Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Balas Mengancam


__ADS_3

Reffan masih mengamati istrinya yang bersiap-siap ke kantor. Wajah itu terlihat tidak bersemangat seperti biasanya. Dulu Safira sangat bersemangat menyambut mentari pagi, ke kantorpun menyenangkan baginya bertemu teman-temannya, melakukan pekerjaannya dengan hati gembira. Safira merasa berharga dan dihargai saat melakukan pekerjaannya. Tapi sekarang perasaan itu sudah lenyap. Memikirkan akan melihat wajah Fairuz dan mendengar semua kata-kata menjijikkannya saja sudah membuat dirinya hina. Belum lagi semua pekerjaan yang sengaja untuk menyiksanya.


"Bersabarlah sebentar lagi Safira. Tapi, apa lagi yang disiapkan Fairuz hari ini untuk menekanku." Gumamnya dalam hati, Safira jadi ingat kemarin meninju wajah Fairuz. "Hufh." Safira membuang nafas kasar.


"Ada apa sayang? Ada yang kau pikirkan?" Safira tak menyadari Reffan berada di sisinya.


"Ah, mas..." Safira terkejut. "Ti..tidak ada mas." Senyumnya menyungging mengusir gugup yang tiba-tiba menyergap.


"Kemarilah.." Reffan menuntunnya berjalan ke sofa dia duduk duluan kemudian menarik tangan istrinya sehingga Safira terduduk di pangkuannya.


"Safira, kau tahu arti pernikahankan? Dalam pernikahan dua orang asing disatukan, bukan hanya tentang aktivitas fisik saja." Reffan menjeda mengangkat sebelah alisnya menggoda Safira yang membuat wajah istrinya dengan cepat merona. "Tapi juga bersatunya hati dan pikiran. Apa yang mengganggu pikiranmu pasti akan membuatku berpikir juga, apa yang mengganggu hatimu tentu akan membuatku tak nyaman juga. Jangan pikirkan reaksiku, jujurlah padaku tentang apapun itu. Karena aku akan menghargainya saat itu keluar dari lisanmu daripada harus mengetahui dari orang lain."


Safira mengatur nafasnya meredam irama jantungnya yang semakin cepat.


Reffan berbisik di telinga Safira, "Amarahku sebesar cintaku padamu."


Membuat Safira kesulitan menelan ludahnya sendiri, tubuhnya menegang memikirkan suaminya yang pasti menyadari kekacauan pikirannya akhir-akhir ini.


"Katakan yang seharusnya kau katakan padaku? Dan jangan berkata padaku berjanjilah untuk tidak marah. Aku tidak suka itu. Amarahku sebesar cintaku padamu. Saat aku marah, ingatlah itu. Aku marah karena aku mencintaimu Safira." Reffan mengecup pipi istrinya, membuyarkan lamunan Safira tentang perkataannya tadi. Netra mereka bertemu, perasaan Safira campur aduk, bimbang merayapi pikiran dan hatinya. Safira terlalu takut untuk mengatakannya tapi Reffan, ah bagaimana jika Bayu memberitahu semuanya pada Reffan. Bukankah hanya menunggu waktu saja bom itu akan meledak. Safira teringat waktu yang diberikan Bayu. Tugas yang harus diselesaikan Safira membuat pikiran dan tubuhnya lelah dan lambat menyelesaikan masalah ini.

__ADS_1


Safira tak punya banyak waktu, pagi inipun dia harus masuk kerja. Dia akan menghubungi Bayu nanti agar tidak mengatakan pada suaminya, sepulang kerja Safira akan mengatakan sendiri pada suaminya.


"Mas, sudah waktunya aku berangkat. Aku boleh pergi?" Reffan membuang nafas kesal karena Safira belum mau bicara dan harus berangkat kerja.


"Apa sekarang kau lebih suka sarapan di kantor?" Reffan bertanya karena tadi Safira meminta sarapannya dibungkus saja.


"Pekan ini cukup padat mas, jadi lebih baik di kantor saja bisa sekalian menyiapkan pekerjaan." Safira menjawab hati-hati.


"Apa kamu juga pulang terlambat? Kemarin kamu baru sampai hotel setelah magrib." Reffan bertanya lagi.


