
Safira duduk di bangku stasiun, dia sudah memutuskan akan pergi ke kota Batu. Safira ingin menyendiri, dia tak mungkin pulang ke Yogyakarta karena tak ingin orangtuanya bersedih. Matanya masih berkaca-kaca mengingat foto-foto yang dikirimkan ke nomornya.
Netra sembabnya terus menatap hamparan di luar jendela. Kini Safira sudah duduk di dalam kursi kereta menuju kota Malang. Setelah tiba di Malang, Safira akan melanjutkan perjalanannya dengan taksi on line ke cottage yang sudah dipesannya dalam perjalanan.
Ada bimbang di hati Safira dengan apa yang dilakukannya sekarang. Lari dari masalah. Pikiran dan hatinya berceceran saat melihat foto-foto Reffan bersentuhan dengan wanita lain. Dia tak ingin melihat wajah Reffan itulah yang Safira rasakan. Tapi pergi, apakah ini jalan yang tepat. Safira merasa bersalah namun keinginan untuk menyendiri begitu besar dalam hatinya.
Sementara di sebuah kamar hotel yang tak jauh dari hotel milik Reffan. Seorang wanita berdiri menghadap ke jendela.
"Sekarang waktunya kamu menangis Safira. Kamu bodoh karena memilih pergi, aku yakin Reffan tak mungkin menyusulmu. Harga dirinya sudah kau cabik saat kau pergi begitu saja. Bagaimana rasanya bahagia sejenak kemudian kehilangan selamanya. Safira... itu harga yang harus kau bayar karena berani bersaing denganku."
Di dalam kamarnya Reffan menatap geram melihat barang-barang milik Safira sudah tidak ada.
"Apa yang kau pikirkan Safira? Kau berani pergi tanpa izin dariku."
Reffan meraih ponsel dari sakunya.
"Bayu tunggu saya di lobby."
Reffan langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa lobby. Bayupun duduk mengikuti bosnya.
"Kirim orang mengikutinya. Laporkan padaku sedetail-detailnya."
"Siapa yang bapak maksud?" Bayu menerima ponsel yang disodorkan padanya.
"Safira."
"Bukankah tadi..." Bayu terkejut dengan ucapan Reffan.
"Laporkan semua tentang Safira. Kemana saja dia, bersama siapa, apapun itu semua laporkan ke saya."
"Ini ibu Safira akan kemana pak?"
"Mana saya tahu."
"Maksud Pak Reffan, Ibu Safira pergi tanpa memberi tahu bapak?"
"Kecilkan suaramu Bayu. Kamu mau semua orang di sini mendengarnya hah?"
"Maaf Pak. Tapi kenapa Bu Safira kabur pak?"
"Itulah kenapa kamu saya suruh mengirim orang untuk mengawasi Safira!"
Safira baru saja masuk ke dalam cottage. Perjalanannya hampir memakan waktu tiga jam. Dia lelah, air matanya tak kunjung mengering. Setiap mengingat foto itu matanya memanas begitu juga dengan dadanya. Safira masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan berwudhu. Setelahnya dia mengadu pada penciptanya, meminta ditunjukkan jalan agar tidak salah langkah.
__ADS_1
Hari sudah siang namun Safira melewatkan waktu makan siang begitu saja. Dia lebih memilih duduk bersandar di dekat jendela. Sejak tadi netranya bergantian memandang jendela dan ponselnya. Ponsel Safira dalam keadaan menyala namun tak ada satupun pesan atau panggilan yang masuk. Safira sengaja tetap menyalakan ponselnya jika keluarganya menghubunginya, sebenarnya dia berharap Reffan menghubunginya tapi ini sudah hampir sore dan ponselnya tetap tak memberikan tanda-tanda.
Di kamarnya Reffan duduk termenung memeluk bantal yang biasa digunakan Safira, menghirup aroma tubuh Safira yang masih tertinggal di sana. Reffan adalah pribadi yang keras, bukan sifatnya untuk mengalah atau memohon. Meskipun hatinya merindukan Safira namun dia merasa harga dirinya terkoyak melihat Safira pergi tanpa mengatakan apapun.
"Apapun alasanmu Safira, aku tidak akan dengan mudah memaafkanmu." Ucap Reffan meremas bantal didekapannya.
Safira terbangun karena perutnya terasa perih. Bukan hanya waktu makan siang yang dilewatkannya. Sarapan bersama Reffan adalah terakhir dia menyentuh makanan kemarin. Waktu masih menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Safira meminum hampir satu botol air mineral yang ada di meja. Diperiksanya ponselnya, nihil, tak ada satupun pesan atau panggilan dari suaminya. Safira memeluk tubuhnya sendiri, pikiran buruk beterbangan di benaknya.
"Apakah wanita di foto itu adalah cintamu sebelum aku mas? Kau sudah melupakan aku karena bertemu dengannya." Airmatanya kembali deras, memikirkan nasib pernikahannya.
Hari esok tak pernah ada yang tahu
Kemarin pagi kau masih menggenggam tanganku
Bahkan aroma tubuhmu masih memelukku
Tapi hari ini aku menangis jauh darimu
Hari esok masihkan ada cerita tentang kau dan aku
Di waktu yang sama langit yang sama hanya koordinat tempat yang berbeda. Reffanpun sudah bangun menatap ponsel di depannya. Harapan Safira akan menghubungi dan meminta maaf padanya sia-sia. Reffan berfikir apapun alasan Safira pergi adalah salah. Egonya sebagai seorang laki-laki begitu tinggi walaupun sebenarnya hatinya begitu ingin menghubungi wanitanya.
Ting! Sebuah pesan masuk ke ponsel Reffan, dia segera membuka.
