Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Saya Bisa Belikan Untukmu


__ADS_3

Perubahan sikap Safira dapat dirasakan oleh Reffan walaupun Safira berusaha menutupinya dengan baik. Sekuatnya keinginan Safira mengubur bayangan cake dari otaknya tapi bayangan itu malah beterbangan tak beraturan di kepalanya. Safira takut menghadapi hari-hari ke depannya, gelisah, kegelisahan inilah yang bisa dirasakan oleh Reffan.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan." Reffan mendekat ke ranjang melihat pandangan kosong Safira saat ditinggalnya ke kamar mandi.


Tentu saja Safira sangat terkejut tiba-tiba Reffan sudah ada di dekatnya.


"Enggak kok mas. Maaf aku gak fokus aja." Safira tersenyum menerima uluran tangan dari suaminya.


Reffan kemudian duduk di samping istrinya, kemudian menariknya tangan Safira sehingga Safira terduduk di pangkuannya. Dipeluknya pinggang istrinya dan dihirupnya aroma yang disukainya dari leher sang istri.


"Aku cemburu jika ada yang kau pikirkan selain aku." Bisiknya di telinga Safira kemudian dikecupnya leher mulus di depannya.


"Aku cemburu jika ada yang memenuhi benakmu selain aku." Bisiknya lagi kali ini digigitnya telinga Safira.


"Auw mas." Safira terlonjak, tapi tubuhnya didekap erat suaminya sehingga dia tak bisa bergerak.


"Mas kenapa suka menggigitku sih." Safira manyun dengan tubuh yang meronta tapi tak bisa melakukan gerakan yang berarti.


"Salah sendiri gemesin, minta dimakan." Reffan menjawab dengan ringan. "Manyun lagi aku gigit lagi."


Seketika Safira menarik bibirnya yang manyun membentuk senyuman.


"Ada yang kamu pikirkan?" Tanya Reffan, tangan kanannya meraih dagu Safira memakunya menghadap ke arahnya.


"Besok aku sendirian lagi." Ucap Safira sendu.


Reffan tersenyum.


"Besok aku akan terbang ke Pontianak, kemudian ke Singkawang untuk meninjau lokasi." Ucap Reffan. "Setelah dari sana aku akan kemari dulu." Ujar Reffan yang terus mengawasi wajah istrinya.


"Terimakasih mas. Berapa hari mas di sana?"

__ADS_1


"Empat harian." Jawab Reffan.


"Lama juga." Reaksi Safira sudah manyun lagi.


Reffan tersenyum. "Mau ikut?" Tanya Reffan.


Safira semakin manyun. Reffan menarik tengkuk istrinya, menyatukan bibir mereka. Lama, tangannya yang bebas sudah bergerilya mencari aset-aset berharga milik sang istri. Safira memekik tapi tertahan bibir mereka yang menyatu. Reffan gemas sendiri karena tangan Safira bereaksi menghalangi tangannya yang sedang bergerilya. Diangkatnya tubuh istrinya dan dijatuhkannya ke kasur empuk yang sudah menanti mereka. Tubuhnya langsung berada di atas istrinya. Tangan kirinya mengunci tangan istrinya di atas, dan tangan kanannya bergerak lebih bebas menikmati setiap lekuk tubuh istrinya. Setiap Safira menjerit karena ulahnya, dia akan membungkam bibir istrinya dengan bibirnya. Peperangan gerilya terus berlanjut tak peduli malam yang semakin larut. Keduanya mengisi stok penawar rindu tapi nyatanya justru membuat rindu semakin tak terkendali.


.


Meski raga masih ingin berdekatan, tapi keadaan membuat mereka tetap harus berjauhan sementara waktu. Reffan harus mengurusi bisnisnya yang berkembang ke beberapa kota di Indonesia sementara Safira masih harus bekerja seperti biasanya.


Safira hampir menangis melihat mobil Reffan yang mengantarnya menjauh dari lobbi kantornya dan sekarang bahkan bayangannya sudah tak terlihat lagi.


"Ah, kenapa aku cengeng sekali sih." Safira berkedip-kedip berusaha menghalau cairan yang siap meluncur dari sudut matanya.


Diaturnya nafasnya, setelah dirasa sudah tenang Safira masuk ke dalam kantornya berjalan ke arah lift. Langkahnya melambat saat ada seseorang yang sedang menunggu lift terbuka. Namun terlambat, orang itu sudah memandang dengan senyum yang terkembang ke arah Safira.


