwa ada yang halal yang selalu setia menemani anda juga untuk mengingatkan anda, anda mempunyai dua orang anak yang akan membenci anda seumur hidupnya jika mengetahui kelakuan anda."
"Istriku memang sangat mencintaiku Safira tapi kamu tahu kan dia sudah turun mesin dua kali. Rasanya sudah berbeda."
Jijik. Safira jijik mendengar perkataan Fairuz yang merendahkan wanita sesuka hatinya.
"Itu karena melahirkan anak anda pak. Anda sungguh tak pantas mengatakan hal seperti itu."
"Sudahlah. Kenapa membahas istriku, aku memperlakukannya dengan baik di rumah. Tapi aku membutuhkan wanita sepertimu di luar agar terus muda dan bersemangat. Bagaimana mau berpetualang denganku? Kamu tidak akan menyesal dengan apa yang kamu dapatkan dan lagi aku sangat berpengalaman menyenangkan wanita."
"Tidak akan pernah. Mati lebih baik bagi saya daripada mendekati zina apalagi berzina." Safira sudah menahan mual mendengar pembicaraan Fairuz yang tak tahu malu.
"Dunia ini sangat indah Safira, kenapa kamu membicarakan kematian. Baiklah rupanya kamu belum lelah bekerja keras. Kamu belum mau menyerah." Fairuz tersenyum dengan pandangan mata yang tak lepas dari Safira.
Tangan Safira mengepal kuat di kedua sisi tubuhnya.
"Sekretarisku cuti tiga hari ini. Kamu pasti bisa mengerjakan semua tugasnya kan. Tugas selama dia cuti, tolong selesaikan hari ini sebelum jam pulang. Ya setidaknya selama kamu bisa menyelesaikan semua tugas tepat waktu aku tidak akan mengirim penilaian buruk kinerjamu dan rekomendasi mutasimu. Semangat ya!" Fairuz tersenyum menyebalkan.
Safira sudah akan melangkah keluar.
"Jika kau lelah datang saja padaku. Kau tak perlu mengerjakan itu semua. Cukup bersamaku saja."
Safira tak menggubris perkataan Fairuz, dia terus melangkah keluar kembali ke mejanya.
"Bu Safira, saya diminta pak Fairuz memberikan ini pada anda." Seorang rekan kerja menyerahkan tumpukan map pada Safira dengan catatan di atasnya yang berisi tugas-tugasnya.
"Terimakasih." Safira masih tersenyum pada rekan kerja yang hanya melaksanakan perintah Fairuz.
Safira mengambil ponselnya. Mematikan rekaman suara yang masih menyala. Ada notifikasi yang muncul sebuah pesan dari Bagas.
Virus berulah lagi. Bagikan padaku tugas darinya, kamu siapkan bagianku.
Ada tujuh poin tugasnya. Safira menulis dua poin di kertas memo dan mengambil dokumen yang terkait.
Bagas ke mejanya membawa sebuah map kosong. Safira memasukkan dua map dan coretan memonya lalu menutup map dan mengembalikan ke Bagas.
"Hanya dua kau yakin?"
"Iya pak. Terimakasih sudah membantu saya."
__ADS_1
"Aku akan membantumu lagi setelah selesai."
Safira tersenyum hangat. Senyum yang pernah membuatnya terpesona tapi sekarang senyum itu membuatnya kasihan.