Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Rumah Sakit 2


__ADS_3

Safira terbangun setelah tidur yang cukup lama. Tubuhnya terasa sakit membuatnya malas untuk bergerak. Namun saat dia menyadari ada dimana, dia segera terbangun dan terduduk.


“Jangan bangun mendadak begitu, tidak baik, bangunlah pelan-pelan tapi sebaiknya kamu berbaring saja dan istirahat.”


Safira melihat ke arah Reffan, yang dilihat ternyata sedang sibuk menatap layar laptopnya. Safira melepas pandangannya menyusuri kamar yang ditempatinya berusaha mencari petunjuk jam. Pandangannya berhenti setelah menemukan jam dinding di samping kirinya, “Sudah hampir setengah dua aku belum solat dhuhur.” Gumam Safira lirih. Safirapun menurunkan kakinya, baru saja kakinya menyentuh lantai,


“Mau kemana?” suara Reffan sudah menghentikannya.


“Ke kamar mandi.” Jawab Safira singkat.


“Tunggu, biar aku panggil perawat membantumu.”


“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Jawaban yang mungkin disesalinya tapi Safira juga sangat malu jika harus dibantu seorang perawat di kamar mandi sekalipun perawat perempuan.


“Biar aku bantu.” Reffan sudah berdiri di depan sofa.


“Jangan mimpi!” Safira dengan cepat masuk ke kamar mandi yang sudah dekat dan menutup pintunya dengan keras, mungkin lebih tepatnya membanting pintu.


Reffan tertawa melihat kelakuan Safira yang menggemaskan, entahlah sepertinya Reffan mempunyai hobi baru, dia suka sekali membuat wajah Safira merona, tentu saja dia tidak benar-benar ingin membantu Safira di kamar mandi, Reffan hanya suka menggodanya.


Sementara di kamar mandi, Safira berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak tak karuan, di sentuhnya dadanya menghadap cermin, air matanya seketika menetes tak diundang. Ada perasaan aneh yang menjalar seketika menyebar melalui pembuluh darahnya, jantungnya memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh mengalirkan rasa yang sulit diterjemahkan oleh otaknya.


Dua puluh menit Safira berada di dalam kamar mandi menumpahkan air mata yang tidak bisa dia perlihatkan pada orang yang tiba-tiba mendominasi kehidupannya. Air mata kesal, bingung tapi juga setitik bahagia dan air mata takut... ya Safira takut jatuh cinta, jatuh cinta pada pria pemaksa yang tidak menerima kalimat penolakan, pria yang membuatnya menjadi lemah dan kehilangan kekuatannya. Karena yang dirasakannya pada Reffan jelas berbeda dengan yang dirasakannya pada Bagas atau pria lain. Perasaannya tidak pernah sekacau ini saat ada Bagas di dekatnya. Air matanya bercampur air dari kran yang mengucur deras menghujani kedua telapak tangannya.


“Safira, kamu baik-baik saja?” ada perasaan kuatir menyelinap dalam dada Reffan karena Safira terlalu lama berada di kamar mandi dan suara air kran yang terus mengalir padahal Reffan yakin saat ini belum waktunya mandi. Reffan tidak tahu air yang dibiarkan Safira mengucur adalah caranya menutupi suara isak tangisnya.


Pintu akan terbuka Reffan memundurkan langkahnya menjauhi pintu meneliti tubuh Safira mencari apa yang terjadi di dalam kamar mandi, apakah Safira jatuh atau “Apakah dia baru saja menangis, kenapa menangis? Apakah aku keterlaluan padanya? Apa dia membenciku?” Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Reffan melihat mata Safira yang memerah juga hidung mancungnya. Diperhatikannya setiap pergerakan Safira.


“Kau tidak perlu memaksakan diri untuk solat sambil berdiri Safira, bukankah Allah memberi keringanan saat kita sakit. Solatlah di tempat tidur atau sofa sambil duduk.” Kata-kata Reffan terucap setelah dilihatnya Safira kesulitan menggerakkan kaki memakai bawahan mukena dan menggelar sajadahnya.


Safira tahu ucapan Reffan benar, diapun duduk di tempat tidurnya menghadap ke arah yang ditunjuk sebuah tulisan di atap.


“Makanlah Safira lalu minum obatmu. Sekarang pasti terasa sakitkan?” ujar Reffan setelah Safira menurunkan tangannya yang menengadah mengakhiri doanya setelah solat.

__ADS_1


Yang dikatakan Reffan memang benar, saat ini Safira merasakan hampir sekujur tubuhnya terasa sakit. Obat pereda nyeri yang diminumnya tadi pasti sudah menurun efeknya karena sudah waktunya dia minum obat lagi. Tapi rasa kesal masih menyelimuti wajah Safira, dia berfikir untuk protes tidak makan agar Reffan tahu seberapa kesalnya dia.


“Jangan berfikir untuk mogok makan Safira, aku lebih suka memaksamu membuka mulut jika kau berfikir begitu.”


Bola mata Safira melebar menatap tajam pria yang berdiri di sampingnya.


