Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Aku Menjemputmu, Kenapa Lama Sekali?


__ADS_3

Tiga orang pria sedang menguping di balik dinding dekat jendela. Posisi Tama dan Bayu berjongkok di depan Reffan sementara Reffan membungkukkan badan dan berkonsentrasi untuk mendengarkan apa yang terjadi di depan.


"Wah Bu Safira ternyata pandai bicara juga ya, aku pikir Bu Safira pendiam." Bisik Tama di dekat telinga Bayu.


"Bu Safira hanya pendiam di depan pak Reffan, tahu sendirilah gimana pak Reffan. Bisa-bisa bu Safira dikurung jika bicara dengan pria lain." Bayu sudah menahan cekikikannya dengan telapak tangannya.


"Hihi... bisa saja anda pak." Tama menimpali dengan suara pelan. Nampaknya karena terlalu asik menguping mereka lupa ada siapa di belakang mereka.


"Kalian juga sepertinya harus dikurung." Ucap Reffan berbisik di antara telinga kiri Bayu dan telinga kanan Tama.


Bayu dan Tama langsung memutar kepalanya perlahan, tersenyum manis berusaha menghapus dosa karena sudah menggunjingkan istri bosnya.


"Maaf pak kami hanya bercanda." Tama tersenyum padahal dalam hatinya sudah mengutuk dirinya sendiri. "Goblok goblok!"


Tak jauh berbeda dengan Bayu yang membodoh-bodohkan dirinya sendiri, sepertinya berdekatan dengan Tama membuat kesadarannya menurun.


.


Safira tersenyum menatap ibunya Bella.


"Sekarang nama saya sudah tak penting lagi bu, tertutup oleh nama suami saya. Saya permisi." Safira menunduk melangkahkan kaki setelah sebelumnya tersenyum cantik sekali.


"Aku minta maaf pernah berniat buruk padamu." Bella berkata dengan kepala yang menunduk.


"Aku sudah memaafkan." Safira memandang Bella yang kemudian menoleh ke arahnya.


"Kamu tahu?"


Safira tersenyum. "Karena aku yakin masih ada sisi baik dari dirimu. Aku tak membahasnya lagi dengan siapapun. Lupakan itu, tapi tidak untuk kedua kalinya. Hanya ada satu kesempatan dan aku sudah memberikannya padamu."


Bella terperangah mengetahui Safira mengetahuinya tapi tidak berbuat apa-apa. Benar yang dikatakan Bara tentang Safira, Safira memang pantas berada di posisinya sekarang. Wanita yang berada di hadapannya terlihat tegas tapi hatinya begitu baik.


"Assalamu'alaikum.." Safira mengucapkan salam kemudian keluar dari ruang tamu setelah salamnya dijawab Bella dan ibunya. Tapi langsung beristighfar, "Astagfirullah.." Safira sampai memegang dadanya.


Ketiga pria langsung berdiri tegak dan salah tingkah kecuali Reffan yang tetap memadang wajah cool-nya.


Bella dan ibunyapun ikut mendekat keluar pintu penasaran dengan apa yang dilihat Safira.


"Saya ditugaskan pak Reffan memastikan keamanan anda." Tama lebih dahulu berkata dengan tersenyum.


"Sama." Bayu menjawab tanpa ekspresi.


Safira menatap Reffan dengan senyum yang ditahan, penasaran dengan apa yang akan dikatakan suaminya itu.


"Aku menjemputmu. Kenapa lama sekali?" Berkata seperti biasanya tanpa beban apapun dan selalu terlihat berkarisma.


Reffan kemudian melangkah mendekat ke Safira, menggenggam tangannya dan menariknya mengikuti langkahnya. Sementara Bayu dan Tama menundukkan badan ke ibu Bella dan mengucapkan salam.

__ADS_1


.


Safira menatap ke arah rumah Bella. Dari dalam mobil dia tersenyum dan menundukkan kepala mengisyaratkan pamit pada dua orang ibu dan anak yang masih berdiri di depan pintu menatap mobil yang mulai melaju pelan.


Saat Safira sudah menutup jendela mobil. Reffan langsung memeluk pinggangnya dan menariknya merapat ke tubuhnya.


Pandangan keduanya bertemu. Tama yang melirik dari spion tengah langsung tak berani menatapnya lagi. Kini dia memandang lurus ke depan. Entah dia mengumpat apa dalam hatinya.


"Kamu tidak lelah?" Reffan berbicara di dekat telinga Safira.


"Aku lapar mas." Safira menjawab dengan wajah yang dibuat memelas.


Reffan tersenyum, "Kita cari makan ya!" Bukan pertanyaan tapi lebih ke kalimat perintah.


"Eh mas tapi tadi kan aku belanja." Safira teringat banyaknya dia berbelanja bahan makanan sebelum makan siang namun makan siangnya hanya mampir sebentar di lambungnya dan keluar lagi.


"Biarkan saja. Kamu belum makan tadi." Reffan tak ingin didebat.


"Tama... " Belum selesai Reffan berucap langsung dijawab Tama.


"Baik pak." Jawab Tama dengan pandangan yang lurus ke depan.


