Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Ketakutan yang Menjadi Kenyataan


__ADS_3

"Diamlah Audri!" Fairuz membentak istrinya. Ini pertama kali Fairuz berkata keras pada istrinya.


"Aku yang seharusnya marah mas, bukan kamu." Audri membalas berteriak.


Fairuz pergi melangkahkan kakinya meninggalkan Audri. Tak peduli Audri yang berteriak memanggilnya. Kalut, pikiran Fairuz kacau saat ini.


.


"Dari mana Audri tahu?" Fairuz memukul kemudi di depannya, dia menghentikan mobilnya di parkiran taman.


Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Fairuz memutuskan kembali ke kantor. Safira, wajah itu yang sekarang terbias di benaknya.


.


Dengan mobil yang berbeda dari kemarin Safira dijemput karyawan Reffan karena nyatanya pertemuan Reffan dengan rekan bisnisnya terlambat selesai dari jadwal awal sehingga Reffan menyuruh karyawannya menjemput Safira agar Safira tak menunggu di kantor.


"Wah, sekarang kamu mendapatkan pelayanan mobil hotel. Hebat sekali kamu Safira." Fairuz tersenyum kecut saat melihat Safira naik ke mobil dengan logo hotel yang didatangi Safira kemarin. Kemana lagi tujuan Safira jika bukan ke hotel kemarin lagi.


.


"Boleh ya mas?" Safira memijat lengan Reffan berusaha merayu suaminya.


"Enggak Safira!" Reffan masih teguh dengan pendiriannya.


"Tinggal tiga hari lho mas aku masuk kerja, boleh ya mas aku bawa mobil sendiri. Kasihan mobilnya sudah lama tidak kupakai." Safira masih memijat lengan suaminya. "Mas.." Safira berkedip imut sekali.


"Kamu ini kenapa keras kepala sih. Kamu pernah pingsan Safira. Please, tolong kamu nurut sama suami." Reffan masih teguh dengan larangannya.


Bibir Safira langsung cemberut, tapi tangannya masih memijat suaminya hanya tenaganya yang berkurang.


Reffan menarik nafas dan menghembuskan kasar.


"Hanya besok ya sayang." Reffan mencoba mengalah ditepisnya kekuatiran yang memenuhi pikiran dan hatinya.


Safira masih diam tapi bibirnya sudah tidak cemberut lagi.


"Gak mau? Ya sudah." Reffan menarik tubuhnya membuat tubuh yang sebelumnya terduduk menjadi berbaring.

__ADS_1


"Eh mau mas. Iya besok aku mau bawa mobil." Safira langsung memeluk tangan suaminya. Satu hari tak papa daripada tidak sama sekali mungkin suaminya akan berubah pikiran memperbolehkan mengendarai mobil hari selanjutnya jika besok dia baik-baik saja, begitu yang dipikirkan Safira.


"Dikasih hadiah dong! Kan sudah diizinin." Reffan menarik tubuh Safira sehingga terjatuh ke lengannya telapak tangan Safira menyangga di dada Reffan.


Safira tersenyum mengecup pipi Reffan.


"Gitu doang?" Reffan menatap Safira dengan tatapan elang.


Safira mengecup pipi Reffan yang sebelah lagi kemudian mengecup bibirnya. Niat awal hanya sekilas namun kepalanya di tahan Reffan sehingga ciuman mereka tak bisa lepas. Reffan membalik posisi tubuhnya kini Safira dalam kungkungannya. Dipandanginya wajah istrinya yang merona, wajah kesukaannya. Senyuman merekah sekilas, tak lama karena kemudian serangan ke bibir Safira semakin intens berlanjut dengan serangan yang lebih luas lagi.


.


Senang sekali hati Safira berangkat bekerja dengan mobil kesayangannya, mobil pemberian orangtuanya yang menemaninya sejak masih kuliah dulu. Senyum cantiknya menyapa setiap orang yang ditemuinya di kantor tak peduli apa posisi mereka di kantornya. Wajah cantiknya yang bahagia membuat orang yang bertemu dengannya ikut tersenyum merasakan energi positif yang disebarkan oleh Safira.


Pun dengan Fairuz dari kejauhan tersenyum memandang wajah cantik Safira. Setidaknya pagi ini ada yang segar dipandangannya setelah semalaman pikirannya kusut tak juga terurai.


"Audri sudah tahu. Sudah terlanjur basah kenapa juga aku tidak memaksamu menjadi milikku." Fairuz menatap tajam Safira dari kejauhan, Safira baru saja duduk di kursi kerjanya. Jari-jari lentiknya mulai membuka file di laptopnya.


Semalam Fairuz menginap di apartemennya yang dibeli tanpa sepengetahuan istrinya, dia tidak pulang ke rumahnya karena pasti akan bertengkar dengan istrinya. Puas memandang Safira, Fairuz kembali ke mejanya. Di depannya sudah bertumpuk pekerjaannya yang tak juga disentuhnya termasuk tembusan surat pengunduran diri Safira.


