Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Menyusun Rencana


__ADS_3

Safira merinding sendiri nama lengkapnya disebut suaminya. Jantungnya seketika berdebar.


S : Aaaku gak papa kok mas


R : Oh ya? Lalu kenapa matamu merah begitu


S : (Aih aku lupa bercermin dulu tadi) Mataku mungkin kemasukan air


R : Kalau wajahmu?


S : Kenapa wajahku mas? (Safira langsung berdiri di depan kaca)


R : Sudah lihat wajahmu sendiri kan?


S : Sepertinya kecapekan aja mas


R : Begitu ya. Pasti sudah adzan Isya' di sanakan? Cepat solat dan tidurlah. Jangan matikan ponselnya!


S : Iya mas (beranjak solat Isya')


Reffan merasa Safira menutupi keadaannya. Seandainya dia berada di dekat Safira saat ini, dia akan bisa mendesak Safira untuk mengatakan yang sebenarnya.


S : Mas...


R : Iya sayang


S : Aku sudah selesai solat


R : Tidurlah. Besok pagi sebelum kamu berangkat akan ada yang mengantar sarapan untukmu


S : Gak perlu mas. Besok aku.... (Belum selesai bicara Reffan sudah memotong kalimatnya)


R : Ssst... Jangan membantah! Tidurlah!


S : (Tersenyum) Mas...


R : Iya?


S : Aku rindu


R : Rinduku jauh lebih besar dari rindumu


S : (Tersenyum tapi menahan airmata keluar) Maaf!


R : Tidurlah!


Safira memejamkan mata, namun di antara kedua matanya, setetes air mata luput dari salah satu mata yang terpejam. Dan itu tak luput dari pandangan Reffan. Reffan masih belum menutup sambungan telponnya menunggu nafas teratur Safira yang menandakan Safira benar-benar terlelap.


.

__ADS_1


Hari masih pagi, jam di dinding baru merangkak di angka enam. Tapi Safira sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Dia sedang menunggu makanan yang dikirimkan untuk sarapannya.


"Ah pasti itu dia." Suara gembok beradu dengan pagar besi yang sengaja digoyang untuk memanggil penghuni rumah membuat Safira langsung berdiri.


Dan benar saja, sudah ada seorang perempuan berdiri di depan pagar rumahnya. Safira tersenyum menghampirinya kemudian membuka kunci gembok pagar.


"Selamat pagi bu Safira." Wanita itu tersenyum menyapa.


"Selamat pagi. Maaf ya saya merepotkan." Safira menerima kotak dari tangan karyawan suaminya.


"Sama sekali tidak bu. Maaf saya langsung pamit ya bu. Saya harus segera kembali ke hotel." Karyawan wanita itu undur diri.


"Baiklah. Sekali lagi terima kasih ya." Safira tersenyum manis sekali. Karyawati itu sampai terpukau sesaat diberi senyuman tulus istri bosnya.


"Ya ampun, ramah sekali bu Safira, cantik banget kalau senyum begitu." Batin sang karyawan


Safira masuk kembali ke dalam rumah. Memotret kotak makan dan mengirimkan pada suaminya.


S : **M**akasih ya mas... Muuuaaacccch (emoticon cium)


R : Sama-sama sayang. Muuuuuaaaaaaaaaccccchhh (emoticon cium tiga baris)


Safira tersenyum. Segera dinikmati makanan di depannya yang aromanya langsung menguar begitu dibuka membuat perutnya semakin lapar. Nasi goreng seafood dengan udang besar yang berlimpah , sandwich panggang, aneka buah segar. Safira memang sangat suka udang, ini pasti sudah dipesan khusus suaminya.


"Ya Allah mas, banyak banget. Mas niat banget ini bikin aku gemuk." Safira sudah tak tahan menyendok udang montok yang membuat matanya berbinar.


Safira sudah bertekad untuk tidak mempedulikan Fairuz. Dia akan bertahan hingga bulan depan, menunggu uangnya cukup membayar denda. Langkahnya terasa ringan membuka pintu pagar agar mobilnya bisa keluar, dia sama sekali tak mempedulikan seorang Fairuz bahkan meliriknya saja tidak.


Tapi laki-laki tak punya sopan santun itu membuntuti Safira yang akan masuk ke mobil, Tangannya menahan pintu saat Safira sudah duduk di dalam mobil.


"Apa kamu tidak kesepian menyetir sendirian. Biar saya saja yang menyetir untukmu." Fairuz membungkuk dengan tangan yang masih berpegangan pada pintu mobil.


