Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Persiapan Resepsi


__ADS_3

"Minum dulu mas." Safira memberikan segelas air putih yang langsung diminum habis Reffan.


"Huh..." Reffan bersandar di kursi, lidahnya masih terasa panas kepedesan, peluh keringat pun menetes di dahinya.


Safira tersenyum juga karena tidak dapat menahannya.


"Sini kamu tanggung jawab." Reffan kembali menegakkan tubuhnya memandang wajah memukau sang istri yang tersenyum, tangannya memberikan isyarat pada istrinya untuk mendekat.


"Tanggung jawab kenapa, sambalnya tadi kan sudah kutaruh di pinggir?" Senyum di wajah Safira langsung lenyap.


"Cepat sini!" Wajah Reffan sangat serius membuat Safira tegang, diapun berdiri dan berjalan ke arah Reffan.


Melihat wajah istrinya yang tegang, Reffan tertawa dalam hati, "Siapa suruh tadi tersenyum melihat suami kepedesan." Batinnya.


"Maaf mas." Cicit Safira yang masih tegang.


"Cepat kasih yang manis-manis." Wajah Reffan masih serius.


"Ehm apa ya, aku gak punya permen mas. Aku bikinin minuman coklat ya mas?" Wajah Safira terlihat bingung.


Saat Safira sudah sangat dekat, Reffan menarik tangan Safira yang membuat istrinya jatuh terduduk di pangkuannya.


"Kelamaan! Ini aja yang sudah ada." Bibir mereka sudah menyatu, tangan Reffan memeluk tubuh dan kepala Safira membuat istrinya tak berkutik mendapatkan ciuman dadakan dari sang suami.


"Eh..." Safira berusaha lepas tapi sia-sia. Tenaga Safira selalu melemah jika bersama Reffan, membuat suaminya selalu mendominasi saat mereka bersama.


Setelah puas, Reffan menarik bibirnya melihat wajah istrinya yang sudah merona tak karuan. Reffanpun tersenyum karena wajah merona istrinya adalah kesukaannya.


"Manisnya enak. Ambil sambal lagi, sudah ada penawarnya sekarang!" Perintah Reffan yang ingin menggoda istrinya.


"Jangan deh mas, mas gak usah makan dengan sambal." Safira menimpali.


"Kenapa?" Tanya Reffan tersenyum.


Safira hanya manyun tidak menjawab pertanyaan suaminya.


"Kode ya? mau lagi." Senyum penuh makna Reffan sudah tersungging manis.


"Eh, bukan..." Safira panik tapi langsung ditutup mulutnya oleh bibir Reffan. Tangan Reffan sudah menjelajah kemana-mana.


"Mmmmas." Sudah payah Safira melepaskan bibirnya. "Mas, makanannya belum habis."

__ADS_1


"Ooo... minta setelah makanannya habis. Ya sudah sini aku suapin biar cepat." Reffan meraih piring Safira menyuapi istrinya yang akan protes lagi tapi karena makanan sudah masuk ke mulutnya membuat Safira terpaksa harus mengunyah tak jadi protes.


Reffan menyuapi Safira dan makan untuk dirinya sendiri sampai kedua piring bersih. Setelah itu jangan tanya lagi kebersamaan mereka pindah ke kamar melanjutkan penjelajahan yang tertunda.


.


"Sudah siap semua kan?" Tanya Reffan pada istrinya yang menutup koper.


"Sudah mas." Jawab Safira sambil menoleh pada suaminya.


"Segera turun ya setelah jam kerja selesai karena kita akan langsung ke bandara. Barangmu koper ini aja kan?" Reffan berjalan mendekati Safira.


"Iya mas, ini aja." Safira berdiri setelah berkemas.


"Mama sudah menunggumu tak sabar. Hari ini mama pasti senang melihatmu." Reffan mengusap pipi putih mulus Safira yang mudah sekali merona.


"Iya mas, aku juga senang sekali." Senyum manis tersungging dari bibir pink milik Safira.


"Masih ada waktu sayang." Reffan menarik pinggang ramping Safira membuat lampu darurat segera menyala di otak Safira.


"Mas..." Safira berusaha menahan dada Reffan yang semakin mendekat dengan kedua tangannya.


"Bisalah 30 menit." Reffan menyingkirkan tangan Safira yang membuat jarak di antara mereka.


Reffan tertawa mendengar kata-kata istrinya. Sebenarnya dia sangat menginginkan istrinya tapi ditahannya karena apa yang diucapkan istrinya memang benar. Butuh waktu lama untuk menyudahi aktivitas ranjang mereka jika sudah dimulai.