Hingga menjelang siang Fairuz masih belum fokus dengan pekerjaannya, dokumen yang menumpuk hanya berkurang satu saja. Fairuz memutuskan keluar untuk istirahat siang. Baru saja akan meraih handle pintu, pintunya diketuk oleh seseorang. Fairuzpun segera membuka pintunya.


"Kenapa mas? Terkejut aku yang mengetuk pintu bukan Safira?"


Suara Audri membuat semua orang di ruangan Safira terkejut. Tangan mereka mendadak berhenti bekerja tapi tidak dengan kepala mereka. Kepala mereka langsung menoleh ke asal suara, dua detik kemudian menoleh ke Safira hampir bersamaan.


"Jaga bicaramu Audri!" Fairuz menatap Safira dari kejauhan membuat Audri mengikuti arah pandangan suaminya, saat menyadarinya Fairuz langsung menarik lengan Audri dengan kasar pergi meninggalkan ruangan dan mata yang berprasangka.


Bagas dan Ira hanya bisa memandang sahabatnya dari jauh. Berdoa dalam hati Safira akan baik-baik saja. Netra Safira tetap fokus pada laptopnya. Apa Safira tidak mendengar suara Audri. Sudah pasti Safira mendengar dengan jelas tetapi netranya tak sanggup bertemu dengan mata siapapun, sejenak jantungnya terasa berhenti memompa darah. Ketakutannya baru saja menjadi kenyataan.


.


"Fir..." Ira menyentuh tangan Safira menggenggamnya dengan lembut.


Sedari tadi Safira hanya diam, bibirnya masih terkunci tak mengatakan satu katapun. Bahkan Ira yang memesankan makanan dan minuman untuknya.


"Fir, jangan begini. Jangan kamu pikirkan terlalu dalam, hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Sekarang makanlah, ada kehidupan di dalam perutmu." Bagas membujuk Safira agar mau memakan pesanan yang sudah datang.

__ADS_1


Safirapun makan dalam diam. Tak sanggup mengatakan apapun.


.


"Pantesan ya. Safira sering ke ruangan pak Fairuz." Seorang wanita berkata.


"Eh, iya betul banget." Wanita lain menimpali.


"Ternyata. Gak nyangka model wanita seperti Safira ternyata... Cantik sih tapi..., jilbabnya mendingan di lepas aja deh." Wanita lain menimpali dengan nada suara seolah menahan jijik.


Safira mematung di depan ruangannya. Ira melihat wajah sedih sahabatnya. Dan Bagas mengeram mengepalkan tangannya.


"Katakan apa keinginanmu Safira? Apa kamu ingin aku menjelaskan pada mereka?" Bagas berdiri di samping Safira memandang lekat wajah yang memerah entah karena malu atau karena amarah yang membuncah atau karena keduanya.


Safira menggeleng. "Mereka tak akan percaya sekarang."


Safira masuk dengan senyum menyapa seluruh orang seperti biasanya yang berbeda tak ada satupun yang membalas senyumnya. Safira duduk di belakang meja kerjanya melanjutkan pekerjaan dengan airmata yang tertahan, secepatnya dia ingin pergi dari ruangnnya hari ini, agar mata dan telinganya tak lagi menangkap penghinaan dari teman-temannya.


.


Dengan cepat Safira keluar dari ruangannya berjalan cepat ke tempat parkir. Bukan hanya di ruangannya bahkan setelah dia keluar dari ruangannya orang-orang menatapnya hina. Begitu cepat fitnah menyebar bahkan mungkin tembok ikut berbicara menyebarkannya dengan cepat.


Benarlah sebuah hadist, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Karena jelas akibatnya bukan hanya fisik yang serasa mati, ada hati yang terluka tapi tak terlihat darahnya. Jiwa korbannya hancur membuat lemah organ-organ di dalam tubuhnya.


.


Di mobil dalam perjalanan pulang Safira tak mampu membendung derasnya airmata yang sejak tadi tak tertahan. Dilajukan mobilnya secepat yang dia bisa agar segera bisa memeluk suaminya. Safira menuju parkiran di basement di hotel Reffan. Dihapusnya jejak airmata, sejenak mengatur nafas menenangkan diri.


"Ayo ikut!"


Baru saja Safira keluar dari mobil dan menekan kunci alarm, cengkraman tangan menarik kuat lengannya.


"Lepas!" Safira menghentakkan tangannya kuat membuat cengkraman mengendor dan terlepas.


Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi mulusnya. Cengkraman tangan menarik paksa tubuhnya lagi.


Dugh! Tas Safira melayang mengenai pelipis manusia tak tahu diri.

__ADS_1


Plak! Sekali lagi tamparan mengenai pipi yang sudah memerah membuat sudut bibirnya terluka dan meneteskan darah. Safira terhuyung, netranya tak lagi menangkap cahaya dengan sempurna.


Lengannya dengan mudah ditarik kemudian didorong masuk ke dalam bangku penumpang sebuah mobil. Tubuh lemahnya mendarat di bangku belakang tanpa perlawanan.


__ADS_2