
"Ada rencana hari ini?" Reffan bertanya pada istrinya yang baru saja meletakkan Al Qur'an setelah usai membacanya. Reffan sendiri baru saja solat Subuh di masjid bersama ayah Salman.
"Ehmm... belum ada mas." Safira berpikir sejenak kemudian menggeleng karena sejujurnya dia ingin ke Yogyakarta karena rindu pada orangtua dan adeknya.
Reffan tersenyum kemudian menghampiri istrinya yang sedang membuka mukenanya.
"Apa kita akan seharian di ranjang itu? Ternyata ranjang sempit meyenangkan juga." Reffan berbisik di telinga Safira.
Sekarang Safira yang melirik Reffan. Wajah suaminya begitu dekat membuat debaran tak diundang bertabuh tak karuan. Rasanya masih sama seperti awal bertemu, di dekat Reffan selalu membuat jantungnya bekerja keras.
Tok tok tok.. suara pintu diketuk dari luar.
Safira pun segera menjauh dari suaminya dengan nafas lega bisa mengatur debaran di dadanya. Kemudian membuka pintu yang ternyata ada bu Sofi di luar kamar.
"Ibu sama ayah ke masjid dulu ya, ada akad nikah putrinya Pak Nan, beliau meminta kami membantu persiapan akad nikah. Nanti acaranya langsung lanjut walimah di balai desa. Kamu ajak suamimu sarapan ya sayang. Hasna juga baru saja berangkat mengerjakan tugas kelompok. Ini kunci rumah, Hasna dan ibu sudah bawa, barangkali kalian nanti akan keluar."
Safira ingat Hasna kemarin ingin sekali jalan-jalan tapi harus mengerjakan tugas kelompok untuk hari Senin. Wajah Hasna kecewa sekali kemarin karena ingin jalan-jalan dengan kakaknya.
"Ibu dan ayah pergi dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati bu."
"Iya sayang insyaAllah." Jawab Bu Sofi segera keluar rumah karena sudah ditunggu suaminya di teras.
Safira berbalik badan. Netranya langsung menangkap senyum di bibir suaminya. Senyum mencurigakan.
Safira langsung berjalan cepat keluar kamar menuju dapur sementara Reffan ke pintu depan memastikan semua pintu dan jendela terkunci.
Setelah menyelesaikan misi pengamanan, Reffan segera menyusul istrinya yang sedang berada di dapur sedang memotong buah.
Reffan dengan langkah perlahan mendekati istrinya yang pura-pura tak melihat kedatangan suaminya. Mata Safira fokus pada buah di depannya berbanding terbalik dengan sepasang mata elang yang fokus pada dirinya.
"Bikin apa sayang?" Reffan berdiri di belakang Safira.
"Bikin jus mas. Mas tunggu di meja makan dulu ya." Safira berbicara dengan mata yang masih fokus pada pisau dan buah.
__ADS_1
"Mas bantuin ya." Tanpa persetujuan Reffan langsung mengambil pisau di tangan kanan Safira dan buah strawberi yang belum dipotong oleh istrinya.
Reffan memotong dengan santai sementara punggung Safira sudah menempel di dadanya. Sebenarnya debaran dada keduanya sudah tak karuan hanya saja Reffan pandai menutupinya. Sementara Safira yang tak melakukan apapun jadi terlihat salah tingkah berada di antara meja dapur dan tubuh Reffan.
"Mas aku ambil blendernya ya." Safira mencoba keluar dari kungkungan suaminya.
"Tunggu dulu, ini belum selesai." Reffan meletakkan pisau yang dipegangnya kemudian menyibak rambut Safira yang menutupi lehernya ke depan. Kini Reffan bebas menciumi leher sang istri sambil menyelesaikan acara potong-potong buah.
"Mas ih. Aku gak bisa gerak nih mas." Safira cemberut karena hembusan nafas dan kecupan Reffan di lehernya membuat tubuhnya bereaksi.
Reffan malah tertawa.. kemudian menyuapi Safira strawberi.
"Memangnya kamu mau ngapain? Kan enak deket-deketan. Kamu itu yang mikirnya kemana-mana. Iya kan?" Reffan menggoda Safira yang sudah merona wajahnya.
Safira mendorong Reffan agar bisa terlepas membebaskan dirinya. Belum juga melangkah Reffan sudah meraih pinggang istrinya membuat Safira menghadap ke arahnya dengan tubuh tanpa jarak.