"Trus kapan dong?" Reffan memancing jawaban dari istrinya.


"Nanti lah mas. Terserah mas deh." Jawab Safira memilih jawaban aman.


"Bener ya. Terserah." Reffan memberikan penekanan pada kata terserah. "Siap-siap begadang ya!" Tangan Reffan menyentil pelan hidung istrinya sementara Safira mengerjap-ngerjap menyadari kata-katanya salah lagi.


.


Mobil yang menjemput mereka berdua sudah berhenti di depan pagar hitam yang menjulang tinggi. Pagarnya begitu kokoh sesuai dengan megahnya rumah di dalamnya. Tangan Safira menjadi dingin yang dirasakan oleh Reffan yang sejak menjemput istrinya tadi selalu berusaha menggenggam tangan istrinya.


"Sayang kita sudah tiba. Mama papa pasti senang sekali." Ucap Reffan berusaha mengurai perasaan istrinya.


"Iya mas." Safira tersenyum menoleh ke arah suaminya.


"Sayaaaaaaangg...." Baru saja kaki mereka melangkah memasuki ruang tamu, mama Raisa sudah berjalan cepat merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


Reffanpun membuka tangannya menyambut mamanya tapi malah mama Raisa memeluk Safira bukan dirinya. Reffanpun menggerutu di samping Safira.


"Apa kabar sayang?" Mama Raisa memeluk erat menantunya.


"Alhamdulillah baik ma." Saat mama Raisa melepas pelukannya, tangan Safira meraih tangan kanan mama mertuanya dan menciumnya.


Mama Raisa mengusap kepala Safira saat menantunya itu menunduk mencium tangannya.


"Ayo sayang masuk kita makan dulu, papa sebentar lagi juga keluar kamar." Ucap mama Raisa memeluk lengan Safira dan mengarahkan untuk mengikuti langkahnya.


Reffan bengong karena merasa tak dianggap oleh mamanya sendiri. Merasa anaknya tak mengikuti langkah kakinya. Mama Raisapun berhenti dan menoleh.


"Ngapain di situ Reffan ayo cepat ke sini." Ucap mama Raisa pada anaknya yang masih berdiri memandang kedua wanita yang dicintainya.


"Eh kirain Reffan anak mama ini gak kelihatan. Kelihatan juga ternyata." Reffan berkata dengan senyum kecut.


"Gak usah baperan jadi cowok cepat ke sini." Mama Raisa melanjutkan langkah kakinya bersama Safira yang diikuti anaknya Reffan yang masih menggerutu di belakang mereka.


"Kita makan malam dulu ya sayang. Nah itu papa." Ujar mama Raisa saat melihat papa Rendra berjalan mendekat ke arah meja makan.


"Safira apa kabar?" Sapa papa Rendra lembut.


"Alhamdulillah baik pa." Jawab Safira


"Apa Reffan memperlakukanmu dengan baik?" Papa Rendra bertanya lagi.


"Tentu saja dong! Duh sudah dari tadi gak dianggap dituduh lagi." Jawab Reffan dengan muka masam.


"Haha.." mama Raisa dan papa Rendra kompak menertawakan anak sulungnya.


"Papa hanya memastikan bukan menuduh, papa tahulah kamu itu bagaimana sifatnya." Papa Rendra berbicara di sela-sela tawanya.


"Maaf ya sayang anak mama ini keras kepala dan suka merepotkan." Mama Raisa masih belum puas menyudutkan anaknya sendiri.


Safira hanya tersenyum menanggapi keluarga suaminya, keakraban orangtua dan anak yang lucu menurutnya.


"Ini kalau masih begini terus aku bawa Safira ke kamar nih." Reffan berpura-pura ngambek di hadapan orangtuanya.


"Gak cocok kamu ngambek begitu." Mama Raisa menimpali.


Obrolan hangat berlanjut sampai makanan dihidangkan di meja makan besar di hadapan mereka. Mereka menikmati makan malam bersama, sesekali Reffan terlihat menyuapi istrinya lauk yang membuat Safira malu-malu karena suaminya itu tak mempedulikan kedua orangtua mereka yang tersenyum melihat mereka.

__ADS_1


"Ya gini ini kalau anak muda kasmaran, serasa di dunia hanya berdua." Ucap mama Raisa yang membuat pipi Safira langsung merona.


__ADS_2