Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Pria yang Memutuskan


__ADS_3

Baru saja Safira mendarat di sisi luar pagar dan membalikkan badannya. Reffan sudah tepat di depannya. Reffan menggelengkan kepala dan dengan cepat memanggul Safira di bahu kirinya.


Safira sangat terkejut tubuhnya melayang terbalik, reflek tangannya menahan jilbabnya agar tidak terlepas.


"Mas, turunin..." Kaki Safira bergoyang dan menendang. Reffan semakin erat memeluk paha istrinya.


Dengan santainya Reffan membawa tubuh Safira masuk ke dalam rumah. Raffi yang menyaksikan dari balkon ataspun tertawa melihat kelakuan kakak ipar dan kakak kandungnya.


"Mas turunin! mas apa-apaan sih." Safira terus menggoyangkan kakinya ke sembarang arah.


"Diam!" Reffan menepuk pantat Safira. Safira langsung terdiam mendapatkan tepukan tak terduga di area belakangnya. Wajahnya jelas merona, namun sayang Reffan tak bisa melihatnya.


Reffan masuk ke dalam rumah tak mempedulikan Claudia yang menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Mama Raisa yang mulai kuatir dengan perlakuan Reffan pada menantunya segera menghampiri Reffan yang akan menaiki tangga.


"Reffan, jangan kasar. Semua bisa dibicarakan." Mama Raisa menatap wajah putranya.


"Mas turunin!" Suara Safira sudah memelas sekarang.


"Diam!" Reffan kembali menepuk pantat istrinya.


"Ini urusanku ma, yang satu ini memang harus dikasih pelajaran agar tidak kabur seenaknya." Tangan Reffan kembali menepuk sedikit keras bagian belakang istrinya yang ternyata membuatnya ketagihan.


"Auw mas.. " Suara Safira justru terdengar menggoda di telinga suaminya.


Mama Raisa hendak menahan Reffan tapi kemudian Reffan berkedip memberikan kode pada mamanya. Mamanya berubah tersenyum kecil, dia mengerti Reffan tak akan menyakiti wanita pilihannya. Mama Raisapun membiarkan Reffan membawa Safira ke atas.


Tangan Reffan sudah menggapai handle pintu. Raffi mendekat ke arah kakaknya.

__ADS_1


"Aduh mbak, bahaya ini mas Reffan sudah marah banget. Kalau sudah marah.. gak ada yang berani dekat-dekat mas Reffan. Semoga mbak baik-baik saja ya, aku gak bisa berbuat apa-apa mbak." Raffi berakting menakuti Safira, matanya berkedip ke arah kakaknya. Reffan tersenyum mendapat dukungan adeknya.


"Jangan ada yang mendekat ke kamar sebelum pintu ini terbuka." Reffan mengeluarkan suara dinginnya, namun menahan senyum di wajahnya. Raffi berlagak memberikan sikap hormat pada kakaknya.


Reffanpun mengunci pintu kamar setelah mereka berdua berada di dalam kamar.


Setelah Reffan mengunci pintu, Raffipun tertawa memegangi perutnya. "Duh jadi pengen nikah kan."


"Mas...." cicit Safira karena Reffan tak juga menurunkan tubuhnya padahal sudah di kamar. Safira mulai ketakutan karena tak menyangka Reffan akan memanggulnya dari depan pagar sampai kamar.


Reffan membanting tubuh Safira di kasurnya yang empuk dan langsung menyingkap jilbab istrinya yang masih terkejut. Tubuhnya sudah berada di atas mengunci tubuh istrinya.


"Kita selesaikan masalah kita di ranjang." Hidung mancung Reffan sudah menempel di pipi Safira beralih ke lehernya menghisap aroma yang menguar melenakan. Sekarang berganti bibirnya yang memulai penjelajahan di area favoritnya.


Nafas Safira sudah tersengal, tubuhnya menggeliat semakin memantik gairah dalam diri suaminya.


"Kenapa lari?" Reffan berbisik di telinga istrinya di tengah penjelajahannya.


"Terima akibatnya. Hukuman karena kamu masih berani lari dariku. Kamu ingatkan 24 jam bersiaplah?"


Safira membeku mendengar kata-kata suaminya. "Dia yang bersentuhan dengan Claudia kenapa aku yang diberi hukuman." Namun protesnya hanya berlaku di dalam hati, Safira selalu tak berdaya jika berhadapan dengan Reffan.


Reffan melakukan apapun yang diinginkannya pada istrinya, entah berapa kali dia menyebar benih, berbagai cara mencapai kenikmatan dicobanya pada tubuh istrinya. Beberapa kali terdengar Safira menjerit karena kelakuan suaminya.


.


Di lantai bawah, Claudia masih duduk di sofa ruang tamu sesekali netranya melirik ke atas padahal tak terdengar bunyi apapun dari lantai atas.


"Claudia." Mama Raisa membuka percakapan.

__ADS_1


"Iya tante." Claudia gelagapan karena terkejut.


