Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

"Safira!" Bagas dan Ira terkejut bersamaan


"Halalin dulu baru pegang-pegang!" Safira melirik ke arah Bagas.


Ira menunduk. Sementara Bagas cengar-cengir.


"Gak sengaja Fir." Bagas membela diri.


"Mana ada gak sengaja tapi lama banget!"


"Sayang..." Reffan sudah di samping Safira yang masih memandang Bagas dengan sebal.


"Eh ada suaminya Safira." Bagas segera mengalihkan topik pembicaraan. "Gabung di sini saja!" Bagas berdiri menyambut Reffan pura-pura tidak melihat Safira


Reffan masih berdiri sedangkan Safira langsung duduk di sebelah Ira.


"Kalian berdua sekarang?" Safira bingung menyusun kalimatnya sendiri.


"Enggak kok!" Ira menggelengkan kepalanya sementara Bagas hanya tersenyum mencuri pandang ke arah Ira.


Safira tersenyum memandang sahabatnya bergantian.


"Iya juga gak papa, segera nikah juga gak papa kok." Safira memeluk pundak Ira.


Sekarang Reffan sudah duduk di samping Bagas hanya fokus menatap wajah istrinya.


"Gimana keadaanmu? Kamu sudah gak papa?" Bagas beralih bertanya pada Safira.


"Gak papa, saya baik-baik saja." Safira menjawab cepat melirik ke arah suaminya yang masih fokus menatapnya.


"Lalu kenapa dua kali kamu pingsan Fir?" Sekarang gantian Ira yang bertanya.


Safira hanya tersenyum penuh makna.


Tadi saat Reffan memilih makanan, Safira berkeliling mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk. Dia tak menyangka akan bertemu Bagas dan Ira bahkan kedua tangan mereka bersatu. Safira langsung menuju sahabatnya dan meninggalkan Reffan begitu saja.


Makanan yang telah dipesan Reffan sudah datang. Dua porsi udon dewasa dan satu porsi anak-anak dengan hiasan bakso berbentuk boneka panda. Safira tertegun.


"Mas kok banyak? Ini buat siapa?" Safira menatap tiga mangkok heran.


Pelayan kembali lagi membawakan dua piring tempura dan dua gelas minuman.


"Mas ini untuk siapa?" Safira kembali bertanya pada Reffan yang tangannya sibuk mengatur menu di depannya. Dua mangkok udon berada di depan Safira.


"Untuk anakku, kamu yang habiskan!" Reffan menjawab.


"Eh..." Bagas tersenyum hampir tertawa tapi ditahannya.


"Fir, kamu lagi hamil." Suara Ira terkejut membuat seisi resto menatap ke arah mereka.


Malu.. wajah Safira langsung memerah.

__ADS_1


"Ssstt... jangan keras-keras Ra, malu dilihatin orang."


"Selamat ya Fir." Bagas mengucapkan selamat sambil tersenyum.


"Selamat ya.." Ira memeluk sahabatnya.


"Makasi. Tapi gak perlu diumumkan di kantor ya." Safira tersenyum memandang sahabatnya bergantian.


Reffan yang tadi tersenyum melihat sahabat Safira yang ikut bahagia mendengar kehamilan Safira tiba-tiba berwajah dingin, dia teringat Fairuz.


"Apakah Safira akan tertekan jika aku menyuruhnya berhenti mendadak." Batin Reffan bergejolak. Di satu sisi dia ingin istrinya resign dengan senang hati tapi di sisi lain dia tak rela ada yang mengganggu Safira di kantornya.


"Baiklah jika itu maumu. Kita gak akan bicara tentang kehamilanmu. Tapi kita berdua tetap akan menjagamu di kantor." Bagas menimpali permintaan Safira.


Reffan memandang heran ke arah Bagas. Apakah benar Bagas sudah bisa move on dari Safira secepat itu. Tapi melihat ekspresinya sejak tadi Bagas terlihat enjoy saja dengan keberadaan Safira dan dirinya. Chat dari Bagas juga menunjukkan bahwa dirinya bahkan membantu Safira dan menganggap Safira adeknya sekarang. Mudah-mudahan saja benar, Reffan berharap dalam hatinya.


Kini Reffan kembali memfokuskan netranya pada Safira di depannya.


"Makanlah sayang, nanti keburu dingin." Reffan sedikit mendorong dua mangkuk di hadapan Safira.


"Mas aku gak akan habis." Safira menatap dua mangkuk di hadapannya bergantian.


"Nanti aku suapin kalau gak habis. Pasti habis." Reffan dengan tenang menjepit makanan di hadapannya dengan sumpit lalu memasukkan ke dalam rongga mulutnya.


Ira dan Bagas menunduk sambil senyum-senyum sendiri. Bagas meraih ponselnya mengetik sesuatu di sana untuk orang di seberang meja.


B : Cepatlah agar kita tidak mengganggu acara Safira dan suaminya suap-suapan.


Ira meraih ponsel di dalam tasnya yang bergetar


Ira mempercepat makannya. Sementara Bagas tinggal menikmati kuah yang tersisa dan menghabiskan minumannya.


"Fir kita duluan ya.. dan ehm suami Safira..." Bagas terlihat bingung menatap manusia dingin di sebelahnya.


