
Tak henti senyum tersungging di bibirnya. Saat ini Safira duduk di bangku dekat jendela memandang hamparan hijau yang selalu terlihat indah bagi orang yang menghabiskan hari-harinya di kota seperti dirinya. Itulah sebabnya Safira suka naik kereta karena dia bisa memanjakan matanya dengan pemandangan indah di luar kaca yang tidak bisa dinikmatinya saat naik pesawat. Ya, Safira dan Reffan kini berada di kereta api eksekutif menuju Yogyakarta.
Reffan tak kuasa menolak permintaan istrinya yang rindu pada orangtuanya, padahal dia juga ingin menghabiskan waktunya berdua dengan Safira setelah Safira tak bekerja lagi. Namun demi melihat senyum yang terus merekah indah di wajah Safira dan juga mertuanya pasti juga merindukan anaknya yang belum bertemu lagi semenjak resepsi pernikahannya, Reffanpun mengalah.
"Sayang kenapa memandang keluar sejak tadi?" Reffan menggenggam tangan Safira, Safirapun menoleh tersenyum memandang wajah suaminya.
"Aku suka pemandangan saat naik kereta mas. Sejak kecil aku suka sekali." Safira merebahkan kepalanya ke lengan suaminya.
"Karena ini kamu menolak naik pesawat malah minta naik kereta dan sekarang kamu mengabaikanku." Reffan melirik wajah Safira, kepalanya memang bersandar di lengannya tapi netranya tetap memandang keluar jendela.
Safira mencubit lengan suaminya, lucu sekali wajah Reffan yang merajuk.
"Mas ini ih." Safira gemas tangannya menyentuh pipi suaminya.
Reffan segera meraih tangan Safira agar tak meraba-raba wajahnya. Karena sentuhan istrinya bisa membuat tubuhnya menegang dan meminta lebih dari itu.
"Jangan menggodaku sayang!" Reffan berbisik ke telinga istrinya dengan nafas memburu.
Safira langsung menarik tangannya, kuatir suaminya akan bertindak lebih di kereta api, wajahnya langsung gelisah membuat Reffan menahan tawanya karena sangat mengerti apa yang ada di dalam pikiran istrinya.
Reffanpun jadi ingin menggoda wajah gelisah di depannya. Reffan mendekatkan wajahnya, hidungnya hampir menempel di pipi Safira jika Safira tak menahan dada Reffan dengan kedua telapak tangannya.
"Mas, malu mas." Safira bertambah gelisah karena posisinya yang terdesak.
"Kamu yang mulai." Reffan menjawab ringan.
"Aku tak bermaksud begitu. Sungguh!" Safira panik sekarang karena tangan suaminya sudah memeluk pinggangnya.
Reffan benar-benar menelesuri pipi istrinya dengan hidungnya, menghirup aroma kesukaannya.
"Mas hentikan!" Safira mencubit pinggang Reffan membuat Reffan melepaskan tangannya dengan senyum bahagia menahan tawa.
"Nanti malam ya." Reffan masih mencuri ciuman di pipi mulus istrinya.
__ADS_1
Safira tersenyum, senyum yang mengandung makna hanya dirinya yang tahu.
.
"Kita makan dulu ya!" Reffan mengajak istrinya makan terlebih dahulu begitu menginjakkan kakinya di stasiun Tugu Yogyakarta. Tadi di kereta Safira menolak makan karena perutnya juga masih kenyang.
"Iya mas, makan gudeg ya." Safira antusias sekali setelah turun dari kereta. Lagipula mereka datang tanpa memberitahu dulu, jadi alangkah baiknya sudah mengisi perut sebelum pulang ke rumah.
Mobil dari hotel Reffan di Yogyakarta sudah menunggu untuk menjemput mereka. Sopir sebenarnya heran karena diminta menjemput bosnya di stasiun karena biasanya menjemput bosnya di bandara. Reffan adalah orang yang tidak suka membuang waktu, tapi setelah bersama Safira, menghabiskan waktu bersama Safira sudah menjadi salah satu prioritasnya.
Reffan dan Safira sedang makan gudeg legendaris, Safira menelan ludah saat melihat krecek di menu gudegnya. Tadi dia meminta penjualnya menambah porsi sambal goreng kreceknya. Matanya berbinar, tangannya meraih sendok bersiap menikmati hidangan yang sudah memanggil-manggilnya. Tapi tiba-tiba cahaya di matanya meredup saat sendok Reffan mengambil sebagian besar sambal goreng kreceknya.
Wajah Safira langsung berubah seperti anak kecil yang hampir menangis kehilangan mainannya.