"Sebenarnya apa maksudmu tadi? Kamu sengaja melakukannya?" Mama Raisa meneliti ekspresi Claudia.


"Ehm, begini tante. Bukankah Reffan harus disadarkan dari pengaruh Safira. Safira tidak berkelas, dia hanya akan membuat Reffan malu." Claudia berbicara menggebu-gebu.


"Membuat malu bagaimana? Berikan contohnya." Mama Raisa meladeni Claudia.


"Tante pasti dengarkan saat resepsi kemarin banyak orang yang menggunjingkan Safira. Mereka bertanya-tanya Safira itu siapa, anaknya siapa?" Claudia menirukan kaum hawa yang sedang bergosip.


"Lalu?" Mama Raisa mulai jengah.


"Tante pasti malukan karena Safira bukan siapa-siapa. Status sosialnya berbeda dengan kita." Claudia mulai menebak perasaan mama Raisa.


"Tidak!" Mama Raisa menjawab tegas namun netranya berkaca-kaca. "Tante akan malu jika anak tante kelakuannya bobrok. Tante bangga pada Reffan dia bisa memperistri wanita baik-baik dan cerdas seperti Safira. Tante tidak peduli dengan apa kata orang, Reffan berhak menetapkan siapa wanita yang akan dilihatnya setiap pagi saat membuka mata dan setiap malam sebelum terlelap. Teman yang selalu di sisinya mendengarkan cerita dan mendukungnya. Lagipula kehidupan Safira lebih beruntung dari tante dulu..." mama Raisa menghentikan perkataannya matanya berkedip-kedip berusaha menyembunyikan netranya yang berkaca-kaca.


"Maksud tante?" Claudia penasaran.


"Papamu, mas Candra, berteman dengan mas Rendra sejak dulu. Apa papamu tidak pernah bercerita?" pandangan Mama Raisa menerawang mengingat masa lalu.


Claudia menggeleng.


"Kita tidak bisa memilih akan terlahir dari keluarga yang mana. Jika bisa, semua dari kita pasti akan memilih menjadi anak orang kaya. Kita hanya bisa bersyukur orangtua kita melahirkan dan menyayangi kita. Safira lebih beruntung dari tante walaupun bukan lahir dari kalangan atas tapi orangtuanya memenuhi semua kebutuhannya dengan baik, orangtuanya juga terpelajar. Tante hanya gadis dari daerah yang merasa beruntung dengan bekal seadanya bisa kuliah di perguruan tinggi ternama di ibukota." Setitik bulir bening menggenang di sudut mata mama Raisa.


Mama Raisa melanjutkan ceritanya. "Mas Rendra adalah kakak kelas tante, anak orang kaya dengan semua fasilitas kelas atas. Mas Rendra jatuh cinta pada gadis dari daerah yang serba terbatas. Kamu pasti bisa menebak, tentu saja orangtua mas Rendra menentang keras, mas Rendra bersikeras dengan keputusannya. Sifatnya keras yang menurun ke anak-anaknya. Dia memaksa tante untuk mau menjadi istrinya, dia tak peduli orangtuanya setuju atau tidak. Mas Rendra meyakinkan orangtua tante untuk mau menikahkan kami. Tante masih ingat kata-katanya dulu. Seorang laki-laki tidak membutuhkan wali untuk menikahi wanita pilihannya karena dia yang akan bertanggung jawab pada setiap keputusannya. Saya berjanji selamanya Raisa akan menjadi tanggung jawab saya, saya akan memperlakukannya dengan baik dan membuatnya bangga bersuamikan saya. Saya membutuhkan restu dari bapak sebagai wali Raisa, setelahnya saya yang akan menanggung semuanya." Tante Raisa tersenyum mengingat kata-kata suaminya walaupun matanya berkaca-kaca.


"Orangtua tante akhirnya merestui kami karena melihat kesungguhan mas Rendra. Setelah menikah mas Rendra membawa tante keluar negeri, mas Rendra mengejar beasiswa dan juga bekerja. Karena kecerdasannya mas Rendra diajak oleh dosennya mengerjakan berbagai proyek. Alhamdulillah kehidupan kami bahagia, tidak kurang suatu apapun walaupun tidak juga berlebih. Mas Rendra selalu mengirimkan foto-foto kami pada orangtuanya dan mengirimkan beberapa barang yang kami beli di sana. Memang bukan barang-barang mahal tapi itu menandakan walaupun pilihan kami berbeda dengan orangtua, kami selalu mengingat dan merindukan mereka."


Mama Raisa berhenti bercerita, tangannya meraih jus jeruk di depannya dan meminumnya.

__ADS_1


"Hingga suatu ketika kami pulang ke tanah air menggendong Reffan yang masih berusia satu tahun. Tante tahu kedua orangtua mas Rendra belum bisa menerima tante tetapi dia memandang sayang pada Reffan yang menggemaskan. Orangtua mas Rendra hendak menggendong Reffan tapi mas Rendra menghalanginya. Tolong terima Raisa sebagai menantu di rumah ini, Raisa adalah surganya Reffan cucu mama dan papa."


__ADS_2