
Lima menit lagi sudah tengah malam. Namun Safira belum mampu terlelap, matanya terpejam namun tak juga tertidur.
"Apa begini rasanya akan menikah?"
Sejak tadi Safira gelisah, rasanya campur aduk. Beberapa jam lagi statusnya akan berubah menjadi seorang istri dari laki-laki yang hanya dua pekan dikenalnya.
"Ini gawat jika aku benar-benar tidak tidur semalaman." Safira bangkit menuju kamar mandi untuk berwudhu. Lebih baik dia solat malam begitu pikirnya.
Selesai solat hatinya lebih tenang, rasa kantukpun menyerang. Safira tidur dengan nyaman di kamarnya yang sudah disulap menjadi kamar pengantin dengan semerbak aroma bunga.
Safira baru terbangun setelah Bu Sofia masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang sudah subuh." Ucap lembut Bu Sofia menepuk pipi Safira. Tangan Bu Sofia yang terasa dingin setelah berwudhu membuat Safira segera terbangun. Matanya mengerjap-ngerjap mengumpulkan kesadaran yang masih beterbangan.
"Bu.... " Tangan Safira meraih tangan ibunya membawa ke dalam pelukan di dadanya menggantikan gulingnya.
"Kamu gak bisa tidur ya? Gak biasanya kamu belum bangun subuh begini."
"He em." Jawab Safira manja.
"Ayuk buruan bangun ditunggu ayah dan Hasna solat berjamaah." Ujar Bu Sofia tersenyum.
Safirapun berjalan gontai ke kamar mandi karena rasa kantuk yang masih menggantung di pelupuk matanya.
"Duh calon pengantin habis begadang ya." Ledek Hasna
"Anak kecil diem." Ujar Safira melirik adeknya.
Seusai solat subuh Safira segera mandi karena periasnya akan segera datang. Dan benar saja baru saja selesai mandi perempuan yang akan meriasnya sudah datang.
"Mbak Safira dirias sekarang ya? Biar ndak buru-buru nanti."
"Ok mbak. Jangan ada yang dicukur-cukur ya mbak."
"Iya mbak tenang aja. Mbak Safira suka riasan soft ya?"
"He em mbak."
"Sip!"
Sebenarnya tidak butuh waktu terlalu lama untuk merias. Kurang dari duapuluh menit perias yang diketahui Safira merupakan perias para model di peragaan busana ini sudah selesai meriasnya. Setelah Safira berganti baju dan Safira dibantu menggunakan hijabnya yang dihias cantik walaupun terjuntai menutupi dada.
Setelah dirias Safira berdiam diri di kamarnya. Hasna masuk ke kamar bersama Ibu Sofia.
__ADS_1
"Mbaaaakk.. mbak Fira cantik banget.." Hasna memeluk kakaknya.
"Sayang..." Ibu Sofia berkaca-kaca memeluk putrinya.
Terdengar beberapa orang mengucapkan salam di depan rumah.
"Sepertinya rombongan Reffan sudah datang. Hasna kamu bantu ibu sebentar ya. Nanti temani kakakmu lagi." Bu Sofia keluar dari kamar Safira diikuti oleh Hasna. Mereka menyambut kedatangan mempelai pria.
Safira sendirian di dalam kamar. Suara dari luar kamarnya hanya terdengar sayup-sayup tidak jelas.
Drrttt... getaran dari ponselnya mengagetkannya yang sedang menguping apa yang terjadi di luar.
Ragu Safira meraih ponselnya karena nama yang muncul di layar pipih. Pada akhirnya dia memutuskan untuk mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum." Sapa Safira pada orang yang menelponnya.
"Wa'alaikumsalam. Safira."
"Ada apa Pak Bagas?"
"Apa acaranya sudah akan dimulai?"
"Iya."
"Aku hanya ingin mendengar suaramu sebelum kau menjadi milik orang lain."
"Safira.. maaf saat itu aku berkata kasar padamu. Kau tidak akan pernah tahu Safira bagaimana rasanya mencintai tapi tak bisa memiliki. Ini memang bukan salahmu tapi salahku yang terlalu mengharapkanmu."
"Pak Bagas saya minta maaf. Saya sungguh tidak ber.." Perkataan Safira sudah dipotong Bagas.
"Aku tahu. Sudah aku katakan ini bukan salahmu. Semoga kau bahagia Safira. Aku lega sudah mengatakannya padamu. Meski aku masih mencintaimu aku berusaha menerima keadaan ini jika kau bukan untukku."
"Saya yakin anda akan mendapatkan yang lebih baik dari saya."
"Terimakasih Safira. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Bersamaan jawaban salam dari Safira untuk Bagas. Pintu kamarnya dibuka. Ira sahabatnya masuk ke dalam kamar terpukau dengan sahabatnya yang semakin cantik, make up di wajah Safira mempertegas kecantikannya semakin nyata.
"Ya Allah Fir, kamu cantik banget." Ira memeluk sahabatnya.
"Aku grogi banget Ir."
__ADS_1
"Aku sudah lihat calon suamimu tadi. Ah Safira kamu beruntung banget deh. Kamu pasti pernah menyelamatkan dunia hingga mendapatkan pangeran sekeren itu."
"Mulai deh. Apa acara sudah dimulai?"
"Belum. Sepertinya sebentar lagi. Nah itu kedengaran kan?"
Hasnapun membuka pintu masuk ke kamar Safira menemani kakaknya di sana.
Hasna dan Ira menemani Safira di dalam kamar selama akad nikah berlangsung. Hasna memeluk kakaknya di sisi kanan, sedangkan Ira menggenggam tangan Safira di sisi kiri. Hingga terdengar rangkaian bait yang mengubah status Safira saat ini diakhiri kata sah dari para saksi.
