
"Kita sarapan di bawah setelah ini." Reffan mengatakan pada Safira yang masih membereskan perlengkapan solatnya.
"Iya mas." Jawab Safira. "Mas, apa hari ini aku bo...." Belum selesai perkataan Safira, Reffan sudah menatapnya tajam.
Safira tak jadi melanjutkan pertanyaannya, dia sudah tahu apa jawaban Reffan. Yah, mungkin hari ini dia akan izin karena sebenarnya badannya juga kurang sehat.
Reffan masih berada di depan laptopnya memeriksa beberapa file yang dikirim dari Jakarta. Sebenarnya dia harus segera ke Jakarta akhir pekan ini tapi permasalahan istrinya masih dipikirkannya. Reffan jelas tak rela jika Fairuz melihat Safira setiap hari.
Safira duduk di sofa sesekali melirik suaminya. Reffan masih irit bicara padanya itu menandakan Reffan masih marah, Safira bingung sendiri harus melakukan apa. Akhirnya dia mengambil sebuah buku tentang pernikahan miliknya yang sengaja ditinggal di hotel untuk mengisi waktu.
Safira fokus membaca buku tak menyadari Reffan sudah berada di sampingnya. Reffan menunduk ingin melihat halaman yang dibaca istrinya, posisi kepalanya berada di atas kepala Safira.
"Baca bab apa?"
Safira yang terkejut langsung menutup bukunya dan berdiri, membuat kepalanya terbentur dagu suaminya.
"Auw..." suara keduanya hampir bersamaan.
Reffan tersenyum karena sempat melihat bab yang dibaca istrinya Komunikasi itu Penting.
"Kenapa ditutup?"
"Gak papa mas." Safira menunduk malu. "Sarapan sekarang mas?" Netranya melirik wajah suaminya.
Wajah merona istrinya membuat Reffan gemas. Reffan mencubit pipi istrinya tapi kemudian raut wajahnya berubah.
"Kamu demam?" Reffan terdengar panik.
"Ehm.. sedikit mas. Gak papa kok mas, ini hanya agak anget saja."
"Sudah tahu demam, kenapa tadi masih mau minta izin untuk kerja?" Reffan terlihat kesal sekarang. Mau bertemu siapa?"
"Mas kok tanya begitu sih?" Safira terlihat sedih.
"Selama kamu masih belum bisa terbuka dengan suamimu. Bagaimana aku bisa menebak isi pikiranmu Safira."
"Mas..." Safira berkaca-kaca mendengar perkataan suaminya. Entah mungkin dirinya yang sensitif tapi kata-kata suaminya terasa meremas hatinya.
"Istirahatlah. Jika siang masih demam, dokter akan ke sini. Kita sarapan di kamar saja."
"Mas..." Safira meraih telapak tangan suaminya, menggenggam di dadanya. "Mas masih marah?" Safira memberanikan dirinya menatap netra suaminya yang sedang menatapnya juga.
"Bagaimana perasaanmu jika aku memberitahukan masalahku ke wanita lain dan wanita itu membantuku di belakangmu?" Reffan mengarahkan Safira tepat di hadapannya.
"Maaf mas. Aku minta maaf. Aku memang salah. Katakan padaku apa yang harus kulakulan agar mas gak marah lagi padaku." Safira kembali menunduk.
"Jika aku memintamu berhenti bekerja, apa kamu mau melakukannya dengan senang hati?"
Safira menatap suaminya lagi. "Aku akan melakukannya mas tapi bulan depan."
"Kenapa harus menunggu bulan depan?"
"Aku tidak enak mas jika tiba-tiba langsung resign."
Reffan membuang nafas kasar. Masih ada dua minggu lebih Fairuz bertemu Safira dan itu membuatnya tak rela.
__ADS_1
Reffan berjalan menjauh dari Safira. Safira menyadari suaminya yang masih marah. Diapun melangkah cepat menyusul Reffan memeluknya dari belakang.
"Maaf mas. Maafkan aku."
"Apa kau bisa melihatku berada di posisimu. Setiap hari orang yang menginginkanmu dapat melihatmu, menikmati wajahmu bahkan menyusahkanmu?"
"Hanya sampai awal bulan depan mas. Aku janji aku akan melakukannya tepat di tanggal satu bulan depan."
Reffan membalik tubuhnya, menghadap ke istrinya yang berlinang air mata. "Bisakah mulai sekarang kamu terbuka padaku?"
Ragu Safira menjawab pertanyaan suaminya. Diapun mengangguk pelan.
Reffan memeluk istrinya, dia tak tega melihat istrinya menangis apalagi istrinya sedang demam. Tangannya menghapus jejak airmata istrinya.
"Kita sarapan di kamar aja ya, badanmu demam?" Reffan kembali bertanya.
"Iya mas." Safira menurut.
Reffan menghubungi karyawannya, beberapa saat kemudian karyawannya datang membawa menu sarapan mereka. Mereka sarapan bersama, Reffan mengambilkan makanan untuk Safira kemudian menyuapinya. Masih ada sisa kekecewaan di dalam hatinya tapi Reffan berusaha mengakhiri amarah pada istrinya.
Makanan untuk mereka berdua sudah pindah ke lambung. Reffan mengajak Safira duduk bersandar di ranjang.
"Berbagilah denganku Safira, aku juga ingin tahu apa yang terjadi padamu!"
Safira menarik nafas dalam kemudian membuangnya, mengumpulkan energi untuk mulai bercerita.
