
Safira menatap Reffan jengkel. Kata-katanya selalu berhasil membuat Safira malu dan salah tingkah.
"Jangan cemberut nanti aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memakanmu." Tangan Reffan lincah sekali membuka kancing kebaya yang dikenakan Safira. Safira mematung tubuhnya merespon aneh sentuhan Reffan. Reffan menyingkap bajunya menampakkan tank top putih yang dipake Safira. Safira sangat malu, dia memejamkan matanya, tangannya mencengkeram lengan Reffan.
"Hai, buka matamu. Kalau masih tutup mata sekalian saja aku buka seluruh bajumu."
Seketika Safira langsung membuka matanya menatap wajah Reffan yang sangat dekat dengannya.
"Mana salepnya?" Tanya Reffan.
Safira mengambil salep di meja riasnya sambil tangannya menutupi bagian depan tubuhnya yang hanya menggunakan tank top. Reffan langsung menyambarnya.
"Kamu ini punya dua kepribadian Safira. Terlihat anggun di luar tapi pendekar di dalam." Reffan mencium lengan dan pundak Safira yang memar lalu mengoleskan salep dengan lembut.
Sementara Safira memeluk tubuhnya sendiri merasakan bibir Reffan menyentuh tubuhnya. Safira sampai menggigit bibirnya agar tidak bersuara aneh yang akan membuat jiwa jahil Reffan semakin bersemangat memperparah rona di wajah Safira.
"Kamu mau sekarang sayang?" Reffan berbisik di telinga Safira.
Safira dengan cepat menggeleng, wajahnya menjadi pucat sekarang.
Reffan seketika menggendong Safira. Safira kaget dan sedikit berteriak, "Pak, Pak Reffan mau apa?" Serak suara Safira menandakan kegugupannya.
"Hush diam kenapa teriak? kamu mau kita digrebek."
Reffan membaringkan Safira, melepas jas dan kemejanya menyisakan kaos pendek berwarna putih yang mencetak pahatan tubuhnya kemudian ikut berbaring di sisi Safira. Safira sampai kesulitan menelan air liurnya sendiri di dekat Reffan.
"Tidurlah! Nanti malam kita masih ada acara. Kamu tidak bisa tidur dengan baik kan semalam?" Reffan sudah memejamkan matanya, tangannya memeluk tubuh Safira, bibirnya berada di kening Safira.
"Saya ambil baju dulu ya pak?" Safira merasa yang dikenakannya saat ini sangat tidak aman karena posisi mereka sudah tak berjarak.
"Kamu tidak butuh itu. Sekarang aku sudah menjadi pakaianmu." Ucap Reffan masih dengan mata yang tertutup.
Pada awalnya tubuh Safira menegang tapi kemudian menjadi nyaman saat merasakan irama jantung Reffan, Safira tersenyum karena irama jantung Reffanpun sangat cepat. Reffan sangat pandai menutupinya, itulah yang dipikirkan Safira, matanyapun terpejam karena sebenarnya dia juga sangat ngantuk, itulah alasannya Safira masuk ke kamar tadi.
__ADS_1
Entah apa yang ada di mimpi sepasang pengantin yang baru beberapa jam mengikat janji suci, keduanya tersenyum dalam tidur dan saling memeluk mesra. Reffan bangun lebih dulu , tersenyum mendapati Safira berada dalam pelukannya dengan tangan Safira yang memeluk pinggangnya. Hati-hati Reffan bangun agar Safira bisa tetap tidur dengan nyaman.
Reffan meraih ponsel Safira, memeriksa chat dan daftar panggilan.
"Huh, kenapa ada panggilan dari cowok ini, apa dia mengajakmu kabur sebelum pernikahan kita?" Reffan menaruh kembali ponsel Safira dengan kasar. "Apapun itu, sekarang kamu adalah milikku Safira." Reffan tersenyum memandang Safira menghampirinya kemudian menyelimutinya. Reffan memakai kemejanya kembali lalu keluar dari kamar Safira dan mendapati adeknya yang sedang memainkan ponselnya. Raffi meliriknya sambil menggerutu.
"Benar-benar tak sabar sekali kamu mas, bisa-bisanya kalian berduaan di kamar selagi masih banyak tamu di luar." Gerutu Raffi jengkel.
"Aku melihat mata Safira yang sayu pasti semalam dia tidak bisa tidur. Sebagai suami yang baik, aku harus menina bobokkannya kan." Senyum asimetris Reffan menghiasi bibirnya, tangan Reffan menyambar botol air mineral yang masih utuh di depannya.
"Alasan!" Sekarang giliran Raffi yang menarik salah satu sudut bibirnya.
