
Mama Raisa memaksa Safira untuk makan malam dengannya di hotel. Safira sebenarnya ingin segera pulang tapi mama Raisa terus memaksa.
"Mau ya Safira, kamu kan juga sendirian di rumah, mama juga males makan kalau cuman ditemanin Reffan. Mau ya?" Mama Raisa masih bersikukuh merayu Safira.
Akhirnya Safira mengiyakan juga ajakan calon mertuanya. Safira kembali menginjakkan kakinya di hotel tempat pertama kali bertemu dengan Reffan. Reffan tersenyum mengingatnya sementara Safira jadi merinding sendiri karena mengingat ajakan Reffan untuk menikah saat dinner dulu. Manusia pemaksa itu sekarang adalah calon suaminya.
Mereka bertiga menikmati dinner di sebuah ruangan VIP. Ruang yang sama saat Safira dinner dulu. Dari tempatnya duduk pemandangan kota Surabaya bertabur lampu kontras dengan pekatnya langit malam sungguh sangat indah. Ada setitik ragu di hati Safira, "Ah, benarkah ini aku, bagaimana nanti aku menyesuaikan diri dengan kehidupan kalangan atas."
Safira tumbuh dalam keluarga biasa, tak kaya namun juga tak kekurangan. Orangtuanya selalu berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Mereka tak pernah perhitungan untuk pendidikan dan kesehatan putri-putrinya. Namun tak serta merta mengiyakan jika permintaan putrinya sudah keluar dari dua prioritas itu. Safirapun mengendarai mobil sudah sejak kelas tiga SMA, saat umurnya sudah cukup untuk memiliki SIM. Jangan dibayangkan mobilnya adalah mobil keluaran terbaru, mobilnya hanya mobil second dan sudah keluaran lima tahun yang lalu. Orangtuanya memberinya mobil hanya untuk alasan keselamatan, mereka merasa mobil lebih aman untuk putri mereka, apalagi jika pulang malam. Dan dengan mobil Safira bisa mengantar jemputnya adeknya yang suka ngantuk di jalan. Uang bensin dan saku tentu saja sudah dijatah pas sesuai kebutuhan. Maka mobil benar-benar hanya tranportasi ke sekolah atau kampus bukan untuk jalan-jalan.
Makan malam sudah usai tinggal minuman yang masih tersisa di masing-masing gelas. Mama Raisa mengangkat telepon dari suaminya, Papa Rendra.
"Sayang, mama ke kamar dulu ya. Papanya Reffan telpon menanyakan persiapan hari Minggu besok. Kamu nanti diantar Reffan ya pulangnya. Reffan pastikan Safira pulang dalam keadaan utuh." Mama Raisa berkata pada Safira dan Reffan. Kemudian memeluk Safira.
"Tenang saja ma. Safira aman bersama Reffan." Reffan mengikuti mamanya mengantarkannya hingga ke lift. Sebenarnya mama Raisa sengaja meninggalkan Reffan dan Safira berdua agar mereka jadi lebih dekat. Sekarang giliran Safira yang ditinggal sendiri kebingungan karena akan berduaan dengan Reffan.
Reffan belum kembali dari mengantar mamanya. Seorang wanita bermake up dengan pakaian seksi berjalan meliuk-liuk mendekati Safira, rambut pirangnya dibiarkan terburai memambah kesan seksi pada pemiliknya. Sepatu high heels yang dikenakannya membuat langkahnya mencuri perhatian. Safira menatapnya penuh tanda tanya, mengapa wanita ini menghampirinya bukankah ini adalah ruangan VIP.
"Safira, nama kamu Safira kan. Kamu bingung aku tahu namamu?" Ujar wanita seksi itu dengan senyum asimetrisnya.
"Iya betul. Ada apa ya?" Safira berdiri menimpali, benaknya menerka-nerka mengapa wanita yang tak dikenalinya ini justru tahu namanya.
"Singkat saja ya Safira. Kamu seharusnya berkaca dengan baik, apa pantas kamu jadi pendamping Reffan, bahkan dalam mimpipun kamu tak pantas. Jadi sebelum kamu malu sendiri batalkan rencana pernikahan kalian."
"Maaf saya tidak mengenal anda. Anda tak pantas mencampuri urusan saya."
"Mulut kamu lancang juga Safira, kamu akan menyesal jika masih ingin menikah dengan Reffan. Ini peringatan pertama dan terakhir untuk kamu."