“Kau tidak percaya aku bisa melakukannya?” tangan kirinya sudah meraih piring di nakas, Reffan mendekatkan tubuhnya di samping Safira. Sementara wajah Safira sudah memerah menerka apa yang akan dilakukan Reffan.


“Aku bisa makan sendiri.” Tangan kanannya merebut piring yang dipegang Reffan. “Apa anda menyuruh koki hotel pindah kemari?”


“Apa-apaan ini, bukankah ini lebih mirip makanan hotel, bagaimana bisa dia melakukannya.” cuit Safira di dalam hatinya.


“Jika kau mau begitu akan kulakukan.” Reffan menimpali dengan suara datarnya.


“Hah, siapa yang berfikir begitu.” Safira terkejut dengan pernyataan Reffan, hingga bola matanya hampir melotot. “Tidak mengertikah dia itu hanya kalimat sindiran.” Safira mengeluh di dalam hatinya.


“Kenapa anda tidak pulang saja?” Safira berharap Reffan mengerti jika dia mengusirnya.


“Apa? Anda akan terus di sini? “ Safira yang tangan kanannya sudah memegang sendok menjatuhkan lagi. “Tidak mungkin, bagaimana aku bisa sekamar dengan Reffan, ah tidaaak.” hati Safira sudah panik mendengar jawaban Reffan.


“Bukankah ini rumah sakit, anda tidak perlu menjaga saya karena sudah ada dokter dan perawat di sini.” Safira mencoba bernegosiasi dengan Reffan.


“Habiskan makananmu!” Reffan sudah melangkah mendekati sofa dan menghempaskan tubuhnya terduduk di sana.


Safira mulai memakan makanannya, makanan yang hanya melewati indra perasa di lidahnya karena pikirannya sedang mencari celah agar Reffan tidak terus ada di kamar bersamanya.


“Apa-apaan ini, bagaimana mungkin aku bisa bermalam dalam satu ruangan dengan seorang pria. Ya Allah, aku harus bagaimana. Ah, bagaimana ini?" Pekik Safira di dalam hatinya.


Benar saja makanan lezat rasa bintang lima hanya sekedar lewat di mulutnya. Hingga dia tak menyadari sendoknya sudah menyuapkan angin ke mulutnya. “Ah, bagaimana ini.”


Safira meletakkan piringnya kemudian meminum obat yang telah disiapkan untuknya. Diliriknya wajah Reffan yang masih memandang laptop di depannya.


“Ehm.. Pak Reffan, saya akan baik-baik saja di sini dan saya juga tidak bisa pergi dari sini. Bukankah sebaiknya anda pulang, ini juga sudah sore, anda juga butuh istirahatkan.”

__ADS_1


“Kau mengusirku?” Reffan melirik ke arah Safira sebentar kemudian asyik memandangi laptopnya lagi.


“Anda juga butuh istirahatkan!” Safira belum mau menyerah


“Aku bisa beristirahat di sini.”


“Ah, Pak Reffan, tidak baik laki-laki dan perempuan berada dalam satu ruangan.” Akhirnya Safira mengeluarkan kegelisahannya.


“Memangnya kenapa, kita di rumah sakitkan, aku tak mungkin berbuat macam-macam denganmu di sini.”


Mendengar pernyatan Reffan, wajah Safira mulai memerah, “Lalu yang tadi apa, walaupun hanya ancaman bukankah bisa disebut macam-macam.” Safira menggerutu di dalam hati.


“Tetap tak boleh Pak, hanya ada kita berdua dalam ruangan ini. Saya harap anda bisa mengerti”


“Kenapa memintaku mengerti keinginanmu, kau bahkan tidak mau mencoba untuk mengerti keinginanku.”


“Maksudnya?”


“Apa kau pura-pura lupa Safira, dengan mudahnya kau menolak lamaranku padamu. Kau bahkan membuat kesimpulanmu sendiri.”


“Saya minta maaf.......” belum selesai ucapannya sudah dipotong Reffan.


“Apapun yang kamu katakan dan lakukan, saya akan tetap di sini.” Menutup laptopnya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Reffan keluar di wajahnya tersisa tetesan air seperti orang yang baru selesai berwudhu.


“Bisakah saya meminta ponsel saya, saya ingin mengabari orangtua saya. Mereka pasti sangat kuatir, saya hanya ingin mengatakan saya baik-baik saja.”


“Jangan pikirkan itu, aku sudah mengurusnya.”


“Ah, memangnya apa yang dia lakukan.” Safira bertanya di dalam hati. Setelah mengatakan jawaban menggantung yang menyisakan tanda tanya besar di benak Safira, Reffan menuju ke arah pintu dan menutup pintu dari luar.


“Lihat seenaknya sendiri bukan. Bagaimana bisa ini terjadi padaku? Sampai kapan aku di sini?” Safira berbicara sendiri, suaranya yang kesal sudah memenuhi ruang perawatan yang hanya ada dia sendirian di sana.

__ADS_1


__ADS_2