
Sabtu pagi yang cerah, kebahagiaan menyelimuti keluarga besar papa Rendra. Semua keluarga berkumpul di meja makan. Papa Rendra, mama Raisa, Reffan, Safira dan Raffi adek Reffan yang baru saja tiba tadi malampun ikut bergabung membuat pagi semakin ceria.
"Betah mbak jadi istrinya mas Reffan?" Celetuk Raffi pada kakak iparnya.
"Hmm.. bosan hidup enak lu Raf?" Reffan yang menimpali pertanyaan adeknya. Sementara Safira hanya tersenyum melirik suaminya.
Raffi tidak mempedulikan kakaknya, membuat kakaknya kesal sudah menjadi kesenangannya tersendiri apalagi di hadapan kakak iparnya.
"Nanti sore jalan-jalan yuk mbak, Raffi ajak keliling Jakarta. Raffi juga kangen muter-muter Jakarta nih." Raffi masih berbicara panjang lebar seolah tidak mempedulikan kakaknya yang semakin kesal.
"Sekali lagi lo bikin gue kesel, uang jajan lo terbang bulan depan." Reffan melirik adeknya tajam tapi tangannya menggenggam tangan Safira di atas meja.
"Lihat deh mbak, mas Reffan suka ngancam padahal sama adek sendiri. Kasihan banget kan mbak aku." Raffi malah mengadu pada kakak iparnya.
"Jangankan kamu Raf, mbak sudah kenyang diancam masmu." Hanya di dalam hati Safira mengadu, mana berani Safira mendapatkan lirikan Reffan.
"Sudah kamu jangan cari perhatian Safira, pakai mengadu segala." Lirikan Reffan semakin tajam mengarah pada adeknya.
"Kalian berdua ini kenapa selalu ribut jika bertemu sih." Mama Raisa melihat kedua putranya bergantian. Mama Raisa tahu sebenarnya mereka saling sayang, hanya di bibir saja yang tidak pernah akur.
"Hari ini jadwal kita padat, besok sudah acara, Safira dan Reffan akan fitting baju kemudian akan ke hotel tempat resepsi. Kalian jangan terlalu capek. Nanti malam semua tidur, jangan ada yang keluyuran." Mama Raisa menjelaskan agenda hari ini pada mereka.
"Selamat bersenang-senang mas Reffan dan mbak Safira. Aku bebas.." Raffi melambaikan tangannya bahagia.
"Eits.. kamu ikut, kamu yang nyetir temani mama. Kita pergi berempat." Mama Raisa langsung membuat wajah Raffi berubah seketika.
"Kan mas Reffan dan mbak Safira yang punya acara kenapa aku ikut juga ma?" Sekarang suara Raffi sudah berganti memelas.
"Kamu kan juga belum fitting baju, mama sudah siapkan baju kamu untuk besok." Mama Raisa menimpali.
"Haha..." Reffan bahagia sekali melihat perubahan ekspresi adeknya.
.
Setelah selesai sarapan mereka kembali ke kamar mereka dan keluar lagi hampir bersamaan. Raffi sudah bersiap akan masuk kursi kemudi, Safira meraih handle pintu belakang, Reffan menunggu Safira masuk ke dalam mobil, diapun memutar hendak masuk ke kursi belakang di sisi lain tapi setelah Reffan membuka pintu, mama Raisa menarik lengan Reffan.
"Eh, kamu duduk depan Reffan, mama di belakang sama Safira. Enak aja!" Mama Raisa merusak kebahagiaan Reffan yang ingin menempel pada Safira. Sontak saja Raffi tertawa sampai memukul mukul kemudi di depannya.
"Kenapa mama gak di depan saja sih?" Reffan masih tidak terima berjauhan dengan istrinya.
"Enak aja mau bermesraan di dalam mobil." Mama Raisa mendorong tubuh Reffan menjauh kemudian mama Raisa masuk ke dalam mobil duduk di samping Safira.
Reffan akhirnya masuk juga ke dalam mobil, walaupun wajahnya cemberut karena duduk di depan.
