
Langit jingga berhambur mengantarkan kepergian matahari. Safira melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobbi hotel milik Reffan. Reffan menyuruhnya menunggu di lobbi hotel karena ada hal penting yang dibicarakannya dengan Bayu asistennya. Safira duduk menunggu di sofa dekat kaca sambil menikmati langit senja yang selalu membuat kagum netra yang melihatnya. Sungguh betapa sempurnanya Allah menciptakan alam semesta, mengaturnya dengan indah menjadikan pelajaran bagi insan yang berpikir.
"Sayang lihat apa?" Tanya Reffan yang telunjuknya menyenggol hidung mancung Safira.
Safira yang terkejut memundurkan wajahnya. "Eh mas, maaf, lagi lihat langit aja."
"Indah sekali ya sampai suami ganteng datang dicuekin." Ujar Reffan pura-pura cemberut.
"Ah, apa sih mas." Safira malu-malu kemudian berdiri mencubit lengan suaminya.
"Auw, jangan genit di sini nanti saja di kamar." Reffan menarik tangan Safira kemudian menggandengnya memasuki lift.
Safira hanya mengikuti langkah Reffan sambil menunduk. Entah kenapa dadanya langsung berdebar mendengar kata-kata Reffan apalagi bersentuhan fisik dengan suaminya.
"Mas atau aku dulu yang mandi?" Tanya Safira saat sudah berada di kamar.
Reffan yang baru saja menutup pintu setelah menerima koper dari karyawannya menatap istrinya. Koper ditangannya ditinggalkan begitu saja di sisi dinding. Dia segera mendekati sang istri.
"Mandi bareng aja." Tangan Reffan sudah mulai melepas kancing bajunya.
"Mas sudah mau magrib nich. Mas aja deh mandi duluan." Safira mundur dari pintu kamar mandi dan bersiap melangkah menjauh namun tangan Reffan lebih cepat menyambar pinggang Safira. Tangan Safira menahan dada Reffan memberikan jarak di antara mereka berdua.
"Mandi bareng aja, kan sudah mau magrib biar lebih cepat." Ujar Reffan tangan kanannya sudah membuka jilbab Safira.
"Maasss... nanti jadi lama." Safira sudah sangat gugup karena wajah mereka hampir menempel.
Reffan tertawa, "Ini yang bikin lama, ngobrol terus gak langsung mandi." Reffan langsung mendekap tubuh istrinya memaksanya masuk ke dalam kamar mandi.
Safira meraih tangan suaminya hendak menciumnya seusai solat berjamaah, namun Reffan menarik tangan Safira membuat Safira jatuh dalam pelukannya. Reffan menciumi tangan Safira, pipinya, matanya, keningnya berulang-ulang sampai Safira tertawa karena kegelian.
"Mas, sudaaah... sudah mas." Safira berusaha menahan tubuh Reffan.
"Sekarang mau ngapain?" Tanya Reffan.
"Ngaji yuk mas!" Ajak Safira sambil tersenyum manis.
Reffan terdiam kemudian tersenyum mengangguk.
Safira beranjak mengambil dua buah Al Qur'an kemudian duduk di samping Reffan.
__ADS_1
"Aku ingin dengar suara mas saat mengaji." Ucap Safira manja sambil tersenyum.
"Apapun yang kamu inginkan." Balas Reffan yang juga tersenyum sambil mengusap puncak kepala Safira.
Mereka pun mengaji bergantian saling mendengarkan saat pasangannya membaca Al Qur'an. Lantunan indah ayat-ayat suci Al Qur'anpun menggema di kamar mereka, memeluk jiwa dan tubuh mereka dengan ketenangan. Indah bukan, inilah pernikahan ibadah terlama bagi insan manusia maka pasanganmu adalah partnermu dalam beribadah pada-Nya bersama saling menjaga meraih cinta-Nya.
Safira mengerjap-ngerjap mengusir rasa berat di kelopak matanya. Hal pertama yang dilihatnya saat membuka mata adalah wajah suaminya dengan mata yang masih terpejam. Safira tersenyum, perlahan berusaha melepaskan diri dari pelukan Reffan. Tapi bukannya terlepas pelukan Reffan menjadi semakin erat.
"Mau kemana?" Reffan membuka suara dengan mata yang masih terpejam.
"Ke kamar mandi mas." Jawab Safira.
Reffan membuka matanya. "Cium dulu."
Safirapun segera mengecup pipi Reffan. Reffan tersenyum kemudian melepaskan pelukannya. Matanya kembali terpejam saat Safira sudah tak terlihat lagi.
Safira keluar dari kamar mandi dengan wajah segar yang basah dan baju handuk yang masih melekat di tubuhnya karena tadi dia sudah tidak tahan untuk buang air kecil sehingga tidak sempat membawa baju ganti. Masih ada waktu sebelum adzan subuh berkumandang, Safira segera menunaikan solat tahajud setelah memakai pakaiannya.