Pintu kamar Safirapun terbuka Ibu Sofia melangkah mendekati Safira.
"Ayo sayang temui suamimu." Ucap Bu Sofia dengan mata berkaca-kaca.
Debaran di dada sebelah kiri Safira sudah tidak terbendung lagi. Perasaannya campur aduk bahagia, takut, malu entahlah Safira takut jika wajahnya memerah saat ini dan orang lain bisa melihatnya. Ibu Sofia menggandeng Safira berjalan ke tempat dilaksanakannya akad nikah. Safira hanya menunduk tak berani mengangkat kepalanya dan berhenti di depan pria yang sudah menjadi suaminya sekarang.
Sejak Safira terlihat, Reffan menatap tak berkedip takjub pada ukiran indah sang pencipta di wajah istrinya. Reffan meraih tangan Safira memasangkan sebuah cincin dengan kemilau berlian di jari manisnya. Walaupun ukuran berlian itu tidak mencolok dan tertanam di cincin pernikahan milik Safira namun membuat tangan lentik Safira semakin cantik dan bercahaya. Safirapun memasangkan sebuah cincin berwarna perak di jari Reffan lalu mencium tangan Reffan. Reffan mengecup kening Safira, Reffan kemudian menuntunnya duduk untuk menandatangani buku nikah mereka.
Dua orang kameramen selalu sigap mengabadikan setiap gerakan mereka. Safira belum berani menatap Reffan, sementara Reffan selalu tersenyum menatap wajah merona Safira bahkan saat saling menyuapi setelah pemotongan tumpeng Reffan mengusap lembut sudut bibir Safira sementara Safira hanya menatap Reffan sebentar saat menyuapinya lalu menunduk lagi. Safira terlalu malu untuk menatap Reffan dan lagi sedari tadi jantungnya sudah seperti dentuman gendang yang ditabuh sangat cepat dan keras. Safira bahkan takut Reffan bisa mendengarnya.
Ini adalah pertama kalinya seorang laki-laki menyentuh tangannya, mengecup keningnya dan menyuapinya. Pernikahan telah menyatukan dua orang asing yang sebelumnya tidak memiliki hubungan apa-apa menjadi sepasang manusia yang saling terikat. Hati dan fisik mereka terhubung membentuk anyaman indah yang menyimpan setiap rasa membentuk lukisan kehidupan yang baru saja dimulai. Bukan lagi tentang aku tapi tentang kita. Bukan lagi memikirkan individu tapi tentang sepasang manusia yang melebur menjadi satu. Maka bukankah tak ada ikatan yang lebih indah yang menyatukan hati dan sepasang manusia selain pernikahan.
Seusai sesi pemotretan. Reffan terlihat mengobrol dengan beberapa tamu dan keluarga yang hadir sementara Safira memilih masuk ke kamar. Dia duduk di depan kaca memperhatikan bayangan wajahnya di sana. Hembusan nafas berat keluar dari indra penciumannya.
"Safira, lihatlah dirimu! Sekarang kau adalah seorang istri. Selamat Safira, selamat menempuh hidup barumu sebagai istri Reffan Satriya Bagaskara." Safira tersenyum menutupi rasa gugup yang masih menyerangnya walaupun rasanya lebih berkurang daripada saat ada di samping Reffan. Tangannya meraih hijabnya berusaha melepas bunga-bunga segar yang menghiasinya. Namun saat tangannya telah berhasil menyentuh jarum pentul, pintu kamarnya terbuka menampilkan tubuh tegap yang menjadi penyebab gugupnya sedari tadi. Safira sampai terkejut dan ujung jarum menusuk jarinya.
"Auw." Suaranya lirih mengibas-ngibaskan tangan yang tertusuk jarum.
Reffan menutup pintu dari dalam dan menguncinya. Lalu mendekat meraih tangan Safira.
"Sebegitu terpesonanya kamu padaku sampai melukai diri sendiri." Reffan mencium tangan Safira yang tertusuk jarum.
Safira terdiam menunduk antara malu dan jengkel menjadi satu.
"Jika kamu kesulitan mintalah aku membantumu. Apapun itu mulai sekarang aku akan ada untukmu." Reffan membantu Safira melepas segala pernak pernik yang menghiasi jilbabnya dan melepaskan jilbab itu dari kepala Safira. Saat sudah tak ada apa-apa lagi di kepala Safira, dia juga melepaskan ikat rambut lalu mengurai rambut hitam berkilau sebahu Safira. Safira semakin menunduk tangannya saling meremas.
Netra Reffan meneliti setiap detail pahatan wajah cantik di depannya. Menyentuhnya, jakunnya bergerak-gerak dan kecupan tiba-tiba mendarat di pipi merona milik Safira. Safira sampai terkejut dan menarik tangannya.
"Aku sudah berjanji akan mengecup pipi meronamu saat kau sudah halal bagiku." Tangannya meraih kembali tangan Safira yang terlepas kemudian mengusap-ngusap lembut punggung tangan Safira. Wajahnya seketika berubah saat melihat punggung tangan Safira yang diusapnya.
"Kamu menutupinya dengan bedak." Dan seketika memar di tangan Safira yang sebenarnya sudah memudar nampak jelas membuat Reffan kuatir.
"Apa masih sakit? Sekarang buka bajumu." Reffan mengucapkan perkataannya dengan santai yang membuat seketika tubuh Safira menghangat pori-pori di tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
__ADS_1
"Biar aku yang buka." Netra Reffan sudah menikmati ekspresi wajah Safira yang menggemaskan.
Reffan meraih bahu Safira. Berbisik di telinganya. "Aku hanya ingin memeriksa memar di tubuhmu, memangnya kamu pikir aku mau apa sampai tubuhmu kaku begini."