"Sayang, nanti Safira pasti suka dengan gaun pengantinnya. Mama pilihkan model yang sesuai pasti cocok untuk Safira." Mama Raisa mulai mengobrol dengan menantunya tak mempedulikan kedua putranya di depan.
__ADS_1
"Iya ma.. terimakasih ya ma.." Safira tersenyum meraih tangan mama Raisa.
Obrolan di dalam mobil terasa hangat yang didominasi oleh mama Raisa. Dua laki-laki di depan hanya saling melirik jika merasa tersindir. Tak terasa mereka sudah sampai di depan butik sahabat mama Raisa.
.
Safira malu-malu keluar dari ruang ganti dibantu dua orang asisten butik.
"Apa mama bilang pasti cocok untuk Safira. Cantik sekalikan?" Mama Raisa menyenggol lengan Reffan yang netranya terpaku mengagumi kecantikan istrinya yang semakin terpancar saat memakai gaun pengantin.
Reffan tersadar kemudian berjalan mendekat ke arah istrinya.
"Cantik sekali sayang, aku pikir tadi melihat bidadari." Reffan mengelus lebut pipi istrinya yang merona dengan ibu jarinya.
Raffi yang mencoba baju untuk dirinya juga keluar dari ruang ganti yang lain.
"Ma, gimana? sudah pas?" Raffi berkata sambil bergaya bak model.
Mama Raisa menoleh sebentar ke arah Raffi, "Pas, sudah bagus." kemudian mama Raisa kembali memperhatikan gaun Safira dan memutar-mutar tubuh Safira.
"Belum juga mendekat sudah bilang bagus. Berasa anak tiri nih gara-gara Safira." Raffi mendengus tapi kakinya mendekati Safira dan diapun terpesona dengan keindahan gaun pengantin dan wajah yang memakainya. Tak sadar diapun tersenyum. "Beruntung kamu mas." Tangannya menepuk pundak kakaknya. Reffan tersenyum bahagia dan membalas menepuk pundak adeknya.
"Reffan, kamu cepat ganti baju. Mama mau melihat kalian berdua memakainya." Mama Raisa mendorong punggung Reffan yang tak juga beranjak ke ruang ganti.
.
"Tidak sayang, semuanya disesuikan dengan kemampuan kita." Reffan berbisik di telinga Safira.
Bagi Safira ini seperti mimpi, Safira tahu kisaran harga baju pengantin yang biasa digunakan artis saat melangsungkan pernikahan mereka dan gaun yang digunakannya saat ini bahkan lebih berkilau dari yang mereka pakai. Model bajunya memang terlihat lebih simpel tak banyak hiasan namun kilau yang terpancar dari gaunnya tak bisa membohongi siapapun jika ada batu permata tertempel di sana.
"Jangan pikirkan apapun. Lihat saja aku, aku yang bahagia memilikimu. Tersenyumlah." Reffan mengarahkan wajah Safira untuk melihat matanya. Safirapun hanyut dalam bahagia yang ditularkan Reffan. Wajah cantiknya tersenyum memandang wajah tampan suaminya tapi tiga detik kemudian wajahnya merona, malu dengan tatapan suaminya yang semakin tajam.
"Ehem." Raffi membuyarkan adegan romantis saling menatap di depannya. "Ada anak di bawah umur nih." Serunya yang mendapat cubitan di pinggang dari mama Raisa.
Seusai fitting baju, mereka makan siang di hotel yang ternyata keluarga Safirapun sudah ada di sana. Pak Salman, bu Sofi dan Hasna sudah datang sejak pagi di hotel. Rencananya mereka juga akan menginap di hotel tersebut sesuai dengan yang telah mama Raisa siapkan untuk keluarga besannya.
Safira terlihat bahagia sekali bertemu dengan orangtuanya dan adek perempuan satu-satunya mereka berdua terus menempel membuat Reffan merasa diabaikan dan Raffi tentu saja dia yang paling senang melihat ekspresi kakaknya.
Matahari semakin condong ke barat, mama Raisa mengajak Safira, Reffan dan Raffi kembali ke rumah agar tidak kelelahan saat acara besok. Mama Raisa juga mempersilakan keluarga besannya untuk bisa beristirahat karena merekapun baru tiba pagi tadi di Jakarta.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena jalanan di Jakarta memang sangat padat di sore hari.
