Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Saya Hanya Bayangannya


__ADS_3

Setiap wajah terlihat hanyut dalam aktivitasnya di dalam sebuah gedung yang menjulang gagah di tengah ibukota. Tak terkecuali Reffan Satriya Bagaskara, CEO muda pemilik penginapan yang tersebar di nusantara.


Wajah tampan yang terlihat dingin itu sekarang sudah berada di dalam kantornya di Jakarta. Wajahnya terlihat berpikir keras, sebentar lagi rapat akan dimulai dan sebelum rapat dia ingin sudah mempunyai rumusan yang akan diputuskan.


Banyak hal berubah sekarang. Kini dirinya tak lagi sendiri yang terbiasa pergi kemana saja sesuka hati. Ada bagian dari dirinya yang tertinggal jika dia pergi. Apalagi jika berhari-hari, berminggu-minggu atau bahkan mencapai bilangan bulan. Resah, saat tak melihat secara langsung wajah sang kekasih.


Tapi tempat tujuannya saat ini berbeda. Ini seperti membuka tempat baru yang memang belum ada satu penginapanpun di sana. Kacantikan pantai membuatnya yakin untuk mendirikan penginapan pertama tak jauh dari pantai. Ini adalah proyek kerjasama yang menggandeng pengusaha di wilayah tersebut.


"Maaf pak, bapak sudah ditunggu di ruangan rapat." Suara Bayu menyadarkan Reffan, membawanya kembali yang sebelumnya terombang ambing memikirkan Safira.


"Ya." Reffan menarik nafas dalam, kemudian berdiri meninggalkan ruangannya ke tempat dilaksanakannya rapat.


"Kita lihat, apa mungkin menyiapkan tempat yang layak untukmu." Batin Reffan yang terus terbayang wajah Safira.


.


Reffan masih menyendiri di ruangannya seusai rapat tadi. Dia masih memikirkan istrinya jika mengajaknya. Apa Safira akan baik-baik saja nanti. Sebenarnya kekuatiran Reffan berlebihan juga. Reffan mungkin lupa Safira adalah gadis mandiri dulunya. Entah Reffan lupa atau terlalu kuatir membuatnya galau sendiri.


Reffan meraih ponselnya ingin tahu apa yang sedang dilakukan istrinya sekarang. Ternyata ada pesan dari istrinya yang belum dibukanya saat rapat tadi.


Mas aku keluar ke supermarket ya sama Hasna. Muaaacccchhh [emoticon cium]


Reffan tersenyum, diapun menekan tanda yang menghubungkan panggilan videocall ke istrinya.


Terlihat Safira tersenyum di layar ponsel. Jilbab biru navi yang digunakannya membuat wajah Safira semakin bersinar.


S : Assalamu'alaikum mas


R : Wa'alaikumsalam sayang. Cari apa?


S : Bahan-bahan untuk membuat kue mas.


R : Mau bikin kue apa?


S : Ada deh. Baru mau belajar bikin mas. Nanti kalau sudah berhasil baru mas boleh incip. Mas suka kue apa?


R : Yang manis


S : Kue kan rata-rata memang manis mas


R : Yang ada segernya


S : Mas suka kue yang ada buahnya ya


R : Satu lagi


S : Apa mas?


R : Yang gemesin


S : Kue apa itu mas? Kue ulang tahun anak-anak (Wajah Safira menunjukkan dia sedang berpikir)


R : Kamu kuenya

__ADS_1


S : Ih...


Safira sudah cemberut sementara Reffan tertawa melihat ekspresi istrinya. Dan Hasna yang baru saja datang membawa buah anggur yang telah ditimbang hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati.


"Safira kamu di sini?"


Suara yang membuat jantung Safira hampir berhenti. Bukan karena perasaan apa-apa tapi karena dia takut Reffan mendengar suara laki-laki yang menyapanya.


Safira hendak mematikan tombol suara saat dilihat wajah Reffan yang tadi tertawa langsung berubah menatapnya tajam.


"Awas jika kamu mematikan suara atau panggilan. Aku akan datang ke sana dan menghukummu." Suara Reffan pelan namun terdengar jelas karena Safira menggenggam ponsel di dekat wajahnya. Safira menelan ludah.


"Kamu di sini?" Laki-laki yang sudah berada di depannya bertanya lagi karena yang ditanya hanya diam saja.


"Eh iya Pak... Pak Damar." Safira gugup karena takut Reffan salah paham.


"Apa kabar Safira?" Sapa Damar ramah


"Alhamdulillah baik pak." Safira menjawab sesingkat mungkin.


"Suamimu tidak ikut?"


"Saya dengan adek saya."


Damar tersenyum ke arah Hasna, Hasna hanya tersenyum tipis.


Safira sudah berdoa di dalam hati. Semoga Damar tidak bicara macam-macam karena dia juga tidak berani mematikan sambungan telepon dari Reffan.