"Mas..." Safira melihat sambal goreng krecek yang berpindah ke piring suaminya. "Kenapa diambil?"
"Jangan banyak-banyak nanti perutmu mules." Ujar Reffan ringan.
"Tetap aja ikut pedas walaupun cuma kreceknya." Reffan malah menyendok nasi dengan lauk krecek terlebih dahulu. Safira memandangnya dengan wajah memelas tapi Reffan malah semakin menikmati kunyahannya.
"Mas Reffan tega." Gerutu Safira.
Reffan mendekat ke wajah Safira yang cemberut, "Mau menikmati dari bibirku?" Ucapnya ringan tapi berhasil membuat wajah Safira merona dan segera menyendok makanan yang ada di hadapannya sambil menunduk.
Reffan tersenyum menahan tawanya.
.
Pulang kampung atau lebih tepatnya pulang ke rumah orangtua selalu menjadi sesuatu yang dirindukan. Rasa yang selalu hadir di kedua belah pihak, haru yang tiba-tiba berdesir menghujani hati karena sebesar apapun seorang anak, bagi orangtuanya dia tetap anak kecil kesayangan yang akan disiapkan segala keperluannya.
Safira melarang Reffan memberi tahu ayah dan ibunya jika akan kesana. Safira ingin memberikan kejutan kehadirannya bersama suaminya dan lagi Safira tak ingin ibunya repot menyambut mereka bahkan Safira sudah membeli banyak makanan untuk dimakan bersama-sama nanti malam sehingga ibunya bisa dipeluknya sambil mengobrol tanpa mondar-mandir ke dapur.
Kini mereka sudah ada di depan rumah ayah Salman. Safira pelan sekali membuka pagarnya dia bermaksud masuk perlahan untuk mencari keberadaan ibunya.
__ADS_1
"Mas pelan-pelan ya jalannya... Jangan bersuara!" Safira berjalan pelan masuk ke ruang tamu, netranya memindai mencari keberadaan ibu dan ayahnya.
"Assalamu'alaikum..." Suara Reffan mengagetkan istrinya yang berjalan mengendap-ngendap.
Safira melirik Reffan dengan tatapan terhunus karena kesal.
"Masuk rumah orang itu salam.." Reffan berkata datar tapi sebenarnya dia menahan tawa yang ingin meledak saat melihat wajah kesal istrinya. Senang sekali hari ini Reffan menggoda istrinya.
"Wa'alaikumsalam..." Suara langkah kaki terburu-buru semakin mendekat ke arah mereka.
"Benar kan yah, suaranya nak Reffan." Ibu Sofi langsung menghambur ke arah mereka berdua memeluk Safira dan Reffan bersamaan, netranya berkaca-kaca anak dan menantunya ada di hadapannya.
Sementara Safira yang masih melirik Reffan kesal, malah mendapat kerlingan mata dari suaminya. Sepasang netra ayah Salman memperhatikan interaksi Safira dan Reffan kemudian menggelengkan kepalanya.
Bu Sofi melepas pelukannya. Kemudian mengusap perut Safira yang masih datar.
"Sehat nduk? Apa kabar cucuku?" Bu Sofi kembali memeluk Safira.
"Alhamdulillah sehat bu." Reffan yang menjawab kemudian meraih tangan ayah Salman menyalaminya.
"Kalian ke kamar mandi dulu kemudian istirahat, ibu akan menyiapkan makanan." Ucap Bu Sofi yang masih merangkul Safira.
"Tidak perlu bu, Safira sudah membeli makanan tadi. Bisa kita makan sama-sama sambil mengobrol." Ucap Reffan sambil menyerahkan kantong besar berisi makanan.
"Terimakasih nak. Ajak suamimu ke kamar ganti baju dulu nanti kita ngobrol lagi." Bu Sofipun ke dapur bersama ayah Salman menyiapkan makanan yang sudah dibawa anak dan menantunya sambil tersenyum bahagia.
.
Hasna bersorak dan menjerit saat pulang melihat kakaknya di ruang keluarga. Ayah Salman, ibu Sofi, Reffan dan Safira sedang mengobrol di sana.
"Mbak Fir...." Hasna berlari kemudian memeluk kakak satu-satunya tak mempedulikan ada kakak iparnya yang terkejut dengan suara melengkingnya. "Mbak Fira tambah cantik deh! Hallo keponakan tante, sehat terus ya sayang." Hasna mengelus lembut perut sang kakak. Safira juga mengusap lembut kepala adek kesayangannya.
"Mbak, nanti bobok sama aku ya!"
__ADS_1