"Mas bangun yuk, sudah adzan subuh." ucap Safira lembut sambil membelai pipi Reffan.
Merasakan ada sentuhan dingin di pipinya, Reffanpun membuka matanya dan mendapati bidadari cantik memakai mukena di depannya.
"Mas ih. Yuk ah mas, cepetan mandi! Safira tungguin solat jamaah." Ucap Safira kemudian memencet hidung suaminya.
Hari ini Safira akan bekerja lagi setelah satu pekan cuti menikah. Safira dan Reffan baru saja menunaikan solat subuh berjamaah setelah Reffan mandi tentu saja.
"Yakin mau masuk kerja sayang?" Tanya Reffan yang senarnya berat melepas Safira. Reffan masih ingin memeluk Safira dan menikmati status pengantin barunya.
"Kan sudah habis mas masa cutinya. Gak papa ya mas?" Safira melihat wajah suaminya ingin melihat ekspresi suaminya.
"Ya sudah kamu maunya begitu." Reffan memaksakan tersenyum untuk Safira.
"Makasi mas." Safira tiba-tiba mengecup pipi Reffan. Maksud Safira berterimakasih karena sudah diizinkan bekerja oleh suaminya. Tapi Reffan malah meraih pinggang ramping Safira menariknya ke tempat tidur dan menindihnya.
"Mas, aku perlu ambil seragam dulu ke rumah." Safira sudah cemas mendengar nafas Reffan yang memburu dan wajahnya yang semakin mendekat.
Reffan tak menggubris perkataan Safira. Baginya hal terpenting adalah wanita di depannya yang sudah siap dinikmati.
.
__ADS_1
Safira buru-buru mengeringkan rambutnya yang masih basah setelah mandi dengan bibir yang mengkerucut sambil melirik Reffan yang tersenyum dengan handuk melilit di pinggangnya.
"Gak usah cemberut, nanti aku makan lagi lho bibir kamu." Reffan malah tertawa melihat Safira yang langsung menormalkan bibirnya.
"Suka banget aja kok cemberut." Imbuh Reffan.
"Mas ih.." Safira sangat kesal dengan ulah Reffan.
Safira membujuk Reffan agar tidak sarapan dulu karena dia tidak ingin terlambat masuk kerja. Safira memang termasuk orang yang disiplin dan tidak suka ngaret. Reffan akhirnya menelepon karyawannya memesan sesuatu. Lima menit kemudian pesanan Reffan sudah diantarkan ke kantor. Reffan meraih botol air mineral di meja dan meraih tas kecilnya.
"Sudah siap?" Tanya Reffan yang mendapati Safira sudah berdiri di belakangnya.
"Sudah mas." Jawab Safira cepat.
Saat sudah di mobil Reffan memberikan bungkusan kertas coklat pada Safira.
"Sarapan dulu, habiskan!" Perintah Reffan yang bersiap memasang sabuk pengaman.
Safirapun membuka bungkusan di depannya dan tersenyum mendapati sepasang sandwich yang aromanya membuat lapar.
"Makasi ya mas, aku suapin ya m,as?"
"Habiskan Safira, aku akan sarapan setelah mengantarmu." Jawab Reffan tanpa menoleh ke Safira karena saat ini mobil sudah bergerak.
"Ini ada dua mas. Nanti saat lampu merah aku suapin ya?" Safira masih berusaha membujuk suaminya.
"Habiskan atau aku kembali ke hotel dan menyantapmu." Jawab Reffan yang masih fokus menyetir kemudian diliriknya ekspresi Safira yang sangat lucu dan langsung menutup mulutnya.
"Mas nanti tunggu di mobil aja ya, aku ganti baju sebentar aja kok." Ucap Safira saat sudah dekat dengan rumahnya.
"Heemm..." Reffan hanya membalas dengan berdehem.
Saat sudah sampai Safira segera turun dan masuk ke dalam rumah. Reffan meneguk air mineral yang tadi diminum Safira.
"Pemandangan indah kok dilewatkan." Reffan pun turun dari mobil setelah mematikan mesinnya dilihatnya pintu kamar Safira yang sedikit terbuka. Reffan berjalan pelan mendekati kamar Safira kemudian bersandar di daun pintu menikmati pemandangan di depannya. Safira yang terburu-buru berganti pakaian seragam tak merasakan kehadiran suaminya. Saat Safira merapikan jilbabnya di cermin, tertangkap bayangan seorang pria yang menatapnya lekat.
"Astaghfirullah... mas Reffan sejak kapan di situ?" Tanya Safira kaget.
Reffan tersenyum menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Sudah selesai belum?" Tanya Reffan tak menjawab pertanyaan istrinya.