
Di rumah papa Rendra. Pagi terasa sangat indah, biasanya hanya ada papa Rendra dan mama Raisa yang menyambut pagi dan duduk berdua di meja menikmati sarapan. Tapi Minggu pagi ini terasa berbeda, pagi datang lebih istimewa, rumah terasa lebih berwarna padahal mereka masih berada di kamarnya masing-masing.
Mentari pagi mulai menghangat, taman yang biasanya hanya dikunjungi burung dan kupu-kupu, pagi ini ada sepasang manusia yang sedang berlarian kecil menikmati bunga-bunga yang bermekaran.
"Mas, coba lihat." Safira menunjuk sepasang kupu-kupu yang sedang kejar-kejaran berputar-berputar semakin tinggi.
"Mereka pasti iri melihat kita, jadi begitu." Reffan menyahut.
Safira melirik, kemudian tersenyum.
"Mau kejar-kejaran juga?" Reffan melirik ke arah Safira.
"Apa?" Safira kebingungan
Telunjuk Reffan sudah mendarat di pinggang Safira, kemudian diikuti jari-jari lain menari lincah di pinggang sang istri.
"Mas, auuw... mas...." Safira menghindar ingin menggelitik balik suaminya tapi tangannya malah digenggam suaminya dengan satu tangan, dan tangan yang bebas masih bergerak di pinggang istrinya.
Safira berusaha lepas dari genggaman suaminya kemudian berlari menjauh tapi Reffan terus mengejarnya dan mengincar pinggang ramping istrinya. Mereka tertawa sambil berlarian, yang satu lari menghindar dan satunya lagi tetap mengincar sasaran.
Safira terduduk di rerumputan karena lelah tertawa, keringat mulai terlihat di keningnya.
"Sudah mas, sudah cukup." Safira mengangkat tangannya tanda menyerah. "Aku capek tertawa nih mas."
Reffan duduk menubruk tubuh istrinya, menjatuhkan kepalanya di bahu istrinya menghirup wangi favoritnya.
"Aku ambilkan minum ya." Reffan bangkit dari duduknya berbahaya sekali tanpa jarak dengan istrinya.
"Aku aja mas!" Safira hendak bangun tapi bahunya ditahan Reffan.
"Duduk dulu. Aku aja yang ambil. Tunggu di sini ya!"
Istrinya tak punya pilihan selain mengangguk.
Reffan masuk ke rumah bertemu dengan mama Raisa yang baru keluar kamar.
"Reffan mana Safira?" Tanya mama Raisa pada anaknya.
"Masih di taman ma, ini Reffan cuman mau ambil minum aja."
"Sini deh!" Mama Raisa bicara berbisik
"Ada apa ma?" Reffan mendekat ke mamanya
"Safira sudah datang bulan belum bulan ini?" Mama Raisa bertanya masih berbisik.
"Ya mana Reffan tahulah ma. Urusan perempuan gitu kenapa tanya Reffan sih ma?" Reffan berbicara agak keras.
"Hush, ya kalau kamu gak bisa dekat-dekat Safira berarti dia lagi datang bulan." Mama Raisa mencubit pinggang Reffan.
Reffan mulai berpikir apa yang dimaksud mamanya, diapun tersenyum. "Belum ma, Reffan aman terus nyenggol Safira. Hanya..." Reffan tampak berfikir, "Setelah resepsi Safira datang bulan."
Mama Raisa tertawa mendengar jawaban Reffan. "Jadi kamu puasa pas malam pertama?"
Reffan melirik mamanya jengkel.
__ADS_1
"Sudah satu bulan lebih berarti ya, ada kemungkinan kan." Mamanya tersenyum.
"Apa ma?" Reffan penasaran.
"Tapi kamu jangan tanya Safira dulu ya... kehamilan bagi wanita itu sensitif." Mama Raisa berbicara serius.
"Maksud mama kemungkinan Safira hamil ma?" Reffan sangat antusias.
Mama Raisa mengangguk. "Mudah-mudahan sayang, mama juga pengen banget nimang cucu."
"Aamiin.." Reffan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Jika istrinya hamil tentu saja dia yang paling bahagia kan.
"Ya sudah, Safira pasti sudah nungguin kamu di depan." Mama Raisa menepuk punggung Reffan.
Reffan segera melangkah menuju pintu.
"Minumnya mana? Bukannya tadi mau ambil minum?" Mama Raisa setengah berteriak.
Reffan langsung menghentikan langkahnya dan berbalik arah kembali. Mama Raisa tertawa melihat tingkah anaknya.
.
Reffan sudah berjalan keluar, ditangannya ada dua gelas air mineral.
"Astaghfirullah." Reffan terlonjak dan mempercepat langkahnya saat dilihatnya Safira push up kemudian berubah posisi akan sit up.
"Berhenti Safira! Apa-apaan kamu ini!" Reffan langsung menaruh minuman di kursi taman.
Safira langsung berhenti. Heran. Netranya fokus pada wajah suaminya yang terlihat panik.
"Kenapa kamu push up dan sit up sih." Reffan menarik lengan Safira agar berdiri dan menggiringnya ke bangku taman untuk duduk. Dipikirannya sedang membayangkan ada bayi di perut Safira yang tertekan saat Safira push up apalahi sit up.
