Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Anugerah Terindah


__ADS_3

Bug!


Bersamaan dengan pukulan yang menghantam pipinya. Suara dari orang yang berbeda di depan pintu menyeru namanya.


"Damar!" Teriakan Bagas dan Ira hampir bersamaan.


Damar hanya melihat sekilas Bagas dan Ira karena saat ini kerahnya ditarik paksa oleh Hans, laki-laki di depannya baru saja meninjunya.


"Apa yang kau lakukan brengsek!" Hans menarik lebih kuat kerah Damar. Hans sangat marah, tangannya masih terkepal mengarah ke Damar.


Bagas dan Ira sempat melihat wajah Damar sangat dekat dengan Safira tiba-tiba Hans meraih kerah Damar dan mendaratkan kepalan tangannya di wajah Damar.


Bagas berjalan pelan namun pasti mendekat ke arah Damar dirasakannya dadanya memanas.


"Brengsek kamu Damar!" Sebuah tinju kembali mendarat di wajahnya kali ini dari Bagas.


"Laki-laki macam apa yang mengambil kesemparan di saat perempuan tidak sadar." Pandangan tajam Bagas menusuk mata Damar.


Damar mendorong kasar tubuh Bagas.


"Kenapa? Kau juga menyukainya? Munafik!" Damar bersuara sambil mengusap sudut bibirnya.


Plak! Sebuah tamparan mendarat di wajah Damar.


"Apa-apaan kamu Ira, kamu cemburu? Sudah pernah kukatakan, aku mencintai Safira bukan dirimu!" Damar berteriak di depan Ira yang menangis.


"Itu bukan dariku. Itu dari Safira, jika dia sadar bukan hanya satu tamparan yang akan mendarat di wajah anda pak Damar. Dan lagi, aku tak cemburu, rasa cintaku sudah tak tersisa lagi di hatiku melihat apa yang telah anda lakukan pada sahabat saya." Ira menguatkan dirinya berbicara dan itu membuatnya lega.


"Kau tahu Safira sudah menikah, dan kau juga tahu Safira tak pernah mau bersentuhan dengan laki-laki. Apa yang kamu pikirkan Damar?" Hans mencengkeram wajah Damar mengarahkannya melihat Safira yang masih belum sadar juga.


Damar melepas cengkraman Hans. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba hinggap di hatinya, sejenak tadi dia mengikuti nafsunya untuk melampiaskan rindu yang selama ini tak bersambut. Dan sekarang dia terkejut, orang-orang di sekitar Safira silih berganti melepaskan amarah padanya.


"Safira." bibirnya bergumam pelan. "Maaf."


Suara sepatu beradu dengan lantai membuyarkan kegaduhan di ruangan. Langkah cepat menghampiri mereka.


Seorang berpenampilan sempurna dengan seorang laki-laki yang berada sedikit di belakangnya kini berada di hadapan mereka semua. Reffan datang dengan pandangan tajam mengarah ke tiga laki-laki yang ada di sana.


"Hans, Bagas dan Damar ada apa ini?" Reffan bertanya dalam hatinya, dilihatnya sudut bibir dan pipi Damar yang memar. Kemudian beralih melihat istrinya yang masih belum sadar berbaring di deretan kursi.

__ADS_1


"Ada yang bisa menjelaskan pada saya apa yang terjadi?" Suara dingin Reffan membuat orang yang ada di ruangan berdebar dan saling pandang.


"Safira pingsan saat akan berdiri setelah acara selesai. Tadi setelah presentasi wajahnya sudah pucat." Bagas akhirnya bicara setelah melirik Ira yang menunduk dengan mata yang masih merah.


Reffan menatap Bagas sekilas kemudian kembali menatap Safira mendekat ke arahnya. Reffan menundukkan wajahnya mendekatkan ke wajah istrinya.


"Sayang, kamu bisa mendengarku?" Reffan mengusap lembut pipi istrinya, mengecupi wajahnya dan berakhir di bibirnya tapi Safira tak merespon sedikitpun.


Semua yang ada di sana terkejut melihat Reffan mengecupi wajah Safira tanpa sungkan. Bagas dan Hans tersenyum. Ira menunduk. Damar memejamkan matanya.


"Bodoh kau Damar, apa yang akan dilakukan suami Safira jika melihat apa yang kamu lakukan. Safira sudah menikah, bahagia dengan suaminya. Untuk apa lagi kamu memendam rasa yang tak akan pernah bersambut, hanya akan menyakiti dirimu sendiri." Damar menangis di dalam hati merutuki kebodohannya.