__ADS_1
"Maaf mbak, sebaiknya mbak tidak mencampuri urusan saya." Safira masih berusaha bicara dengan sopan walaupun lawan bicaranya sudah berteriak tak terkendali.
"Claudia. Sedang apa kamu di ruangan ini?" Reffan dengan suara dingin menatap Claudia sepintas lalu menatap Safira memastikan wanitanya baik-baik saja.
"Reffan, aku hanya memperingatkan perempuan tak tahu malu ini agar tidak bermimpi menjadi istri kamu." Suara Claudia sudah dibuat selembut mungkin saat berbicara dengan Reffan.
"Bukan dia yang bermimpi, aku yang memimpikan dia." Ucap Reffan tegas.
"Kamu akan menyesal Reffan, kamu lihat penampilannya. Tak ada yang menarik darinya."
"Kamu seharusnya melihat lebih baik Claudia, wajahnya yang tak ber make up masih lebih glowing dari wajah kamu."
"Reffan! Apa kamu sudah terpedaya dengan gadis kampungan ini, kamu tidak mungkin berselera dengan gaya pakaiannya yang norak ini."
"Iya aku terpedaya dengan Safira. Bagiku tak ada wanita lain yang akan membuatku berselera selain dia."
"Kau sudah dengarkan sekarang. Cepat pergi jangan pernah mendekati Safira lagi." Pandangan Reffan tak pernah lepas dari Safira.
Claudia mengambil gelas yang masih setengah berisi minuman, melemparkan isinya ke arah Safira. Safira tak sepenuhnya berhasil menghindar, sebagian cairan minuman itu mengenai ujung jilbabnya.
Claudia semakin marah karena Safira dengan mudah menghindar. Dia mendekat ke arah Safira mengayunkan tangan kanannya.
"Claudia beraninya kamu..." Suara Reffan terhenti saat Safira berhasil menahan tangan Claudia agar tidak mengenai pipi putih mulusnya. Ah Reffan lupa, Safira bukan gadis lemah yang tak bisa membela diri.
Safira menarik tangan Claudia dan memutarnya ke belakang tubuh Claudia.
"Auw.. Reffan tolong, gadis kampungan ini menyakitiku." Claudia berusaha menarik perhatian Reffan.
__ADS_1
"Hati-hati Claudia, Safira bisa dengan mudah mematahkan tanganmu." Reffan malah bersedekap tersenyum menatap wajah Safira.
"Maaf Claudia, aku tidak bisa membiarkan ada orang yang menyakitiku. Tolong jangan campuri kehidupan saya." Safira berkata dengan sopan pada Claudia tapi tangannya belum melepaskan tangan Claudia.
"Lepaskan. Wanita kurang ajar!" Claudia menggerak-gerakkan tubuhnya agar bisa terlepas. Tapi malah membuat tangannya semakin sakit.
Safira akhirnya melepaskan tangan Claudia.
"Kamu akan menyesal Safira. Dan kau Reffan, kau juga akan menyesal." Claudia menunjuk-nunjuk wajah Safira. Kemudian berlalu pergi dari sana.
Reffan mendekat ke arah Safira. "Kamu baik-baik saja?"
"Iya." Singkat Safira menjawab. "Aku mau pulang. Terimakasih makan malamnya."
"Kamu tidak bertanya, siapa wanita itu?"
"Bukankah sudah jelas dia adalah salah satu penggemarmu yang tidak terima anda menikah dengan saya."
"Kamu memang luar biasa Safira." Reffan bertepuk tangan sambil tertawa.
"Ada berapa banyak lagi wanita pemuja anda? Agar saya bisa bersiap-siap nantinya."
"Kamu tidak perlu menyiapkan apapun Safira. Setelah menikah aku akan selalu bersamamu dan tidak akan ada yang berani mendekatimu apalagi bersikap kurang ajar padamu." Reffan berbicara dengan tenang. Namun Safira yang mendengarnya wajahnya bersemu merah seiring dengan jantungnya yang berirama lebih cepat.
"Kamu hanya perlu menyiapkan dirimu untuk selalu bersamaku tak perlu memikirkan yang lain." Suara Reffan berbisik, membuat Safira mundur lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang VIP. Reffan tertawa kemudian segera menyusul Safira.
"Apa-apaan orang itu. Kenapa bisa mengatakan hal semacam itu." Gerutu Safira di dalam hatinya.
__ADS_1