"InsyaAllah hari ini gak mas. Aku bawa mobil sendiri saja ya mas. Jadi lebih enak pulangnya. Mas hari ini mau kemana?"


"Aku tidak kemana-mana hanya ada pekerjaan di sini saja. Aku antar saja, kamu kelihatan lelah." Reffan berdiri hendak bersiap.


"Maaf, belum bisa menemani mas istirahat." Safira mengecup bibir Reffan kemudian tersenyum malu-malu.


Reffan tersenyum melihat istrinya yang masih saja malu-malu tapi itu juga kesukaan Reffan melihat wajah sang istri merona.


"Tak apa, aku selalu menunggumu sayang sampai kau siap meninggalkannya." Reffan sekarang yang mengecup bibir pink milik istrinya.

__ADS_1


Getir. Ada rasa perih di hati Safira belum bisa berkata jujur pada suaminya. Tapi dia juga tak ingin dicap memanfaatkan harta suaminya, perbedaan status sosial masih membuat perasaan Safira sensitif. Safira jelas tahu uang denda yang harus dibayarnya jika keluar dari pekerjaan sebelum jangka waktu yang ditentukan tak ada apa-apanya dibanding harta milik suaminya, resepsi pernikahannya saja jelas jauh melampaui nominal itu.


"Aku berangkat mas." Safira berpamitan.


"Aku antar ke bawah, aku juga akan sarapan." Reffan memeluk pinggang ramping istrinya.


Mereka berjalan beriringan. Safira mengambil bekalnya yang sudah disiapkan koki hotel di lobbi. Mereka berpisah di samping mobil Safira. Setelah mobil Safira meninggalkan hotel, Reffanpun masuk ke dalam hotel, mengirimkan pesan pada Bayu untuk menemaninya sarapan.


.


Setelah memarkir mobilnya Safira segera berjalan cepat ke arah lift. Secepatnya dia harus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya sebelum Fairuz menambah tumpukan tugas untuknya, dia juga akan menghubungi Bayu agar tidak memberi tahu Reffan dulu. Agenda hari ini menari-nari di benak Safira, berloncatan ingin segera diselesaikan.


Safira sudah masuk lift, tinggal menunggu lift tertutup dan naik ke ruang kerjanya. Saat akan menutup, lift kembali terbuka menampakkan seorang yang paling tidak diinginkan dilihat oleh Safira, ada bekas memar di pipinya yang sudah hampir pudar. Matanya menembus tajam udara yang memberi jarak di antara mereka berdua. Kakinya ringan masuk ke dalam lift, Safira menegakkan tubuhnya.


"Selamat pagi Safira, apa malammu indah? Semalam aku menghabiskan waktuku sendirian sambil mengompres pipiku dan membayangkan wajahmu. Apa aku juga harus membuat hal yang sama pada wajah cantikmu itu?" Fairuz menatap tajam wajah Safira yang tak sedetikpun melihat ke arahnya.


"Jawablah Safira, sebaiknya apa yang harus kulakukan pada wanita cantik yang membuatku serasa muda kembali tapi tangannya yang lembut baru saja membuat memar wajahku yang tampan." Fairuz berdiri di depan Safira.


"Saran saya lebih baik bapak jangan mengganggunya lagi, jangan membuatnya terpaksa mengayunkan tinju lagi ke wajah bapak, apalagi membuat wanita itu tidak menghormati bapak lagi." Safira berbicara tanpa mengubah tatapannya yang tak ingin melihat wajah Fairuz.

__ADS_1


"Saranmu buruk sekali Safira, aku lebih suka mengganggunya membuatnya kesal sampai dia menyerahkan dirinya padaku. Atau mungkin dia lebih suka sedikit kekerasan. Bagaimana menurutmu." Fairuz meletakkan salah satu tangannya di dinding lift tepat di samping kepala Safira.


"Jika anda masih mengganggunya bagaimana jika dia marah? Bukankah anda akan repot jika sampai istri anda tahu kelakuan suaminya yang dipercaya mengelola seluruh aset milik istrinya itu. Seorang wanita sangat menakutkan jika dia sudah marah sebaiknya anda juga berhati-hati memperlakukan wanita."


__ADS_2