Damar tersenyum saat melihat wajah Safira yang jelas terlihat gelisah.


"Tunggu. Aku ingin minta maaf." Damar berdiri tepat di hadapan Safira.


Safira memandang sekilas wajah Damar kemudian menundukkan pandangannya.


"Maaf atas semua sikapku sebelumnya maaf juga aku menye...." Damar ragu untuk meneruskan kalimatnya. Dia berpikir lagi apakah perlu memberitahu Safira dia menyentuhnya saat Safira pingsan.


Safira mengernyitkan dahi berpikir apa yang akan dikatakan Damar. Bukan hanya Safira, Reffan yang berada di seberangpun memikirkan perkataan Damar yang terputus.


"Ah, aku minta maaf atas semua sikapmu, semua yang aku lakukan padamu." Damar meralat ucapannya setelah memutuskan tidak memberitahu Safira jika dia pernah menyentuhnya.


"Sama-sama pak. Saya juga minta maaf atas kesalahan saya." Safira berkata dengan menunduk.


"Kita bisa berteman kan? Ehm maksudku setidaknya saling menyapa saat bertemu." Damar tersenyum melirik Hasna yang sejak tadi menatapnya tajam.


"Iya pak." Safira menjawab.


"Adekmu masih kuliah? Mirip denganmu ya?" Damar membalas tatapan Hasna.


"Adek saya masih kecil pak. Maaf saya permisi." Safira langsung menarik tangan Hasna menuju kasir meninggalkan Damar yang masih memandang punggung keduanya dengan senyum.


Saat mengantri di kasir Safira baru ingat panggilan Reffan masih menyala.


S : Mas.. (Safira menyapa Reffan kembali)

__ADS_1


R : Hmm... dua hari lagi aku menjemputmu.


S : Tidak jadi akhir pekan mas?


R : Tidak. Rencana keberangkatan dimajukan. Kita ke Surabaya dulu.


S : Iya mas.


R : Hati-hati pulangnya. Jangan mampir kemana-mana!


S : Iya mas.


R : Assalamu'alaikum.


S : Wa'alaikumsalam.


Padahal sebelumnya Reffan berniat meninggalkan Safira di Yogyakarta dulu, Reffan akan mengunjunginya saat lenggang. Tapi niatan itu langsung terbang saat mendengar Safira berbicara dengan seorang laki-laki terlebih pria itu adalah Damar yang tinggal di Yogyakarta.


.


Dua hari kemudian Reffan benar-benar menjemput Safira. Dia meminta maaf dan menjelaskan kepada keluarga Safira karena menjemputnya lebih awal.


"Saya lebih tenang jika Safira ikut saya yah." Ucap Reffan kepada ayah Salman.


"Iya ayah mengerti. Safira juga sepertinya akan lebih nyaman di dekatmu sekarang." Ucap ayah Salman bijaksana.


"Terima kasih yah."


.


Reffan, Bayu, Safira dan Tama pergi bersama dalam satu penerbangan. Tama adalah salah satu staff kepercayaan Reffan yang saat ini menjadi penanggung jawab proyek resort.


Mereka berempat berangkat dari Surabaya. Setelah perjalanan udara, mereka masih harus melakukan perjalanan yang cukup jauh. Matahari sudah condong ke barat saat mereka tiba di tujuan.


Suasana pantai membuat rasa lelah berkurang. Perjalanan panjang seakan tak sia-sia karena lukisan Sang Pencipta Alam Semesta langsung menyambut mereka.


"Bagaimana menurutmu tempat ini sayang?" Tanya Reffan sambil menggenggam erat tangan Safira.


"Indah sekali mas. Ini pantai terindah yang pernah kukunjungi." Safira memandang takjub deburan ombak yang saling bekejaran.


"Memangnya pernah ke pantai sebelumnya?"


"Pernah mas sekali di Yogya."


"Pantas saja." Reffan tersenyum mencubit hidung Safira.


Dari kejauhan terlihat serombongan orang mendekat ke arah mereka. Pandangan Safira langsung mengarah pada yang paling mencolok dari kejauhan. Seorang wanita seksi yang berjalan dengan senyum merekah memegang kalung untaian bunga.


"Selamat datang pak Reffan. Terimakasih banyak atas kesempatan yang pak Reffan berikan untuk kerjasama kita ini." Seorang laki-laki yang umurnya tak jauh dari Reffan menjabat tangan Reffan. Netra laki-laki itu kemudian melirik memberikan kode ke wanita yang masih terus tersenyum menatap Reffan.


"Selamat datang pak Reffan." Wanita itu maju semakin dekat dengan Reffan.


Tangan Reffan menarik lengan Safira yang sedari tadi dadanya sudah kembang kempis.

__ADS_1


"Kalung bunganya lebih cocok untuk atasan saya ini. Saya hanya bayangannya." Ucap Reffan memandang netra istrinya yang langsung kebingungan.


__ADS_2