Safira menendang pintu mobil agar terbuka lebar. Dia keluar dari mobilnya.


"Pak Fairuz, tolong jangan membuat saya kehilangan sopan santun pada anda." Safira tak bisa mengontrol gemuruh di dadanya. Orang di depannya malah santai, bersandar di badan mobil Safira.


"Kamu cantik sekali Safira. Natural." Ucapnya dengan mata tajam dari atas ke bawah.


Risih sekali Safira dengan pandangan orang di depannya.


"Saya tidak butuh ucapan anda. Permisi." Safira masuk kembali ke mobil dan dengan cepat membanting pintu mobil, menguncinya.


Fairuz ikut berjalan ke keluar pagar dengan mata yang masih menusuk tajam ke arah Safira. Saat Safira mengunci pagar rumahnya dia mendekat lagi.


"Aku bisa memberikan kebahagian padamu Safira. Kebahagiaan berlapis-lapis. Kamu cukup mengikuti saja kemauanku." Ucapnya di belakang Safira yang sedang mengunci pintu pagar.


"Saya sarankan anda pergi ke dokter memeriksakan diri anda. Sepertinya pikiran anda sudah tidak normal." Safira menimpali tanpa melihat sedikitpun.


Fairuz tertawa. Tawa yang menyebalkan, ingin sekali Safira melayangkan sepatunya ke kepala orang di dekatnya agar pikirannya sadar.

__ADS_1


"Kamu sungguh menggemaskan Safira. Makan malamlah denganku nanti, kamu akan tahu betapa lembutnya aku pada wanita."


"Anda benar-benar gila pak!" Safira sedikit berlari ke arah mobilnya. Langsung masuk, mengunci pintu dan melajukan mobilnya.


Di parkiran depan kantornya. Safira masih di belakang kemudi. Berpikir sejenak, Fairuz sudah berani mendatangi rumahnya dan dia sendirian di sana. "Aku harus melakukan sesuatu."


Safira mengambil ponselnya, mencari nama Bayu asisten suaminya. Kemudian mulai mengetik.


S : Assalamu'alaikum Pak Bayu. Saya butuh pertolongan anda tapi tolong jangan beritahu suami saya.


Bayu yang sudah siap keluar dari kamar hotel untuk menemani Reffan sarapan berdiri bersandar pada pintu. Dahinya mengernyit melihat pesan dari istri bosnya. Ini pertama kalinya istri bos mengirim pesan padanya


B : Wa'alaikumsalam. Pertolongan apa bu?


S : Pak Bayu saya bisa minta tolong mencarikan informasi tentang manager saya namanya Fairuz Saputra. Saya membutuhkan informasi tentang keluarganya, sumber kekayaannya dan kelemahannya.


B : Maaf bu. Untuk apa?


S : Bisa anda menolong saya tanpa sepengetahuan suami saya?


B : Untuk apa semua itu?


S : Saya sangat membutuhkannya pak Bayu.


B : Saya tidak bisa membantu jika anda tidak mengatakan untuk apa mencari informasi laki-laki itu.


Safira terdiam sejenak, malu rasanya harus mengatakan alasannya pada Bayu. Bayu adalah asisten suaminya pasti dulu dia yang diminta Reffan untuk mencari semua informasi tentang dirinya sebelum menikah dengan Reffan. Safira tak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa yang bisa bertindak dengan cepat. Bukankah untuk mengetahui semua itu butuh orang yang berpengalaman.


Jarinya ragu untuk mengetik huruf demi huruf.


S : Dia menginginkan saya


Pesan terkirim juga.


Bayu sangat geram membacanya, tangan kirinya mengepal. Jika dirinya saja segeram ini, bagaimana jika bosnya tahu.


S : Tolong, jangan memberi tahu suami saya lebih dulu.


B : Anda sadar bu Safira akan semarah apa pak Reffan nantinya. Bukan saja pada saya, tapi juga pada anda.


S : Saya tahu. Biarkan saya mengurusnya, saya sangat membutuhkan informasi itu pak.


B : Jangan bermain-main Bu Safira. Jangan membahayakan diri anda sendiri. Saya tahu persis sifat laki-laki.


Safira hampir menyerah.


S : Tolong saya sekali ini saja pak Bayu.


B : Baik. Saya hanya memberi kesempatan pada anda dua hari untuk menyelesaikan masalah ini. Kemudian saya akan berbicara pada pak Reffan jika anda belum menyelesaikannya. Nanti siang anda akan mendapatkan informasi yang anda inginkan.

__ADS_1


__ADS_2