"Memangnya saya mau bilang apa?" Reffan menimpali cepat.


"Cari tempat makan kan pak?" Tama percaya diri memastikan.


"Kalau saya mungkin hanya minum saja pak." Jawab Tama ikutan santai.


"Enak saja. Kamu mau minum sambil melihat istri saya yang sedang makan?" Reffan mulai jengkel.


"Eh.." Tama mulai gelagapan.


"Kalian berdua tunggu di mobil. Hanya saya yang menemani Safira. Enak saja." Reffan memeluk Safira semakin erat. Safira hanya menggelengkan kepala menahan senyum.


Sementara Bayu sudah senyum-senyum kecil walaupun sebenarnya hatinya menertawakan Tama.


.


Reffan memandangi Safira yang dengan lahap memakan sup iga di depannya. Istrinya benar-benar kelaparan rupanya. Reffan bersyukur kehamilan Safira tidak mempengaruhi nafsu makannya, Safira jarang mual hingga sampai berakhir muntah. Kejadian tadi siang termasuk langka terjadi karena biasanya jika Safira mual tidak sampai muntah.


"Mau tambah?" Tanya Reffan setelah tak ada lagi satupun butir nasi di piring Safira hanya tinggal tulang-tulang yang kehilangan dagingnya.


"Kenyang mas. Alhamdulillah." Safira tersenyum kemudian meminum minumannya.


"Duduk dulu sebentar ya! Kamu baru saja selesai makan." Ucap Reffan yang kemudian meraih gelasnya juga.


"Pak Bayu dan pak Tama kasihan mas." Ucap Safira setelah hampir menghabiskan minumannya.

__ADS_1


"Kenapa kamu pikirkan mereka sih. Kamu hanya boleh memikirkanku." Jawab Reffan yang seolah tampak kesal. Tangannya mencubit hidung Safira.


Safira langsung cemberut mendapatkan cubitan sayang dari suaminya.


"Jangan menggemaskan begitu! Nanti aku minta pertanggung jawabanmu sudah menggodaku." Ucap Reffan dengan nada serius.


Safira langsung menarik bibirnya memasang wajah dengan lirikan tajam pada suaminya. Tangannya meraih gelas untuk menghabiskan sisa minumannya.


"Wah kamu benar-benar menggoda rupanya." Reffanpun segera menghabiskan minumannya.


Safira sudah dalam mode panik, "Aku gak ngapa-ngapain mas!"


Reffan hanya tersenyum kemudian berdiri membayar ke kasir lalu menarik tangan istrinya mengikuti langkahnya.


"Apapun yang kamu lakukan selalu menggoda." Reffan berkata di dekat telinga Safira saat akan membukakan pintu untuk istrinya. Setelah pintu mobil terbuka Reffan mendorong lembut tubuh istrinya agar segera duduk di dalam mobil, tubuh yang langsung mematung karena tiba-tiba rambut-rambut halus di tubuhnya berdiri.


.


Saat sudah tiba di rumah Safira langsung membereskan barang belanjaannya tanpa melihat Reffan. Safira sudah asyik dengan mencuci dan menata bahan-bahan makanan bahkan pakaiannya masih sama belum berganti.


Reffan hanya duduk mengamati istrinya yang sama sekali tidak melihatnya bahkan melirikpun tidak. Cukup lama Reffan menunggu Safira sampai batas kesabarannya habis.


"Apa yang kamu lakukan kenapa lama sekali?" Ucap Reffan dengan nada kesal merasa istrinya tidak mempedulikannya.


"A..aku.. se.." Safira tergagap menatap mata Reffan yang menusuknya. Jantungnya sampai berdebar tak karuan.


Reffan tersenyum tapi di mata Safira senyuman Reffan sangat mengkuatirkan.


"Kamu pandai sekali berbicara di luar sana. Kenapa sekarang tenggorokanmu tercekat? Apa dadamu berdebar sekarang karena terpana melihatku?" Reffan melangkah maju perlahan hendak mengikis jarak di antara mereka berdua.


"Kenapa aku selalu lemah di hadapan mas Reffan? Dan kenapa aku terpojok sekarang?" Batin Safira yang sudah mau menangis.


Reffan mendekat tapi melewati tubuh Safira begitu saja, tangannya mencuci bahan makanan yang belum diselesaikan istrinya.


"Kamu sengaja berlama-lama ya mencucinya?" Reffan melirik istrinya yang masih mematung di dekatnya.


Safira terkejut membuatnya langsung menatap mata Reffan, sejujurnya jawabannya adalah iya, Safira sangat menikmati berlama-lama menata bahan makanan.


Reffan sudah selesai menata semua bahan, yang butuh di masukkan ke lemari es pun sudah ditatanya rapi.


"Kenapa kamu yang mengerjakan jadi lama?" Reffan menoel hidung Safira, istri cantiknya hanya tersenyum meringis.


"Ayo!" Reffan menarik lengan istrinya.


"Kemana mas?" Pertanyaan yang seharusnya tidak ditanyakan Safira.


"Mandiin kamu!" Senyum sumringah Reffan sudah terbit namun seketika langsung tenggelam.

__ADS_1


Tok tok tok...


__ADS_2