"Pak Fairuz adalah bos baruku mas. Pertama kali aku tahu ada yang salah saat dia membedakan kue untukku, ada cake coklat berbentuk hati di kotak kueku sementara untuk yang lain tidak ada. Aku terkejut tapi mengabaikannya dan tak ingin memikirkannya."
Safira menjeda kalimatnya, kini Reffan tahu kenapa sikap Safira menjadi aneh saat melihat cake berbentuk hati darinya saat itu.
Safira bercerita dengan sesekali ada tetesan air mata yang cepat dihapusnya. Dada Reffan terasa kembali terbakar.
"Sayang kau mencegahku menghajarnya kemarin di kantor, jangan pernah lagi menghalangiku untuk menghajarnya jika aku bertemu dengannya bukan di kantormu." Reffan memeluk istrinya yang sesenggukan.
.
Safira baru bangun tidur. Setelah bercerita pada suaminya tadi diapun diminta tidur oleh Reffan. Reffan tak ada di kamar, Safira mengambil ponselnya di nakas. Reffan menaruhnya di nakas agar istrinya mudah meraihnya.
"Sudah hampir jam satu."
Ponselnya bergetar, ada panggillan videocall dari Ira. Safira segera meraih dan memakai jilbabnya.
Safira : Assalamu'alaikum
Ira : Wa'alaikumsalam. Fir, kamu sakit apa?
Safira : Cuman demam dikit kok. Tapi sekarang sudah enggak, barusan aja bangun.
Ira : Eh, gara-gara telponku ya kamu kebangun. Maaf ya!
Safira : Enggak kok sudah bangun lebih dulu tadi sebelum kamu telpon.
Bagas : Pasti gara-gara Viruz ya kamu sakit, kamu kecapekan.
Safira hanya tersenyum. Mungkin ya Fairuz adalah penyebabnya tapi Safira lebih banyak memikirkan suaminya yang marah padanya, pertahanannya serasa jebol, kekuatannya runtuh saat melihat suaminya yang marah dan mengabaikannya.
__ADS_1
Bagas : Kita bawa kabar gembira buat kamu. Pekan depan kamu gak perlu lihat wajahnya.
Safira : Ada apa pekan depan?
Ira : Kita bertiga ada pelatihan di Jakarta. Setelah ini aku kirimkan foto surat tugasnya ya.
Safira tersenyum. Tentu saja ini adalah kabar bahagia.
Safira terkejut ternyata Reffan sudah ada di sampingnya juga melihat layar ponselnya. Tadi saat Reffan membuka pintu, dia mendengar suara laki-laki, Reffanpun melangkah cepat namun memelankan suara langkahnya.
Bagas : Acaranya hari Selasa sampai hari Jum'at jadi kita berangkat hari Senin siang gimana Fir? Kita kumpul dimana nih? Langsung ketemu di Bandara aja gimana?
Safira : Iya pak lebih mudah begitu.
Bagas : Ya udah nanti kita kabarin lagi ya, kita mau makan siang dulu keburu habis waktu istirahatnya.
Safira : Ok. Makasi pak
Ira : Kita tutup ya telponnya. Assalamu'alaikum Fir.
Safira : Wa'alaikumsalam.
Safira menaruh lagi ponselnya di nakas. Diliriknya suaminya yang berada di sampingnya.
"Siapa?"
"Ira dan Pak Bagas."
"Ada apa?"
"Pekan depan ada pelatihan di Jakarta mas. Aku, Ira dan Pak Bagas. Bolehkan mas?"
Reffan terlihat berfikir. Dia senang juga istrinya akan ke Jakarta karena diapun harus segera kembali ke sana.
"Boleh. Tapi berangkat bersamaku, besok." Ucap Reffan tegas
"Tapi mas. Nanti tidak bisa diklaim tiketnya jika..." Safira menghentikan bicaranya karena mendapatkan tatapan tajam suaminya. Ah, bagaimana dia bisa lupa, suaminya mana memikirkan klaim tiket seperti dirinya. "Iya mas, Safira berangkat sama mas Reffan."
"Manis sekali!" Reffan mengusap-usap puncak kepala istrinya sambil duduk di depan istrinya mengecup keningnya. Kemudian tangannya membuka jilbab istrinya dan melemparnya menjauh. Kini sasarannya adalah bibir pink yang selalu menggodanya. Mata Safira terpejam. Reffan menjauhkan wajahnya setelah mengecup bibir istrinya. Safira membuka mata lagi.
"Mau minta?" Reffan tersenyum jahil. "Ini masih siang Safira, kamu juga lagi sakit. Sabar ya!" Reffan mengusap-usap kepala Safira. Kemudian tertawa, berdiri meninggalkan Safira yang wajahnya memerah.
.
Sementara di dalam ruangannya. Fairuz menggebrak mejanya menerima surat tugas untuk Safira, Ira dan Bagas.
"Kenapa banyak sekali yang berangkat. Bukankah sudah cukup dua orang saja. Bagas dan Ira. Kenapa Safira ikut juga?" Suara Fairuz menggema di ruangannya.
"Maaf Pak, ini sudah ditentukan dari pusat pak. Nama-nama pesertanya langsung ditentukan bukan kita yang menentukan." Cukup terkejut sekretaris Fairuz mendapati bosnya menggebrak meja.
"Keluar!" Bentak Fairuz.
Sekretarisnyapun berbalik badan dan segera keluar ruangan.
"Safira! Kamu benar-benar membuatku gila. Aku selalu ingin melihat wajahmu setiap hari."
__ADS_1