"Aku sudah biasa mas." Safira masih tidak mengerti alasan Reffan melarangnya.
"Sekarang tidak boleh lagi." Reffan menahan lisannya agar tidak keceplosan mengingat perkataan mamanya jika kehamilan adalah hal sensitif bagi wanita jadi dia memutuskan untuk menahannya hingga ada tanda-tanda bahwa dugaan mamanya benar.
"Kenapa?" Safira masih bingung.
"Pokoknya gak boleh. Kalau aku sudah bilang gak boleh kamu nurut dong." Reffan masih bingung memikirkan alasannya.
Safira terdiam, terlihat jelas dari wajahnya tak puas dengan jawaban suaminya.
"Minum dulu sayang!" Reffan menyodorkan gelas ke depan wajah Safira. Safira meraihnya. Tangan Reffan lembut menghapus keringat di atas alis istrinya.
"Push up itu tugasku. Nanti ya aku akan push up di atas kamu." Reffan berbisik di telinga Safira.
Safira yang sedang minum langsung berhenti, hampir saja dia tersedak mendegar ucapan suaminya. Semburat merah sudah muncul di kedua pipinya.
.
Safira sudah mandi sedang menunggu suaminya yang masih di kamar mandi. Kini Safira berada di depan cermin mengaplikasikan make up tipis di wajahnya. Kemudian memakai jilbab dan merapikannya.
Reffan keluar kamar mandi mengamati istrinya yang sudah semakin cantik dan rapi.
"Mau jalan-jalan kemana hari ini?" Tanya Reffan berdiri di belakang istrinya.
__ADS_1
"Ehm... gimana jika di rumah saja?" Safira menoleh ke suaminya.
Dahi Reffan berkerut. "Gak pengen jalan-jalan?"
"Aku kan jarang ketemu mama. Mumpung di sini pengen sama mama atauuuu...." Safira menggantung jawabannya.
"Ajak mama dan papa sekalian." Reffan menyahut dengan cepat sambil tersenyum.
"Mas kok tahu sih aku mau bicara apa?" Safira bangun dan berbalik menghadap suaminya.
"Tahu dong. Itu namanya SU-A-MI." Reffan menyombongkan dirinya tersenyum bangga.
Safira senang sekali. Diapun memeluk tubuh tegap di hadapannya.
"Minta apa nih peluk-peluk?" Reffan menggoda istrinya.
Safira langsung melepas pelukannya. "Cuman peluk doang."
Gantian Reffan yang memeluknya lama. Dia bersyukur, istrinya menyayangi mamanya dan mau menghabiskan waktu bersama keluarganya.
.
Mereka berempat, papa Rendra, mama Raisa, Reffan dan Safira, memutuskan untuk jalan-jalan ke perkebunan teh dan menginap di sana karena sudah lama tidak liburan. Hanya semalam, besok pagi mereka sudah berencana kembali karena hari Selasa Safira sudah pelatihan, Reffanpun juga bekerja.
Liburan sejenak, menghirup segarnya aroma pegunungan yang tidak didapatkan di Jakarta, berjalan beriringan sambil mengobrol ringan menghangatkan dan menguatkan ikatan keluarga. Tak penting dimana liburannya karena yang lebih penting adalah dengan siapa kita di sana.
.
Pagi sekali Safira sudah berada di hotel tempat acara. Safira diantar Reffan hanya membawa tas perlengkapan pelatihan, kopernya akan dibawakan nanti ke kamar. Walaupun bingung Safira hanya mengiyakan titah suaminya. Safira turun di depan lobbi, Bagas dan Ira menjemputnya di lobbi setelah Safira mengirim pesan pada Ira.
"Ir, pak Bagas maaf ya. Saya berangkat duluan." Safira merasa tak enak karena meninggalkan Ira dan Bagas.
"Gak papa kita ngerti kok. Abang suami pasti pengen naik pesawat berdua aja sama istrinya. Kuatir kita gangguin." Ira berbicara sambil senyum-senyum. Bagaspun ikut tersenyum.
Safira mencubit pelan lengan Ira.
"Ayo ke atas!" Bagas mengajak dua orang perempuan yang asik mengobrol sendiri.
Mereka bertiga ke atas menaiki lift bersama. Kemudian langsung masuk ke ruang pertemuan tempat dilaksanakan pelatihan.
Sudah banyak peserta pelatihan dari seluruh Indonesia. Suara riuh mulai terdengar.
"Safira, apa kabar, baru muncul aja nih?" Teman-temannya seangkatan saat penerimaan karyawan mendekat bergantian saling menempelkan pipi.
"Iya. Baik." Safira tersenyum manis pada teman-teman perempuannya. Mengobrol ringan mengisi waktu. Safira selalu ramah pada teman-teman perempuan membuat temannya selalu nyaman di dekatnya.
Ira menariknya untuk duduk di sebelahnya. Bagas duduk di belakangnya dan seorang pria terlihat mendekati Bagas.
"Hei." Sapaan khas laki-laki seperti biasa.
Ira kikuk melihat pria di sebelah Bagas.
"Kalian apa kabar?" Laki-laki itu menyapa Ira dan Safira.
"Alhamdulillah kami baik pak Damar." Safira menjawab tegas mewakili sahabatnya yang terkejut hingga tak mampu berkata-kata.
__ADS_1