"Ayo Safira." Orang di depannya sudah masuk ke dalam lift dan menahan dengan tangannya agar lift tetap terbuka.


"Silakan duluan saja pak. Saya akan mengambil barang saya yang tertinggal." Safira dengan cepat mencari alasan.


"Tertinggal dimana? bukannya hari ini kamu tidak bawa mobil?" Orang itu tersenyum, senyum yang sangat menjengkelkan bagi Safira.


"Eh Safira, ayo masuk. Pak Fairuz, selamat pagi pak." Bagas datang menyelamatkan Safira dari mencari-cari alasan.


"Pak Bagas dan pak Fairuz silakan saja duluan. Saya masih ada keperluan di bawah." Safira masih tetap tak ingin satu lift dengan pak Fairuz.


"Baiklah." Bagas bersegera masuk ke dalam lift dan menutupnya.


"Pak Fairuz pasti melihatku diantar mas Reffan tadi. Tapi dia tak melihat karyawan mas Reffan membawa mobilku kemari tadi." Safira keluar dari lobbi menuju mobilnya demi mengambil barang di dalam mobil. Tadi Safira meninggalkannya tapi kemudian menjadikannya alasan sebagai barang tertinggal. Safira meraih laci mobil di depannya mengambil kacamata yang biasa digunakannya di depan laptop, kacamata anti blue ray dan UV.

__ADS_1


Safira kembali ke dalam, masuk lift dan menuju meja kerjanya. Disambut Ira sahabatnya dan juga Bagas yang tersenyum padanya, namun bukan lagi senyum tebar pesona, Bagas tersenyum untuk memberikan kekuatan pada Safira.


"Nanti siang ada rapat di luar sekalian makan siang." Ira mendekati Safira memberikan informasi yang baru saja di beritahukan sekretaris Pak Fairuz. "Asik lah bos baru kita, suka ngajakin makan."


Safira hanya tersenyum tak berkomentar satu katapun. Kemudian membuka laptop menyalakannya, memakai kacamata lalu tangannya membuka dokumen yang berada di pojok meja.


Ira memandang Bagas, seolah bertanya ada apa dengan Safira. Bagas yang mendapat kode lirikan mata Ira mengangkat bahu kemudian meninggalkan meja Safira dan kembali ke mejanya. Irapun kembali ke meja tapi matanya masih melirik wajah Safira yang dingin tanpa ekspresi.


.


"Ra..." Bagas berteriak saat Safira dan Ira akan masuk lift.


Safira dan Ira menoleh bersamaan.


"Berangkat bareng ya?" Tanya Bagas setelah berada di depan Ira dan Safira.


Ira melirik ke arah Safira.


"Pak Bagas yang nyetir ya?" Safira memberikan kunci mobilnya.


"Siap bos." Bagas berlagak memberikan hormat. Safirapun tersenyum melihat gaya Bagas.


Rapat diadakan di sebuah restoran di dalam mall yang memadukan konsep indoor dan outdoor. Rapat berjalan santai setelah makan siang, wajah Safira terlihat datar tanpa ekspresi padahal biasanya dia adalah orang yang ramah pada teman-temannya. Sampai rapat berakhir, Safira hanya menjawab jika ditanya, memberi pendapat jika diminta. Ira terheran-heran melihat perubahan Safira berkali-kali dia menoleh ke Bagas tapi Bagas tetap hanya mengangkat bahu.


.


Menjelang sore rapat berakhir. Safira, Ira dan Bagas hendak pulang bersama. Saat menuruni eskalator, Ira melihat ke arah pameran apartemen.


"Eh, kita ke sana bentar yuk." Ira langsung menarik lengan Safira saat kakinya sudah menginjak lantai.


Miniatur apartemen terlihat cantik menampakkan 4 bangunan menjulang tinggi dengan kolam renang di tengahnya. Ira begitu antusias bertanya tentang aparteman kepada seorang wanita yang bertugas di sana. Sementara Safira hanya mengitari miniatur apartemen memperhatikan detail bangunan yang menjulang tinggi.

__ADS_1


"Kamu mau? Saya bisa membelikan untukmu. Asalkan..., kamu pasti tahu maksud saya." Seseorang berbicara tepat di belakangnya, membuat kakinya terasa hilang pijakan, jantungnya terasa berhenti sesaat. Keringat dingin berdesakan keluar dari pori-pori kulitnya. Diremasnya tali tas yang menggantung di pundaknya.


__ADS_2