"Kamu sudah meminta Pak Salman, Bu Sofia dan Hasna menyiapkan baju ganti?" Tanya Reffan setelah hampir mengosongkan air mineral dari botolnya.
"Sudah, mereka sudah memberikan baju ganti mereka. Sudah ada di mobil sekarang." Jawab Raffi.
"Mereka bisa langsung istirahat di hotel setelah acara nanti."
"Alasan. Kenapa Safira tidak diminta menyiapkan baju ganti juga? Dan tidak boleh diberi tahu jika akan menginap di hotel malam ini. Ada udang dibalik rempeyek kan?" Raffi melirik kakaknya.
"Sial. Mau kemana?"
"Menemani istrikulah, dia pasti mencariku saat bangun."
"Kepedean. Kasihan Safira punya suami model begini."
"Eh.. dia itu beruntung tahu. Kamu gak lihat apa seberapa mempesonanya kakakmu ini di hadapan kaum hawa."
"Udah ah. Aku balik ke hotel aja. Peluk guling."
"Ya udah sana pergi."
"Sabar-sabar.. sudah ditungguin sekarang di usir." Raffi beranjak bangun juga dari sofa mencari Ibu Sofia.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan Ibu Sofia, Raffipun meninggalkan kediaman Safira menuju hotel.
Saat Reffan masuk kembali ke kamar Safira dilihatnya Safira yang masih tertidur dengan memeluk guling. Dia mendekatinya memperhatikan kembali memar yang menggelap di pundak dan tangan Reffan.
"Safira, terimakasih sudah menjaga dirimu, sekarang aku yang akan menjagamu. Tak akan kubiarkan sedikitpun kulitmu seperti ini lagi." Reffan menyentuh kulit lengan Safira lembut. Lalu mengecup kening Safira membuat Safira menggeliat dan mengerjap-ngerjap, bulu mata lentiknya terlihat semakin menggoda di mata Reffan.
"Sudah bangun?"
"Pak Reffan.." Safira langsung tertuduk dan menarik tubuhnya bersandar di kepala ranjang. "Jam berapa sekarang? Ah, aku belum solat Duhur." Safira mulai panik menarik selimut menyembunyikan tubuhnya, karena posisi Reffan yang sangat dekat dengannya.
"Tidak perlu ditutupi, aku sudah lihat juga. Aku ke kamar mandi dulu." Reffan tersenyum meninggalkan Safira.
Saat Reffan ke kamar mandi, Safira sudah mengganti bajunya dengan gamis navi kombinasi merah yang sangat pas dengan tubuh Safira yang tinggi. Wajahnyapun sudah dibersihkan dari make up yang sejak pagi melekat di wajahnya. Safira sudah menggelar dua sajadah untuk mereka. Setelah Reffan keluar kamar mandi, giliran Safira yang masuk ke dalam.
Ini adalah solat berjamaah pertama kali untuk Reffan dan Safira, terasa sangat indah saat sepasang suami istri beribadah bersama karena sejatinya pernikahan adalah ibadah terlama yang akan membuat indah ibadah-ibadah di dalamnya.
Reffan memutar badannya menghadap Safira. Walaupun terlihat ragu Safira meraih tangan Reffan akan menciumnya. Tapi Reffan membalik keadaan dan malah dia yang mencium tangan Safira. Safira terkejut karena ulah Reffan.
"Pak..."
"Pertama, jangan lagi memanggil saya dengan embel-embel Pak. Kedua, kamu tidak harus mencium tanganku Safira. Aku lebih suka kamu mencium bagian yang lain."
"Eh..." Safira langsung gelagapan mendengar perkataan Reffan, wajahnya sudah merona bak kepiting rebus.
"Di sini contohnya." Reffan mengecup pipi kanan dan kiri Safira. "Atau di sini." Sekarang gantian bibir pink Safira yang dikecup Reffan. "Mau bagian yang lain juga boleh." Reffan sudah tersenyum nakal menggoda Safira.
Reffan mengangkat dagu Safira, membuat Safira yang sedari tadi terus menunduk terpaksa harus menatap Reffan dengan jantung yang berloncat-loncatan. Reffan meraih tengkuk Safira, mengecup lembut bibirnya tapi kemudian menempelkan lebih lama dan menghisapnya. Lalu melepasnya. Ada suara yang lolos dari bibir Safira saat melepas ciuman pertamanya. Reffan tersenyum mendengarnya.
"Sudah Safira. Kamu mau menggodaku."
Safira melotot mengarahkan netranya ke wajah menyebalkan milik Reffan yang selalu seenaknya sendiri. Reffan tertawa senang sekali.
"Mau lagi?"
__ADS_1
Safira buru-buru berdiri merapikan mukena dan sajadahnya.