"Kemarin terakhir bertemu, dia baik-baik saja kan?" Hans bertanya entah pada siapa.


"Safira pernah pingsan sebelumnya setelah keluar dari ruangan virus." Bagas menjawab datar.


Ira melotot ke arahnya terkejut. Bagas baru menyadari kekeliruannya.


"Maksudku pak Fairuz. Maaf lidahku kepeleset." Bagas menggaruk kepalanya.


Tangan Reffan mengepal dengan pandangan yang terpaku pada wajah pucat istrinya.


"Kenapa kamu tak mengatakan padaku Safira." Reffan marah di dalam hatinya.


"Baik pak." Bayu yang sedari tadi diam hanya melihat masing-masing wajah yang ada di sana. Ada pertengkaran tadi dan ada yang menangis. Itu kesimpulannya setelah melihat masing-masing wajah di sana.


Reffan mengangkat tubuh Safira lalu menggendongnya keluar ruangan. Hanya wajah istrinya yang dipandangnya dengan perasaan tak menentu, kuatir, marah, cemburu dan entah apalagi yang membuat dadanya terasa sesak.


"Terimakasih bantuannya." Bayu akhirnya merasa perlu berterimakasih juga kemudian mengekori bosnya setelah mengambil barang milik Safira. Ira juga menyerahkan ponsel Safira pada asisten Reffan itu.


Setelah kepergiaan Reffan yang membawa Safira. Mereka berempat saling pandang.


"Menyerahlah." Bagas menepuk pundak Damar.


"Jujur aku pernah mencintainya. Tapi saat ini hanya perasaan ingin melindungi yang masih tersisa di hatiku. Aku menganggapnya adek dan itu lebih baik untuk hatiku. Aku bahagia saat dia juga bahagia dan aku masih bisa berteman dengannya. Dia sudah tak pantas kita cintai karena suaminya sudah menghujaninya dengan cinta tapi dia juga tak layak kita benci, dia tak pernah minta kita mencintainya." Bagas berkata bijaksana saat ini mencoba menyadarkan temannya. Hans mendekat ke arah mereka menepuk pundak mereka.


"Wanita bukan hanya Safira, jangan kunci hatimu." Hans ikut menenangkan.


"Aku duluan." Damar berpamitan kemudian melangkah keluar.

__ADS_1


"Mau ngobrol sambil ngopi? Yuk dek?" Hans mengajak dua orang yang tersisa.


"Yuk bang." Bagas menjawab antusias membuat Hans dan Ira tersenyum.


"Apa Safira perlu tahu kejadian tadi?" Ira mulai berbicara saat mereka berada di dalam lift.


"Aku rasa gak perlu, dia pasti sedih dan terluka nanti jika tahu." Bagas menimpali.


Hans mengangguk.


"Dia sudah sangat terluka karena virus." Bagas bicara biasa saja.


Ira melotot lagi.


"Ada apa dengan Safira? Kalian hutang penjelesan padaku." Hans memandang Bagas dan Ira bergantian.


Lift terbuka, mereka melangkah keluar. Ira masih memelototi Bagas sedangkan yang dipelototi hanya meringis.


.


"Bagaimana dok?" Reffan bertanya setelah dokter selesai memeriksa Safira. Safira masih belum sadar juga.


Dokter perempuan yang memeriksa Safira tersenyum.


"Istri bapak hanya kelelahan saja." Dokter menjawab dengan tersenyum.


"Tapi kenapa sampai pingsan dok?" Reffan belum puas dengan jawaban dokter yang masih menggantung.


"Kondisi ibu hamil berbeda apalagi di awal kehamilan." Dokter menjelaskan.


"Maksudnya istri saya benar-benar hamil?" Reffan memastikan lagi.


"Betul pak. Selamat ya pak." Dokter tersenyum melihat mata Reffan yang berkaca-kaca.


Reffan mengusap lembut kepala Safira mengecup puncak kepalanya. Kemudian beralih mengusap perut Safira yang masih datar. Ada anugerah terindah di sana untuknya dan Safira.


"Setelah Bu Safira sadar, dokter kandungan akan kemari sehingga bisa dilakukan usg untuk melihat janinnya." Dokter berpamitan.


"Baik dok. Terimakasih." Reffan berucap.

__ADS_1


.


"Jadi apa yang terjadi pada Safira dan virus?" Hans membuka suara menuntut penjelasan dari sahabat-sahabat Safira.


__ADS_2