"Mas... lapar.. kita belum sarapan lho." Ujar Safira memelas saat dirasakan tubuh suaminya menegang.
Reffan tersenyum, "Kenapa ya kalau dekat kamu kesetrum terus."
"Salah sendiri kamunya menggoda." Ujar Reffan gemas setelah mengecup bibir Safira sekilas.
"Mas lapar..." Ujar Safira lagi. "Anak mas juga lapar nih."
Reffan tersenyum mendengar Safira memakai alasan anaknya.
"Gak perlu bikin jus. Langsung dimakan saja stawberinya. Nih pegang!" Reffan memberikan mangkuk berisi stawberi ke Safira kemudian menggendong istrinya dan mendudukkannya menghadap meja makan.
Reffan lebih dulu mengambilkan Safira makanan padahal tangan Safira juga sudah terulur akan mengambil makanan.
"Duduklah yang manis!" Reffan tersenyum sayang ke istrinya.
Safirapun mematung hanya netranya yang berkaca-kaca. Entah kenapa ada sebuah memori yang melesat begitu saja membuatnya tiba-tiba teringat.
Reffan sudah siap dengan sendok berisi makanan di depan bibir Safira tapi istrinya seperti melamun tak menyadari suapan di depannya.
__ADS_1
Reffan meletakkan kembali sendok di piring.
Cup..
Kecupan singkat mengejutkan Safira.
"Apa yang kamu pikirkan hingga membiarkan suami tampan di depanmu?" Ujar Reffan dengan tatapan tajamnya.
Safira membalas tatapan tajam suaminya, netranya fokus pada mata elang Reffan mencoba mencari keyakinan di dalamnya.
"Ada apa?" Reffan bertanya lagi.
"Apa mas akan tetap seperti ini hingga nanti? Hingga aku tak ada lagi di dunia ini?" Tanya Safira dengan ekspresi tak menentu.
"Apa yang kamu katakan? Aku tidak suka kamu berkata begitu Safira." Wajah Reffan berubah, raut wajahnya menunjukkan dia tak menyukai kata-kata istrinya, bahkan Reffan menyebut nama Safira bukan dengan sebutan sayang seperti biasanya.
Safira menunduk. "Banyak kisah seorang suami bermain-main di belakang istrinya saat istrinya hamil atau setelah melahirkan anaknya. Satu anak, dua, tiga... istrinya mungkin akan berbeda tapi setega itukah pria pada wanita yang sudah melahirkan keturunannya. Bahkan jika seorang wanita diminta memilih antara nyawa anaknya dan dirinya pastilah dia tak akan berfikir dua kali untuk menyelamatkan nyawa anaknya."
"Apa yang kamu katakan sayang? Kenapa berpikir seperti itu?" Reffan melunak saat istrinya hanyut dengan perasaannya.
"Fairuz bukan satu-satunya orang yang mengkhianati istrinya di muka bumi ini." Safira mengangkat wajahnya ingin melihat wajah suaminya.
"Dan manusia sejenis Fairuz hanya segelintir orang karena masih banyak pria sejati seperti ayah Salman dan papa Rendra."
Ucapan Reffan membuat Safira tersadar, "Maaf mas."
"Kenapa kamu malah mengingat Fairuz, aku bahkan sangat dekat denganmu saat ini." Reffan mengecup puncak kepala istrinya.
"Jangan katakan lagi tentang hal itu. Aku takkan melakukan sesuatu yang membuat anakku membenciku seumur hidupku. Lagipula.." Reffan menjeda kalimatnya. "Kamu lebih dari cukup untukku. Sangat indah di mataku, sangat nyaman di hatiku. Terimakasih sudah bersedia di sampingku. Ya walaupun sedikit memaksa, tapi kamu juga pasti sukakan aku paksa menikah denganku?" Reffan tersenyum menggoda.
Safira memeluk suaminya menenggelamkan wajah meronanya. "Iya mas aku suka." ucapnya lirih.
Reffan berusaha melepas pelukan istrinya tapi Safira malah memperkuat lilitan tangannya memeluk Reffan tak ingin suaminya melihat wajahnya dan malah semakin menggodanya.
Reffan meraih ponsel yang bergetar di meja. Sebuah pesan dari Bayu asistennya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum. Maaf Pak Reffan, apakah besok bapak sudah di Jakarta? Sepertinya proyek pembangunan resort di Nusa Tenggara membutuhkan pengawasan dan peninjauan langsung."