"Reffan panggil saja Reffan." Reffan meletakkan kembali gelas di tangannya.


"Safira dan Reffan kita duluan." Bagas terlihat agak kaku mengucapkan nama suami Safira. Tapi karena sudah diizinkan akhirnya dia nekat juga langsung menyebut nama.


"Fir, Pak Reffan kami duluan." Ira ikut berpamitan.


Reffan hanya mengangguk.


"Mau kemana?" Safira menatap sahabatnya bergantian.


"Jalan-jalan keliling Jakarta." Bagas yang menjawab.


"Hati-hati ya." Mata Safira melirik tajam ke arah Bagas memancarkan kilat pedang yang siap menghujam.


Bagas nyengir tahu makna tatapan tajam Safira yang ingin mengatakan. "Awas kau, jaga sahabatku! Jangan mencuri kesempatan!" Begitulah kira-kira Bagas menerjemahkan lirikan Safira.


"Assalamu'alaikum." Ira tersenyum kemudian melambaikan tangannya pada Safira

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam..." Safira dan Reffan menjawab bersamaan.


Kini hanya ada Safira dan Reffan yang mengitari meja. Reffan menjepit bakso berbentuk beruang mengarahkannya ke mulut Safira.


Safira segera membuka mulutnya dan mengunyah menu anak-anak yang dipesan untuknya.


Reffan tersenyum melihat Safira yang terus menatapnya sebal.


"Ini untuk anakku. Kamu jangan ge-er!"


"Tapi kan anaknya belum lahir mas, ini kebanyakan buat aku." Safira tidak terima.


"Porsi makanmu akan bertambah karena sekarang kamu juga membawa anakku." Reffan menyuapi Safira lagi.


Safira hanya bisa pasrah menerima suapan dari suaminya tapi tak dipungkirinya makan dari tangan suaminya membuat ingin lagi dan lagi. Entahlah atau mungkin sekarang porsi makanannya yang semakin banyak yang jelas dua mangkuk di hadapannya sudah hampir habis.


"Mau kemana lagi?" Reffan bertanya setelah berhasil membuat Safira menghabiskan menu yang dipesannya. Sebenarnya dia juga membantu Safira menghabiskan makanan karena dilihatnya Safira yang mulai kekenyangan.


"Kita cari masjid ya mas. Masjid Istiqlal jauh gak mas?"


"Enggak juga. Gak papa kalau mau ke sana kita akan ke sana. Kamu gak beli apa-apa nih?"


Safira tersenyum. "Enggak mas. Kan tadi cuman mau jalan-jalan aja. Nanti ya kalau perutku sudah kelihatan besar kita beli baju."


Reffan tersenyum membayangkan Safira dengan perut besarnya. Digenggamnya tangan istrinya.


"Katakan padaku apapun itu, jangan ada yang kamu simpan sendiri. Apapun yang kamu rasakan katakan padaku. Buat aku menjadi suami bahagia karena merasa dibutuhkan oleh istriku." Reffan mengatakannya sambil menggenggam tangan istrinya.


Netra Safira berkaca-kaca mendengarnya tapi bibirnya tersenyum bahagia.


"Benarkah kebahagian suamiku karena merasa dibutuhkan olehku. Selama ini aku takut merepotkannya dan kuatir akan pandangan keluarganya padaku." Safira berkutat dengan pikirannya sendiri tapi otaknya menyuruh kepalanya untuk mengangguk pada orang di depannya.


.


Duuarrrr


Kaki Safira dan Reffan baru saja menyentuh tangga eskalator yang bergerak turun.


"Asap. Ada asap." Orang-orang berteriak histeris.


Tangga eskalator di sebelahnya yang bergerak naik membuat orang-orang di atasnya memutar langkah dan berlari berlawanan dengan arah eskalator.


Reffan memeluk Safira saat orang-orang tak sabar melangkah lebih cepat menuruni tangga eskalator.


Pandangan Safira menangkap seorang wanita yang kesulitan menggendong anak dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain menggandeng anaknya. Wanita itu ada di eskalator yang berlawanan dengannya. Orang-orang yang berjalan berlawanan arah dengan eskalator membuat tubuh anak kecil yang baru berusia sekitar lima tahunan itu terombang ambing terdorong. Anak perempuan itu menangis memandang tangannya yang terlepas dari genggaman ibunya. Orang-orang sibuk dengan dirinya sendiri bahkan ada yang masih sempat mengarahkan tangannya ke atas menggenggam ponsel merekam paniknya situasi.


"Mas.. " Safira memfokuskan pandangan pada anak perempuan yang kini sudah tak berdiri lagi.


"Fokus Safira lihat jalanan di depanmu!" Reffan malah memperingatkan Safira.


Safira menarik sisi jilbabnya menyelipkan ke sisi lain menutup sebagian wajahnya. Kini hanya matanya yang terlihat. Dengan kuat dia menepis tangan Reffan yang memeluknya.

__ADS_1


Gerakan cepat bertumpu pada tangan membuat kakinya melewati pagar pembatas eskalator.


"Berhenti kalian semua!" Suara Safira menggelegar keras menyita pandangan orang-orang yang panik di sekitarnya, langkah mereka langsung terhenti sejenak.


__ADS_2