"Ada tamu ma?" Tanya Raffi saat melihat ada mobil terparkir di halaman rumah mereka.
"Iya tamu mama dan Safira." Jawab mama Raisa ringan. "Ayo sayang kamu sudah ditungguin!" Mama Raisa memberikan isyarat agar Safira segera turun dari mobil mengikutinya.
__ADS_1
Wajah Safira terlihat bingung tapi dia tetap mengikuti langkah mama Raisa. Reffan yang merasa penasaran siapa tamu istri dan mamanyapun segera menyusul mereka.
"Tamunya mana ma? Kok gak ada?" Tanya Reffan saat tak melihat satu orangpun di ruang tamu.
"Mama suruh nunggu di atas." Mama Raisa menggandeng Safira menaiki tangga.
Wajah Reffan menjadi semakin bingung dengan jawaban mamanya.
"Nah sayang, ini orang dari salon mama datangkan khusus untuk perawatan biar besok wajah dan badan kamu fresh." Mama Raisa menarik tangan Safira yang kebingungan karena ada tiga orang wanita di kamarnya yang sedang menyiapkan beberapa perlengkapan ditemani oleh asisten rumah tangga mama.
"Mohon bantuannya ya mbak, biar menantu saya yang cantik ini besok lebih fresh dan bersinar." Ujar mama Raisa pada karyawan salon yang segera mendekat saat melihat mama Raisa datang.
"Ma, apa ini?" Reffan yang masuk kamar bingung dengan kehadiran beberapa orang di kamarnya.
"Sudah kamu ayo keluar." Mama Raisa mendorong Reffan untuk keluar kamar.
"Ini kan kamarku. Aku juga mau istirahat." Sela Reffan.
"Malam ini kamu tidur di kamar tamu atau tidur sama Raffi terserah. Sudah ada baju ganti di sana. Kamarmu dipakai Safira nyalon dulu. Sudah cepat keluar!"
"Mama kok gak bilang kalau mindahin salon ke kamarku." Protes Reffan.
"Biar kamu gak menggagalkan rencana mama. Malam ini jangan mengganggu Safira. Kalian harus tampil fresh besok." Mama Raisa berkata dengan alis yang terangkat.
"Gak bisa gitu dong ma. Kasihan kan Safira tidur sendirian." Reffan masih mengulur waktu berusaha berpikir.
"Safira akan tidur nyenyak setelah tubuhnya mendapat perawatan." Mama Raisa menimpali sambil menarik tangan anaknya.
"Tunggu ma, aku ambil sesuatu dulu." Reffan berjalan menuju laci nakas mengambil sebuah kotak sambil melirik Safira yang memperhatikannya sedari tadi.
"Apa itu?" Tanya mama Raisa.
"Charger." Jawab Reffan singkat.
"Nanti setelah selesai, kunci pintunya ya sayang. Dan kamu segera istirahat. Reffan tidur di kamar tamu biar tidak mengganggumu." Ucap mama Raisa pada menantunya.
"Iya ma." Jawab Safira tersenyum.
.
Safira menyuruh orang-orang suruhan mamanya keluar dari kamar saat perawatan selesai, dia tidak ingin ada orang di kamar saat dia sedang berendam dengan air yang telah dicampur ramuan khusus untuknya. Setelah memastikan pintu terkunci Safira melenggang ke kamar mandi melepas kain yang menutupi tubuhnya dan berendam cukup lama menikmati aroma wangi dan segar dari air hangat yang disiapkan untuknya.
Tiga puluh menit berlalu tubuhnya terasa sangat nyaman, lelahnya terasa terbang. Merasa tak ada orang di kamarnya, Safira hanya menggunakan handuk untuk melilit tubuhnya dan rambutnya. Karena diapun belum menyiapkan baju ganti saat masuk kamar mandi tadi.
Safira tersenyum menikmati aroma tubuhnya, dia menciumi tangannya yang harum.
__ADS_1
"Astaghfirullah..." Senyumnya langsung lenyap seketika karena terkejut ada orang yang duduk di tepi ranjangnya.