Reffan terhenyak. Walau rasa marahnya masih mendominasi terselip juga kekuatiran di dalamnya.
"Kamu kenapa Safira bahkan kamu tak makan. Kenapa kamu tak menganggap aku ada. Bukankah suami istri selayaknya saling terbuka. Apa yang membuatmu begini?"
Udara dingin khas pegunungan menemani Safira sarapan duduk sendirian di meja. Seharusnya Safira sangat kelaparan saat ini tapi ternyata kegundahannya hanya membuat lambungnya mau memakan sepasang sandwich dan susu hangat. Pelan sekali Safira memakannya. Seorang laki-laki tak jauh di depannya berpura-pura melihat ponsel padahal dia sedang merekam aktivitas Safira dan dikirimkan ke bosnya.
Reffan mengamati video yang baru saja dikirimkan kepadanya. Rindu sekali dirinya pada istrinya namun dia masih menunggu Safira menghubunginya.
Reffan berada di ruang kerjanya bersama Bayu. Dia lebih memilih bekerja daripada berada di kamarnya sendirian. Raga Reffan memang di ruangan kerjanya tapi pikirannya fokus pada Safira.
"Pak Reffan, maafkan saya jika saya ikut campur. Apakah sebaiknya saya menghubungi Bu Safira agar semuanya menjadi jelas?" Ucap Bayu yang sedari tadi sudah menahan kesabarannya karena Reffan hanya merenung di depan laptopnya tak kunjung bersuara.
Reffan menatap tajam Bayu. Dari pandangannya dia jelas tak suka dengan apa yang diucapkan asistennya itu. Bayu tahu betul sifat Reffan yang pantang mengalah, tapi dia juga penasaran dengan yang terjadi apalagi setelah melihat CCTV saat Safira meninggalkan hotel, Bayu melihat wajah sembab Safira dengan langkah yang cepat. Pasti ada yang terjadi sebelum kepergian Safira.
"Jangan mengatakannya lagi Bayu. Safira itu istriku bukan istrimu." ucap Reffan tegas.
Pintu diketuk pelan.
"Masuk." Ujar Reffan datar.
__ADS_1
"Maaf Pak saya sudah mengatakan Pak Reffan tidak menerima tamu tapi dia terus memaksa ber...." Ucapan sekretaris Reffan terpotong karena didorong oleh seorang wanita cantik.
"Dia tak akan menolak kedatanganku." Ucap wanita itu percaya diri berjalan meliuk-liuk memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Reffan menatap tajam sekretarisnya. Bayu melihat wajah Reffan yang mulai emosi. Dia segera berdiri dan menyuruh sekretaris yang menunduk takut itu pergi.
"Maaf Nona Claudia, Pak Reffan tidak menerima tamu saat ini. Sebaiknya anda pergi sekarang." Tangan Bayu sudah mempersilahkan Claudia pergi, tapi Claudia malah tersenyum menggoda mendekati Reffan.
"Dia membutuhkanku Bayu. Kamu keluarlah." Claudia tak tahu malu mengusir Bayu.
"Hanya Pak Reffan yang bisa memerintah saya Nona." Sekarang gantian Bayu yang menahan emosi.
"Reffan suruhlah asistenmu itu keluar. Aku akan menemanimu di sini. Kau bisa berbicara apapun denganku, itu yang kau butuhkan sekarang."
Reffan melirik Bayu. Bukannya menyuruh Bayu pergi dia malah menyuruhnya mendekat.
"Urus serangga ini!" Ucapnya dingin.
Claudia yang merasa kata-kata itu untuknya mendadak lepas kendali.
"Reffan!" Claudia hampir saja melempar tas mahalnya ke arah Reffan jika Bayu tak duluan mengambilnya. "Sombong sekali kamu Reffan, kamu menganggapku serangga, di luar laki-laki sibuk mengantri mencari perhatianku tapi kamu memperlakukanku seperti sampah."
"Bayu kamu mau dengan Claudia?" ucap Reffan datar.
"Maaf tidak Pak." jawab Bayu cepat.
"Kau dengar. Asistenku saja cukup pintar dalam memilih."
"Asisten bodoh! Kamu memang buta Reffan. Apa kelebihan Safira dibandingkan aku. Aku lulusan luar negeri, cantik, modis, berkelas. Safira, kamu tidak malu dengan penampilannya yang kampungan itu. Dilihat dari sisi manapun aku lebih menarik darinya. Bahkan sekarang dia meninggalkanmu. Kamu pasti menyesalkan sudah menikahinya."
Reffan yang sedari tadi muak dengan perkataan Claudia mendadak mengendurkan tubuhnya bersandar di kursinya.
"Claudia Maharani.." Reffan mendongakkan kepalanya menatap wanita di sampingnya.
Claudia tersenyum mendengar namanya disebut oleh Reffan. Namun senyumnya memudar menyaksikan wajah Reffan yang menyorotkan kebencian, sorot matanya sungguh menakutkan.
"Apa yang kau lakukan hingga Safira pergi. Cepat katakan!" Reffan menggebrak mejanya membuat Claudia mundur ketakutan. "Kau bodoh Claudia, kau tahu Safira pergi maka itu pasti ulahmu. Kau tahu bahkan karyawanku tak ada satupun yang berani berbicara tentang Safira."
Claudia tergagap. "I iituu kkarena aku melihatnya pergi."
"Alasan bodoh. Apa kau membuntutinya atau mendadak menjadi satpam di hotelku."
"Reffan dengarkan aku." Claudia memberanikan diri mendekati Reffan hendak menyentuh tangannya.
Reffan menepisnya. "Bayu kau bebas melakukan apapun. Buat dia mengakuinya." Reffan menatap tajam Claudia lalu pergi melangkah menuju pintu ruangannya.
__ADS_1